Monday, February 6, 2012

Rasulullah SAW dan Pengemis Buta

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya, Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya.


Namun, setiap pagi Muhammad Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawakan makanan, dan tanpa berucap sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah SAW. Rasulullah SAW melakukan hal ini setiap hari sampai beliau wafat.
Setelah wafatnya Rasulullah SAW, tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari sahabat terdekat Rasulullah SAW yakni Abubakar RA berkunjung ke rumah anaknya Aisyah RA yang tidak lain tidak bukan merupakan isteri Rasulullah SAW dan beliau bertanya kepada anaknya itu,Anakku, adakah kebiasaan kekasihku yang belum aku kerjakan?

Aisyah RA menjawab,Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak ada satu kebiasaannya pun yang belum ayah lakukan kecuali satu saja.

Apakah Itu?, tanya Abubakar RA.

Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada disana, kata Aisyah RA.

Keesokan harinya Abubakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abubakar RA mendatangi pengemis itu lalu memberikan makanan itu kepadanya.
Ketika Abubakar RA mulai menyuapinya, sipengemis marah sambil menghardik, Siapakah kamu? Abubakar RA menjawab,Aku orang yang biasa (mendatangi engkau). Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku, bantah si pengemis buta itu.

Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut, setelah itu ia berikan padaku, pengemis itu melanjutkan perkataannya.

Abubakar RA tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW.

Seketika itu juga pengemis itu pun menangis mendengar penjelasan Abubakar RA, dan kemudian berkata, Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia….

Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abubakar RA saat itu juga dan sejak hari itu menjadi muslim.



Posted By Kang Santri10:17:00 PM

Detik-Detik Wafatnya Rasulullah

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Fatimah binti Rasulullah sedang diliputi kesedihan karena ayah tercintanya sedang dilanda sakit, tiba-tiba dari luar pintu terdengar seseorang berseru mengucapkan salam, kemudian berkata:

“Bolehkah aku masuk?” tanyanya.

Tanpa mengetahui siapa orang itu, Fatimah tidak mengizinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?”

“Tak tahulah ayahku, orang itu sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut.
Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. “Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut,” kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut bersama menyertainya.

Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. “Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. “Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu, ” kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

“Engkau tidak senang mendengar khabar ini wahai kekasih Allah?” Tanya Jibril lagi. “Wahai Jibril, khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?” “Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. “Jibril, betapa sakitnya sakaratul maut ini.”
Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.

“Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. “Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril.

Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi.
“Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. “Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.

Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. “Uushiikum bis-shalaati, wa maa malakat aimaanukum – peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.” Di luar, pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii, ummatii, ummatiii!”

Subhanallah, tulisan ini menginagtkanku sekitar 10 tahun yang lalu saat pertama kali membaca kisah wafatnya Rasulullah. Masih ku rasakan bagaimana terharu dan sedihnya waktu itu. Karena kesan pertama membaca kisah wafatnya Rasulullah seolah begitu masuk kehati hingga bercucuran airmata penuh keharuan.

 

Posted By Kang Santri10:11:00 PM

Hari Ini Iblis Berhasil Menertawakanku

Murtakibudz Dzunub - Mungkin hari ini Iblis dan bala tentaranya sedang tertawa terbahak-bahak merayakan keberhasilannya, yang sukses membuat hatiku terpuruk seakan tak berbentuk.

Bahkan anak kecil pun takut melihat kemuraman raut muka ku hari ini,  harus aku akui bahwa ketika Allah menguji kita dan kita berhasil melewatinya suatu saat nanti Allah akan menguji kita lewat orang-orang yang dekat dengan kita entah itu keluarga, tetangga, bahkan sahabat.

Begitu juga dengan Syaithon la'natullah 'alaih, saat dia gagal merayu kita untuk mengikuti bisikannya. Maka dia akan beralih menemui orang-orang yang dekat dengan kita yang bisa dijadikannya sebagai media.


Kenapa syaithon hari ini menertawakanku?
Bukankah semalam dia menangis melihatku?

Karena hari ini hatiku terbawa oleh kesedihan orang terdekatku.
Karena hari ini seolah hatiku ingin berteriak beringas.
Karena hari ini hatiku gundah dan resah hingga membuat apa yang seharusnya 
hari ini aku selesaikan jadi terbengkalai.
Hanya bisa kulihat arsip materi tulisan yang belum mampu kuselesaikan, 
karena benar-benar otak ku sedang tumpul. Karena hari ini bisikannya
berhasil mengelabui hatiku.

Hingga aku berfikir, "tak ada waktu seindah malam hari"
Karena pada waktu malam, sudah ku letakkan semua penat duniawi dalam tas hitamku
Karena pada waktu siang, syaithon-syaithon yang selalu mengikuti orang yang mencari 
rezeki sudah kembali ke posnya masing-masing
Karena pada waktu siang, memang lebih banyak bising dari pada hening

(hemm.. kiranya sudah cukup menyalahkan syaithon. Sekarang kita ambil sisi baiknya)

Kita tahu bahwa Iblis amat membenci bahkan menangis ketika melihat seorang mukmin berhasil menghidupkan malamnya dengan shalat, munajat, baca qur'an juga dzikir.

Kalau kita ditanya "masihkah kau mahu mendapat anugerah menghidupkan malammu?" Jika kita menjawab mahu, maka bersiap-siaplah dengan teror juga fitnah dari bisikan syaithon,  karena dia pasti bersumpah supaya kita tidak bisa mendapatkan kemuliaan di malam itu.

Itulah kenapa saat kita diuji dan kita mampu, Allah mengalihkan ujian kita lahir bukan dari diri sendiri tapi melainkan dari orang-orang sekitar, semua tidak lain agar kita bisa menghidupkan malam guna merintih dalam shalat dan munajat.

Oke, baiklah wahai syaithon la'natullaoh 'alaih.

Cukup disini saja menikmati tertawamu, sebentar lagi raut muka kusutku akan disiram air wudlu untuk shalat dhuhur, dan aku tahu pasti saat itu kamu akan lari terbirit-birit ngumpet di selokan saat mendengar adzan.

La haula wala quwwata illa billah......


Posted By Kang Santri1:03:00 PM