Tuesday, June 5, 2012

Kisah Nyata Yang Aneh: Pendeta Militan Itupun Masuk Islam

Filled under: ,

Murtakibudz Dzunub - Mungkin kisah ini terasa sangat aneh bagi mereka yang belum pernah bertemu dengan orangnya atau langsung melihat dan mendengar penuturannya. Kisah yang mungkin hanya terjadi dalam cerita fiktif, namun menjadi kenyataan. Hal itu tergambar dengan kata-kata yang diucapkan oleh si pemilik kisah yang sedang duduk di hadapanku mengisahkan tentang dirinya. Untuk mengetahui kisahnya lebih lanjut dan mengetahui kejadian-kejadian yang menarik secara komplit, biarkan aku menemanimu untuk bersama-sama menatap ke arah Johannesburg, kota bintang emas nan kaya di negara Afrika Selatan di mana aku pernah bertugas sebagai pimpinan cabang kantor Rabithah al-’Alam al-Islami di sana.

Pada tahun 1996, di sebuah negara yang sedang mengalami musim dingin, di siang hari yang mendung, diiringi hembusan angin dingin yang menusuk tulang, aku menunggu seseorang yang berjanji akan menemuiku. Istriku sudah mempersiapkan santapan siang untuk menjamu sang tamu yang terhormat. Orang yang aku tunggu dulunya adalah seorang yang mempunyai hubungan erat dengan Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela. Ia seorang misionaris penyebar dan pendakwah agama Nasrani. Ia seorang pendeta, namanya ‘Sily.’ Aku dapat bertemu dengannya melalui perantaraan sekretaris kantor Rabithah yang bernama Abdul Khaliq Matir, di mana ia mengabarkan kepada-ku bahwa seorang pendeta ingin datang ke kantor Rabithah hendak membicarakan perkara penting.

Tepat pada waktu yang telah dijanjikan, pendeta tersebut datang bersama temannya yang bernama Sulaiman. Sulaiman adalah salah seorang anggota sebuah sasana tinju setelah ia memeluk Islam, selepas bertanding dengan seorang petinju muslim terkenal, Muhammad Ali. Aku menyambut kedatangan mereka di kantorku dengan perasaan yang sangat gembira. Sily seorang yang berpostur tubuh pendek, berkulit sangat hitam dan mudah tersenyum. Ia duduk di depanku dan berbicara denganku dengan lemah lembut. Aku katakan, "Saudara Sily bolehkah kami mendengar kisah keislamanmu?" ia tersenyum dan berkata, "Ya, tentu saja boleh."

Pembaca yang mulia, dengar dan perhatikan apa yang telah ia ceritakan kepadaku, kemudian setelah itu, silahkan beri penilaian.!

Sily berkata, "Dulu aku seorang pendeta yang sangat militan. Aku berkhidmat untuk gereja dengan segala kesungguhan. Tidak hanya sampai di situ, aku juga salah seorang aktifis kristenisasi senior di Afrika Selatan. Karena aktifitasku yang besar maka Vatikan memilihku untuk menjalankan program kristenisasi yang mereka subsidi. Aku mengambil dana Vatikan yang sampai kepadaku untuk menjalankan program tersebut. Aku mempergunakan segala cara untuk mencapai targetku. Aku melakukan berbagai kunjungan rutin ke madrasah-madrasah, sekolah-sekolah yang terletak di kampung dan di daerah pedalaman. Aku memberikan dana tersebut dalam bentuk sumbangan, pemberian, sedekah dan hadiah agar dapat mencapai targetku yaitu memasukkan masyarakat ke dalam agama Kristen. Gereja melimpahkan dana tersebut kepadaku sehingga aku menjadi seorang hartawan, mempunyai rumah mewah, mobil dan gaji yang tinggi. Posisiku melejit di antara pendeta-pendeta lainnya. Pada suatu hari, aku pergi ke pusat pasar di kotaku untuk membeli beberapa hadiah. Di tempat itulah bermula sebuah perubahan!

Di pasar itu aku bertemu dengan seseorang yang memakai kopiah. Ia pedagang berbagai hadiah. Waktu itu aku mengenakan pakaian jubah pendeta berwarna putih yang merupakan ciri khas kami. Aku mulai menawar harga yang disebutkan si penjual. Dari sini aku mengetahui bahwa ia seorang muslim. Kami menyebutkan agama Islam yang ada di Afrika selatan dengan sebutan ‘agama orang Arab.’ Kami tidak menyebutnya dengan sebutan Islam. Aku pun membeli berbagai hadiah yang aku inginkan. Sulit bagi kami menjerat orang-orang yang lurus dan mereka yang konsiten dengan agamanya, sebagaimana yang telah berhasil kami tipu dan kami kristenkan dari kalangan orang-orang Islam yang miskin di Afrika Selatan.

Si penjual muslim itu bertanya kepadaku, "Bukankah anda seorang pendeta?" Aku jawab, "Benar." Lantas ia bertanya kepadaku, "Siapa Tuhanmu?" Aku katakan, "Al-Masih." Ia kembali berkata, "Aku menantangmu, coba datangkan satu ayat di dalam Injil yang menyebutkan bahwa al-Masih AS berkata, ‘Aku adalah Allah atau aku anak Allah. Maka sembahlah aku’." 

Ucapan muslim tersebut bagaikan petir yang menyambar kepalaku. Aku tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut. Aku berusaha membuka-buka kembali catatanku dan mencarinya di dalam kitab-kitab Injil dan kitab Kristen lainnya untuk menemukan jawaban yang jelas terhadap pertanyaan lelaki tersebut. Namun aku tidak menemukannya. Tidak ada satu ayat pun yang menceritakan bahwa al-Masih berkata bahwa ia adalah Allah atau anak Allah.

Lelaki itu telah menjatuhkan mentalku dan menyulitkanku. Aku ditimpa sebuah bencana yang membuat dadaku sempit. Bagaimana mungkin pertanyaan seperti ini tidak pernah terlintas olehku? Lalu aku tinggalkan lelaki itu sambil menundukkan wajah. Ketika itu aku sadar bahwa aku telah berjalan jauh tanpa arah. Aku terus berusaha mencari ayat-ayat seperti ini, walau bagaimanapun rumitnya. Namun aku tetap tidak mampu, aku telah kalah.

Aku pergi ke Dewan Gereja dan meminta kepada para anggota dewan agar berkumpul. Mereka menyepakatinya. Pada pertemuan tersebut aku mengabarkan kepada mereka tentang apa yang telah aku dengar. Tetapi mereka malah menyerangku dengan ucapan, "Kamu telah ditipu orang Arab. Ia hanya ingin meyesatkanmu dan memasukkan kamu ke dalam agama orang Arab." Aku katakan, "Kalau begitu, coba beri jawabannya!" Mereka membantah pertanyaan seperti itu namun tak seorang pun yang mampu memberikan jawaban.

