Saturday, June 30, 2012

Tak Selembut Sangka Ku (Cerbung Bag. 1)

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Sebut saja namaku As'ad, alhamdulillah dua bulan lagi usiaku memasuki umur 25 tahun. Mungkin bisa dikatakan kalau saya termasuk sosok pemuda yang rada pendiam dan tidak suka sok akrab dengan seseorang yang baru ku kenal. Entah kenapa tiba-tiba ada sesuatu yang mengusik hatiku,

"bukankah Rasulullah menikah pada usia 25 tahun?", tanyaku dalam hati. "Loh kok aku jadi kepikiran nikah ya?".

Mungkin sudah menjadi sebuah kodrat yang lumrah, kalau rasa ingin mencari serta memilih siapa kira-kira yang terbaik untuk menjadi pendamping hidupku nanti mulai membuat diriku sibuk mencari, ya meski saya tahu bahwa jodohku sudah ditetapkan olehNya.

Seperti yang saya bilang tadi, ternyata sifat pendiamku menyulitkanku "bagaimana cara terbaik untuk memulai ta'aruf pada seorang gadis?".

Hingga tak jarang banyak akhwat yang memberi stempel kepadaku sebagai pemuda yang sombong dan sok suci. Yaach... apa mahu dikata namanya juga pemalu, bagaimana bisa care sama akhwat.

Masih teringat jelas peristiwa kemarin,

"ziaah.. aku ditegur habis-habisan sama seorang akhwat". Seakan sulit lepas perkataannya dalam gendang telingaku,

"kamu itu gimana sih, jadi cowok gak peka banget ama cewek. Kasihan tuh Hasna' ampe nangis-nangis gara-gara mikirin kamu". Teguran salah seorang akhwat. Tentu saja saya melakukukan pembelaan,

"emangnya kenapa ama Hasna'? perasaan, saya tidak pernah berbuat salah ama Hasna'?". Tanyaku keheranan.

"Hasna' itu udah lama menaruh hati ama kamu As'ad..!! masak gak ngerti sih?",

"yaaa... emang aku gak tahu", jawabku sambil sedikit melongo.

"Oke... sekarang kamu sudah tahu kan? terus gimana dengan perasaan kamu?" tanya akhwat tadi mendesak, sambil memberi penegasan "As'ad... Hasna' akan terus nunggu kamu..!".

Lama aku shalat istikharah tentang Hasna', hingga aku mengambil sebuah kesimpulan, "mungkin dia bukan jodohku".

Ingin rasa aku membalas cintanya tapi sayang aku tak bisa. Lama juga aku belajar untuk mencintainya tapi sayang, aku masih belum bisa. Kadang aku heran sendiri kenapa aku tidak bisa mencintainya. Pinter iya, cantik iya, lembut iya, sifat keibuan juga iya... kurang apalagi coba?

Hingga aku memberanikan diri untuk memberikan jawaban kepada Hasna',

"maaf Hasna'... aku sudah berusaha untuk membalas cintamu tapi aku masih belum bisa".

Ya Allah... sungguh benar-benar aku tak tega melihatnya meneteskan airmata dihadapanku. Aku hanya meninggalkan pesan terahir saat pertemuan itu, "Hasna, kamu jangan terlalu kecewa ya, jodoh itu rahasia Allah. Tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti Allah menganugerahkan rasa yang berbeda". Saya berusaha melapangkan hati Hasna'.


bersambung....
_____________


Posted By Kang Santri9:13:00 PM

Friday, June 29, 2012

Dekapan Dzikir

Murtakibudz Dzunub - Aku ingin seperti jaring laba-laba 
Tanpa rasa hawatir gagal si empunya begitu piawai menyusunnya menjadi rumah dan pengumpul nafkah
Aku ingin seperti sangkar burung
Dari potongan sisa-sisa ranting patah oleh si empunya mampu tersusun menjadi tempat perlindungan yang nyaman dan indah
Karena aku terlalu khawatir dengan skema hidup yang sudah jadi
Karena aku terlalu bodoh untuk memanfaatkan sisa-sisa kepayahanku menjaga iman

Jiwaku berkarat
Hatiku berlumut
Sedang keimananku kian kusut

Aku sering menasehati hati saat sukmaku kemarau
Aku sering membisiki hati agar senantiasa sejuk seperti surau
Aku sering menasehati hati bahwa dzikir adalah penentram tatkala hati tengah berjibaku mencari kedamaian

Berkali-kali aku temukan alasan tentang dzikirku untuk apa
Sering aku terjebak oleh iming-iming "jika aku membaca ini, maka aku akan mendapatkan ini"
Meskipun pada kenyataannya itu tidaklah salah
Tapi untuk malam ini, ia aku anggap salah

Sebab aku tidak pernah menemukan kenikmatan yang sejati dalam dzikir yang seperti itu
Pernah seakan aku ingin memprotes Tuhan karena laku dzikirku
Pernah aku kecewa akan amalanku yang belum membuahkan hasil
Tapi sekali lagi aku katakan bahwa "niatku yang seperti itu adalah salah"

Aku ingin masuk dan tertidur lelap dalam buaian dzikirku
Sungguh dan sungguh aku ingin mampu menangis saat aku menyebut namaMu
"Allaaaah.... aku mohon, anugerahkanlahlah rasa itu"

Hingga ahirnya aku sadar
Bahwa sesuatu itu akan amatlah indah dan megah saat aku tidak terlalu mengharapkan pamrih dalam dzikirku

Aku coba mulai dari awal lagi
Aku hanya ingin meniru Rasulullah saat ia mengagungkan namaNya
Aku hanya ingin meniru Rasulullah saat beliau menangis karena mengingat Tuhannya

Aku hanya ingin seperti Rasulullah...
Aku hanya ingin seperti Rasulullah...
Aku hanya ingin seperti Rasulullah...
Aku hanya ingin seperti Rasulullah...
Aku hanya ingin seperti Rasulullah...

