Showing posts with label Tashawuf. Show all posts
Showing posts with label Tashawuf. Show all posts

Wednesday, February 13, 2013

Aku Menyesal Karena Bersyukur (Renungan)

Murtakibudz Dzunub - Syekh Sariy As Saqathy (wafat th 253 H./967 M.), seorang arif & murid sufi besar Ma'ruf Karkhy, pernah berkata, "Tiga puluh tahun aku beristighfar, memohon ampun kepada Allah atas ucapan Alhamdulillah sekali."

"Lho, bagaimana itu?" tanya seorang yg mendengarnya.

"Terjadi kebakaran di Baghdad," kata syeikh menjelaskan, "lalu ada orang yg datang menemuiku dan mengabarkan bahwa tokoku selamat tidak ikut terbakar. Aku waktu itu spontan mengucap, Alhamdulillah. Maka ucapan itulah yg kusesali selama 30 th ini. Aku menyesali sikapku yg hanya mementingkan diri sendiri dan melupakan orang lain."

Selama 30 tahun Syeikh Sariy
As Saqathy menyesali ucapan alhamdulillahnya yang hanya sekali. Beliau menyesal karena sadar -sekejap setelah melafalkan ungkapan syukurnya itu- bahwa dengan ungkapan syukurnya itu berarti beliau masih sangat tebal perhatiannya kepada diri sendiri. Begitu tebalnya hingga menindih kepekaan perhatiannya kepada sesama.

Beliau tersadar langkah degilnya orang yang mensyukuri keselamatan sebuah toko pada saat keselamatan sesama dan harta benda mereka terbakar habis.

Alangkah musykilnya orang yang sanggup menyatakan kegembiraan di saat musibah menimpa sebagian besar saudara-saudaranya.

Subhanallah...

|| Dikutip dari buku Kompensasi karya Gus Mus.


Posted By Kang Santri3:55:00 PM

Tuesday, February 5, 2013

Satu Resep Mendapat Ketenangan Jiwa

Cara yang paling mujarab untuk mendapatkan 
ketenangan jiwa adalah,

- Tidak memperdulikan ucapan manusia
tapi fokus memperhatikan ucapan Sang Pencipta.

Karena barang siapa yang menyangka
bahwa dirinya selama di dunia akan
selamat dari celaan manusia
maka dia telah gila.

(Al Imam Ibnu Hazm)

Posted By Kang Santri10:02:00 AM

Friday, December 28, 2012

Sstt... Hati-hati Kalau Meminta Saat Berdoa

Filled under: ,

Murtakibudz Dzunub - (27) Jangan anda meminta kepada Allah supaya dipindah dari suatu hal kepada yang lain, sebab sekiranya Allah menghendakinya tentu telah memindahmu, tanpa merubah keadaanmu yang lama.

Dalam Suatu hikayat diceritakan: Ada seorang shalih yang bekerja dan beribadah, lalu ia berkata: "Andai aku bisa mendapatkan untuk tiap hari dua potong roti, niscaya aku tidak akan susah payah bekerja dan hanya fokus dalam beribadah."

Tiba-tiba ia menjadi tertuduh dan karenanya ia harus masuk penjara, dan tiap hari ia menerima dua potong roti karena ia harus hidup dipenjara.

Kemudian ia berfikir: Bagaimana bisa terjadi hal yang demikian? Tiba-tiba dia teringat sesuatu yang pernah diucapkannya, dalam perasaannya: "Engkau hanya minta dua potong roti, dan tidak minta selamat maka Kami (Allah) memberi permintaanmu".

Setelah itu ia meminta ampun dan membaca istighfar, maka saat itu pula pintu penjara terbuka dan ia lepas dari penjara.


Sebab Allah menjadikan manusia dengan segala hajat kebutuhannya, sehingga tidak usah manusia hawatir, ragu atau jemu terhadap memberian Allah, meskipun berbentuk bala' pada lahirnya, sebab hakikatnya nikmat besar bagi siapa  saja yang mengetahui hakikatnya. karena tidak ada sesuatu yang tidak muncul (terjadi) dari rahmat karunia dan hikmah dari Allah.

(Kajian SyarahHikam)


Posted By Kang Santri2:20:00 PM

Tuesday, December 25, 2012

Rahasia Hati dan Alam Yang Tidak Bisa di Lihat (Hikmah)

Filled under: ,


Rahasia hati dan alam yang tidak bisa dilihat
(Hikmah Ibnu Atha'illah As-Syakandary)

Oleh: KH. M.Wafi MZ. Lc. Msi


ربما أطلعك علي غيب ملكوته وحجب عنك الإستشراف علي أسرارعبا ده
"Kadang kala Allah subhanahu wata'ala Memperlihatkan kepadamu bagian-bagian ghoib kerajaan-Nya,namun Dia menghalangimu untuk mengetahui rahasia-rahasia (hati) hamba-hamba-Nya."

A. Penjelasan
Yang dimaksud dengan kerajaan Allah adalah makhluk-makhluk-Nya yang berada diatas, di bawah dan sekitar kita tanpa terkecuali, saat kita memandang perkara-perkara itu, maka yang tampak oleh mata kita hanyalah bentuk luarnya saja. Sedangkan hal-hal yang terdapat dibalik luar itu tetap tersembunyi dari pandangan kedua mata kita, meskipun kita menggunakan kaca pembesar misalnya, atau teropong yang mampu mendekatkan jarak, atau pun sinar infra merah dan sinar-sinar lain yang bisa menerobos benda-benda padat, semua itu hanya memperlihatkan sedikit rahasia yang ada di balik bentuk luar sebuah perkara. 

Ini hanya membahas hal-hal yang berhubungan dengan kekuatan dan kemampuan manusia biasa, serta kemungkinan-kemungkinan ilmiyah yang dapat diperkirakan. Mengenai penyingkapan robbani yang diberikan Allah kepada hamba-hamba yang terpilih sehingga di depan indra penglihatan atau mata batinnya terhampar rahasia-rahasia kerajaan-Nya serta pengetahuan-pengetaahuan tentang makhluk-makhluk langit dan bumi, maka hal ini adalah murni anugerah yang tidak terbatasi fikiran-fikiran manusia. 

Sering kali Allah subhanahu wata'ala memeberikan karunia dan kemuliaan ini kepada para nabi,rosul,aulia atau kepada hamba-hamba-Nya yang sholeh. Salah satu contoh tersingkapnya rahasia-rahasia kerajaan Allah adalah apa yang bisa kita ketahui dari sabda Rasulallahu ‘alaihi wasalam.

