
Murtakibudz Dzunub - Ikhwan itu tertunduk lesu setelah membaca secarik kertas yang terbungkus rapi dalam amplop putih. Batinnya bergolak hebat tidak percaya dengan apa yang barusan ia baca. Mungkin sakit, pedih, perih, bak di sayat sembilu beracun yang sedang ia rasakan. Kenangan indah yang beterbangan di alam pikiran, semakin menghancurkan cita dan harapan. Namun ia tidak ingin menyalahkan keadaan dan asbab dari prahara hatinya."inilah takdir...