Showing posts with label Artikel Bebas. Show all posts
Showing posts with label Artikel Bebas. Show all posts

Sunday, September 10, 2017

Nasehat Umar Bin Khattab Untuk Para Suami dan Calon Suami

Murtakibudz Dzunub - Ada seorang lelaki menghadap khalifah Umar bin Khatab. Dia ingin mengadukan dan meminta nasehat terkait tabiat istrinya yg buruk. 

Sesampainya di depan rumah khalifah, dia tercekat. Melihat dan mendengar istri khalifah Umar ternyata tidak berbeda dengan istrinya. Marah-marah di depan khalifah, sedangkan beliau hanya diam tidak menjawab. 

Lelaki tadi kemudian beranjak pergi sambil berkata, 

"Amirul mukminin saja kondisinya sepertinya ini, bagaimana denganku?" 

Khalifah Umar keluar rumah. Melihat ada lelaki yg ingin menemuinya pulang lagi, beliau memanggilnya mendekat. Kemudian beliau bertanya, 

"Apa keperluanmu?". 

Dijawab,"Wahai amirul mu'minin, saya menghadap ingin mengadukan perangai buruk istriku. Dia selalu memarahiku. Kemudian setelah aku mendengar ternyata istri anda juga memiliki perangai yg sama, akhirnya aku pulang saja. 

Khalifah Umar berkata,"Aku bersabar dengan semua ini karena hak-hak istri yg seharusnya menjadi kewajibanku. Dia memasak makananku, membuatkan roti untukku, mencuci bajuku, dan menyusui anakku. Padahal semua itu bukan kewajibannya. Belum lagi, dengan keberadaan istriku di sampingku hatiku tenang tidak tergoda untuk melakukan hal haram (zina dll). Aku sabar karena semua ini".  

Lelaki tadi menimpali, "Wahai amirul mu'minin, demikian juga istriku." 

Khalifah menasehatinya, "Bersabarlah wahai saudaraku. Semua ini hanya sebentar."

Subhanallah...... 


Posted By Kang Santri9:16:00 AM

Monday, March 11, 2013

Saat Aku Berbicara Tentang Cinta

Murtakibudz Dzunub - Saat aku berbicara tentang cinta, aku akan keluar sebentar dari disiplin devinisi tentang apa itu cinta yang sudah dirumuskan oleh ahlinya. Aku akan berbicara sendiri seperti layaknya orang gila  yang hanya mengingat kepada yang aku cintai. Aku tidak memasukkan bisikan akal yang katanya "semua itu haruslah realistis" karena bagiku cinta itu tidak realistis (terserah orang mahu menggapku apa). Aku hanya akan berkata pada diriku sendiri, "bahwa kamu itu sedang dimabukkan oleh cinta". 

Saat cinta sudah begitu kuat menarik ku, maka saat itu pula seluruh sendi kehidupanku tertuju padanya. Ada tangisan didalamnya, ada kecemburuan didalamnya, ada ketakutan didalamnya, ada kesakitan didalamnya juga ada kegilaan didalamnya.

Aku akui jika asmara ataupun cinta itu adalah api yang menyala dan membakar bahkan menghangsukan sehingga menyatu dalam bentuk kelembutan debu. Karena 'Al Isyqu Naarullah Ufuuluha Wathulu'uha Fil Af'idah'.

Namun sayang, aku kerap gagal menjaga nyala api dari cinta. Saat himpitan dunia menyerangku, saat kesibukan dunia menyergapku, aku kerap mencampakkan cinta dan menghilangkannya. Aku adalah pemabuk yang bodoh dalam hal cinta, hingga seringkali aku iri kepada para pecinta yang sudah masuk kelembah kerinduan dalam keasyikan bersama yang dicintainya.

Saat aku berbicara tentang cinta, maka saat itu juga aku akan berkata, "aku akan terus berusaha mencintainya, meskipun aku tahu jika suatu saat nanti aku menduakannya, namun satu janjiku pada diriku bahwa aku akan kembali padanya untuk memperbaiki cintaku yang karat karena ulah maksiatku."