Meski hanya beberapa persen dari  ahlak beliau


Posted By Kang Santri9:40:00 PM

Tuesday, June 19, 2012

Diam Dalam Pengasingan

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - DIAM. Tidak selamanya tidak berbuat apa-apa, karena dalam diam rotasi antara hati dan pikiran sedang mencoba mencari penyelarasan. Hingga tak jarang hati mengajukan pertanyaan kepada si empunya "apa sebenarnya yang saya rasakan?", "kenapa seolah aku tidak bisa berbuat apa-apa?", dan lain sebagainya hingga kita sendiri tidak tahu jawaban dari pertanyaan yang diajukan oleh hati.

Layaknya putaran roda pedati, tak mungkin selamanya ia terus berputar tanpa henti. Kadang ia harus diam sejenak untuk membersihkan sisa-sisa lumpur yang belepotan karena sebentar lagi ia akan melewati jalanan yang sangatlah bersih dan lurus.

Menyepilah dan menyendirilah dari hiruk pikuk kepenatan aktifitas dunia. Diamlah dan jangan berkata apa-apa, karena pada saat itu giliran kita membiarkan mata dan hati kita yang bicara. Diamlah dalam pengasingan hati dengan teman sebaya, supaya kita benar-benar faham akan ketiadaan kita dan ketiadaannya. 

Biarkan rotasi hati dan pikiran berjalan lambat, jangan dipaksakan untuk dipercepat karena itu hanya akan menambah mudharat. Semua sudah mempunyai porsi dan tanggung jawab masing-masing mari persilahkan kita bebaskan urat-urat yang sudah lama terkekang oleh kepenatan.

Karena (menurutku) ada kalanya diam dalam pengasingan itu menjadi keharusan.

Posted By Kang Santri7:44:00 PM

Monday, June 18, 2012

Sebuah Doa Yang Menyentuh Dari Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzili

Filled under: ,

Murtakibudz Dzunub - Berikut ini kami kutipkan sebuah do'a dari beliau Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzili. Dengan harapan mudah-mudahan doa beliau bisa menginspirasi kita dalam makrifat kepada Allah. Sehingga kita benar-benar tahu bahwa kita hanyalah seorang hamba yang tidak mampu berbuat apa tanpa anugerah pertolonganNya.

Dengan Menyebut Nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Semoga Allah memberi pertolongan kepada kami dan kamu pada apa yang Dia sukai dan Dia Ridhoi. Semoga Dia memilihkan untuk kami dan kamu apa yang Dia takdirkan dan Dia qodha’kan. Dan menjadikan kami dan kamu tergolong orang-orang yang menang di hari bertemu dengan-Nya.

Wahai Allah.....
Wafatkanlah kami sebagai orang muslim dan ikutkanlah kami bersama Muhammad dan golongannya atas Ridha dari-Mu dan mereka dengan iringan selamat dari rasa malu dan segan serta hina oleh sebab amal perbuatan yang campur aduk kami yang telah berlalu.

Wahai Allah.....
Maafkanlah kami dalam kebodohan kami, dan janganlah Engkau menuntut kami karena kelalaian kami terhadap-Mu, dan sebab kejelekan adab kami bersama-Mu dan bersama para malaikat pencatat yang mulia.

Wahai Allah....
Ampunilah dosa-dosa dan kelalaian kami, kebodohan kami terhadap nikmat-nikmat-Mu. Ampunilah kami yang sedikitnya rasa malu kami terhadap-Mu, dan sudilah kiranya Engkau menghadap kepada kami dengan Wajah-Mu, dan janganlah Engkau membiarkan kami difitnah oleh sesuatu dari makhluk-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Wahai Allah....
Ampunilah kami tentang apa yang sudah diketahui oleh manusia dari makhluk-makhluk-Mu dan ampunilah kami atas apa saja yang telah Engkau ketahui dan sudah ditulis oleh para malaikat-Mu, dan ampunilah kami atas apa yang telah kami ketahui dari diri kami sedangkan tidak seorangpun dari para makhluk-Mu yang mengetahui, dan ampunilah kami atas apa yang telah Engkau tentukan kepada kami dalam semua hukum-hukum-Mu, dan karuniakanlah kami kekayaan yang dengannya kami tidak lagi membutuhkan apa-apa dari semua makhluk-Mu dan disertai pula dengan terbukanya penutup antara kami dan antara-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Wahai Allah.....
Ampunilah kami dengan ampunan yang Engkau berikan kepada para kekasih-Mu yang tidak membiarkan sedikitpun keraguan dan tidak menyisakan bersamanya sesuatu celaan dan cercaan. Jadikanlah apa yang telah Engkau ketahui dalam diri kami dan dari diri kami sesuatu yang paling baik diketahui setelah dihapus dan ditetapkannya amal-amal. Sesungguhnya Ummul Kitab (Lauh Mahfudzh) ada di sisi-Mu.