Pada hari minggu, aku harus memberikan pidato dan pelajaranku di gereja. Aku berdiri di depan orang banyak untuk memberikan wejangan. Namun aku tidak sanggup melakukannya. Sementara para hadirin merasa aneh, karena aku berdiri di hadapan mereka tanpa mengucapkan sepatah katapun. Aku kembali masuk ke dalam gereja dan meminta kepada temanku agar ia menggantikan tempatku. Aku katakan bahwa aku sedang sakit. Padahal jiwaku hancur luluh.

Aku pulang ke rumah dalam keadaan bingung dan cemas. Lalu aku masuk dan duduk di sebuah ruangan kecil. Sambil menangis aku menengadahkan pandanganku ke langit seraya berdoa. Namun kepada siapa aku berdoa. Kemudian aku berdoa kepada Dzat yang aku yakini bahwa Dia adalah Allah Sang Maha Pencipta, "Ya Tuhanku… Wahai Dzat yang telah men-ciptakanku… sungguh telah tertutup semua pintu di hadapanku kecuali pintuMu… Janganlah Engkau halangi aku mengetahui kebenaran… manakah yang hak dan di manakah kebenaran? Ya Tuhanku… jangan Engkau biarkan aku dalam kebimbangan… tunjukkan kepadaku jalan yang hak dan bimbing aku ke jalan yang benar…" lantas akupun tertidur.

Di dalam tidur, aku melihat diriku sedang berada di sebuah ruangan yang sangat luas. Tidak ada seorang pun di dalamnya kecuali diriku. Tiba-tiba di tengah ruangan tersebut muncul seorang lelaki. Wajah orang itu tidak begitu jelas karena kilauan cahaya yang terpancar darinya dan dari sekelilingnya. Namun aku yakin bahwa cahaya tersebut muncul dari orang tersebut. Lelaki itu memberi isyarat kepadaku dan memanggil, "Wahai Ibrahim!" Aku menoleh ingin mengetahui siapa Ibrahim, namun aku tidak menjumpai siapa pun di ruangan itu. Lelaki itu berkata, "Kamu Ibrahim… kamulah yang bernama Ibrahim. Bukankah engkau yang memohon petunjuk kepada Allah?" Aku jawab, "Benar." Ia berkata, "Lihat ke sebelah kananmu!" Maka akupun menoleh ke kanan dan ternyata di sana ada sekelompok orang yang sedang memanggul barang-barang mereka dengan mengenakan pakaian putih dan bersorban putih. Ikutilah mereka agar engkau mengetahui kebenaran!" Lanjut lelaki itu.

Kemudian aku terbangun dari tidurku. Aku merasakan sebuah kegembiraan menyelimutiku. Namun aku belum juga memperoleh ketenangan ketika muncul pertanyaan, di mana gerangan kelompok yang aku lihat di dalam mimipiku itu berada.

Aku bertekad untuk melanjutkannya dengan berkelana mencari sebuah kebenaran, sebagaimana ciri-ciri yang telah diisyaratkan dalam mimpiku. Aku yakin ini semua merupakan petunjuk dari Allah SWT. Kemudian aku minta cuti kerja dan mulai melakukan perjalanan panjang yang memaksaku untuk berkeliling di beberapa kota mencari dan bertanya di mana orang-orang yang memakai pakaian dan sorban putih berada. Telah panjang perjalanan dan pencarianku. Setiap aku menjumpai kaum muslimin, mereka hanya memakai celana panjang dan kopiah. Hingga akhirnya aku sampai di kota Johannesburg.

Di sana aku mendatangi kantor penerima tamu milik Lembaga Muslim Afrika. Di rumah itu aku bertanya kepada pegawai penerima tamu tentang jamaah tersebut. Namun ia mengira bahwa aku seorang peminta-minta dan memberikan sejumlah uang. Aku katakan, "Bukan ini yang aku minta. Bukankah kalian mempunyai tempat ibadah yang dekat dari sini? Tolong tunjukkan masjid yang terdekat." Lalu aku mengikuti arahannya dan aku terkejut ketika melihat seorang lelaki berpakaian dan bersorban putih sedang berdiri di depan pintu.

Aku sangat girang, karena ciri-cirinya sama seperti yang aku lihat dalam mimpi. Dengan hati yang berbunga-bunga, aku mendekati orang tersebut. Sebelum aku mengatakan sepatah kata, ia terlebih dahulu berkata, "Selamat datang ya Ibrahim!" Aku terperanjat mendengarnya. Ia mengetahui namaku sebelum aku memperkenalkannya. 

Lantas ia melanjutkan ucapan-nya, "Aku melihatmu di dalam mimpi bahwa engkau sedang mencari-cari kami. Engkau hendak mencari kebenaran? Kebenaran ada pada agama yang diridhai Allah untuk hamba-Nya yaitu Islam." Aku katakan, "Benar. Aku sedang mencari kebenaran yang telah ditunjukkan oleh lelaki bercahaya dalam mimpiku, agar aku mengikuti sekelompok orang yang berpakaian seperti busana yang engkau kenakan. Tahukah kamu siapa lelaki yang aku lihat dalam mimpiku itu?" Ia menjawab, "Dia adalah Nabi kami Muhammad, Nabi agama Islam yang benar, Rasulullah SAW." Sulit bagiku untuk mempercayai apa yang terjadi pada diriku. Namun langsung saja aku peluk dia dan aku katakan kepadanya, "Benarkah lelaki itu Rasul dan Nabi kalian yang datang menunjukiku agama yang benar?" Ia berkata, "Benar."

Ia lalu menyambut kedatanganku dan memberikan ucapan selamat karena Allah telah memberiku hidayah kebenaran. Kemudian datang waktu shalat zhuhur. Ia mempersilahkanku duduk di tempat paling belakang dalam masjid dan ia pergi untuk melaksanakan shalat bersama jamaah yang lain. Aku memperhatikan kaum muslimin banyak memakai pakaian seperti yang dipakainya. Aku melihat mereka rukuk dan sujud kepada Allah. Aku berkata dalam hati, "Demi Allah, inilah agama yang benar. Aku telah membaca dalam berbagai kitab bahwa para nabi dan rasul meletakkan dahinya di atas tanah sujud kepada Allah." 

Setelah mereka shalat, jiwaku mulai merasa tenang dengan fenomena yang aku lihat. Aku berucap dalam hati, "Demi Allah sesungguhnya Allah SAW telah menunjukkan kepadaku agama yang benar." Seorang muslim memanggilku agar aku mengumumkan keislamanku. Lalu aku mengucapkan dua kalimat syahadat dan aku menangis sejadi-jadinya karena gembira telah mendapat hidayah dari Allah SWT.