Demi Allah, tak ada kenikmatan yang lebih indah selain kenikmatan mendapatkan cintanya. Karena kita akan selalu dijaga, meski kita ada dalam kubangan dosa. Dia akan menarik kita dan memberikan hidayahnya hingga mata hati kita akan keimanan terbuka setelah merasakan penyesalan yang mungkin bisa membuat kita gila. Gila karena merasakan ke agungan mencintaiNya. Insya Allah.


Posted By Kang Santri7:50:00 PM

Sunday, March 10, 2013

Ada Energi Saat Mencintai

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Pemuda miskin itu ingin ngelamar si gadis yang sangat dicintainya.  Gadis itu berkata, "Dengar ya, gaji bulananmu sama dgn pengeluaran harianku..!

"Haruskah aku menikah denganmu? Aku tidak akan pernah mencintaimu. Jadi, lupakan diriku dan menikahlah  dengan orang lain yang setingkat denganmu"

Tapi entah kenapa si Pemuda tidak bisa melupakannya begitu saja. 10 tahun kemudian, mereka bertemu disebuah outlet @pizzaRAKYAT daerah Cipulir.


Wanita itu berkata, "Hei Kamu!! Apa kabar ? Sekarang aku sudah menikah lhoo...  Apakah kamu tahu berapa gaji suamiku? Rp.20 juta perbulan! Dapatkah kamu bayangkan? Dia juga sangat cerdas"

Mata Pemuda itu berlinang air mata mendengar kata-kata wanita itu, namun tetap berusaha tersenyum.

Beberapa menit kemudian suami wanita itu datang. Sebelum wanita itu bisa mengatakan sesuatu lagi,

Suaminya berkata :"Pak...?! Saya terkejut melihat Anda disini. Kenalkan istri saya."

Lalu dia berkata kepada istrinya, "Kenalkan dia Bosku, Boss masih lajang lho.. Dia mencintai seorang gadis tapi gadis itu menolaknya. Itu sebabnya dia masih belum menikah. Malang nian gadis itu.. Bukankah sekarang tidak ada lagi orang yang mencintai seperti itu??. "

Wanita itu merasa terkejut dan merasa malu sehingga tidak berani melihat kedalam mata si Pemuda.

***

Sangatlah benar adanya, jika energi yang dihasilkan dari sebuah cinta itu sangat mempesona.
Mencintai sesuatu tanpa sebuah rasa penyesalan, mencintai sesuatu yangs seakan tidak pernah menemukan alasan.

Karena yang ada hanya cinta, kasih sayang, ketulusan yang tanpa pamrih dan dendam. Mencintai bisa memunculkan sebuah energi kekuatan untuk sanggup bertahan dan memperbaiki kekurangan.

Namun meski demikian tidak jarang mencintai sesuatu malah mengantar pada lembah kehancuran.

Ego yang tidak terkendali mempunyai efek yang tidak pernah disadari jika secara perlahan malah menghancurkan diri dalam keterpurukan.

Untuk itu, pandai-pandailah mencintai sesuatu. jangan nodai saat kita mencintai dengan ambisi harus memiliki.

Posted By Kang Santri3:29:00 PM

Tuesday, January 29, 2013

Indah Tapi Menyakitkan

Filled under:

Murtakibudz Dzunub -  Seorang wanita bertanya pada seorang pria tentang cinta dan harapan. Wanita berkata ingin menjadi bunga terindah di dunia dan pria berkata ingin menjadi matahari. Wanita tidak mengerti kenapa pria ingin jadi matahari, bukan kupu kupu atau kumbang yang bisa terus menemani bunga. Wanita berkata ingin menjadi rembulan dan pria berkata ingin tetap menjadi matahari. Wanita semakin bingung karena matahari dan bulan tidak bisa bertemu, tetapi pria ingin tetap jadi matahari. Wanita berkata ingin menjadi Phoenix yang bisa terbang ke langit jauh di atas matahari dan pria berkata ia akan selalu menjadi matahari. 

Wanita tersenyum pahit dan kecewa. Wanita sudah berubah tiga kali, namun pria tetap keras kepala ingin jadi matahari tanpa mau ikut berubah bersama wanita. Maka wanita pun pergi dan tak pernah lagi kembali tanpa pernah tahu alasan kenapa pria tetap menjadi matahari. 

Pria merenung sendiri dan menatap matahari. 