Wahai Allah....
Ampunilah semua dosa-dosa kami baik yang kecil maupun yang besar, yang rahasia maupun yang nampak, yang pertama maupun yang terakhir. Dan ampunilah orang-orang yang kami cintai yang melakukan perjalanan jauh dari kami, perjalanan dunia maupun akhirat, jadikanlah gerak langkah mereka sebagaimana gerak langkah orang-orang yang taqwa dan kepulangan mereka sebagaimana kembalinya orang-orang yang memperoleh keuntungan. Dan Jadikanlah kita semua dengan Rahmat-Mu orang-orang yang diterima (permohonannya), sekalipun kami adalah orang-orang yang berjalan sombong, karena para penyanggah itu sesungguhnya bermurah hati meskipun mereka mengetahui, dan Engkau lebih utama terhadap yang demikian karena Engkau Maha Mulia dari siapapun pengasih. Segala Puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Tiada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.


Wahai Allah....
Janganlah Engkau pulangkan kami dengan hampa sedang kami penuh berharap kepada-Mu. Janganlah Engkau tolak kami sedang kami berdo’a kepada-Mu. Kami benar-benar memohon kepada-Mu sebagaimana telah Engkau perintahkan kepada kami, maka kabulkanlah permohonan kami sebagaimana telah Engkau janjikan kepada kami, dan janganlah Engkau jadikan kerendahan diri kami sesuatu yang tidak berarti bagi-Mu dan tidak diterima. Dan sebagaimana Engkau telah memudahkan kami untuk berdoa, maka mudahkan pula terkabulnya. Sengguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. 

Posted By Kang Santri8:06:00 PM

Friday, June 8, 2012

Kenangan Bersama Kalian

Murtakibudz Dzunub - Tepatnya malam jum'at tanggal 07/06/2012 pukul 08:35 wib, benar-benar kami cermati wajah dan tingkah polah kalian satu persatu hingga pikiran pun langsung flash back ke tahun 2003. Dimana waktu itu kalian masihlah amat kecil karena kalian baru masuk tahap pendidikan TKA/TPA atau pun MDA. Masih tergambar jelas kemanjaan kalian yang ingin diperhatikan, masih teringat jelas waktu kalian masih kesusahan mempelajari makhorijul huruf.

Tapi sekarang, kami terpesona memandang kalian yang makin tumbuh besar menjadi remaja. Begitu menikmati dan antusias kalian menabuh rebana plus dengan vokalnya. Begitu fasih membawakan nada dalam shalawat dan syair-syair pegon. 

Hingga tibalah giliran kami (giliranku .pen) menjalankan tugas, mengkaji kitab Riayatal Himmah yang membahas bab tentang hukum akal. Dengan diselingi canda ku ajak kalian kembali kemasa kalian kecil dulu, hingga terdengar riuh canda membayangkan kenakalan dan kepolosan kalian waktu itu.

Untuk kepandaian kalian dalam membaca qur'an mungkin sudah tidak kami ragukan, hanya satu yang kami hawatirkan "bagaimana ahlak kalian? karena kalian berada dalam fase zona hidup yang lebih banyak fitnah pergaulan dibanding dengan masa remaja kami dulu".

Mungkin saat ini kita diam, tapi sesungguhnya dari jauh kita mengamati pergaulan yang kalian lakukan. Kalau kalian pengen tahu, rasa kepedulian guru-guru yang pernah mengajar kalian sampai saat ini tidak pernah luntur. Kami sering berdialog membahas bagaimana cara untuk bisa mengarahkan dan membimbing kalian, tapi untuk sementara hanya ini yang bisa kami lakukan.

Semoga Allah menjaga masa remaja kalian dengan sebaik-baiknya penjagaan.

(didedikasikan untuk AMRI Cepokomulyo)

Posted By Kang Santri7:09:00 PM

Thursday, June 7, 2012

Kenapa Kalian Menangis

Filled under: ,

Murtakibudz Dzunub - Di Bashrah, ada seorang abid (ahli ibadah) yang rasa khaufnya keada Allah sangatlah tinggi, hingga hidupnya selalu didera dengan tangis. Tatkala ajal telah mendekatinya, seluruh keluarga berada disisinya.

Abid itu pun berkata kepada mereka, "dudukkanlah aku", maka merekapun mendudukkannya.

Ia menghadap kearah keluarganya dan bertanya, "wahai ayahku, apa yang membuatmu menangis?".

Sang ayah menjawab, "wahai anakku, aku terfikir kehilangan dirimu dan kesendirianku tanpamu".

Kemudian sang abid menghadap ibunya dan bertanya, "wahai ibu apa yang membuatmu menangis?".

Sang ibu menjawab, "karena aku harus meneguk pahitnya rasa seorang ibu yang kehilangan anaknya".

Kemudian ia berpaling kearah isterinya dan bertanya, "apa yang membuatmu menangis?".

Sang isteri menjawab, "karena aku tidak bisa lagi berbuat baik kepadamu dan aku akan membutuhkan orang selainmu".

Kemudian ia berpaling kearah anak-anaknya dan bertanya, "apa yang membuat kalian menangis?.

Mereka menjawab, "karena yatim dan lemah sepeninggalanmu".

Kemudian, saat itulah sang abid menatap mereka satu persatu kemudian menangis.

Merekapun bertanya, "apa yang membuatmu menangis?".

Ia menjawab, "aku menangis karena kalian menangis untuk diri kalian sendiri bukan untukku, adakah yang menangis karena jauhnya perjalananku? Adakah yang menangis karena sedikitnya amalku? Adakah yang menangis karena tempat tidurku diatas tanah? Adakah yang menangis karena pemberhentianku dihadapan Rabb semesta alam?".

Kemudia sang abid pun terjatuh. Keluarganya menggerakkannya tetapi ia telah meninggal.

***

Apa yang hati kita rasakan setelah membaca kisah ini? Mari belajar menemukan hikmah sesuai kadar ketajaman mata hati kita masing-masing. Maha Suci Engkau Wahai Allah.