إني أرى مالاترون أطت السماء وحق لها أن تئط ما فيها موضع أربع أصابع الا وملك واضع حبهته ساجدا لله تعالى. والله لو تعلمون ما أعلم لضحكتم قليلا ولبكيتم كثيرا وما تلذذتم بالنساء على الفرش . ولخرجتم إلي الصعدات تجأرون إلي الله تعالى (رواه الترمذي من حديث أبي ذر رضي الله عنه)
Artinya: "sesungguhnya aku bisa melihat apa yang tidak mampu kalian lihat, langit berteriak dan memang layak jika ia berteriak, tak ada tempat di dalamya yang sebesar bentangan empat jari kecuali disitu terdapat malaikat yang menundukkan dahinya bersujud keapada Allah subhanahu wata'ala. Demi Allah, seandainya kalian mengerti apa yang aku ketahui niscaya kalian akan sedikit tersenyum dan lebih banyak menangis, kalian tidak mampu merasakan kenikmatan Wanita-wanita di atas ranjang dan kalian akan menaiki tempat-tempat yang tinggi untuk berdo'a sepenuh hati memohon pertolongan Allah subhanahu wata'ala." (HR. Tirmidzi,dari riwayat Abu Dzar RA) 

Sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam yang menunjukkan contoh rahasia-rahasia kerajaan Allah yang lain adalah: 

إن الله زوى لي الأرض فرأيت مشارقها ومغاربها وإن أمتي سيبلغ ملكها ما زوي لي منها (رواه مسلم من حد يث ثوبان)
Artinya: "Sesungguhnya Allah telah menghimpun bumi untukku, maka aku mampu melihat bagian timur sekaligus bagian baratnya. Dan sesungguhnya umatku akan sampai kapada karajaan bumi seperti apa yang dihimpun Allah untuk ku." (HR. Muslim dan Ahmad dari riwayat Tsauban RA).


Terkadang juga Allah azza wajalla memperlihatkan misteri-misteri keajaiban dunia yang sangat rahasia kepada kekasih-Nya, Aulia ataupun hamba-hamba piliha-Nya. Ada sebuah kaidah umum yang disepakati semua ulama' tauhid bahwa setiap perkara luar biasa yang pernah menjadi mu'jizat bagi seorang nabi, mungkin saja terjadi sabagai karomah untuk seorang waliyullah.

B. Rahasia hati
Hal-hal yang bersifat material dan tampak dalam pandangan kasat mata akan berubah menjadi sesuatu yang tidak terlihat ketika dibatasi oleh jarak,ruang,waktu. Namun Allah subhanahu wata'ala mampu menyingkap semua itu dan memperlihatkan kepada hamba-hamba pilihan-Nya, hanya saja ketika membahas perkara abstrak yang berada dalam diri seorang manusia, misalnya tabiat,kenginan,niat,fikiran dan perasaan-perasaan yang tersimpan dalam hati, maka kita harus bahwa hal-hal seperti ini merupakan sesuatu yang misterius. Tidak bisa ditembus dan dilihat oleh orang lain. 

Mungkin saja bagi Allah, Memberikan kemampuan kepada seorang manusia untuk memandang benda-benda di balik gunung atau melihat perkara yang berada pada jarak sangat jauh ataupun hal-hal yang terjadi di masa lampau. Contohnya adalah peristiwa yang dialami Umar bin Khothob R.A. ketika beliau sedang berkhotbah di madinah tiba-tiba berteriak memanggil-manggil pasukan perang yang beliau kirim ke Syam, "Hai para pasukan berlindunglah di balik bukit, dan berlindunglah di balik bukit". Dan masih banyak contoh-contoh lain yang bisa kita ketahui dari riwayat yang masyhur terpercaya. 

Berbicara mengenai isi hati, adalah sesuatu yang tidak mudah dan bahkan sangat sulit untuk menembus batas-batas yang menutupinya hingga bisa diketahui apa yang ada di dalamnya. Artinya, bukanlah termasuk sunnatullah untuk membuka dan dan memperlihatkan rahasia hati kepada orang lain layaknya sebuah fenomena yang nyata atau seperti suara yang menggelegar hingga mudah didengar.

Sebuah pepatah mengatakan, "Dalamnya laut bisa diukur, dalamnya hati siapa yang tahu?" Jika kita merenungi mengapa isi hati tetap menjadi rahasia yang tersembunyi dari orang lain, maka kita akan menyadari bahwa ini adalah bentuk anugerah Allah Yang Sangat Agung. 

Andaikan apa yang ada didalam hati, menjadi suatu perkara yang jelas dan bisa diketahui setiap orang, pasti semua orang akan diliputi kebencian terhadap orang lain. Mengapa? Karena mereka akan melihat ‘aib, cela dan kekurangan yang tersembunyi dalam hati teman-temanya. Bentuk-bentuk kebaikan lahiriyah yang menjadi faktor pendorong timbulnya persaudaraan dan persahabatan akan terhapus oleh keburukan-keburukan hati yang tampak jelas dan akhirnya berganti rasa benci dan muak. Selanjutnya kita bisa membayangkan sendiri apa yang akan terjadi saat keadaan berubah menjadi seperti ini. 

C. Misteri sang pemilik rahasia 
Salah satu bentuk belas kasih Allah kepada manusia adalah menjadikannya tidak mengerti dan menyadari kesalahan dan kukurangan yang ada pada dirinya sendiri. Hal ini ternyata karena ia menganggap keburukan yang ia lakukan adalah sesuatu yang biasa saja, bahkan terkadang seorang manusia menjalani kehidupannya dengan penuh kejelekan dan kejahatan, namun ia merasa bahwa semua itu merupakan perkara-perkara yang normal dan manusiawi. Hal ini cocok dengan sebuah peribahasa, "kuman di seberang lautan akan tampak dengan jelas, namun Gajah di pelupuk Mata tidak terlihat oleh pandangan." 

Seandainya saja Allah subhanahu wata'ala menjadikan kita mengerti satu persatu kejelekan-kejelakan yang ada pada diri kita, mengetahui semua keburukan dan ‘aib yang tersimpan dalam diri kita sendiri, bosan dan menganggap hina tubuh ini, hidup kita akan senantiasa terpenuhi kesedihan dan kesusahan yang tiada berujung tak berakhir. 

Namun Allah Yang Maha Bijaksana selalu memberikan kemudahan dan kemurahan kepada hamba-hamba-Nya. Dia menutupi dan menghalangi kita untuk mengetahui sebagian besar ‘aib dan cela yang berada dalam diri kita sendiri. Allah subhanahu wata'ala menghilangkan kemampuan indera perasaan kita untuk meraba-raba semua keburukan diri dan hati agar kita menganggap bahwa Jiwa dan badan ini masih mempunyai nilai yang layak diperhitungkan, masih memilki kegunaan dan fungsi yang harus dijalanakan. 

Kenyataan seperti ini akan menyadarkan kita bahwa pastinya Allah subhanahu wata'ala tidak akan membiarkan kita untuk melihat dan mengerti kejelekan dan kekurangan orang lain tanpa terkecuali, karena jika hal ini terjadi akan menimbulkan bencana dan bahaya yang tidak mampu kita bayangkan.

D. Mengapa rahasia hati terbuka?
Kenyataan yang terjadi, sering kita melihat dan mengetahui keburukan serta kejahatan orang-orang fasik yang kerap kali meremehkan syari'at-syari'at Allah. Akibatnya masyarakat membicarakan dan menyebarluaskan kejelakan perangai dan sifat orang-orang tersebut. Apakah hal ini bertentangan dengan perkataan Ibnu Atho'illah bahwasanya Allah menghalangi kita untuk mengetahui rahasia-rahasia yang tersimpan dalam hati dan jiwa hamba-hamba-Nya?.