Saat wanita jadi bunga, pria ingin menjadi matahari agar bunga dapat terus hidup. Matahari akan memberikan semua sinarnya untuk bunga agar ia tumbuh, berkembang dan terus hidup sebagai bunga yang cantik. Walau matahari tahu ia hanya dapat memandang dari jauh dan pada akhirnya kupu kupu yang akan menari bersama bunga. Ini disebut kasih yaitu memberi tanpa pamrih. 

Saat wanita jadi bulan, pria tetap menjadi matahari agar bulan dapat terus bersinar indah dan dikagumi. Cahaya bulan yang indah hanyalah pantulan cahaya matahari, tetapi saat semua makhluk mengagumi bulan siapakah yang ingat kepada matahari. Matahari rela memberikan cahaya nya untuk bulan walaupun ia sendiri tidak bisa menikmati cahaya bulan, dilupakan jasanya dan kehilangan kemuliaan nya sebagai pemberi cahaya agar bulan mendapatkan kemuliaan tersebut. Ini disebut dengan Pengorbanan, menyakitkan namun sangat layak untuk cinta. 

Saat wanita jadi Phoenix yang dapat terbang tinggi jauh ke langit bahkan di atas matahari, pria tetap selalu jadi matahari agar Phoenix bebas untuk pergi kapan pun ia mau dan matahari tidak akan mencegahnya. Matahari rela melepaskan phoenix untuk pergi jauh, namun matahari akan selalu menyimpan cinta yang membara di dalam hatinya hanya untuk phoenix. Matahari selalu ada untuk Phoenix kapan pun ia mau kembali walau phoenix tidak selalu ada untuk matahari. Tidak akan ada makhluk lain selain Phoenix yang bisa masuk ke dalam matahari dan mendapatkan cinta nya. Ini disebut dengan Kesetiaan, walaupun ditinggal pergi dan dikhianati namun tetap menanti dan mau memaafkan. 

(Afwan... sumber asli tulisan ini belum saya ketahui) 


Posted By Kang Santri10:52:00 AM

Monday, December 17, 2012

10 Pesan Bumi Kepada Manusia

Murtakibudz Dzunub - Berkata Anas Bin Malik Radhiyallahu anhu;

"Sesungguhnya setiap hari bumi menyeru kepada manusia dengan sepuluh perkara.
1. Wahai anak Adam!
Berjalanlah di atas perutku, tetapi ingatlah!! Engkau akan dimasukkan ke dalamnya kelak.

2. Engkau melakukan maksiat di atas punggungku, tetapi ingatlah!! Engkau akan di adzab di dalam perutku.
3. Engkau tertawa di atas perutku, tetapi ingatlah! Engkau akan menangis di dalam perutku..

4. Engkau bergembira di atas punggungku, tetapi ingatlah!
Engkau akan menangis di dalam perutku.

5. Engkau gemar mengumpulkan harta di atas punggungku, tetapi ingatlah! Engkau akan menyesal di dalam perutku.

6. Engkau makan benda yang haram di atas punggungku, tetapi ingatlah! Engkau akan dimakan oleh ulat di dalam perutku.

7. Engkau angkuh di atasku, tetapi ingatlah! Engkau akan dihina di dalam perutku.

8. Engkau berlari dengan riang di atasku, tetapi ingatlah! Engkau akan jatuh di dalam perutku dalam keadaan duka cita.

9. Engkau hidup di dunia bermandikan cahaya matahari, bulan dan bintang di atasku, tetapi ingatlah! Engkau akan tinggal dalam kegelapan di dalam perutku.

10. Engkau hidup di atasku beramai-ramai, tetapi ingatlah! Engkau akan sendirian di dalam perutku."

Posted By Kang Santri9:25:00 PM

Monday, November 12, 2012

Kisah Lucu Ikhwan dan Akhwat

Filled under:

[Mari senyum sejenak ^_^]

Ta'aruf Unik

Seorang ikhwan yang kuliah di semester akhir berazzam untuk menyempurnakan separuh dien-nya. Sebagaimana biasa, beliau pun menghubungi ustadnya dan memulai proses dari awal sampai akhirnya tiba saatnya untuk taaruf, yaitu dipertemukan dengan calonnya. Tibalah hari dan jam yang telah ditentukan, dengan semangat seorang aktivis, beliau datang tepat waktu di sebuah tempat yang telah di janjikan ustad. Taaruf pun dimulai, sang akhi duduk disebelah murobby, sementara agak jauh di depannya sang akhwat di temani murobbiyahnya dengan posisi duduk menyamping menjauhi sudut pandangan si ikhwan. Setelah sekian lama berlalu tak ada pembicaraan, sang murobby berbisik pelan pada mad'unya yang malu-malu ini, "Gimana akhi, sudah lihat akhwatnya belum, sudah mantap apa belum ?"


