Monday, July 9, 2012

Tata Cara Dan Anjuran Shalat Witir

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Shalat witir mempunyai beberapa alternatif. Boleh dilakukan satu rakaat, tiga rakaat, lima rakaat, tujuh rakaat dan sembilan rakaat seperti yang sudah di contohkan oleh Rasulullah.

Waktu Shalat Witir

Setelah melakukan shalat Isya' hingga terbit fajar.

"Sesungguhnya Allah mengulurkan kepadamu dengan shalat, yaitu shalat witir. Allah menjadikannya untuknya disaat  setelah shalat Isya' hingga terbit fajar. (HR. Tirmidzi)

Niat Shalat Witir

أصلى سنة الوتر لله تعالى


Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

"Shalat malam itu dua-dua. Jika engkau khawatir shalat subuh tiba, shalat witirlah satu rakaat." (HR. Bukhari dan Muslim)

Tiga Rakaat

Aisyah Radhiyallahu 'anhu berkata,

"Tsumma yusholli tsalatsan" [Lalu Rasulullah shalat tiga rakaat] (HR. Bukhari)

Lima Rakaat

Diriwayatkan bahwa Rasulullah shalat witir sebanyak lima rakaat dan beliau hanya duduk dirakaat terakhir (maksudnya sekali salam)

Tujuh Rakaat

Rasulullah juga pernah shalat witir sebanyak tujuh rakaat. Beliau duduk dirakaat ke enam (untuk tasyahud awal) dan duduk lagi dirakaat ke tujuh (untuk tasyahud ke dua) lalu salam.

Sembilan Rakaat

Juga diriwayatkan dari Rasulullah , bahwa beliau shalat witir sebanyak sembilan rakaat.  Beliau duduk di rakaat kedelapan (untuk tasyahud awal) dan duduk di rakaat ke sembilan (untuk tasyahud ke dua) lalu salam, dan suara beliau didengar oleh keluarga beliau.

Setelah rakaat ke tujuh atau ke sembilan, rasulullah shalat du rakaat. Mengenai hal ini Ibnu Hajar berkata, " aku tidak tahu, apakah dua rakaat tersebut dua rakaat shalat sunnah subuh atau yang lainnya?".

Rasulullah menganjurkan orang yang khawatir tidak bisa bangun untuk qiyamul lail untuk shalat witir sebelum tidur. Sedang orang yang yakin bisa qiyamul lail, maka menunda shalat witir lebih utama baginya, sehingga shalat witir menjadi shalat penutup qiyamul lail.

Di riwayatkan dari Jabir, "aku mendengar Rasulullah bersabda, "Jika salah  seorang diantara kalian khawatir tidak bisa bangun di akhir malam, hendaklah ia shalat witir lalu tidurlah. Sedang orang yang yakin bisa qiyamul lail, hendaklah shalat witir di akhir qiyamul lailnya, karena bacaan di akhir malam itu dihadiri (malaikat) dan itulah yang lebih utama." (HR. Muslim)

Rasulullah memberi perhatian besar pada shalat witir karena berurgensi tinggi. Sehingga banyak dari para sahabat, tabi'in dan ke empat imam madzhab berpendapat bahwa qadha shalat witir itu di syariatkan. [1]

Rasulullah memerintahkan meng-qadha shalat witir bagi yang tidak mengerjakannya. Diriwayatkan dari Abu Sa'id Al-Khudri beliau berkata, Rasulullah bersabda,

"Siapa tidur tanpa shalat witir, atau lupa, hendaklah ia mengerjakannya pada pagi hari atau ketika ingat." (Diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanad shahih.

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيْمَانًا دَائِمًا، وَنَسْأَلُكَ قَلْبًا خَاشِعًا، وَنَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَنَسْأَلُكَ يَقِيْنًا صَادِقًا، وَنَسْأَلُكَ عَمَلاً صَالِحًا، وَنَسْأَلُكَ دِيْنًا قَيِّمًا، وَنَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ، وَنَسْأَلُكَ تَمَامَ الْعَافِيَةِ، وَنَسْأَلُكَ الشُّكْرَ عَلَى الْعَافِيَةِ، وَنَسْأَلُكَ الْغِنَى عَنِ النَّاسِ

اَللَّهُمَّ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صَلاَتَنَا وصِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَتَخَشُّعَنَا وَتَضَرُّعَنَا وَتَعَبُّدَنَا، وَتَمِّمْ تَقْصِيْرَنَا يَا اَللَّهُ، يَا اَللَّهُ، يَا اَللَّهُ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
______

[1].Badzlu AL Majhud, jilid VII halaman 256-257

Posted By Kang Santri8:46:00 PM

Realita di Bulan Ramadhan (Renungan)

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Ramadhan... Engkau lah satu-satunya bulan yang sering di elu-elukan ummat Muhammad untuk menumpuk amal. Seakan-akan engkaulah bulan yang dijadikan tumpuan dari kemalasan beribadah di bulan-bulan yang lain. Apakah bijak hal yang seperti ini?

Amalan-amalan  sunnah bertebaran menghiasi siang dan malam kami, dengan mengesampingkan bahwa sebenarnya kami masih mempunyai qadha ibadah wajib yang kami abaikan dulu. Dibenarkankah hal yang demikian itu menurut syari'at? (tentu saja tidak...!!). Lagi-lagi kami tertipu menganggap bahwa hal yang demikian adalah wujud keshalihan.

Kami begitu antusias menanti datangnya shalat tarawih di serambi-serambi masjid dengan pakaian putih bersih dan aroma wangi dengan kopiah lancip yang hampir menutup kening, tapi sayang... kami mengabaikan kewajiban qadha shalat yang pernah ditinggalkan.

Ramadhan... Engkau memang sering kami selewengkan dengan amalan-amalan palsu yang penuh kepura-puraan. Hingga seolah bulanmu menjadi bulan untuk ajang pamer ibadah.

Kami sebar nasehat, kami serukan gema tilawatil qur'an siang-malam di masjid dan surau, ahhh... tapi kebanyakan dari kami sebenarnya berpikiran 'ini adalah ajang untuk pamer keilmuan'.

***

Memang benarlah adanya, karena jiwa keimanan kami masih dalam fase terendah. 

Ramadhan... Meskipun demikian, kedatanganmu merupakan keberkahan yang tak ternilai buat kami yang masih munafiq ini. Semoga dari ratusan ayat suci yang kami baca di bulanmu meski hanya satu huruf saja yang bernilai keihlasan itu sudahlah cukup membahagiakan, karena dibulanmu Allah akan melipat gandakan pahala yang tidak diberikan-Nya selain dibulanmu.

Ramadhan... Meski raga kami berpuasa, tapi sebenarnya hati kami masih lahap menyantap maksiat. Berkali-kali kami menasehati diri bahwa "Kami senantiasa muda untuk melakukan dosa. Tapi kami belum tentu tua untuk melakukan taubat." Astaghfirullah...

Do'a Rasulullah: "Ya Allah, hidupkan hamba selagi hidup masih baik bagi hamba. Dan matikan hamba selagi mati lebih baik bagi hamba."
 
 

Posted By Kang Santri4:15:00 PM