Kemudian aku tinggal bersamanya untuk mempelajari Islam dan aku pergi bersama mereka untuk melakukan safari dakwah dalam waktu beberapa lama. Mereka mengunjungi semua tempat, mengajak manusia kepada agama Islam. Aku sangat gembira ikut bersama mereka. Aku dapat belajar shalat, puasa, tahajjud, doa, kejujuran dan amanah dari mereka. Aku juga belajar dari mereka bahwa seorang muslim diperintahkan untuk menyampaikan agama Allah dan bagaimana menjadi seorang muslim yang mengajak kepada jalan Allah serta berdakwah dengan hikmah, sabar, tenang, rela berkorban dan berwajah ceria.

Setelah beberapa bulan kemudian, aku kembali ke kotaku. Ternyata keluarga dan teman-temanku sedang mencari-cariku. Namun ketika melihat aku kembali memakai pakaian Islami, mereka mengingkarinya dan Dewan Gereja meminta kepadaku agar diadakan sidang darurat.

Pada pertemuan itu mereka mencelaku karena aku telah meninggalkan agama keluarga dan nenek moyang kami. Mereka berkata kepadaku, "Sungguh kamu telah tersesat dan tertipu dengan agama orang Arab." Aku katakan, "Tidak ada seorang pun yang telah menipu dan menyesatkanku. Sesungguhnya Rasulullah Muhammad SAW datang kepadaku dalam mimpi untuk menunjukkan kebenaran dan agama yang benar yaitu agama Islam. Bukan agama orang Arab sebagaimana yang kalian katakan. Aku mengajak kalian kepada jalan yang benar dan memeluk Islam." Mereka semua terdiam.

Kemudian mereka mencoba cara lain, yaitu membujukku dengan memberikan harta, kekuasaan dan pangkat. Mereka berkata, "Sesungguhnya Vatikan memintamu untuk tinggal bersama mereka selama enam bulan untuk menyerahkan uang panjar pembelian rumah dan mobil baru untukmu serta memberimu kenaikan gaji dan pangkat tertinggi di gereja."

Semua tawaran tersebut aku tolak dan aku katakan kepada mereka, "Apakah kalian akan menyesatkanku setelah Allah memberiku hidayah? Demi Allah aku takkan pernah melakukannya walaupun kalian memenggal leherku." Kemudian aku menasehati mereka dan kembali mengajak mereka ke agama Islam. Maka masuk Islamlah dua orang dari kalangan pendeta.

Alhamdulillah, Setelah melihat tekadku tersebut, mereka menarik semua derajat dan pangkatku. Aku merasa senang dengan itu semua, bahkan tadinya aku ingin agar penarikan itu segera dilakukan. Kemudian aku mengembalikan semua harta dan tugasku kepada mereka dan akupun pergi meninggalkan mereka,” Sily mengakhiri kisahnya.

Kisah masuk Islam Ibrahim Sily yang ia ceritakan sendiri kepadaku di kantorku, disaksikan oleh Abdul Khaliq sekretaris kantor Rabithah Afrika dan dua orang lainnya. Pendeta sily sekarang dipanggil dengan Da’i Ibrahim Sily berasal dari kabilah Kuza Afrika Selatan. Aku mengundang pendeta Ibrahim -maaf- Da’i Ibrahim Sily makan siang di rumahku dan aku laksanakan apa yang diwajibkan dalam agamaku yaitu memuliakannya, kemudian ia pun pamit. Setelah pertemuan itu aku pergi ke Makkah al-Mukarramah untuk melaksanakan suatu tugas. Waktu itu kami sudah mendekati persiapan seminar Ilmu Syar’i I yang akan diadakan di kota Cape Town. Lalu aku kembali ke Afrika Selatan tepatnya ke kota Cape Town.

Ketika aku berada di kantor yang telah disiapkan untuk kami di Ma’had Arqam, Dai Ibrahim Sily mendatangiku. Aku langsung mengenalnya dan aku ucapkan salam untuknya dan bertanya, "Apa yang kamu lakukan disini wahai Ibrahim.?" Ia menjawab, "Aku sedang mengunjungi tempat-tempat di Afrika Selatan untuk berdakwah kepada Allah. Aku ingin mengeluarkan masyarakat negeriku dari api neraka, mengeluarkan mereka dari jalan yang gelap ke jalan yang terang dengan memasukkan mereka ke dalam agama Islam."

Setelah Ibrahim selesai mengisahkan kepada kami bahwa perhatiannya sekarang hanya tertumpah untuk dakwah kepada agama Allah, ia meninggalkan kami menuju suatu daerah… medan dakwah yang penuh dengan pengorbanan di jalan Allah. Aku perhatikan wajahnya berubah dan pakaiannya bersinar. Aku heran ia tidak meminta bantuan dan tidak menjulurkan tangannya meminta sumbangan. Aku merasakan ada yang mengalir di pipiku yang membangkitkan perasaan aneh. Perasaan ini seakan-akan berbicara kepadaku, "Kalian manusia yang mempermainkan dakwah, tidakkah kalian perhatikan para mujahid di jalan Allah!"

Benar wahai sudaraku. Kami telah tertinggal… kami berjalan lamban… kami telah tertipu dengan kehidupan dunia, sementara orang-orang yang seperti Da’i Ibrahim Sily, Da’i berbangsa Spanyol Ahmad Sa’id berkorban, berjihad dan bertempur demi menyampaikan agama ini. Ya Rabb rahmatilah kami.

SUMBER: SERIAL KISAH TELADAN karya Muhammad Shalih al-Qaththani, seperti yang dinukilnya dari tulisan Dr. Abdul Aziz Ahmad Sarhan, Dekan fakultas Tarbiyah di Makkah al-Mukarramah, dengan sedikit perubahan. PENERBIT DARUL HAQ, TELP.021-4701616.(http://hanafishahdan.blogsome.com)


Posted By Kang Santri6:18:00 PM

Puisi Ini Masih Untukmu


Berhentilah menangis meski hanya sejenak
Bukan karena tangisanmu mampu membuat hatiku luluh lantak
Melainkan aku rindu akan senyummu yang ingin ku buat sajak
Aku tak tahan mendengar lirih sesegukan, sedang kedua matamu mulai membengkak

Kalau boleh, ijinkan aku menjadi bendungan bagi airmatamu
Meski aku tahu, aku belum begitu kuat untuk melakukan hal itu
Tapi setidaknya aku tidak lari dari tanggung jawabku dalam janji menjagamu
Menjadi penyembuh dari trauma yang masih enggan meninggalkanmu

Aku ingin senantiasa melihatmu menari 
Membacakan syair-syair yang terlahir dari hati
Berjalan bersama menelusuri lorong hidup yang sarat akan misteri
Hingga akhirnya Tuhan mengambil salah satu dari kita dikemudian hari

Sekali lagi, puisi ini untukmu
Dan senantiasa masih untukmu
Selama kau ada dipundakku
Insya Allah... aku akan selalu menjagamu

[Kendal, 05/06/12 15:34]


Posted By Kang Santri3:34:00 PM

Sunday, June 3, 2012

Ayah Mencuri Hartaku (Kisah Sahabat Rasulullah)

وَقَضَى رَبُّكَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ 

أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاهُمَا فَلا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلا كَرِيمًا

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia." (QS. Al-Isra' : 23)
 
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

"Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil". (QS. Al-Isra' : 24)

Murtakibudz Dzunub -  Ada sebuah kisah yang sangat menyentuh dari sahabat Rasulullah. Suatu ketika seorang lelaki mendatangi Rasulullah untuk mengadukan ayahnya yang telah mencuri hartanya. Kemudian Rasulullah berkata kepadanya, "pergilah, dan datanglah bersama ayahmu."