Sebenarnya Allah azza wajalla tidak pernah merobohkan batas-batas yang telah didirikan untuk menutupi rahasi-rahasia hati orang-orang seperti itu. Hanya saja, mereka sendirillah yang berusaha membuka pembatas hatinya dengan cara memperlihatkan keburukan mereka di mata khalayak ramai. Mereka melakukan kejahatan secara terang-terangan tanpa malu, bahkan mereka menganggap perbuatan buruk yang mereka jalankan adalah sesuatu yang harus dibanggakan , layak disebut sebagai kehormatan dan kemuliaan hingga mereka menyebarluaskan ‘aib dan cela mereka dengan penuh keberanian dan kecongkokan.


Seandainya mereka lebih memilih untuk menyembunyikan keburukan yang mereka miliki, merasa malu atas ‘aib yang ada pada dirinya serta hawatir dan takut akan tercemarnya nama baik mereka, pasti Allah subhanahu wata'ala akan menjaga kekurangan, dan ‘aib mereka tetap tersembunyi. Allah subhanahu wata'ala akan mendirikan batas-batas yang selalu menutupi rahasi-rahasia tersebut di dunia ini. Mungkin juga Allah azza wajalla akan mengabadikan batas-batas ini sampai di akhirat nanti sebagai bentuk anugerah dan karunia-Nya. 

E. Kesimpulan 
Makhluk-makhluk Allah yang berwujud materi akan menjadi samar dan tidak terlihat karena jarak yang jauh, terhalangi oleh benda-benda lain atau karena perbadaan waktu, artinya telah terjadi di masa lalu atau terjadi di waktu yang akan datang, akan tetapii jika Allah menghendaki, maka batas-batas materi seperti ini akan lenyap sehingga seseorang akan mampu memandang perkara-perkara material tersebut tanpa batas. 

Hanya saja Allah azza wajalla telah menetapkan batas-batas yang melindungi rahasia-rahasia hati agar tidak diketahui orang lain. Hal ini dimaksudkan agar di dalam masyarakat tetap terjaga semangat perdamaian dan kerukunan hidup, karena jika rahasia hati yang penuh dengan ‘aib dan cela bisa diketahui setiap orang, maka yang terjadi adalah tumbuhnya rasa benci dan muak sehingga timbullah keresahan dan perpecahan serta berbagai macam kekacauan. 

Sebagai seorang hamba yang mempunyai tuhan Yang Maha Esa, yang banyak menutupi ‘aib dan cela hamba-hamba-Nya, maka kita harus menutupi ‘aib dan cela diri sendiri, lebih-lebih ‘aib orang lain. Jika kita tahu bahwa kita mempunyai banyak keburukan, maka kewajiban kita adalah bertaubat dan memohon ampunan kepada Allah subhanahu wata'ala. Menyebar luaskan Aib diri sendiri apa lagi aib orang lain hanya akan menimbulkan fitnah dan kekacauan masyarakat. (Sumber: http://www.ppalanwar.com)


Posted By Kang Santri8:57:00 AM

Monday, December 17, 2012

10 Pesan Bumi Kepada Manusia

Murtakibudz Dzunub - Berkata Anas Bin Malik Radhiyallahu anhu;

"Sesungguhnya setiap hari bumi menyeru kepada manusia dengan sepuluh perkara.
1. Wahai anak Adam!
Berjalanlah di atas perutku, tetapi ingatlah!! Engkau akan dimasukkan ke dalamnya kelak.

2. Engkau melakukan maksiat di atas punggungku, tetapi ingatlah!! Engkau akan di adzab di dalam perutku.
3. Engkau tertawa di atas perutku, tetapi ingatlah! Engkau akan menangis di dalam perutku..

4. Engkau bergembira di atas punggungku, tetapi ingatlah!
Engkau akan menangis di dalam perutku.

5. Engkau gemar mengumpulkan harta di atas punggungku, tetapi ingatlah! Engkau akan menyesal di dalam perutku.

6. Engkau makan benda yang haram di atas punggungku, tetapi ingatlah! Engkau akan dimakan oleh ulat di dalam perutku.

7. Engkau angkuh di atasku, tetapi ingatlah! Engkau akan dihina di dalam perutku.

8. Engkau berlari dengan riang di atasku, tetapi ingatlah! Engkau akan jatuh di dalam perutku dalam keadaan duka cita.

9. Engkau hidup di dunia bermandikan cahaya matahari, bulan dan bintang di atasku, tetapi ingatlah! Engkau akan tinggal dalam kegelapan di dalam perutku.

10. Engkau hidup di atasku beramai-ramai, tetapi ingatlah! Engkau akan sendirian di dalam perutku."

Posted By Kang Santri9:25:00 PM

Thursday, November 29, 2012

Nasehat Ulama Salaf (Tentang Diam Sirri)

Filled under: , ,

Murtakibudz Dzunub - Apakah yang dimaksud dengan diam sirri?. Ketika Abu Bakr al-Farisy ditanya tentang diam sirri, beliau menjawabnya, 

“Diam sirri adalah menjauhkan diri dari kepedihan terhadap masa  lampau dan masa depan.” 

Dikatakannya pula, 
“Apabila seorang hamba berbicara hanya mengenai sesuatu yang menyangkut kepentingannya,  dan keharusan bicaranya, maka ia termasuk diam.”

Ibnus Samma' menuturkan, bahwa Syah al-Kirmany dan Yahya bin Mu’adz berteman, dan mereka tinggal di kota yang sama, tetap Syah tidak menghadiri majelisnya. Ketika ditanya alasannya, beliau menjawab, 

“Sudah sepatutnya begini.” 

Orang orang pun  lantas mendesaknya terus hingga suatu hari al-Kirmany datang ke majelis Yahya dan duduk di pojok di mana Yahya tidak akan  dapat melihatnya. Yahya pun mulai berbicara, namun secara tiba-tiba ia diam. Kemudian Yahya mengumumkan, 

"Ada seseorang yang dapat berbicara lebih baik dariku,” 

dan ia tidak mampu melanjutkan perkataannya itu. Maka al-Kirmany berkata, 

“Sudah kukatakan kepada Anda semua bahwa, adalah lebih baik jika aku tidak datang ke majelis ini.”

Terkadang seorang pembicara memaksakan diri untuk diam karena keadaan tertentu yang ada pada salah seorang yang hadir. Barangkali seseorang yang hadir tidak layak mendengar pembicaraan terkait, hingga Allah swt. mencegah lidah si pembicara demi ketentraman dan perlindungan dari mendengar pembicaraan itu.

Mu’adz bin Jabal r.a. berkata, 

“Kurangilah berbicara berlebihan dengan sesama manusia dan perbanyaklah berbicara dengan Tuhanmu, mudah-mudahan hatimu akan (dapat) melihat Nya.”

Dzun Nuun al-Mishry ditanya, 

“Di antara manusia, siapakah pelindung terbaik bagi hatinya?” 

Dzun Nuun menjawab, “Yaitu orang yang paling mampu menguasai lidahnya. “

Ibnu Mas’ud berkata, “Tidak ada sesuatu pun yang patut diikat berlama lama lebih dari lidah.”

Ali bin Bukkar mencatat, “Allah menjadikan dua pintu bagi segala sesuatu, tetapi Dia menjadikan empat pintu bagi lidah, yaitu dua bibir dan dua baris gigi.”