"Sudah Ustad, saya mantap sekali ustad, akhwatnya yang sebelah kiri itu khan?"

Murobbynya kaget, wajahnya berubah agak kemerahan. " Eh..gimana antum ! yang itu istri saya !" [ada-ada aja tuh si ikhwan :D]

Belum Menikah

Memang susah jadi ikhwan bujangan, pasti banyak sindiran dan provokasi yang datang setiap saat untuk segera menyempurnakan separuh dien ini. Apalagi jika ia juga berprofesi sebagai seorang murobbi, maka setiap pertemuan mingguan pasti ada sindiran-sindiran kecil dari para mad'unya yang rata-rata juga belum menikah. Sebenarnya sang murobbi ini nggak enak dan takut juga kalau status bujangannya ini menghalangi anak buahnya untuk segera menikah.

Akhirnya pada suatu kesempatan mingguan, setelah sekian lama para mad'unya menanyakan masalah yang satu itu, sang murobbipun berpesan singkat di hadapan para ikwah di hadapannya,

" Ikhwan sekalian, untuk masalah pernikahan.. jangan jadikan status ana sebagai penghalang kalian menikah, cukup jadikan saja saya sebagai contoh atau tauladan..! "

Para ikhwan yang mendengar pun terbengong-bengong keheranan. [mungkin dalam hati mereka pada bilang, "idiiihh.. sok kepedean amat sich hihihii...]

Kriteria Milih Calon Isteri ( 1 )

Seorang Akhi muda yang baru lulus S-2 di luar negeri ditanya oleh ustadnya mengenai kriteria akhwat yang diinginkannya. Maka dengan segala idealisme sebagai seorang Ikhwan, mulailah ia mencari-cari kriteria dan menuliskan hampir lebih dari sepuluh kriteria, kemudian menyerahkan pada ustadnya tersebut.
Kriterianya sangat bermacam-macam dan agak mengada-ada. Dari yang pertama dia harus seorang akhwat, cantik, pendidikan tinggi, Suku Sunda, berkacamata, lulus dengan cumlaude, hafal sekian juz. dan demikian seterusnya. Setelah diproses oleh sang ustad, akhirnya ia diberitahu bahwa tidak ada akhwat yang bisa sesuai dengan 10 syarat tesebut. Kemudian sang Ikhwan mengurangi kriterianya menjadi 9, setelah diproses sekian minggu ternyata hasilnya nihil. Kemudian sang ikhwan mengurangi satu lagi dari kriterianya menjadi delapan.
Dan setelah ditunggu sekian lama hasilnya tetap nihil karena terlau ideal kata ustadnya. Dan demikian seterusnya setiap kali gagal sang ikhwan mengurangi satu kriteria. Sampai setelah lewat lebih dari dua tahun sang Ikhwan akhirnya menemukan pasangan hidupnya.Tapi itupun setelah kriterianya tinggal satu! [ya iyalah tinggal satu -akhwat- nah loh... kena batunya juga kan ;)) ]

Kriteria Milih Calon Isteri ( 2 )

Seorang Akhi ditanya sang Murobby tentang kriteria seorang akhwat yang diinginkannya. Setelah beberapa saat berpikir, sang Akhi menjawab dengan malu-malu,

"Yang pertama Ustad, dia harus seorang yang cukup cantik."

"Astaghfirullah Akhi, bukannya Rasulullah menyuruh kita untuk mengutamakan agamanya dulu ? "

"Yang itu sih bukan masalah ustad ? "

"Bukan masalah bagaimana akhi, ada hadist nya lho .."