Ketika lelaki tadi pergi, datanglah malaikat jibril menemui Rasulullah dan berkata, "wahai Muhammad, Tuhanmu mengucapkan salam kepadamu dan berfirman, 'Jika orang tua anak tadi tiba maka tanyakanlah apa yang telah dia ucapkan dalam hatinya yang tidak terdengar oleh kedua telinganya'."

Setelah berkata demikian malaikat Jibril pun pergi. Tidak lama kemudian, datanglah lelaki tadi bersama ayahnya. Kemudian Rasulullah bertanya kepada ayah lelaki yang mengadukan tadi, 

"mengapa anakmu mengadu bahwa engkau mencuri hartanya?", kemudian ayah lelaki tadi berkata,

"Ya Rasulullah, tanyakanlah kepadanya, harta itu aku dermakan kepada siapa; harta itu saya dermakan kepada seorang bibinya atau untuk diriku sendiri?."

"Biarkanlah aku untuk tidak membahas hal ini, tetapi ceritakanlah kepadaku apa yang kau ucapkan dalam hatimu yang tidak didengar oleh kedua telingamu?", tanya Rasulullah sebagaimana yang telah diajarkan oleh malaikat Jibril.

"Demi Allah wahai Rasulullah, Allah semakin membuat kami yakin kepadamu. Aku memang telah mengucapkan sesuatu dalam hatiku yang tidak didengar oleh kedua telingaku,". Jawabnya.

"Sampaikanlah, aku akan mendengarnya," jawab Rasulullah.

Tanpa diduga, ayah lelaki tadi membacakan sebuah syair yang ditunjukkan kepada anaknya:

Ketika engkau lahir aku memberimu makan
hingga engkau tumbuh dewasa,
aku selalu menjagamu
engkau diberi minum dari jerih payahku

Jika malam hari engkau ditimpa sakit
Maka, sepanjang malam aku tidak tidur
Berjaga memikirkan penyakitmu
hingga tubuhku sempoyongan karena kantuk

Seakan-akan aku yang sakit, bukan kau
Air mataku pun mengalir deras
Dan jiwaku hawatir kau akan mati
Padahal Dia tahu, bahwa ajal akan tiba sesuai masanya

Saat engkau mencapai usia yang tepat
Saat dimana ku harakan dirimu
Kau balas diriku dengan 
kekejaman dan kekerasan

Seakan-akan engkau pemberi nikmat dan yang dermawan
Andai saja  ketika tak dapat kau penuhi hakku sebagai ayah
Kau perlakukan aku sebagai tetangga
Yang hidup berdampingan

Mendengar syair yang dibacakan ayah lelaki tadi, Rasulullah meneteskan airmata dan berkata kepada anak  tersebut,

"Dirimu dan hartamu adalah milik ayahmu."

Lelaki itu tertunduk. Mengerti betapa besar curahan kasih sayang orang tuanya kepadanya. Kemudian, di ikhlaskan hartanya dan memohon diri dari hadapan Rasulullah.


Wallahu'alam.

Posted By Kang Santri7:35:00 PM

Friday, June 1, 2012

Doa Mendapat Suami Yang Shalih

Murtakibudz Dzunub - Do'a untuk wanita yang mendambakan suami yang Shalih:

Sebelumnya silahkan wudhu dan sholat dua rokaat, seperti shalat hajat (baca: Tata Cara Shalat Hajat), kemudian bacalah do’a ini, dengan didahului Alhamdulillah dan sholawat:



اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْئَلُكَ لِسَانًا ذَاكِرًا وَقَلْبًا شَاِكرًا وَزَوْجًا صًالِحًا يُعِيْنُنِىْ فِي دِيْنِيْ وَدُنْيَايَ

(Allahumma Innii As aluka Lisaanan Dzaakiron, Wa Qolban Syaakiron Wa Zaujan Shoolihan Yu'iinunii Fii Diini Wadun ya)

“Ya Allah, Aku mohon kepada Mu lidah yang selalu berdzikir, hati yang selalu bersyukur, seorang suami saleh yang dapat mendukungku dalam urusan agamaku dan duniawiku.” Amiin.

Posted By Kang Santri2:07:00 PM

Tunggu Aku Di Sepertiga Malam Terahir

Murtakibudz Dzunub - Aku menyaksikan jiwaku kian terjajah oleh zaman
Terjajah oleh keadaan yang belum mampu ku kendalikan
Ditipu oleh nafsu yang minta di turuti dari setiap keinginan

"Qumillaila Illa Qalilla..."
Begitu berat dan sungguh teramat berat

Bukankah jawaban dari setiap do'a berada di waktu itu
Di sepertiga malam terahir
Untuk Rasullah, beliau gunakan sebagai penghimpun kekuatan
Demi menghadapi fitnah keji dari ummat

Tanpa maksud membandingkan dengan Nabi lain
Nabi Musa punya tongkat sebagai mukjizat
Nabi Sulaiman juga punya mukjizat yang tidak kalah hebat 
Begitu juga dengan Nabi-nabi yang lain
Mereka mempunyai wasilah yang dapat digunakan sebagai penolak fitnah

Tapi bagaimana denga Rasulullah Muhammad?
Adakah seperti Nabi-nabi lain?
Sungguh subhanallah, membayangkan sifat basyariyyahnya Rasulullah
Beliau tidak diberi kehususan senjata seperti halnya Nabi-nabi lain

Dalam medan perang beliau juga mempan dipukul
Beliau juga dihina
Dilempari kotoran
Juga merasakan sakit jasmani layaknya manusia pada umumnya

Tapi hanya satu senjata beliau
Yakni, Qiyamullail...
Inilah senjata Rasulullah

Bila berkaca kembali
Ummat yang seperti apakah kita ini?
Seberapa rasa besar rasa malu kita pada Sang Nabi?