Konon Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. biasa mengulum sebutir batu selama beberapa tahun dengan tujuan agar lebih sedikit berbicara.

Abu Hamzah al-Baghdady adalah seorang pembicara ulung. Pada suatu ketika sebuah suara menyeru kepadanya, 

“Engkau berbicara, dan bicaramu sangat bagus. Sekarang tinggallah bagimu untuk berdiam, sehingga engkau menjadi bagus!” 

Akhirnya ia tidak pernah lagi berbicara sampal wafat menjemputnya.

Para syeikh yang ahli mengenal tharikat menjelaskan, “Terkadang alasan diamnya seseorang adalah karena ada jin yang hadir, yang bukan kompetennya. Karena majelis Para Sufi tidak pernah sepi dari kehadiran sekelompok jin.”

Syeikh Abu Ali ad Daqqaq menuturkan, “Suatu ketika aku jatuh sakit di Marw, dan ingin kembali ke Naisabur. Aku bermimpi bahwa sebuah suara menyeru kepadaku, ‘Engkau tidak dapat meninggalkan kota ini. Ada sekelompok jin yang menghadiri majelis majelismu dan mereka memperoleh manfaat dari ceramah ceramah yang engkau berikan. Demi mereka, tinggallah di tempatmu’!”

Salah seorang ahli hikmah berkata, “Manusia diciptakan hanya dengan satu lidah, namun dianugerahi dua mata dan dua telinga, agar ia mendengar dan mau melihat lebih banyak dari berbicara.”

Ibrahim bin Adham diundang ke sebuah pesta. Ketika ia duduk, orang-orang mulai bergunjing dan memfitnah satu sama lain. Ia lalu berkata, “Kebiasaan kami adalah makan daging sesudah makan roti. Anda ini malah makan daging lebih dahulu. ” Ucapannya ini merujuk kepada firman Allah swt.: “Maukah salah seorang di antaramu memakan daging saudaranya yang mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepada perbuatan itu.” (Q.s. Al Hujurat: 12).

(Dari berbagai sumber)



Posted By Kang Santri9:20:00 PM

Monday, July 16, 2012

Mengobati Sifat Ujub (Syaikh Abu Yazid Al-Busthami)

Filled under: ,

Murtakibudz Dzunub - Pernah ada seorang salik (orang yang sedang menempuh jalan Allah) bertanya pada Syaikh Abu Yazid Al-Busthami, 

"Syaikh, saya sudah beribadah 30 tahun lamanya, saya sholat sunnah setiap malam, berdzikir, dan sering sekali menjalankan puasa-puasa sunnah, tapi anehnya mengapa saya belum mengalami perjalanan rohani seperti yang diceritakan dan saya harapkan?"

"Mengapa saya tak pernah sekalipun menyaksikan dan mengalami apa pun seperti yang pernah Syaikh gambarkan?" Tanya salik itu.

Kemudian Syaikh Abu Yazid menjawab: "Seandainya kau beribadat 300 tahun pun, kau tak akan mencapai satu butirpun debu mukasyafah dalam hidup mu",
 
"Kau tidak akan pernah mencapai apa yang kau tuju, kalau kau masih menghitung-hitung dan memamerkan ibadah mu",

"Karena sifat Ujub yang ada dalam dirimu adalah hijab besar untuk menemukan dirimu, bagaimana kau mampu mengenal Tuhan mu?. Sombong itu jubah Allah" ,

"Kalau kau memakai Jubah-Nya sedangkan kau ingin menemui-Nya, berarti kau hamba kurang ajar, sadar lah",

Kemudian salik tadi memohon pada Syaikh Abu Yazid: "Syaikh, tolong obati aku agar hijab itu tersingkap"

Syaikh berkata: "Tapi kau tak akan mau melakukannya",

Salik menjawab: "Tentu saja akan kulakukan apapun itu."

Syaikh berkata: "Baiklah, lepaskan pakaian bagus mu, ganti dengan baju gembel yang lusuh, kemudian gantung di lehermu kantung berisi kacang. Bawalah beberapa kantung dan pergi ke pasar yg ramai anak kecil, kemudian suruh mereka menamparmu dan setiap anak yang menamparmu, berikan satu kantung kacang, lakukan sampai semua kantung kacang habis.  Kemudian kalau sudah habis, kembal kerumah dan ambil kantung kacang lebih banyak lagi, dan datangi tempat yang dimana banyak orang-orang memujimu sebagai ahli ibadah dan pemuka agama yang hebat. Lakukan hal yang sama, suruh orang-orang yang menghormati mu menamparmu, dan bagikan pada setiap yg menampar satu kantung kacang, lakukan smpai kantung habis"

Salik itu terkejut dan berkata: "Subhanallah, Masya Allah, Laailahailallah, kenapa harus seperti itu?"

Syaikh Abu Yazid berkata: "Jika kalimat-kalimat suci itu di ucapkan oleh seorang kafir, maka ia berubah menjadi mukmin. Tapi kalau kalimat itu di ucapkan orang sepertimu, maka kau berubah dari seorang mukmin menjadi lebih buruk dari kafir." 

Salik itu bertanya: "Kenapa kau menyebutku seperti itu Tuan Guru?"

Syaikh Abu Yazid menjawab: "Karena hanya kelihatannya saja kau sedang memuji Allah, padahal kau hanya sedang memuji dirimu sendiri"  

Lanjut Syaikh: "Ketika kau menyebut -Tuhan Maha Suci- seakan kau sedang mensuci-sucikan nama-Nya, padahal kau hanya sedang menonjolkan kesucian mu"

Salik: "Mohon ampun aku, kalau begitu berilah saya nasihat yang lain untuk mendekati Allah"

Syaikh Abu Yazid menjawab: "bukankah sudah aku beriikan nasihatnya tadi, dan kau tak akan mampu melakukannya. Lepaskan Jubah Ujub mu". 


Posted By Kang Santri4:40:00 PM

Tuesday, July 10, 2012

Seberapa Kuat Keimanan Kita?

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Iman (percaya kepada Allah) merupakan aset terbesar kita dihadapan Allah. Pernahkan kita mengukur seberapa besar kekuatan iman kita kepada Allah? Mari kita tes keimanan kita masing-masing? Masih sangatlah lemahkah? Sedang-sedang saja? Atau mungkin sudah sangat kuat?