Posted By Kang Santri5:47:00 PM

Tuesday, June 5, 2012

Kisah Nyata Yang Aneh: Pendeta Militan Itupun Masuk Islam

Filled under: ,

Murtakibudz Dzunub - Mungkin kisah ini terasa sangat aneh bagi mereka yang belum pernah bertemu dengan orangnya atau langsung melihat dan mendengar penuturannya. Kisah yang mungkin hanya terjadi dalam cerita fiktif, namun menjadi kenyataan. Hal itu tergambar dengan kata-kata yang diucapkan oleh si pemilik kisah yang sedang duduk di hadapanku mengisahkan tentang dirinya. Untuk mengetahui kisahnya lebih lanjut dan mengetahui kejadian-kejadian yang menarik secara komplit, biarkan aku menemanimu untuk bersama-sama menatap ke arah Johannesburg, kota bintang emas nan kaya di negara Afrika Selatan di mana aku pernah bertugas sebagai pimpinan cabang kantor Rabithah al-’Alam al-Islami di sana.

Pada tahun 1996, di sebuah negara yang sedang mengalami musim dingin, di siang hari yang mendung, diiringi hembusan angin dingin yang menusuk tulang, aku menunggu seseorang yang berjanji akan menemuiku. Istriku sudah mempersiapkan santapan siang untuk menjamu sang tamu yang terhormat. Orang yang aku tunggu dulunya adalah seorang yang mempunyai hubungan erat dengan Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela. Ia seorang misionaris penyebar dan pendakwah agama Nasrani. Ia seorang pendeta, namanya ‘Sily.’ Aku dapat bertemu dengannya melalui perantaraan sekretaris kantor Rabithah yang bernama Abdul Khaliq Matir, di mana ia mengabarkan kepada-ku bahwa seorang pendeta ingin datang ke kantor Rabithah hendak membicarakan perkara penting.

Tepat pada waktu yang telah dijanjikan, pendeta tersebut datang bersama temannya yang bernama Sulaiman. Sulaiman adalah salah seorang anggota sebuah sasana tinju setelah ia memeluk Islam, selepas bertanding dengan seorang petinju muslim terkenal, Muhammad Ali. Aku menyambut kedatangan mereka di kantorku dengan perasaan yang sangat gembira. Sily seorang yang berpostur tubuh pendek, berkulit sangat hitam dan mudah tersenyum. Ia duduk di depanku dan berbicara denganku dengan lemah lembut. Aku katakan, "Saudara Sily bolehkah kami mendengar kisah keislamanmu?" ia tersenyum dan berkata, "Ya, tentu saja boleh."

Pembaca yang mulia, dengar dan perhatikan apa yang telah ia ceritakan kepadaku, kemudian setelah itu, silahkan beri penilaian.!

Sily berkata, "Dulu aku seorang pendeta yang sangat militan. Aku berkhidmat untuk gereja dengan segala kesungguhan. Tidak hanya sampai di situ, aku juga salah seorang aktifis kristenisasi senior di Afrika Selatan. Karena aktifitasku yang besar maka Vatikan memilihku untuk menjalankan program kristenisasi yang mereka subsidi. Aku mengambil dana Vatikan yang sampai kepadaku untuk menjalankan program tersebut. Aku mempergunakan segala cara untuk mencapai targetku. Aku melakukan berbagai kunjungan rutin ke madrasah-madrasah, sekolah-sekolah yang terletak di kampung dan di daerah pedalaman. Aku memberikan dana tersebut dalam bentuk sumbangan, pemberian, sedekah dan hadiah agar dapat mencapai targetku yaitu memasukkan masyarakat ke dalam agama Kristen. Gereja melimpahkan dana tersebut kepadaku sehingga aku menjadi seorang hartawan, mempunyai rumah mewah, mobil dan gaji yang tinggi. Posisiku melejit di antara pendeta-pendeta lainnya. Pada suatu hari, aku pergi ke pusat pasar di kotaku untuk membeli beberapa hadiah. Di tempat itulah bermula sebuah perubahan!

Di pasar itu aku bertemu dengan seseorang yang memakai kopiah. Ia pedagang berbagai hadiah. Waktu itu aku mengenakan pakaian jubah pendeta berwarna putih yang merupakan ciri khas kami. Aku mulai menawar harga yang disebutkan si penjual. Dari sini aku mengetahui bahwa ia seorang muslim. Kami menyebutkan agama Islam yang ada di Afrika selatan dengan sebutan ‘agama orang Arab.’ Kami tidak menyebutnya dengan sebutan Islam. Aku pun membeli berbagai hadiah yang aku inginkan. Sulit bagi kami menjerat orang-orang yang lurus dan mereka yang konsiten dengan agamanya, sebagaimana yang telah berhasil kami tipu dan kami kristenkan dari kalangan orang-orang Islam yang miskin di Afrika Selatan.

Si penjual muslim itu bertanya kepadaku, "Bukankah anda seorang pendeta?" Aku jawab, "Benar." Lantas ia bertanya kepadaku, "Siapa Tuhanmu?" Aku katakan, "Al-Masih." Ia kembali berkata, "Aku menantangmu, coba datangkan satu ayat di dalam Injil yang menyebutkan bahwa al-Masih AS berkata, ‘Aku adalah Allah atau aku anak Allah. Maka sembahlah aku’." 

Ucapan muslim tersebut bagaikan petir yang menyambar kepalaku. Aku tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut. Aku berusaha membuka-buka kembali catatanku dan mencarinya di dalam kitab-kitab Injil dan kitab Kristen lainnya untuk menemukan jawaban yang jelas terhadap pertanyaan lelaki tersebut. Namun aku tidak menemukannya. Tidak ada satu ayat pun yang menceritakan bahwa al-Masih berkata bahwa ia adalah Allah atau anak Allah.