Untuk itu, wahai engkau (siapapun dirimu)
Jangan pernah bosan menasehatkan padaku 
Agar senantiasa mampu ku dirikan malamku
Aku akan menunggumu disepertiga malam terahirku

Begitu juga kau, harus menantiku disepertiga malam terahirmu
Aku belum sanggup untuk menyendiri melatih ibadahku
Aku masih membutuhkanmu sebagai motivatorku
Jangan kau bosan mengajakku

Ajarkan padaku
Tunjukkan kegagahanmu dalam menaklukkan nafsumu
Perlihatkan padaku tentang nikmatnya qiyamullail

Sekali lagi...
Tunggu aku disepertiga malam terahirmu
Karena aku juga akan selalu menunggumu di sepertiga malam terahirku
Do'akan aku
Karena aku juga mendo'akanmu
Meski aku tak pernah mengatakannya padamu


Posted By Kang Santri9:21:00 AM

Thursday, May 31, 2012

Dialog Bijak Tentang Kebosanan

Murtakibudz Dzunub - Anda sedang bosan?. Tak ada salahnya menyimak sebentar dialog sederhana yang sarat akan petuah bijak ini. Ini adalah sebuah cerita ringan tentang kebosanan. Seorang tua yang bijak ditanya oleh tamunya.

Tamu : "Sebenarnya apa itu perasaan 'bosan', pak tua?

Pak Tua : "Bosan adalah keadaan dimana pikiran menginginkan perubahan, mendambakan sesuatu yang baru, dan menginginkan berhentinya rutinitas hidup dan keadaan yang monoton dari waktu ke waktu".

Tamu : "Kenapa kita merasa bosan?".

Pak Tua : "Karena kita tidak penah merasa puas dengan apa yang kita miliki."

Tamu : "Bagaimana menghilangkan kebosanan?"

Pak Tua : " Hanya ada satu cara, nikmatilah kebosanan itu, maka kita pun akan terbebas darinya."

Tamu : "Bagaiman mungkin bisa menikmati kebosanan?"

Pak Tua : "Bertanyalah pada dirimu sendiri, mengapa kamu tidak pernah bosan makan nasi yang sama rasanya setiap hari?"

Tamu : "Karena kita makan nasi dengan lauk dan sayur yang berbeda, Pak Tua."

Pak Tua : "Benar sekali anakku, tambahkan sesuatu yang baru dalam rutinitasmu maka kebosanan pun akan hilang."

Tamu : "Bagaimana menambahkan hal baru dalam rutinitas?"

Pak Tua : "Ubahlah caramu melakukan rutinitas itu. Kalau biasanya menulis sambil duduk, cobalah menulis sambil jongkok atau berbaring. kalau biasanya membaca di kursi, cobalah membaca sambil berjalan-jalan atau meloncat-loncat. Kalau biasanya menelpon dengan tangan kanan, cobalah dengan tangan kiri atau dengan kaki kalau bisa. Dan seterusnya."

Lalu Tamu itu pun pergi.

Beberapa hari kemudian Tamu itu mengunjungi Pak Tua lagi.

Tamu : "Pak Tua, saya sudah melakukan apa yang Anda sarankan, kenapa saya masih merasa bosan juga?"

Pak Tua : "Coba lakukan sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan."

Tamu : "Contohnya?"

Pak Tua : "Mainkan permainan yang paling kamu senangi di waktu kecil dulu."

Lalu Tamu itu pun pergi.

Beberapa minggu kemudian, Tamu itu datang lagi ke rumah Pak Tua.

Tamu : "Pak Tua, saya melakukan apa yang Anda sarankan. Di setiap waktu senggang saya bermain sepuas-puasnya semua permainan anak-anak yang saya senangi dulu. Dan keajaiban pun terjadi. Sampai sekarang saya tidak pernah merasa bosan lagi, meskipun disaat saya melakukan hal-hal yang dulu pernah saya anggap membosankan. Kenapa bisa demikian, Pak Tua?"

Sambil tersenyum Pak Tua berkata : "Karena segala sesuatu sebenarnya berasal dari pikiranmu sendiri, anakku. Kebosanan itu pun berasal dari pikiranmu yang berpikir tentang kebosanan. Saya menyuruhmu bermain seperti anak kecil

Agar pikiranmu menjadi ceria. Sekarang kamu tidak merasa bosan lagi karena pikiranmu tentang keceriaan berhasil mengalahkan pikiranmu tentang kebosanan. Segala sesuatu berasal dari pikiran. Berpikir bosan menyebabkan kau bosan. Berpikir ceria menjadikan kamu ceria."

Semoga bermanfaat.


Posted By Kang Santri1:25:00 PM

Ya Allah

Ya Allah...
Ada rahasia apa dibalik ujian ini
Kau buat hatiku mati kutu 
Semua terasa gelap
Hati tersiksa dan merana
Kadangkala tak ingin ku tunjukkan airmata
Namun apalah daya kekuatan hati

Ya Allah...
Telah Kau janjikan bahwa akan selalu ada jalan keluar
Tapi hati ini belum juga menemukan jalan hidayahMu itu
Aku tidak ingin melihat kesedihannya
Aku tidak mampu membayangkan kepiluannya
Hari ini Kau perlihatkan lagi airmatanya dihadapanku

Ya Allah...
Hampir sembilan tahun sudah 
Kami menjalani episode yang sama
Andai ketabahan hati ini belum sesuai yang Engkau kehendaki
Kami mohon ampun
Kami hanyalah segelintir dari miliaran mahlukMu di alam ini

Ya Allah...
Apakah tak satupun do'a kami yang sampai kepadaMu
Karena yang kami tahu Engkau Maha mendengar
Mendengar rintih suara lirih dari rasa sakit
Mendengar setiap bisikan dari keinginan
Apakah kami belumlah pantas do'a kami ini Engkau kabulkan?

Ya Allah...
Apakah belum Kau ijinkan juga
Niat hamba yang ingin membahagiakan mereka?

Posted By Kang Santri9:49:00 AM

Tuesday, May 29, 2012

Sungguh Aku Ingin Memelukmu

Filled under:

Ooh... 
Gejolak apa yang sedang terjadi dihati ini
Gemuruh apa yang memporak-porandakan  secuil qalbu kecil ini

Layaknya seorang tamu, kenapa tak kau ketuk dulu hatiku
Tak selamanya aku siap menyambutmu
Bukannya kau tahu, kalau hatiku sering tak menentu

Berulang kali aku hilang kewaspadaan
Saat kau datang di suruh Tuhan
Dan kau menyaksikan sendiri, kalau aku sering kelabakan

Jika memang hidup itu harus di isi oleh kedukaan
Maka, sambut dan terimalah ketika muka ku lusuh karena cobaan
Jangan kau hempaskan aku di pelipis jurang keputus-asaan

Sungguh aku sangat ingin memelukmu dengan mesra
Karena saat ini, hanya itulah obat dari pelipur lara
Pelampiasan melempar semua kesedihan saat duka

Duhai airmata...
Mendekatlah kemari
Duhai hati yang tengah luka
Datanglah kemari
Duhai getaran hati yang tengah merasakan siksa
Jangan sungkan, karena sungguh... Aku sangat ingin memeluk kalian


(Kendal, 29 Mei 2012)

Posted By Kang Santri4:21:00 PM

Monday, May 28, 2012

Berjalan di Titik, Berhenti di Koma, Tak Ada Jawaban Dari Tanda Tanya

Murtakibudz Dzunub - Apa sebenarnya yang harus di cari dalam hidup ini?, begitu gampangnya manusia mengatakan "mencari kebahagiaan dunia dan akhirat, itulah yang aku cari hidup di dunia". Memang 100% benar dan sangatlah tepat kata-kata tadi, (TAPI) nah, disini yang menjadi obyek pada tulisan kali ini. 