Karena ciri-ciri orang yang kuat imannya adalah:

1. Terbebas dari dikuasai orang lain

قُلْ لا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلا ضَرًّا إِلا مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
Katakanlah: "Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudaratan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman". (Al-A'raf: 188)

2. Merasakan dirinya berani dan kuat

وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تَمُوتَ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ كِتَابًا مُؤَجَّلا وَمَنْ يُرِدْ ثَوَابَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَنْ يُرِدْ ثَوَابَ الآخِرَةِ نُؤْتِهِ مِنْهَا وَسَنَجْزِي الشَّاكِرِينَ
Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat. Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (Ali-Imran: 145)


3. Meyakini bahwa rezeki datangnya dari Allah

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأرْضِ إِلا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ
Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauhulmahfuz). (Hud: 6)

وَكَأَيِّنْ مِنْ دَابَّةٍ لا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Al-Ankabut: 60)

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ نَزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الأرْضَ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهَا لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لا يَعْقِلُونَ
Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?" Tentu mereka akan menjawab: "Allah". Katakanlah: "Segala puji bagi Allah", tetapi kebanyakan mereka tidak memahami (nya). (Al-Ankabut: 63)

4. Tenang hati dan tetap jiwanya 

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram. (Ar-Ra'ad: 28)

5. Mempunyai kekuatan mengalahkan hawa nafsunya dari godaan syaithan

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ يَهْدِيهِمْ رَبُّهُمْ بِإِيمَانِهِمْ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الأنْهَارُ فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya, di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam surga yang penuh kenikmatan. (Yunus: 6)

وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَيُؤْمِنُوا بِهِ فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ وَإِنَّ اللَّهَ لَهَادِ الَّذِينَ آمَنُوا إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al Qur'an itulah yang hak dari Tuhanmu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya, dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus. (Al-Hajj: 54)

6. Allah memberinya penghidupan yang baik semasa didunia dan di akhirat

Yang dimaksud dengan penghidupan yang baik disini adalah selamat dari tergelincirnya akidah, mendapat pertolongan bila berhadapan dengan musuh, dan kehidupannya dapat melewati cobaan.

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (An-Nahl: 97)

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (Al-A'raf: 96)


Posted By Kang Santri4:26:00 PM

Saturday, May 12, 2012

Riya' Yang Terabaikan

Filled under:

Jangan pernah merasa selamat dari sifat riya'
(Murtakibudz Dzunub)
Murtakibudz Dzunub - Mampu terhindar dari sifat riya' dalam beribadah merupakan puncak pencapaian tertinggi bagi seorang 'abid (ahli ibadah). Namun sungguh Masya Allah beratnya untuk mencapai tingkatan 'Mukhlisin', iblis tidak akan pernah lengah membiarkan seorang muslim melenggang tenang saat melakukan amal baik (ibadah). 

Pada kesempatan kali ini, saya teringat akan perkataan Sayyid Al Jalil Abi Ali AL Fudhail bin Iyadh yang pernah saya baca di kitab Adzkar an Nawawi. Beliau mengatakan    ترك العمل لأجل الناس فهو رياء bahwasanya, meninggalkan amal karena manusia itu termasuk riya'.

Disini kita bisa lihat akan tipu daya syaithan tanpa kita sadari, saat kita ingin terhindar dari sifat pamer justru menjadi bumerang kita melakukan riya'. Sebagai contoh sederhana, ada si fulan yang boleh di katakan dia alim dalam ilmu agama. Suatu ketika, saat dia menunggu untuk shalat berjamaah sang imam berhalangan hadir hingga kebanyakan jamaah shalat menghendakinya sebagai pengganti. Namun si fulan menolak dengan alasan hawatir kepada jamaah lain kalau dia bersedia menjadi imam mereka akan menganggapnya sok pamer, hingga dia pun mengurungkan niatnya menjadi imam.

Kenapa perumpamaan diatas bisa dimasukkan dalam kategori sifat riya'?, inilah salah satu celah bagi iblis membisiki hati manusia saat si fulan mengambil keputusan demikian tanpa disadari dia sudah merasa selamat dari sifat riya' karena dia tidak menjadi imam, sedang merasa selamat dari sifat riya itu merupakan sifat riya' yang mendekati ujub.

Kalau dirumuskan akan terdapat tiga kriteria hukum dalam kasus diatas

Pertama: 'makruh' karena menisbatkan atau menganggap kalau dia menjadi imam dia akan riya'.

Kedua: 'sunnah' dengan bersedianya dia menjadi imam dan terus berusaha menjaga hati untuk mencapai tingkat keihlas.

Ketiga: 'haram' dengan penolakannya menjadi imam shalat hatinya memiliki prasangka dan menisbatkannya pada tingkat  keihlasan. Bukan menisbatkan pada tingkatan riya'.

Untuk itu, jangan pernah kita meninggalkan sebuah amal ibadah dikarenakan kita takut pamer dihadapan manusia. Pasrahkan semua urusan ibadah kita, sembari berikhtiar secara terus menerus melawan sifat riya dan jangan pernah berpikiran "aku sudah selamat terhindar dari sifat riya'"

Wallahu 'Alam

Posted By Kang Santri4:48:00 PM

Friday, May 4, 2012

Delapan Intisari Belajar Hikmah

Filled under: ,

Murtakibudz Dzunub - Diriwayatkan dari Syaqiq Al-Bajaly rahimahullâh, bahwa beliau bertanya kepada muridnya Hatim, “Engkau telah menemaniku dalam kurung waktu (yang lama). Lalu apakah yang engkau telah pelajari dari ku?”

Hatim rahimahullâh menjawab: “Saya telah mempelajari delapan perkara:

Pertama : Saya melihat kepada makhluk, ternyata setiap orang memiliki kecintaan. Namun jika ia telah mencapai kuburnya maka kecintaannya akan berpisah darinya. Maka saya pun menjadikan (amalan-amalan) kebaikanku sebagai kecintaanku agar ia senantiasa bersamaku di alam kubur.

Kedua : Saya melihat kepada Firman ALLAH Ta’âlâ, “(Dan orang-orang yang) menahan diri dari keinginan hawa nafsunya.” [An-Nâzi’ât : 40], maka saya pun bersungguh-sungguh menolak hawa nafsu dari diriku sehingga senantiasa tetap di atas ketaatan kepada ALLAH Ta’âlâ.

Ketiga : Saya melihat setiap orang yang memiliki sesuatu yang berharga baginya, pasti ia akan senantiasa menjaganya. Kemudian saya memperhatikan Firman (ALLAH) Subhânahu wa Ta’âlâ, “Apa yang di sisimu akan sirna, dan apa yang ada di sisi ALLAH adalah kekal.” [An-Nahl :96], maka setiap kali saya memiliki sesuatu yang berharga, pasti saya hadapkan kepada-NYA agar ia kekal untukku di sisi-NYA.

Keempat : Saya melihat manusia kembali kepada harta, kedudukan dan kehormatan, sedangkan itu tidak (berarti) sedikit pun. Kemudian saya mencermati Firman (ALLAH) Ta’âlâ, “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian.” [Al-Hujarât :13] maka saya pun beramal dengan ketakwaan agar saya menjadi mulia di sisi-NYA.

Kelima : Saya melihat manusia saling mendengki (hasad). Lalu saya memperhatikan Firman (ALLAH) Ta’âlâ, “KAMI telah menentukan antara mereka penghidupan mereka.” [Az-Zukhruf :32], maka saya pun meninggalkan hasad.

Keenam : Saya melihat manusia saling bermusuhan. Kemudian saya mencermati Firman (ALLAH) Ta’âlâ, “Sesungguhnya syaithân itu adalah musuh bagi kalian, maka anggaplah ia sebagai musuh.” [Fâthir :6], maka saya pun meninggalkan permusuhan mereka dan saya jadikan syaithân sebagai musuh satu-satunya.

Ketujuh : Saya melihat mereka menghinakan diri-diri mereka dalam mencari rezki. Lalu saya mencermati Firman (ALLAH) Ta’âlâ, “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan ALLAH-lah yang memberi rezkinya.” [Hûd :6], maka saya pun menyibukkan diriku dengan apa-apa yang merupakan hak ALLAH terhadapku dan saya tinggalkan apa yang untukku di sisi-NYA.

