Thursday, July 12, 2012

Larut Dalam Renungan

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Perlahan ku coba gerakkan kembali jemariku yang 
akhir-akhir ini mulai kaku
Bukan kalimah indah yang coba ku susun untuk menggugah
Bukan belaian kata lembut yang coba ku rangkum agar membuat takjub
Juga, bukan kedahsyatan kecerdasan otak dalam olah tulisan yang bisa 
menggetarkan hati saat ku baca kembali
Melainkan, bait tulis sanjungan yang teramat polos juga lugu dari insan dhoif sepertiku

“Apa yang akan kau lakukan andai Rasulullah ada dihadapanmu sekarang?”

Langsung seketika saat ada salah seorang sahabat mengajukan pertanyaan seperti ini, hatiku merinding bulu kuduk seakan berdiri seolah siap untuk berlari mencari jawaban terbaik dari hati
Tapi sayang tak mampu ku jawab
Hanya bisa berucap, 

“aku langsung ingin memeluk beliau…”
Ya Rasulallah…

Aku cemburu dengan bumi yang dulu pernah kau pijaki
Aku cemburu dengan udara yang kau hirup dalam setiap asa
Aku cemburu dengan air yang membasuh wudlumu sebagai permulaan 
berkumandangnya takbir
Aku cemburu dengan kain yang menghangatkan tubuhmu dari tusukan angin
Aku cemburu dengan sendal yang melindungi telapak kakimu dari kerikil yang menjegal
Aku cemburu dengan tempat dimana kau meletakan kening sujudmu dalam taat

Sebagai pelipur lara melatih menghadirkanmu dalam kerinduanku
Ku baca kembali tentang kisah detik-detik kepergianmu meninggalkan ummatmu
Namun aku sadar, aku bukanlah Abu Bakar yang begitu tegar mengiringi kepergianmu
Namun aku sadar, aku bukanlah Ummar yang begitu gempar mendengar kabar kepergianmu

Tapi aku hanyalah ummatmu yang berusaha menitikan air mata haru saat membaca kembali kisah kepulanganmu
Tapi aku hanyalah pembaca hadits tentang syariatmu juga kisah perjungan hidupmu
Tapi aku hanyalah ummatmu yang selalu berharap syafaatmu, meski sering kali malas membacakan shalawat untukmu.
Padahal aku tahu hanya amalan itu yang bisa sampai kehadirat Rabbmu meski ada riya saat lisan melafadzkan untukmu.

Ya Rasulallah…

Maaf, aku belum bisa menghadirkan sepenuhnya kerinduan itu
Maaf, aku belum bisa merasakan kehilanganmu, seperti halnya ketika aku kehilangan orang-orang disekitar ku
Maaf, aku belum bisa kalau sampai detik ini, ungkapan kecintaanku padamu hanya sebatas ungkapan semu

Malam itu benar-benar ku adukan kepadaNya yang telah mengutusmu
Tentang jalan hidup yang ku tempuh, tentang kedurjanaan jiwaku
Malam itu benar-benar ku ingin menjadi perayu handal buat sukmaku
Berharap supaya bisa tergerak menghadirkan namamu dalam kelembutan cinta kasihku

Ya Rasulallah…

Andai saat ini engkau berada didepanku
Ku ingin mengadukan kepayahanku dalam merawat keimananku
Andai saat ini engkau mendengarku
Ku ingin mencurahkan kepadamu bahwa fitnah dunia ini amatlah keji dan teramat susah untuk ku hindari
Andai saat ini engkau melihatku
Ku ingin engkau mendoakanku membersihkan bau anyir sifat munafiqku, juga membersihkan bau busuk dosa ku
Meski harus ku tanggung rasa malu karena raga dan hati yang bobrok ini tampil di pelupuk mata sucimu
Andai saat ini engkau dibelakangku sembari mengamati caraku menulis tentangmu
Remukkan jemari ini andai tidak engkau sukai

Ya Rasulallah…

Di padang mahsyar nanti
Akui aku sebagai ummatmu, meski kelakuanku belum pantas pendapat predikat itu
Akui aku sebagai ummatmu, meski aku yang terahir dari sekian banyak ummatmu

Astaghfirullahal’adzim…

0 comments:

Post a Comment