Kita sering berjalan di koma, berhenti di titik hingga tidak pernah menemukan setiap jawaban dibalik tanda tanya. 

Ada filosofi apa pada kalimat diatas?

Kalau kita lihat pada kaidah penulisan, tanda titik (.) adalah berhenti, tanda koma (,) masih ada kelanjutannya, tanda tanya (?) merupakan sebuah pertanyaan yang memerlukan jawaban. Kemudian apa hubungannya dengan kehidupan?.  


Berjalan di titik

Merupakan sebuah gambaran bahwa untuk terwujudnya keselarasan dalam hidup, agama sudah menerapkan hukum dan kaidah-kaidah yang tidak boleh dilanggar. TAPI sayangnya kita kita mengatakan "mencari kebahagiaan dunia dan akhirat, itulah yang aku cari hidup di dunia", selalu menerjang aturan paten yang sudah ditetapkan agama. Inilah filosofi yang terkandung "berjalan dititik".


Berhenti di koma

Seperti layaknya kebanyakan manusia yang mudah dihinggapi keputusasaan, katakanlah saat ada tujuan pastilah kita akan mendapati drama ujian dari setiap keinginan. Padanya ada qur'an yang sudah menunjukkan jalan untuk mencapai impian, padanya ada hadits Rasulullah yang akan selalu memotivasi langkah kita, padanya ada petuah bijak dari kaum salafushshalih yang bisa kita jadikan teladan. TAPI sayang cita-cita harus terhenti ditengah jalan karena hati kita sudah dihinggapi oleh virus 'putus asa'.


Tak ada jawaban di tanda tanya

Mungkin kita sering mengalami saat-saat dalam kebuntuan dan ingin mencari jalan keluar, TAPI kita tidak pernah menemukan jalan keluar alias buntu. Hal ini bisa disebabkan kalau kita menganggap ringan atau bahkan menyepelekan kekuatan do'a dan dzikir.

Jadi intinya, kita memang tidak akan pernah mampu untuk sempurna bisa berjalan lurus diatas garis hukum agama. Tapi setidaknya kita bisa menyeimbangkan antara pencarian kita terhadap dunia dengan pencarian kita mencari bekal hidup bahagia dia akhirat sana. Ada saatnya saat keimanan melemah kita tidak mampu terhindar dari dosa, pada saat itu juga kita bisa mengimbanginya dengan pertaubatan yang sungguh-sungguh. Dan ini merupakan salah satu yang disukai Allah ketika melihat hambanya melakukan dosa kemudian diikuti dengan permohonan ampun. Islam tidak pernah mengajarkan putus asa pada pemeluknya, begitu juga islam akan selalu memberikan jalan keluar pada setiap permasalahan dalam tuntunannya yang maha mulia.

Wallahu'alam


Posted By Kang Santri4:24:00 PM

Saturday, May 26, 2012

Silahkan Bersedih

Murtakibudz Dzunub - Banyak kita jumpai berbagai tulisan dengan tema "janganlah bersedih atau laa tahzan" yang tidak lain maksudnya untuk memotivasi pembacanya supaya jangan terus larut dalam kesedihan. Dan itu merupakan langkah yang sangat bagus.

Namun saya kira tidak ada salahnya, kalau kita sikapi (saat kita bersedih) dari sudut pandang yang lain (berupa menikmati kesedihan "nah.. loh!! kesedihan kok dinikmati..").

Silahkan bersedih, janganlah menahan kesedihan dengan berpura-pura bahagia karena itu hanya akan menambah sakit.

Silahkan bersedih, menangislah sepuasnya. Jangan sekali-kali menahan hak air mata yang sudah semestinya harus mengalir dan tumpah.

Silahkan bersedih, ungkapkan kesedihan pada yang menciptakan kesedihan. Karena disitu kita akan menemukan nikmatnya berdekatan dengan Sang Penggenggam kehidupan.

Silahkan bersedih, luapkan emosi kesedihan sepuas-puasnya dalam 'ma'rifatullah'.

Silahkan bersedih, teruslah merintih rayulah Dia yang menciptakan kesedihan. Supaya kesedihan berbuah pada ketebalan iman.

Silahkan bersedih, tanamkan dalam hati bahwa tak ada tempat untuk berbagi hati yang paling indah dan tenang kecuali kepada Robbul 'Izzati.

Silahkan bersedih, karena itu menjadi salah satu motivasi untuk bangun dimalam hari. Berdiri tegak dan tersungkur dalam sujud penuh pasrah disepertiga malam terahir.

Sekali lagi, silahkan bersedih jangan pura-pura tabah. Karena kita memang hamba yang lemah (dhoif). Tak selamanya seorang mukmin yang kuat adalah seorang mukmin yang tidak pernah bersedih. Kita bisa berkaca kepada Rasulullah, beliau adalah tauladan sempurna bila dibanding dengan nabi-nabi lain. Karena beliau benar-benar menunjukkan sifat basariyyah sebagaimana umumnya manusia. Nabi pernah bersedih, nabi juga menangis saat Allah mengujinya ketika beliau kehilangan Ibrahim puteranya.

Namun jangan sekali-kali salah menumpahkan kesedihan, karena iblis juga senantiasa mendekati manusia yang tengah bersedih sembari membisikkan tipu daya agar kita putus asa dan mengambil jalan yang sesuai dengan ajakannya.

Cepokomulyo, Jl. Napak Tilas. 26, Mei 2012. - 20:50 WIB.

Posted By Kang Santri8:53:00 PM

Friday, May 25, 2012

Hari Ini, Ini Yang Ku Minta DariMu

Murtakibudz Dzunub - Entah sudah berapa ribu kali aku meminta dalam bait do'a kepadaMu Ya Robbi, aku kerap minta agar hidupku dipenuhi kebahagiaan yang sesuai dengan nafsuku, hamba sering meminta dalam do'a untuk diberikan umur panjang, jodoh terbaik/isteri shalihah, kemudahan rizki, dan kehidupan yang serba berkecukupan dan lain sebagainya.