"Khan yang namanya akhwat pasti berjilbab gede, berarti semuanya kita anggap sudah punya pemahaman agama yang cukup baik, sekarang tinggal kriteria selanjutnya yaitu yang cantik "

" Antum bisa aja cari alasan !" [mungkin tidak bisa dipungkiri, kalau kecantikan itu sebenarnya nomor satu buat kebanyakan ikhwan ya.... :D ]

Kriteria Milih Calon Isteri ( 3 )

Lagi-lagi seorang Ikhwah diinterogarsi oleh murobbinya tentang calon akhwat yang diinginkannya. Ikhwan yang satu ini tampaknya sudah kena blacklist sama murobbinya karena selalu menolak memberi kriteria ketika ditanya.

" Akhi, ini yang terakhir kalinya, kira-kira seperti apa akhwat yang antum inginkan menjadi pendamping antum dalam berdakwah"

"Sudah deh ustad, ane nggak banyak minta, yang asal-asalan aja "

Sang Murobbi pun bengong dibuatnya, "Asal-asalan bagaimana maksud antum ? Antum kan punya hak untuk mengajukan kriteria."

"Maksud ane, asal sholihah, asal cantik, asal kaya, asal hafal Qur'an, asal pintar, dan asal-asalan yang lainnya ."

"Pantes saja antum nggak nikah-nikah !" [ziahahaha...parahhh :D]

Poligami

Seorang Akhi baru saja melangsungkan pernikahan dakwahnya dengan seorang akhwat yang sama-sama berjiwa aktivis pula. Minggu-minggu awal pun dilalui dengan penuh ceria, Qiyamul-lail berjamaah, baca Al-Ma'tsurat sama-sama, tabligh akbar bersama bahkan sampai demo dan longmarch pun dilakukan sama-sama. Suatu ketika setelah pulang dari suatu acara seminar bertemakan Poligami, pasangan ini terlibat dalam pembicaraan serius,

"Bagaimana Mi, pendapat Ummi tentang poligami secara umum "

"Abi, secara umum poligami tidak ada nilai buruknya sebagaimana yang digemborkan banyak orang, bahkan itu merupakan solusi satu-satunya lho."

"solusi bagaimana maksud Ummi ?"

"Maksudnya, coba deh abi lihat, berapa perbandingan jumlah ikhwan dan akhwat, di Jakarta aja lebih dari 1 : 7, kalau semuanya dapat satu-satu, maka bagaimana nasib yang tiga lainnya? "

"Kalo Ummi sudah paham, bagaimana kalo kita yang memulai ?"

"Maksud Abi bagaimana ? "

"Abi mau poligami, tapi yang cariin calonnya ummi saja ya."

"Apaa..! abi mau poligami ? "

"Ya dong, khan Ummi sendiri yang bilang tadi, ingat ini juga sunnah Nabi Muhammad SAW lho.."

"Wah ! kalo begitu abi salah menafsirkan Siroh Nabawiyah, khan Rasul berpoligami setelah istri pertamanya Kahdijah ra, meninggal.

Nah! Jadi abi boleh menikah poligami sampai empat pun boleh, asal setelah Ummi, istri pertama Abi ini, meninggal, OK ?"

"Ini pasti Murobbiyah ya yang ngajari..?"

Sang istri tersenyum manja penuh kemenangan [ahaha.. sang suami kena skak matt... -makanya kalau cari isteri jangan yg terlalu cerdas hihihi...]

Fatwa Menikah

Suatu sore di akhir Ramadhan, beberapa orang ikhwah tampak sedang bercengkrama di teras masjid Baitul Hikmah, Cilandak sambil menunggu waktu berbuka puasa. Mereka semua adalah para peserta I'tikaf Ramadhan yang datang dari tempat yang berbeda-beda. Dan mereka kini terlibat pembicaraan serius tentang kegiatan dakwah di kampusnya masing-masing. Beberapa saat kemudian datang seorang Ikhwah dengan tergesa-gesa, membawa suatu kabar.

" Assalamualaikum wr wb, Ikhwan semua, antum sudah dengar belum ada fatwa terbaru dari Dewan Syariah, baru keluar pagi tadi lho !"

Dengan serempak mereka menjawab,

" Waalaikum salam, fatwa terbaru tentang apa akhi ? "

" Tentang Menikah !"

" Menikah ? apa saja isi fatwa tersebut ? "

" Isinya cuma satu pasal tapi penting, bahwa mulai sekarang seorang Ikhwan tidak boleh menikah dengan akhwat satu kampus."