Lelaki itu telah menjatuhkan mentalku dan menyulitkanku. Aku ditimpa sebuah bencana yang membuat dadaku sempit. Bagaimana mungkin pertanyaan seperti ini tidak pernah terlintas olehku? Lalu aku tinggalkan lelaki itu sambil menundukkan wajah. Ketika itu aku sadar bahwa aku telah berjalan jauh tanpa arah. Aku terus berusaha mencari ayat-ayat seperti ini, walau bagaimanapun rumitnya. Namun aku tetap tidak mampu, aku telah kalah.

Aku pergi ke Dewan Gereja dan meminta kepada para anggota dewan agar berkumpul. Mereka menyepakatinya. Pada pertemuan tersebut aku mengabarkan kepada mereka tentang apa yang telah aku dengar. Tetapi mereka malah menyerangku dengan ucapan, "Kamu telah ditipu orang Arab. Ia hanya ingin meyesatkanmu dan memasukkan kamu ke dalam agama orang Arab." Aku katakan, "Kalau begitu, coba beri jawabannya!" Mereka membantah pertanyaan seperti itu namun tak seorang pun yang mampu memberikan jawaban.

Pada hari minggu, aku harus memberikan pidato dan pelajaranku di gereja. Aku berdiri di depan orang banyak untuk memberikan wejangan. Namun aku tidak sanggup melakukannya. Sementara para hadirin merasa aneh, karena aku berdiri di hadapan mereka tanpa mengucapkan sepatah katapun. Aku kembali masuk ke dalam gereja dan meminta kepada temanku agar ia menggantikan tempatku. Aku katakan bahwa aku sedang sakit. Padahal jiwaku hancur luluh.

Aku pulang ke rumah dalam keadaan bingung dan cemas. Lalu aku masuk dan duduk di sebuah ruangan kecil. Sambil menangis aku menengadahkan pandanganku ke langit seraya berdoa. Namun kepada siapa aku berdoa. Kemudian aku berdoa kepada Dzat yang aku yakini bahwa Dia adalah Allah Sang Maha Pencipta, "Ya Tuhanku… Wahai Dzat yang telah men-ciptakanku… sungguh telah tertutup semua pintu di hadapanku kecuali pintuMu… Janganlah Engkau halangi aku mengetahui kebenaran… manakah yang hak dan di manakah kebenaran? Ya Tuhanku… jangan Engkau biarkan aku dalam kebimbangan… tunjukkan kepadaku jalan yang hak dan bimbing aku ke jalan yang benar…" lantas akupun tertidur.

Di dalam tidur, aku melihat diriku sedang berada di sebuah ruangan yang sangat luas. Tidak ada seorang pun di dalamnya kecuali diriku. Tiba-tiba di tengah ruangan tersebut muncul seorang lelaki. Wajah orang itu tidak begitu jelas karena kilauan cahaya yang terpancar darinya dan dari sekelilingnya. Namun aku yakin bahwa cahaya tersebut muncul dari orang tersebut. Lelaki itu memberi isyarat kepadaku dan memanggil, "Wahai Ibrahim!" Aku menoleh ingin mengetahui siapa Ibrahim, namun aku tidak menjumpai siapa pun di ruangan itu. Lelaki itu berkata, "Kamu Ibrahim… kamulah yang bernama Ibrahim. Bukankah engkau yang memohon petunjuk kepada Allah?" Aku jawab, "Benar." Ia berkata, "Lihat ke sebelah kananmu!" Maka akupun menoleh ke kanan dan ternyata di sana ada sekelompok orang yang sedang memanggul barang-barang mereka dengan mengenakan pakaian putih dan bersorban putih. Ikutilah mereka agar engkau mengetahui kebenaran!" Lanjut lelaki itu.

Kemudian aku terbangun dari tidurku. Aku merasakan sebuah kegembiraan menyelimutiku. Namun aku belum juga memperoleh ketenangan ketika muncul pertanyaan, di mana gerangan kelompok yang aku lihat di dalam mimipiku itu berada.

Aku bertekad untuk melanjutkannya dengan berkelana mencari sebuah kebenaran, sebagaimana ciri-ciri yang telah diisyaratkan dalam mimpiku. Aku yakin ini semua merupakan petunjuk dari Allah SWT. Kemudian aku minta cuti kerja dan mulai melakukan perjalanan panjang yang memaksaku untuk berkeliling di beberapa kota mencari dan bertanya di mana orang-orang yang memakai pakaian dan sorban putih berada. Telah panjang perjalanan dan pencarianku. Setiap aku menjumpai kaum muslimin, mereka hanya memakai celana panjang dan kopiah. Hingga akhirnya aku sampai di kota Johannesburg.

Di sana aku mendatangi kantor penerima tamu milik Lembaga Muslim Afrika. Di rumah itu aku bertanya kepada pegawai penerima tamu tentang jamaah tersebut. Namun ia mengira bahwa aku seorang peminta-minta dan memberikan sejumlah uang. Aku katakan, "Bukan ini yang aku minta. Bukankah kalian mempunyai tempat ibadah yang dekat dari sini? Tolong tunjukkan masjid yang terdekat." Lalu aku mengikuti arahannya dan aku terkejut ketika melihat seorang lelaki berpakaian dan bersorban putih sedang berdiri di depan pintu.

Aku sangat girang, karena ciri-cirinya sama seperti yang aku lihat dalam mimpi. Dengan hati yang berbunga-bunga, aku mendekati orang tersebut. Sebelum aku mengatakan sepatah kata, ia terlebih dahulu berkata, "Selamat datang ya Ibrahim!" Aku terperanjat mendengarnya. Ia mengetahui namaku sebelum aku memperkenalkannya. 