Tapi sampai saat ini, kenapa tetap saja aku belum merasa puas dengan segala rutinitas do'aku? hingga akupun bertanya, "adakah yang kurang dengan do'aku..?", "ataukah, aku terlalu rakus dengan semua permintaanku..?".

Hari ini, adalah hari jum'at awal dibulan Rajab (25/05/2012). Entah kenapa ada hal yang sangat mengganggu didalam hati, hingga ahirnya aku sadar kalau kenikmatan ibadah malam yang sedang ku latih sekarang menjadi berantakan.  Sudah beberapa malam tak mampu aku tunaikan, tak sekalimah mampu ku lafadzkan, tak seraka'atpun mampu aku dirikan. Astaghfirullah...

Teringat waktu ngaji dulu, bahwa hukumnya makruh bagi orang yang biasa bangun malam kemudian ia meninggalkan. Makruh..!!! (berarti aku sudah melakukan sesuatu yang tidak Allah sukai dalam ibadah).

Saat shalat jum'at, ketika khatib duduk istirahat (duduk diantara dua khatbah) hanya ini do'a yang aku minta dariMu Wahai Allah - Ya Robbii... Anugerahkanlah kenikmatan ibadah kepadaku...اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.  Karena aku sadar, aku terlalu rakus dengan do'a yang selama ini ku panjatkan.


by: ranting_patah

Posted By Kang Santri4:09:00 PM

Thursday, May 24, 2012

Tunggu Aku di Surga (Kisah Keluarga Mualaf)

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Christina adalah sosok wanita Katolik taat. Setiap malam, ia beserta keluarganya rutin berdoa bersama. Bahkan, saking taatnya, saat Christina dilamar Martono, kekasihnya yang beragama Islam, dengan tegas ia mengatakan “Saya lebih mencintai Yesus Kristus dari pada manusia!”

Ketegasan prinsip Katolik yang dipegang wanita itu menggoyahkan Iman Martono yang muslim, namun jarang melakukan ibadah sebagaimana layaknya orang beragama Islam. Martono pun masuk Katolik, sekedar untuk bisa menikahi Christina. Tepat tanggal 17 Oktober 1982, mereka melaksanakan pernikahan di Gereja Ignatius, Magelang, Jawa Tengah.


Usai menikah, lalu menyelesaikan kuliahnya di Jogjakarta, Christina beserta sang suami berangkat ke Bandung, kemudian menetap di salah satu kompleks perumahan di wilayah Timur kota kembang. Kebahagiaan terasa lengkap menghiasi kehidupan keluarga ini dengan kehadiran tiga makhluk kecil buah hati mereka, yakni: Adi, Icha dan Rio.


Di lingkungan barunya, Christina terlibat aktif sebagai jemaat Gereja Suryalaya, Buah Batu, Bandung. Demikan pula Martono, sang suami. Selain juga aktif di Gereja, Martono saat itu menduduki jabatan penting, sebagai kepala Divisi sebuah PT di Cisanggarung, Bandung.


Karena Ketaatan mereka memegang iman Katolik, pasangan ini bersama beberapa sahabat se-iman, sengaja mengumpulkan dana dari tetangga sekitar yang beragama Katolik. Mereka pun berhasil membeli sebuah rumah yang ‘disulap’ menjadi tempat ibadah.


Uniknya, meski sudah menjadi pemeluk ajaran Katolik, Martono tak melupakan kedua orangtuanya yang beragama Islam. Sebagai manifestasi bakti dan cinta pasangan ini, mereka memberangkatkan ayahanda dan ibundanya Martono ke Mekkah, untuk menunaikan rukun Islam yang kelima.


Hidup harmonis dan berkecukupan mewarnai sekian waktu hari-hari keluarga ini. Sampai satu ketika, kegelisahan menggoncang keduanya. Syahdan, saat itu, Rio, si bungsu yang sangat mereka sayangi jatuh sakit. Panas suhu badan yang tak kunjung reda, membuat mereka segera melarikan Rio ke salah satu rumah sakit Kristen terkenal di wilayah utara Bandung.


Di rumah sakit, usai dilakukan diagnosa, dokter yang menangani saat itu mengatakan bahwa Rio mengalami kelelahan. Akan tetapi Christina masih saja gelisah dan takut dengan kondisi anak kesayangannya yang tak kunjung membaik.


Saat dipindahkan ke ruangan ICU, Rio, yang masih terkulai lemah, meminta Martono, sang ayah, untuk memanggil ibundanya yang tengah berada di luar ruangan. Martono pun keluar ruangan untuk memberitahu Christina ihwal permintaan putra bungsunya itu.


Namun, Christina tak mau masuk ke dalam. Ia hanya mengatakan pada Martono, ”Saya sudah tahu.” Itu saja.


Martono heran. Ia pun kembali masuk ke ruangan dengan rasa penasaran yang masih menggelayut dalam benak. Di dalam, Rio berucap, “Tapi udahlah, Papah aja, tidak apa-apa. Pah hidup ini hanya 1 centi. Di sana nggak ada batasnya.”


Sontak, rasa takjub menyergap Martono. Ucapan bocah mungil buah hatinya yang tengah terbaring lemah itu sungguh mengejutkan. Nasehat kebaikan keluar dari mulutnya seperti orang dewasa yang mengerti agama.


Hingga sore menjelang, Rio kembali berujar, “Pah, Rio mau pulang!”


“Ya, kalau sudah sembuh nanti, kamu boleh pulang sama Papa dan Mama,” jawab Martono. “Ngga, saya mau pulang sekarang. Papah, Mamah, Rio tunggu di pintu surga!” begitu, ucap Rio, setengah memaksa.


Belum hilang keterkejutan Martono, tiba-tiba ia mendengar bisikan yang meminta dia untuk membimbing membacakan syahadat kepada anaknya. Ia kaget dan bingung. Tapi perlahan Rio dituntun sang ayah, Martono, membaca syahadat, hingga kedua mata anak bungsunya itu berlinang. Martono hafal syahadat, karena sebelumnya adalah seorang Muslim.


Tak lama setelah itu bisikan kedua terdengar, bahwa setelah Adzan maghrib Rio akan dipanggil sang Pencipta. Meski tambah terkejut, mendengar bisikan itu, Martono pasrah. Benar saja, 27 Juli 1999, persis saat sayup-sayup Adzan maghrib, berkumandang Rio menghembuskan nafas terakhirnya.


Tiba jenazah Rio di rumah duka, peristiwa aneh lagi-lagi terjadi. Christina yang masih sedih waktu itu seakan melihat Rio menghampirinya dan berkata, “Mah saya tidak mau pakai baju jas mau minta dibalut kain putih aja.” Saran dari seorang pelayat Muslim, bahwa itu adalah pertanda Rio ingin dishalatkan sebagaimana seorang Muslim yang baru meninggal.