Semua ikhwah yang mendengar terkejut, dan saling memberi komentar satu sama yang
lain.

"Apa alasannya akhi, khan tidak melanggar syar'i ?"

"Kok bisa begitu, lalu bagaimana sama yang sudah berproses, langsung dibatalkan ya .."

"Ane kira ini untuk kepentingan perluasan dakwah juga .."

"Kalau ane sih milih sami'na wa atho'na saja.."

Setelah beberapa saat terjadi tukar pendapat satu sama lain, akhirnya sang Akhi yang datang bawa kabar tersebut dengan mimik serius menjelaskan,

"Tenang Akhi.., fatwa tersebut memang harus di dukung dan ada dalilnya kok, bukankah Syariah Islam membatasi seorang Ikhwan untuk menikah hanya sampai dengan empat orang akhwat, maka bagaimana mungkin seorang ikhwah mau menikah dengan 'akhwat satu kampus' yang jumlahnya ratusan ..!"

Strategi Dakwah

Jalanan kota Jakarta siang itu, seperti biasa, macet. Bus P 4 jurusan BlokM - Pulau Gadung penuh dengan penumpang.Bus itu penuh penumpang, sebagian diantaranya berdiri menggantung lengan. Bus merambat pelan seolah masih menyimpan banyak fasilitas tempat duduk yang kosong. Satu demi satu artis jalanan mulai unjuk gigi. Menghias panas terik mentari dengan lagu-lagu bertemakan sosial dan kemasyarakatan. Kadang di hiasai sindiran ala politikus, tapi kadang dinodai oleh lirik-lirik sendu yang kurang pantas dilantunkan.

Ada yang aneh terlihat. Seorang bapak-seperti dari Madura- setengah baya memakai batik, peci, dan sarung - khas pendatang baru- duduk di tepi jendela dengan tenang. Tetapi yang membuat semua penumpang terheran, bapak itu asyik menjulurkan tangannya ke luar jendela. Bukan sekali dua kali, tapi malah terus-terusan tanpa beban. Sementara penumpang lain mulai berteriak memberi peringatan.

"Pak, Hati-hati.. tangan bapak dimasukkan bisa patah kena mobil nanti ." seru seorang ibu yang duduk di sebelahnya.

"Pak, kemarin ada peristiwa seperti itu. Tangan seorang kakek lepas saat terjulur keluar dan tersangkut pohon di tepi jalan..hi..ngeri. " seorang lainnya ikut menakut-nakuti.

Pak Kondektur pun tak tinggal diam. Tampaknya kesabarannya sudah menipis, aksen batak pun menambah ketegangan.

"Bah, ini orang tak tahu di untung, kalo tak lepas itu tangan, matilah kau."

Tapi sang Bapak tak bergeming sedikitpun. Tangannya masih asyik terjulur dan mengayun-ayun di luar jendela. Sorot matanya yang lugu pun terkesan percaya diri. Seolah ia tahu apa yang dilakukan dan apa akibatnya. Sebenarnya apa yang ada di benak Bapak tersebut ?

Seorang ikhwan yang bergelantung agak jauh dari bapak tersebut segera bereaksi. Setelah mengamati gerak-gerik, sorot mata, dan mimik wajah tersebut, sang akhi ikut memperingatkan sang Bapak. Tapi peringatan ini lain dari seruan-seruan sebelumnya.

Dengan santun sang akhi berteriak ,

"Maaf Pak, kalau tangan bapak nggak di masukkan, nanti sayang lho kalo kena pohon, bisa hancur dan rusak pohonnya. Apalagi kalo kena tiang listrik, wah nanti tiangnya patah seluruh kota bisa padam listriknya Pak. Jadi saya usul dimasukkin saja pak tangannya, biar nggak terjadi kerusakan nantinya.... "

Mendengar usulan sang akhi tersebut, sang Bapak tampak tersenyum. Ia paham betul dengan peringatan tersebut. Nampaknya ia sepakat dengan sang akhi. Ia tidak ingin pohon-pohon dan tiang itu rusak karena ulah tangannya. Makanya dengan cepat ia tarik tangannya ke dalam bus kembali. Selesai persolan semua penumpang menjadi lega. Sebagian lain tersenyum sambil berbisik-bisik menduga-duga.

