Sunday, January 29, 2012

Siapakah sebenarnya yang paling setia kepada CINTA?

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Alkisah di suatu pulau kecil, tingglallah berbagai macam benda abstrak: ada cinta, kesedihan, kekayaan, kegembiraan dan sebagainya. Mereka hidup berdampingan dengan baik. Namun suatu ketika, datang badai menghempas pulau kecil itu. 

Semua penghuni pulau berusaha cepat-cepat menyelamatkan diri. Cinta sangat kebingungan sebab ia tak dapat berenang dan tak mempunyai perahu. Ia berdiri di depan pantai mencoba mencari pertolongan. Sementara itu air semakin naik membasahi kaki cinta.

Tak lama, cinta melihat kekayaan sedang mengayuh perahu. “kekayaan! Kekayaan! Tolong aku” teriak cinta. “Aduh! Maaf Cinta!” kata kekayaan, “perahuku telah penuh dengan harta bendaku, aku tidak dapat membawamu serta, nanti perahu ini tenggelam. Lagi pula tak ada tempat lagi bagimu di perahuku ini”.
Lalu kekayaan cepat-cepat mengayuh perahunya pergi. Cinta sedih sekali, namun kemudian dilihatnya kegembiraan lewat dengan perahunya. “Kegembiraan! Tolong aku!”, teriak cinta. Namun kegembiraan terlau gembira karena ia menemukan perahu sehingga ia tidak mendengar teriakan cinta.

Air makin tinggi membasahi kaki cinta sampai kepinggang dan cinta semakin panik. Tak lama lewatlah kecantikan. “Kecantikan!, bawalah aku bersamamu!,” teriak cinta. “wah, cinta, kamu basah dan kotor. Aku tidak bisa membawamu ikut. Nanti kamu mengotori perahuku yang indah ini.” Sahut kecantikan.
Cinta sedih mendengarnya. Ia mulai menangis terisak-isak. Saat itu lewatlah kesedihan. “oh kesedihan, bawalah aku bersamamu,” kata cinta. “maaf cinta, aku sedang sedih dan aku ingin sendirian saja..” kata kesedihan sambil terus mengayuh perahunya. Cinta  putus asa. Ia merasa air makin naik dan akan menenggelamkannya.

Pada saat kritis itulah tiba-tiba terdengar suara, cinta! Mari cepat naik ke keparahuku!” cinta menoleh kea rah suara itu dan melihat seorang tua dengan perahunya. Cepat-cepat cinta naik ke perahu itu, tepat sebelum air menenggelemkannya.

Di pulau terdekat, orang tua itu menurunkan cinta dan segera pergi lagi. Pada saat itulah cinta sadar bahwa ia sama sekali tidak mengetahui siapa orang tua yang menyelamatkannya itu.

Cinta segera menanyakannya  kepada seorang penduduk tua di pulau itu. Siapa sebenarnya orang tua itu. “oh, orang tua tadi? Dia adalah waktu.” Kata orang tua itu. “tapi, mengapa ia menyelamatkanku? Aku tidak mengenalnya. Bahkan teman-teman yang mengenalku pun enggan menolongku” Tanya cinta heran. “ sebab,” kata orang itu, “hanya waktu lah yang tahu berapa nilai sesungguhnya dari cinta itu…”

motivasi.net 

0 comments:

Post a Comment