Lantas ia melanjutkan ucapan-nya, "Aku melihatmu di dalam mimpi bahwa engkau sedang mencari-cari kami. Engkau hendak mencari kebenaran? Kebenaran ada pada agama yang diridhai Allah untuk hamba-Nya yaitu Islam." Aku katakan, "Benar. Aku sedang mencari kebenaran yang telah ditunjukkan oleh lelaki bercahaya dalam mimpiku, agar aku mengikuti sekelompok orang yang berpakaian seperti busana yang engkau kenakan. Tahukah kamu siapa lelaki yang aku lihat dalam mimpiku itu?" Ia menjawab, "Dia adalah Nabi kami Muhammad, Nabi agama Islam yang benar, Rasulullah SAW." Sulit bagiku untuk mempercayai apa yang terjadi pada diriku. Namun langsung saja aku peluk dia dan aku katakan kepadanya, "Benarkah lelaki itu Rasul dan Nabi kalian yang datang menunjukiku agama yang benar?" Ia berkata, "Benar."

Ia lalu menyambut kedatanganku dan memberikan ucapan selamat karena Allah telah memberiku hidayah kebenaran. Kemudian datang waktu shalat zhuhur. Ia mempersilahkanku duduk di tempat paling belakang dalam masjid dan ia pergi untuk melaksanakan shalat bersama jamaah yang lain. Aku memperhatikan kaum muslimin banyak memakai pakaian seperti yang dipakainya. Aku melihat mereka rukuk dan sujud kepada Allah. Aku berkata dalam hati, "Demi Allah, inilah agama yang benar. Aku telah membaca dalam berbagai kitab bahwa para nabi dan rasul meletakkan dahinya di atas tanah sujud kepada Allah." 

Setelah mereka shalat, jiwaku mulai merasa tenang dengan fenomena yang aku lihat. Aku berucap dalam hati, "Demi Allah sesungguhnya Allah SAW telah menunjukkan kepadaku agama yang benar." Seorang muslim memanggilku agar aku mengumumkan keislamanku. Lalu aku mengucapkan dua kalimat syahadat dan aku menangis sejadi-jadinya karena gembira telah mendapat hidayah dari Allah SWT.

Kemudian aku tinggal bersamanya untuk mempelajari Islam dan aku pergi bersama mereka untuk melakukan safari dakwah dalam waktu beberapa lama. Mereka mengunjungi semua tempat, mengajak manusia kepada agama Islam. Aku sangat gembira ikut bersama mereka. Aku dapat belajar shalat, puasa, tahajjud, doa, kejujuran dan amanah dari mereka. Aku juga belajar dari mereka bahwa seorang muslim diperintahkan untuk menyampaikan agama Allah dan bagaimana menjadi seorang muslim yang mengajak kepada jalan Allah serta berdakwah dengan hikmah, sabar, tenang, rela berkorban dan berwajah ceria.

Setelah beberapa bulan kemudian, aku kembali ke kotaku. Ternyata keluarga dan teman-temanku sedang mencari-cariku. Namun ketika melihat aku kembali memakai pakaian Islami, mereka mengingkarinya dan Dewan Gereja meminta kepadaku agar diadakan sidang darurat.

Pada pertemuan itu mereka mencelaku karena aku telah meninggalkan agama keluarga dan nenek moyang kami. Mereka berkata kepadaku, "Sungguh kamu telah tersesat dan tertipu dengan agama orang Arab." Aku katakan, "Tidak ada seorang pun yang telah menipu dan menyesatkanku. Sesungguhnya Rasulullah Muhammad SAW datang kepadaku dalam mimpi untuk menunjukkan kebenaran dan agama yang benar yaitu agama Islam. Bukan agama orang Arab sebagaimana yang kalian katakan. Aku mengajak kalian kepada jalan yang benar dan memeluk Islam." Mereka semua terdiam.

Kemudian mereka mencoba cara lain, yaitu membujukku dengan memberikan harta, kekuasaan dan pangkat. Mereka berkata, "Sesungguhnya Vatikan memintamu untuk tinggal bersama mereka selama enam bulan untuk menyerahkan uang panjar pembelian rumah dan mobil baru untukmu serta memberimu kenaikan gaji dan pangkat tertinggi di gereja."

Semua tawaran tersebut aku tolak dan aku katakan kepada mereka, "Apakah kalian akan menyesatkanku setelah Allah memberiku hidayah? Demi Allah aku takkan pernah melakukannya walaupun kalian memenggal leherku." Kemudian aku menasehati mereka dan kembali mengajak mereka ke agama Islam. Maka masuk Islamlah dua orang dari kalangan pendeta.

Alhamdulillah, Setelah melihat tekadku tersebut, mereka menarik semua derajat dan pangkatku. Aku merasa senang dengan itu semua, bahkan tadinya aku ingin agar penarikan itu segera dilakukan. Kemudian aku mengembalikan semua harta dan tugasku kepada mereka dan akupun pergi meninggalkan mereka,” Sily mengakhiri kisahnya.