"Oooo..ternyata Bapak ini dari tadi percaya diri karena yakin dengan kesaktian tangannya tooo.. Alah-alaaaaaaaah. , untung tadi nggak jadi nabrak pohon"

Dalam berdakwah, kita juga harus tahu bahasa yang terbaik bagi setiap orang berbeda, sesuai dengan latar belakang objek dakwah masing-masing. Bukan sekedar bahasa dakwah, tapi bahasa dakwah yang terbaik. Akh kita tadi, telah memberi contoh yang sedemikian nyata. Bisakah anda bayangkan jika tangan sakti sang Bapak terbentur sebuah pohon besar ?

Masih mau Sekolah

Seorang ikhwan yang baru saja menyelesaikan studi S1 nya menghubungi sang Murobby. Apalagi kalau bukan untuk meminta sang ustad mencarikan jodoh terbaik baginya. Tentu saja sang akhi ini tidak sekedar ingin menikah, tapi juga siap menikah. Lho, apa bedanya ?.

Ingin menikah bagi seorang akhi cenderung bersifat objektif. Artinya ia menginginkan atau menuntut seorang akhwat -yang akan menjadi istrinya nanti - untuk tampil dengan performance dan sifat yang terbaik, menurutnya. Bisa jadi ia ingin seorang akhwat yang harus cantik, tinggi, pintar masak, cerdas, penyabar dan lain sebagainya. Atau bisa jadi ia menginginkan yang lebih spesifik misalnya seorang dokter, dosen, hafidzah, atau mungkin yang berasal dari suku tertentu. Lebih parah lagi jika 'ingin menikah' di sini berarti : ingin menikahi ukhti A, B atau C. Yang jenis ini bukan berarti tidak boleh. Hanya saja, kurang elegan.

Lalu bagaimana dengan siap menikah? Siap menikah bagi seorang akhi berarti kesiapan dari sisi subjektif dirinya. Artinya, ia akan mengukur kemampuan dirinya untuk memimpin rumahtangga, tanpa banyak terpengaruh faktor siapa yang akan mendampinginya. Dengan bahasa lain, dia punya kesimpulan : " yang penting ana harus siap dan baik dulu, siapapun istri ana dan bagaimanapun dia, toh ana juga yang harus membimbingnya ". Yang jenis ini lebih elegan. Artinya siap mental dalam menikah.

Nah kembali ke cerita sang akhi yang selain ingin, juga siap untuk menikah. Sang murobby yang dikonfirmasi pun menyambut permintaan ini dengan semangat. Betapa tidak? bukankah menjodohkan adalah sebuah amalan mulia. Apalagi yang dijodohkan adalah ikhwan dan akhwat yang masing-masing mempunyai misi dan visi untuk dakwah?

Maka dimulailah proyek perjodohan yang indah dan terjaga oleh sang Murobby. Dari mulai tukar biodata sampai ta'aruf belum terlihat ada masalah. Namun ketika sang murobby mengkonfirmasi kesediaan sang akhwat, ternyata sang akhwat menolak. Entah sang akhwat punya alasan apa, yang jelas ia hanya bisa beralasan pada sang murrobby :" Afwan ustad, saya masih mau melanjutkan sekolah dulu.."

Terpukul hati sang akhi mendengar jawaban sang akhwat. Pikirnya dalam hati, mengapa kalau masih mau sekolah ia bersedia memberikan biodatanya dan bahkan sampai proses taaruf ?

Sang murrobby pun merasakan hal yang sama. Ada apa gerangan di balik penolakan ini ?.

Sang Akhi beritikad baik untuk tetap menikah. Sang murrobby pun kembali dengan senang hati membantu sang akhi. Dilalui proses dari awal sebagaimana yang pertama tadi. Namun sayang seribu sayang. Kasus penolakan yang pertama kembali terulang. Masih dengan alasan yang sama : sang akhwat masih mau melanjutkan sekolah.

Pusing kembali melanda sang akhi kita ini. Dicobanya sekian kali untuk berinstropeksi: Adakah yang salah dalam biodatanya ? Atau ada kesalahan kah saat taaruf kemarin ? Ah , rasa-rasanya semuanya begitu lancar, tak ada masalah.