Kedelapan : Saya melihat mereka bergantung (tawakkal) pada perdagangan, usaha dan kesehatan badan, maka saya pun bertawakkal hanya kepada ALLAH."

(Bahjatul Majâlis Wa Anîsul Muqîm Wal Musâfir Juz II hal 12-13)
Sumber: An-Nashihah Volume 12 Tahun 1428H/2007M

Posted By Kang Santri7:07:00 PM

Wednesday, May 2, 2012

Menjaga Diri (Al-'Iffah)

Filled under: ,

Murtakibudz Dzunub - Sifat 'Iffah (menjaga diri) merupakan sifat yang wajib dimiliki bagi setiap muslim. Menjaga diri dari hal-hal yang bisa membawanya pada kesengsaraan dunia dan akhirat. Kalau dalam kaidah fiqih biasa disebut dengan Hifdhu an-Nafsi.

Seperti yang sudah diterangkan oleh Al Imam Al Mawardi (AL Imam Abi Al Hasan Ali Bin Muhammad Bin Habib Al Bashari Al Wamawardi Asy-Syafi'i), menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan itu dibagi menjadi dua yaitu, menjaga farji (kelamin) dari hal-hal yang diharamkan dan mejaga lidah dari membual (kedustaan).

Rasulullah bersabda, "Orang yang menjaga (menghindari) kejelekan kelaminnya, lidah dan perutnya, maka dia telah terjaga".

Faktor yang menyebabkan hilangnya sifat 'Iffah

Ada dua faktor yang mendorong tejadinya perbuatan tersebut (tidak bisa menjaga diri dari yang diharamkan) yaitu, mengikuti pandangan mata, dan tunduk kepada syahwat (nafsu).

Telah diriwayatkan dari Rasulullah, seraya beliau bersabda yang ditujukan kepada Ali Bin Abi Thalib: "Wahai Ali, janganlah kamu mengiringi pandangan dengan pandangan, karena yang pertama diperbolehkan bagimu, dan yang kedua menjadi dosa bagimu".

Berkenaan dengan lafadz "janganlah kamu mengiringi pandangan dengan pandangan" terdapat dua penafsiran. Pertama, janganlah kamu mengiringi pandangan matamu dengan pandangan hatimu. Kedua, janganlah kamu mengiringi pandangan yang pertama yang dapat menimbulkan syahwat dengan pandangan yang kedua yang dapat menimbulkan syahwat dengan cara sengaja.

Nabi Isa A.S pernah berkata: "Hendaknya kamu takut dengan pandangan setelah pandangan, karena hal itu menumbuhkan syahwat dalam hatimu, dan cukup bagi pelakunya menimbulkan fitnah".

Ali Bin Abi Thalib juga berkata: "Mata itu tempat berjalannya syaithan." Sedang menurut ahli hikmah, "Orang yang membiarkan pandangan matanya maka dia telah mengundang kebinasaan".

Posted By Kang Santri10:39:00 AM

Saturday, April 28, 2012

Mutiara Keimanan

Filled under: ,

Rasulullah Saw. bersabda:

Sepuluh macam orang dari ummatku mereka telah kafir namun merasa dirinya muslim. Ialah pembunuh muslim tanpa alasan. Ahli sihir, sebagaimana dikecam Al-Qur’an. Suami yang tak curiga terhadap istrinya. Orang yang enggan mengeluarkan zakat harta bendanya. Peminum minuman yang memabukkan. Orang yang telah wajib haji namun belum juga melaksanakannya. Penyebar fitnah dengan segala kebohongan. Penjual senjata pada pengacau keamanan. Menyetubuhi istri pada anusnya. Dan menikahi perempuan yang jelas
mahramnya.


Abu Bakar r.a. mengatakan:

Apabila seseorang telah dianugrahi sepuluh anugrah dari Ilahi sungguh ia telah dilindungi dari malapetaka yang menyelimuti. Dan termasuk hamba yang dekat dengan Ilahi serta memperoleh penghargaan “orang suci”,

Pertama, kejujuran abadi disertai ketulusan hati
Kedua, kesabaran sempurna disertai rasa syukur sepanjang masa
Ketiga, kondisi fakir disertai sikap zuhud yang selalu hadir
Keempat, tafakur tentang makhluk disertai lapar yang mengetuk
Kelima, kegelisahan jiwa disertai ketakwaan pada Sang Esa
Keenam, kesungguhan hati disertai sifat rendah hati
Ketujuh, ramah tamah disertai sayang dan penuh kasih
Kedelapan, cinta sejati disertai upaya mawas diri
Kesembilan, ilmu manfaat disertai kemauan untuk berbuat
Kesepuluh, iman yang teguh disertai akal yang kukuh


Umar bin Khaththab r.a. mengatakan:

Akal akan binasa, tanpa usaha menjauhi dosa
Pekerjaan akan sia-sia tanpa didasari ilmu yang berguna
Kekuasaan akan sirna bila keadilan tidak tercipta
Jabatan tiada gunanyatanpa pekerti yang mulia
Kebahagiaan tiada artinya tanpa adanya hati yang rela
Kekayaan akan binasa apabila tak pernah diderma
Kefakiran akan nestapa tanpa adanya jiwa lapang dada
Kejayaan takkan tercipta tanpa rendah diri hati sang penguasa.
Perjuangan takkan lama tanpa upaya terus membina
Dan keuntungan tak akan seberapa tanpa didukung iman dan takwa

Utsman bin Affan r.a. berkata:

Sungguh sia-sia Orang alim yang tidak dimanfaatkan Ilmu yang tidak disosialisasikan Pemikiran benar yang dikesampingkan Pedang yang tidak dipergunakan Dan umur panjang yang disia-
siakan


Ali bin Abi Thalib r.a. berkata:

Sebaik-baik warisan adalah ilmu yang berguna
Sebaik-baik tindakan adalah akhlak yang mulia
Sebaik-baik bekal adalah takwa
Sebaik-baik dagangan adalah taat beragama
Sebaik-baik sahabat adalah perilaku utama
Sebaik-baik pendamping adalah sikap bijaksana
Sebaik-baik kekayaan adalah jiwa lapang dada
Sebaik-baik pertolongan adalah petunjuk yang sebenarnya
Dan sebaik-baik guru adalah kematian yang akan tiba



Posted By Kang Santri11:11:00 AM

Friday, March 30, 2012

Penjelasan Tentang Wudlu Dhahir dan Bathin

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Seorang ahli ibadah bernama Isam bin Yusuf, dia sangat warak dan sangat khusyuk sholatnya.

Namun dia selalu khawatir kalau-kalau ibadahnya kurang khusyuk dan selalu bertanya kepada orang yang dianggapnya lebih ibadahnya, demi untuk memperbaiki dirinya yang selalu dirasakan kurang khusyuk.

Pada suatu hari, Isam menghadiri majlis seorang abid bernama Hatim Al-Isam dan bertanya :

"Wahai Aba Abdurrahman, bagaimanakah caranya tuan sholat?"

Hatim berkata : "Apabila masuk waktu solat aku berwudhu’ zahir dan batin."