Kisah masuk Islam Ibrahim Sily yang ia ceritakan sendiri kepadaku di kantorku, disaksikan oleh Abdul Khaliq sekretaris kantor Rabithah Afrika dan dua orang lainnya. Pendeta sily sekarang dipanggil dengan Da’i Ibrahim Sily berasal dari kabilah Kuza Afrika Selatan. Aku mengundang pendeta Ibrahim -maaf- Da’i Ibrahim Sily makan siang di rumahku dan aku laksanakan apa yang diwajibkan dalam agamaku yaitu memuliakannya, kemudian ia pun pamit. Setelah pertemuan itu aku pergi ke Makkah al-Mukarramah untuk melaksanakan suatu tugas. Waktu itu kami sudah mendekati persiapan seminar Ilmu Syar’i I yang akan diadakan di kota Cape Town. Lalu aku kembali ke Afrika Selatan tepatnya ke kota Cape Town.

Ketika aku berada di kantor yang telah disiapkan untuk kami di Ma’had Arqam, Dai Ibrahim Sily mendatangiku. Aku langsung mengenalnya dan aku ucapkan salam untuknya dan bertanya, "Apa yang kamu lakukan disini wahai Ibrahim.?" Ia menjawab, "Aku sedang mengunjungi tempat-tempat di Afrika Selatan untuk berdakwah kepada Allah. Aku ingin mengeluarkan masyarakat negeriku dari api neraka, mengeluarkan mereka dari jalan yang gelap ke jalan yang terang dengan memasukkan mereka ke dalam agama Islam."

Setelah Ibrahim selesai mengisahkan kepada kami bahwa perhatiannya sekarang hanya tertumpah untuk dakwah kepada agama Allah, ia meninggalkan kami menuju suatu daerah… medan dakwah yang penuh dengan pengorbanan di jalan Allah. Aku perhatikan wajahnya berubah dan pakaiannya bersinar. Aku heran ia tidak meminta bantuan dan tidak menjulurkan tangannya meminta sumbangan. Aku merasakan ada yang mengalir di pipiku yang membangkitkan perasaan aneh. Perasaan ini seakan-akan berbicara kepadaku, "Kalian manusia yang mempermainkan dakwah, tidakkah kalian perhatikan para mujahid di jalan Allah!"

Benar wahai sudaraku. Kami telah tertinggal… kami berjalan lamban… kami telah tertipu dengan kehidupan dunia, sementara orang-orang yang seperti Da’i Ibrahim Sily, Da’i berbangsa Spanyol Ahmad Sa’id berkorban, berjihad dan bertempur demi menyampaikan agama ini. Ya Rabb rahmatilah kami.

SUMBER: SERIAL KISAH TELADAN karya Muhammad Shalih al-Qaththani, seperti yang dinukilnya dari tulisan Dr. Abdul Aziz Ahmad Sarhan, Dekan fakultas Tarbiyah di Makkah al-Mukarramah, dengan sedikit perubahan. PENERBIT DARUL HAQ, TELP.021-4701616.(http://hanafishahdan.blogsome.com)


Posted By Kang Santri6:18:00 PM

Puisi Ini Masih Untukmu


Berhentilah menangis meski hanya sejenak
Bukan karena tangisanmu mampu membuat hatiku luluh lantak
Melainkan aku rindu akan senyummu yang ingin ku buat sajak
Aku tak tahan mendengar lirih sesegukan, sedang kedua matamu mulai membengkak

Kalau boleh, ijinkan aku menjadi bendungan bagi airmatamu
Meski aku tahu, aku belum begitu kuat untuk melakukan hal itu
Tapi setidaknya aku tidak lari dari tanggung jawabku dalam janji menjagamu
Menjadi penyembuh dari trauma yang masih enggan meninggalkanmu

Aku ingin senantiasa melihatmu menari 
Membacakan syair-syair yang terlahir dari hati
Berjalan bersama menelusuri lorong hidup yang sarat akan misteri
Hingga akhirnya Tuhan mengambil salah satu dari kita dikemudian hari

Sekali lagi, puisi ini untukmu
Dan senantiasa masih untukmu
Selama kau ada dipundakku
Insya Allah... aku akan selalu menjagamu

[Kendal, 05/06/12 15:34]


Posted By Kang Santri3:34:00 PM

Sunday, June 3, 2012

Ayah Mencuri Hartaku (Kisah Sahabat Rasulullah)

وَقَضَى رَبُّكَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ 

أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاهُمَا فَلا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلا كَرِيمًا

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia." (QS. Al-Isra' : 23)
 
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

"Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil". (QS. Al-Isra' : 24)

Murtakibudz Dzunub -  Ada sebuah kisah yang sangat menyentuh dari sahabat Rasulullah. Suatu ketika seorang lelaki mendatangi Rasulullah untuk mengadukan ayahnya yang telah mencuri hartanya. Kemudian Rasulullah berkata kepadanya, "pergilah, dan datanglah bersama ayahmu."

Ketika lelaki tadi pergi, datanglah malaikat jibril menemui Rasulullah dan berkata, "wahai Muhammad, Tuhanmu mengucapkan salam kepadamu dan berfirman, 'Jika orang tua anak tadi tiba maka tanyakanlah apa yang telah dia ucapkan dalam hatinya yang tidak terdengar oleh kedua telinganya'."

Setelah berkata demikian malaikat Jibril pun pergi. Tidak lama kemudian, datanglah lelaki tadi bersama ayahnya. Kemudian Rasulullah bertanya kepada ayah lelaki yang mengadukan tadi, 

"mengapa anakmu mengadu bahwa engkau mencuri hartanya?", kemudian ayah lelaki tadi berkata,

"Ya Rasulullah, tanyakanlah kepadanya, harta itu aku dermakan kepada siapa; harta itu saya dermakan kepada seorang bibinya atau untuk diriku sendiri?."

"Biarkanlah aku untuk tidak membahas hal ini, tetapi ceritakanlah kepadaku apa yang kau ucapkan dalam hatimu yang tidak didengar oleh kedua telingamu?", tanya Rasulullah sebagaimana yang telah diajarkan oleh malaikat Jibril.