Setelah melalui diskusi dan perdebatan diantara keluarga, jenazah Rio kemudian dibalut pakaian, celana dan sepatu yang serba putih kemudian dishalatkan. Namun, karena banyak pendapat dari keluarga yang tetap harus dimakamkan secara Katolik, jenazah Rio pun akhirnya dimakamkan di Kerkov. Sebuah tempat pemakaman khusus Katolik, di Cimahi, Bandung.
 

Sepeninggal Rio ...


Sepeninggal anaknya, Christina sering berdiam diri. Satu hari, ia mendengar bisikan ghaib tentang rumah dan mobil. Bisikan itu berucap, “Rumah adalah rumah Tuhan dan mobil adalah kendaraan menuju Tuhan.” Pada saat itu juga Christina langsung teringat ucapan mendiang Rio semasa TK dulu, ”Mah, Mbok Atik nanti mau saya belikan rumah dan mobil!” Mbok Atik adalah seorang muslimah yang bertugas merawat Rio di rumah. Saat itu Christina menimpali celoteh si bungsu sambil tersenyum, “Kok Mamah ga dikasih?” “Mamah kan nanti punya sendiri” jawab Rio, singkat.


Entah mengapa, setelah mendengar bisikan itu, Christina meminta suaminya untuk mengecek ongkos haji waktu itu. Setelah dicek, dana yang dibutuhkan Rp. 17.850.000. Dan yang lebih mengherankan, ketika uang duka dibuka, ternyata jumlah totalnya persis senilai Rp 17.850.000, tidak lebih atau kurang sesenpun. Hal ini diartikan Christina sebagai amanat dari Rio untuk menghajikan Mbok Atik, wanita yang sehari-hari merawat Rio di rumah.


Singkat cerita, di tanah suci, Mekkah, Mbok Atik menghubungi Christina via telepon. Sambil menangis ia menceritakan bahwa di Mekkah ia bertemu Rio. Si bungsu yang baru saja meninggalkan alam dunia itu berpesan, “Kepergian Rio tak usah terlalu dipikirkan. Rio sangat bahagia disini. Kalo Mama kangen, berdoa saja.”


Namun, pesan itu tak lantas membuat sang Ibunda tenang. Bahkan Christina mengalami depresi cukup berat, hingga harus mendapatkan bimbingan dari seorang Psikolog selama 6 bulan.


Satu malam saat tertidur, Christina dibangunkan oleh suara pria yang berkata, “Buka Alquran surat Yunus!”. Namun, setelah mencari tahu tentang surat Yunus, tak ada seorang pun temannya yang beragama Islam mengerti kandungan makna di dalamnya. Bahkan setelah mendapatkan Alquran dari sepupunya, dan membacanya berulang-ulang pun, Christina tetap tak mendapat jawaban.


“Mau Tuhan apa sih?!” protesnya setengah berteriak, sembari menangis tersungkur ke lantai. Dinginnya lantai membuat hatinya berangsur tenang, dan spontan berucap “Astaghfirullah.” Tak lama kemudian, akhirnya Christina menemukan jawabannya sendiri di surat Yunus ayat 49: “Katakan tiap-tiap umat mempunyai ajal. Jika datang ajal, maka mereka tidak dapat mengundurkannya dan tidak (pula) mendahulukannya”.


Beberapa kejadian aneh yang dialami sepeninggal Rio, membuat Christina berusaha mempelajari Islam lewat beberapa buku.


Hingga akhirnya wanita penganut Katolik taat ini berkata, “Ya Allah terimalah saya sebagai orang Islam, saya tidak mau di-Islamkan oleh orang lain!”.


Setelah memeluk Islam, Christina secara sembunyi-sembunyi melakukan shalat. Sementara itu, Martono, suaminya, masih rajin pergi ke gereja. Setiap kali diajak ke gereja Christina selalu menolak dengan berbagai alasan.


Sampai suatu malam, Martono terbangun karena mendengar isak tangis seorang perempuan. Ketika berusaha mencari sumber suara, betapa kagetnya Martono saat melihat istri tercintanya, Christina tengah bersujud dengan menggunakan jaket, celana panjang dan syal yang menutupi aurat tubuhnya.


“Lho kok Mamah shalat,” tanya Martono. “Maafkan saya, Pah. Saya duluan, Papah saya tinggalkan,” jawab Christina lirih. Ia pasrah akan segala resiko yang harus ditanggung, bahkan perceraian sekalipun.


Martono pun Akhirnya Kembali ke Islam ...


Sejak keputusan sang istri memeluk Islam, Martono seperti berada di persimpangan. Satu hari, 17 Agustus 2000, Christina mengantar Adi, putra pertamanya untuk mengikuti lomba Adzan yang diadakan panitia Agustus-an di lingkungan tempat mereka tinggal.


Adi sendiri tiba-tiba tertarik untuk mengikuti lomba Adzan beberapa hari sebelumnya, meski ia masih Katolik dan berstatus sebagai pelajar di SMA Santa Maria, Bandung. Martono sebetulnya juga diajak ke arena perlombaan, namun menolak dengan alasan harus mengikuti upacara di kantor.


Di tempat lomba yang diikuti 33 peserta itu, Gangsa Raharjo, Psikolog Christina, berpesan kepada Adi, “Niatkan suara adzan bukan hanya untuk orang yang ada di sekitarmu, tetapi niatkan untuk semesta alam!” ujarnya.


Hasilnya, suara Adzan Adi yang lepas nan merdu, mengalun syahdu, mengundang keheningan dan kekhusyukan siapapun yang mendengar. Hingga bulir-bulir air mata pun mengalir tak terbendung, basahi pipi sang Ibunda tercinta yang larut dalam haru dan bahagia. Tak pelak, panitia pun menobatkan Adi sebagai juara pertama, menyisihkan 33 peserta lainnya.


Usai lomba Christina dan Adi bersegera pulang. Tiba di rumah, kejutan lain tengah menanti mereka. Saat baru saja membuka pintu kamar, Christina terkejut melihat Martono, sang suami, tengah melaksanakan shalat. Ia pun spontan terkulai lemah di hadapan suaminya itu. Selesai shalat, Martono langsung meraih sang istri dan mendekapnya erat. Sambil berderai air mata, ia berucap lirih, “Mah, sekarang Papah sudah masuk Islam.”


Mengetahui hal itu, Adi dan Icha, putra-putri mereka pun mengikuti jejak ayah dan ibunya, memeluk Islam.


Perjalanan panjang yang sungguh mengharu biru. Keluarga ini pun akhirnya memulai babak baru sebagai penganut Muslim yang taat. Hingga kini, esok, dan sampai akhir zaman. Insya Allah. 
Subhanallah, begitu indah cara Allah membukakan pintu hidayah bagi mahlukNya yang ia kehendaki. Sungguh tak ada yang lebih mulia dan berharga didunia ini kecuali KEIMANAN.
(sumber: www.mualaf.com)

Posted By Kang Santri6:46:00 PM