Isam bertanya: "Bagaimana wudhu’ zahir dan batin itu?"

Hatim berkata, "Wudhu’ zahir sebagaimana biasa, yaitu membasuh semua anggota wudhu’ dengan air.
Sementara wudhu’ batin ialah membasuh anggota dengan tujuh perkara :
1. Bertaubat
2. Menyesali dosa yang dilakukan
3. Tidak tergila-gilakan dunia
4. Tidak mencari / mengharap pujian orang (riya’)
5. Tinggalkan sifat berbangga
6. Tinggalkan sifat khianat dan menipu
7. Meninggalkan sifat dengki

Seterusnya Hatim berkata, "Kemudian aku pergi ke masjid, aku bersiap shalat dan menghadap kiblat. Aku berdiri dengan penuh kewaspadaan dan aku bayangkan Allah ada di hadapanku, syurga di sebelah kananku, neraka di sebelah kiriku, malaikat maut berada di belakangku, dan aku bayangkan pula bahwa aku seolah-olah berdiri di atas titian ‘Sirratul Mustaqim’ dan aku menganggap bahwa shalatku kali ini adalah shalat terakhirku, kemudian aku berniat dan bertakbir dengan baik.

Setiap bacaan dan doa dalam shalat ku fahami maknanya, kemudian aku ruku’ dan sujud dengan tawadhu’, aku bertasyahud dengan penuh pengharapan dan aku memberi salam dengan ikhlas.
 
Beginilah aku bershalat selama 30 tahun."

Tatkala Isam mendengar, menangislah dia karena membayangkan ibadahnya yang kurang baik bila dibandingkan dengan Hatim.

Referensi: Diambil dari Buku Kisah Penuh Hikmah 2 

Posted By Kang Santri3:14:00 PM

Wednesday, March 28, 2012

Perselingkuhan Ilmu Dengan Nafsu

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Salah satu fitnah terbesar buat seorang 'Alim adalah saat ia menjadi budak oleh ilmunya sendiri, dalam artian saat ilmu sudah di tumpangi oleh kepentingan hawa nafsu duniawi.

Ibnu Atta’illah  As-Sakandary mengatakan:  

”Wahai manusia engkau berguru atau mencari sahabat yang bodoh, yang ia tidak menuruti hawa nafsunya, itu lebih baik dari pada engkau berguru pada orang alim yang merelakan dirinya untuk mengikuti hawa nafsunya. Lalu ilmu macam apa yang ada pada orang alim yang mengikuti hawa nafsunya itu? dan disebut kebodohan macam apa jika orang itu mampu tidak menuruti hawa nafsunya?” 

Mari bersama kita renungkan, paling tidak kita bisa meminimalisir untuk terhindar dari sifat riya, 'ujub, sum'ah dan semua sifat madzmumah lainnya yang sering menempel pada hati orang yang pandai ('alim) dengan ilmu pengetahuan dunia lebih-lebih ilmu agama. 

Sia-sia bacaan qur'an kita fasih dengan suara yang merdu, tetapi hati kita ditumpangi nafsu ingin pamer dan mendapat pujian.

Percuma kita pandai berdialog tentang agama, akan tetapi dalam hati kita penuh kepuasan saat mampu mengalahkan lawan, karena saat itu juga tanpa sadar hawa nafsu sudah berhasil menguasai.

Juga tiada gunanya kita lihai mengolah kata yang membuat orang yang membaca menjadi takjub dan terkesima, tapi dalam hati penuh 'ujub, riya dan sum'ah.

Itulah sedikit gambaran antara perselingkuhan ilmu dengan hawa nafsu yang begitu halus dan lembut hingga sering tidak kita sadari.

Posted By Kang Santri10:07:00 AM

Wednesday, February 15, 2012

Batas Kepasrahan Tertinggi

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - “Sempurnakanlah ikhtiar..” Meski hanya dua patah kata, tapi agak sulit bagi saya /pen.  untuk menerjemahkan kata ini dalam tindak kehidupan nyata. Karena disaat kita menggali makna lebih dalam dari dua kata diatas maka kita akan mendapati banyak sekali pertanyaan, yang mana kita sendiri yang harus menjawabnya.

Sebagai contoh, ada seseorang yang memang sebagian besar waktunya ia ingin dedikasikan untuk membahagiakan keluarganya hingga ia pun berfikir “aku harus kerja keras untuk mendapatkan uang”. Tapi sayang meski ia sudah mati-matian sampai membanting tulang namun hasilnya belum bisa sepenuhnya mencukupi kebutuhan rumah tangganya.

Dari contoh diatas, ada satu pertanyaan yang timbul “apakah ikhtiarnya sudah maksimal?”, (umpama kita menjawab sudah, akan muncul pertanyaan baru lagi) “bukankah ia bisa mendapatkan uang yang lebih andai saja keterampilan kerja yang lainnya ia gunakan juga..” (jadi apakah seseorang tadi sudah benar-benar menyempurnakan ikhtiarnya?)  dan masih banyak lagi pertanyaan yang mana penulis sendiri belum bisa menterjemahkan kedalam bahasa tulisan.

“Karena untuk bisa mencapai pada batas kepasrahan yang menjadi syarat utamanya adalah ketika sudah sempurnanya sebuah ikhtiar.”

Imam Ahmad pernah ditanyakan mengenai seorang yang kerjaannya hanya duduk di rumah atau di masjid.
Pria itu mengatakan, “Aku tidak mengerjakan apa-apa sehingga rezekiku datang kepadaku.”
Lalu Imam Ahmad mengatakan, “Orang ini tidak tahu ilmu (bodoh). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Allah menjadikan rezekiku di bawah bayangan tombakku.

Juga hadits Rosululloh s.a.w:

يَقُولُ سَمِعَ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ إِنَّهُ سَمِعَ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ

عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ

الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

Dari Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Seandainya kalian betul-betul bertawakal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rezeki sebagaimana burung mendapatkan rezeki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.”

(HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Al Hakim. Dikatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shohihah no. 310)

Sedang sisi lain dari makna kepasrahan menurut Imam Ahmad bin Hambal, bahwa pasrah/tawakal itu merupakan aktivias hati, artinya tawakal itu merupakan perbuatan yang dilakukan oleh hati, bukan sesuatu yang diucapkan oleh lisan, bukan pula sesuatu yang dilakukan oleh anggota tubuh. Dan pasrah/tawakal juga bukan merupakan sebuah keilmuan dan pengetahuan.

Dari Abul Abbas Abdulloh bin Abbas rodhiallohu ‘anhuma beliau berkata:

Suatu hari aku berada di belakang Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam Lalu beliau bersabda,

“Nak, aku akan ajarkan kepadamu beberapa patah kata: Jagalah Alloh, Niscaya Dia akan senantiasa menjagamu. Bila engkau meminta sesuatu, mintalah kepada Alloh, dan bila engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Alloh. Ketahuilah, jika semua umat manusia bersatu padu untuk memberikan suatu kebaikan kepadamu, niscaya mereka tidak dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah ditulis oleh Alloh bagimu, dan jika semua umat manusia bersatu padu untuk mencelakakanmu, niscaya mereka tidak dapat mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah ditulis oleh Alloh bagimu. Pena telah diangkat dan catatan-catatan telah mengering.” (HR Tirmidzi Dia berkata , “Hadits ini hasan shohih”)

Inilah batas akhir dari ikhtiar manusia, artinya dari batas menyempurnakan ikhtiar hingga sampai menuju pada batas kepasrahan tertinggi.