"Demi Allah wahai Rasulullah, Allah semakin membuat kami yakin kepadamu. Aku memang telah mengucapkan sesuatu dalam hatiku yang tidak didengar oleh kedua telingaku,". Jawabnya.

"Sampaikanlah, aku akan mendengarnya," jawab Rasulullah.

Tanpa diduga, ayah lelaki tadi membacakan sebuah syair yang ditunjukkan kepada anaknya:

Ketika engkau lahir aku memberimu makan
hingga engkau tumbuh dewasa,
aku selalu menjagamu
engkau diberi minum dari jerih payahku

Jika malam hari engkau ditimpa sakit
Maka, sepanjang malam aku tidak tidur
Berjaga memikirkan penyakitmu
hingga tubuhku sempoyongan karena kantuk

Seakan-akan aku yang sakit, bukan kau
Air mataku pun mengalir deras
Dan jiwaku hawatir kau akan mati
Padahal Dia tahu, bahwa ajal akan tiba sesuai masanya

Saat engkau mencapai usia yang tepat
Saat dimana ku harakan dirimu
Kau balas diriku dengan 
kekejaman dan kekerasan

Seakan-akan engkau pemberi nikmat dan yang dermawan
Andai saja  ketika tak dapat kau penuhi hakku sebagai ayah
Kau perlakukan aku sebagai tetangga
Yang hidup berdampingan

Mendengar syair yang dibacakan ayah lelaki tadi, Rasulullah meneteskan airmata dan berkata kepada anak  tersebut,

"Dirimu dan hartamu adalah milik ayahmu."

Lelaki itu tertunduk. Mengerti betapa besar curahan kasih sayang orang tuanya kepadanya. Kemudian, di ikhlaskan hartanya dan memohon diri dari hadapan Rasulullah.


Wallahu'alam.

Posted By Kang Santri7:35:00 PM

Friday, June 1, 2012

Doa Mendapat Suami Yang Shalih

Murtakibudz Dzunub - Do'a untuk wanita yang mendambakan suami yang Shalih:

Sebelumnya silahkan wudhu dan sholat dua rokaat, seperti shalat hajat (baca: Tata Cara Shalat Hajat), kemudian bacalah do’a ini, dengan didahului Alhamdulillah dan sholawat:



اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْئَلُكَ لِسَانًا ذَاكِرًا وَقَلْبًا شَاِكرًا وَزَوْجًا صًالِحًا يُعِيْنُنِىْ فِي دِيْنِيْ وَدُنْيَايَ

(Allahumma Innii As aluka Lisaanan Dzaakiron, Wa Qolban Syaakiron Wa Zaujan Shoolihan Yu'iinunii Fii Diini Wadun ya)

“Ya Allah, Aku mohon kepada Mu lidah yang selalu berdzikir, hati yang selalu bersyukur, seorang suami saleh yang dapat mendukungku dalam urusan agamaku dan duniawiku.” Amiin.

Posted By Kang Santri2:07:00 PM

Tunggu Aku Di Sepertiga Malam Terahir

Murtakibudz Dzunub - Aku menyaksikan jiwaku kian terjajah oleh zaman
Terjajah oleh keadaan yang belum mampu ku kendalikan
Ditipu oleh nafsu yang minta di turuti dari setiap keinginan

"Qumillaila Illa Qalilla..."
Begitu berat dan sungguh teramat berat

Bukankah jawaban dari setiap do'a berada di waktu itu
Di sepertiga malam terahir
Untuk Rasullah, beliau gunakan sebagai penghimpun kekuatan
Demi menghadapi fitnah keji dari ummat

Tanpa maksud membandingkan dengan Nabi lain
Nabi Musa punya tongkat sebagai mukjizat
Nabi Sulaiman juga punya mukjizat yang tidak kalah hebat 
Begitu juga dengan Nabi-nabi yang lain
Mereka mempunyai wasilah yang dapat digunakan sebagai penolak fitnah

Tapi bagaimana denga Rasulullah Muhammad?
Adakah seperti Nabi-nabi lain?
Sungguh subhanallah, membayangkan sifat basyariyyahnya Rasulullah
Beliau tidak diberi kehususan senjata seperti halnya Nabi-nabi lain

Dalam medan perang beliau juga mempan dipukul
Beliau juga dihina
Dilempari kotoran
Juga merasakan sakit jasmani layaknya manusia pada umumnya

Tapi hanya satu senjata beliau
Yakni, Qiyamullail...
Inilah senjata Rasulullah

Bila berkaca kembali
Ummat yang seperti apakah kita ini?
Seberapa rasa besar rasa malu kita pada Sang Nabi?

Untuk itu, wahai engkau (siapapun dirimu)
Jangan pernah bosan menasehatkan padaku 
Agar senantiasa mampu ku dirikan malamku
Aku akan menunggumu disepertiga malam terahirku

Begitu juga kau, harus menantiku disepertiga malam terahirmu
Aku belum sanggup untuk menyendiri melatih ibadahku
Aku masih membutuhkanmu sebagai motivatorku
Jangan kau bosan mengajakku

Ajarkan padaku
Tunjukkan kegagahanmu dalam menaklukkan nafsumu
Perlihatkan padaku tentang nikmatnya qiyamullail

Sekali lagi...
Tunggu aku disepertiga malam terahirmu
Karena aku juga akan selalu menunggumu di sepertiga malam terahirku
Do'akan aku
Karena aku juga mendo'akanmu
Meski aku tak pernah mengatakannya padamu


Posted By Kang Santri9:21:00 AM