Posted By Kang Santri3:43:00 PM

Monday, January 30, 2012

Jurus Ampuh Mengusir Bisikan Setan, Jin Dan Manusia

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Malam itu penulis kedatangan salah seorang sahabat yang tengah gelisah karena dia merasa berat sekali untuk mengerjakan sholat subuh.

“tolong kasih masukan supaya aku bisa mengerjakan sholat subuh, Karena ahir-ahir ini aku tidak pernah mampu mengerjakannya..”. keluhnya

“emang kalau malam tidurnya jam berapa..” tanyaku.

“pokoknya kalau belum jam dua belas lewat belum bisa tidur..”

“ngapain aja..” tanyaku lagi, yang tidak dia jawab.

“Aku lihat artikelmu di tanbihun.com (baca: Ketika Sholat Tak Lagi Terasa Nikmat), tapi aku masih belum puas kalau tidak bertanya langsung..”.

Setelah selesai menceritakan kegelisahannya,

Aku hanya menjawab “meski orang yang nasehati sampai mulutnya berbusa, kalau hatimu masih seperti itu nggak akan masuk sobat, karena sebenarnya kamu sendiripun tahu mesti harus ngapain…”. dia hanya diam.

“coba kamu tidurnya lebih awal lagi…”

“sebenarnya sama, aku juga belum lebih baik darimu..” imbuhku.

Untuk mengobati kegelisan sahabatku tadi, sengaja penulis menyusun artikel ini. Dengan tujuan semoga ada manfaat yang bisa sama-sama kita ambil.


Sahabat, mari kita simak sepuluh wasiat Rosululloh tentang kiat-kiat mengusir bisikan setan, jin dan manusia yang menyebabkan kita terasa berat ketika akan mengerjakan amal ta’at berikut ini:

Pertama, Jika dia membisikkan: “Anakmu akan…”. Jawablah: “Semua akan mati, dan anakku akan ke surga, aku malah senang.” (karena sudah banyak ahli ibadah yang menduakan kecintaannya kepada Alloh setelah ia dikaruniai anak. Apalagi yang bukan ahli ibadah pen.)

Kedua, Jika dia membisikkan: “Hartamu akan musnah…” Jawablah: “Tak apalah, pertanggung-jawabanku  menjadi ringan.” (inilah jawaban orang yang tidak hubbuddunnya, sehingga ia akan mudah mengerjakan ibadah karena waktunya tidak ia gunakan hanya untuk menumpuk-numpuk kakayaan pen.)

Ketiga, Jika dia membisikkan: “Orang-orang menzalimi dirimu, sedangkan kamu tidak zalim…” Jawablah: “Siksa Allah akan menimpa orang-orang zalim dan tidak mengenai orang-orang yang baik.”  (merupakan tanda kepasrahan dan tidak pendendam, karena sifat dendam hanya akan membawa pada kebinasaan pen.)

Keempat, Jika dia membisikkan: “Betapa banyak kebaikanmu…” Jawablah: “Kejelekanku lebih banyak.”  ( untuk menghindari sifat riya’ ujub dan takabur, kare ketiganya lah yang membuat ibadah tidak ada nilainya dihadapan Tuhan pen.)

Kelima, Jika dia membisikkan: “Alangkah banyak shalatmu…” Jawablah: “Kelalaianku lebih banyak dari pada shalatku.” (Lalai tidak mengingat, bahwa Allah senantiasa mengawasi dirinya pen.)

Keenam, Jika dia membisikkan: “Betapa banyak kamu bersedekah kepada orang-orang…” Jawablah: “Apa yang aku terima Allah jauh lebih banyak dari yang aku sedekahkan.” (sebagai tanda mensyukuri nikmat pen.)

Ketujuh, Jika dia membisikkan: “Betapa banyak orang yang menzalimu…” Jawablah: “Orang-orang yang aku zalimi lebih banyak.”  (menandakan bahwa manusia tidak pernah luput dari dosa haqqul adam pen.)

Kedelapan, Jika dia membisikkan: “Betapa banyak amalmu…” Jawablah: “Betapa sering aku bermaksiat.” (merupakan sikap yang tawadlu’ yang tidak suka membangga-banggakan amal pen.)

Kesembilan, Jika dia membisikkan: “Minumlah minuman-minuman keras…” Jawablah: “Aku tidak akan mengerjakan maksiat.” (merupakan benteng mempertahankan keimanan pen.)

Kesepuluh, Jika dia membisikkan: “Mengapa kamu tidak mencintai dunia…?” Jawablah: “Aku tidak mencintainya karena telah banyak orang lain yang tertipu olehnya.”  (ingatlah mereka yang sudah di alam barzakh sedang merapi penyesalan yang sudah tidak mungkin ia perbaiki pen.)



Renungan:

Saudaraku, sampai kapankah kamu menunda-nunda amalan? Sampai kapankah kamu menambahkan impian? Sampai kapankah kamu terperdaya oleh kesempatan yang diberikan? Dan sampai kapankah kamu tidak mengingat datangnya kematian? Semua hasil usaha kamu hanyalah untuk tanah, apa yang dibangun semua akan hancur, segala yang kamu kumpulkan akan pergi, dan seluruh amalan kamu tertulis dalam satu kitab yang disiapkan untuk hari perhitungan.

Saudaraku, berapa hari kah yang telah engkau habiskan untuk mengulang-ulangi kata “nanti”, betapa banyak waktu yang kau sia-siakan dengan melalaikan kewajibanmu, dan betapa banyak telinga yang sempurna pendengarannya tapi tidak dapat digetarkan oleh peringatan dan ancaman.

Saudaraku, jika Tuhanmu mengusirmu dari hadapan-Nya, maka kemanakah engkau akan kembali dan jalan manakah yang akan engkau tempuh, serta arah mana yang akan engkau tuju? Berbaktilah kepada Tuhanmu. Mudah-mudahan hal itu akan membuahkan hasil bagimu untuk kembali.

Saudaraku, perjalanan itu telah ditetapkan untuk kita. Tahun-tahun yang dilalui adalah tempat-tempat persinggahan, bulan-bulan adalah fase-fasenya, hari-hari adalah jaraknya, dan napas adalah langkah-langkahnya, maksiat sebagai penyamun, keberuntungan adalah surga dan kerugian adalah neraka.

Kita diciptakan melalui enam masa perjalanan sebelum mencapai tempat kedamaian. Pertama, perjalanan dari tanah menuju air mani. Kedua, dari tulang sulbi menuju rahim. Ketiga, dari rahim ke atas dunia. Keempat, dari permukaan bumi ke liang kubur. Kelima, dari kubur ke tempat hisab (perhitungan). Keenam, perjalanan dari tempat hisab menuju ke tempat tinggal abadi (neraka atau surga). Saat ini kita telah menyelesaikan setengah perjalanan namun yang tersisa jauh lebih sulit dibanding perjalanan sebelumnya. (“Lautan Air Mata”/Ibnul Jauzy)



Posted By Kang Santri3:49:00 PM