Atau masalah penampilan fisik?. Ah, benarkah itu masih menjadi kriteria yang prinsip di jaman ini? . Sang akhi bingung, ia benar-benar belum menemukan jawaban yang tepat atas kasus penolakan dirinya.

Sang murroby tampaknya ikut merasa bertanggung jawab dengan penolakan tersebut. Mungkin karena merasa kasihan dengan dua kali penolakan tersebut, sang murrobby pun berinisiatif untuk ambil langkah yang lain. Kebetulan ia mempunyai adik perempuan yang juga seorang akhwat. Maka setelah mengadakan briefing yang intensif terhadap sang adik, dimulailah proses perjodohan keduanya. Biodata adik sang murroby pun berpindah ke tangan sang akhi ini. Dengan seksama di baca semua point di dalamnya. Tidak lupa dua lembar foto ukuran post card juga diperhatikan agak lama.

Sang Murobby yang juga kakak sang akhwat terburu-buru untuk menanyakan kesediaan sang akhi untuk meneruskan proses.

"Gimana akhi, antum bersedia melanjutkan proses ini kan? "

Sang akhi bingung bukan kepalang. Ada perasaan kurang sreg dalam dadanya. Lebih-lebih saat melihat dua lembar foto sang akhwat. Diulang-ulang kembali, sama saja. Ada rasa kurang berkenan yang muncul terus menerus dan mengganggu.

"Gimana Akhi, sudah siap untuk meneruskan prosesnya ? "

Pertanyaan sang murobby menambah kegalauannya. Keringat dingin mulai menetes dari dahinya. Ia menunduk agak lama.

Sang akhi merenung sejenak, berinstropeksi. Sejurus kemudian ia mulai mengangkat kepala. Tersenyum. Baru sekarang ia tahu alasan mengapa dua akhwat yang terdahulu menolak dirinya: kriteria fisik !! Kriteria fisik , kedengarannya memang lucu. Tapi ternyata ia selalu menjadi begitu kontemporer. Selalu saja ada di mana saja dan kapan saja.

"Gimana akhi, bisa di jawab sekarang?? "

Dengan sedikit berdehem, sang akhi menjawab,

"Afwan Ustad, setelah saya pikir-pikir, nampaknya saya " masih mau melanjutkan sekolah " saja ustad ... "

Lemes tubuh sang murrobby. Namun ia pun tak bisa berbuat apa-apa. Dalam hati ia berkata : Dasar aktifis jaman kini, masih teguh mempertahankan kriteria fisik!!!. Andakah salah satunya? [Sumber: http://84ilham.multiply.com/]


Posted By Kang Santri2:34:00 PM

Saturday, November 10, 2012

Download Ebook Motivasi dan Kisah Bijak

Filled under: ,

Murtakibudz Dzunub - Beberapa tahun yang lalu saya membaca ebook ini, dan alhamdulillah banyak dijumpai manfaat sebagai bahan inspirasi, renungan juga introspeksi dalam menjalani hidup. 

Bagi para sahabat  yang belum mempunyai ebook ini silahkan untuk mendownloadnya: 






Posted By Kang Santri9:04:00 AM

Thursday, October 25, 2012

Download 21 E-Book (Kado Untuk Pernikahan)

Filled under: ,


E-book spesial, untuk sahabat "Murtakibudz Dzunub" yang belum menikah ataupun sudah menikah. Semoga kumpulan E-book ini dapat memberi sebuah pencerahan yang bermanfaat. 



Download 21 E-Book (Kado Untuk Pernikahan)




Posted By Kang Santri8:38:00 PM

Tuesday, October 23, 2012

E-Book Terjemah Kitab Hikam dan Minhajul Abidin

Filled under: ,



Download E-Book Terjemah Kitab "Al-Hikam"
dan Kitab "Minhajul Abidin"

Untuk download Terjemah Hikam silahkan


Untuk download Terjemah Minhajul Abidin silahkan


Untuk membuka Ebook, download softwarenya (DjVu reader) silahkan






Posted By Kang Santri8:35:00 PM

Download E-Book Kisah Perjalanan Hidup Rasulullah

Filled under: ,



Download E-Book
Kisah perjalanan hidup Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam





Posted By Kang Santri7:52:00 PM

Tuesday, August 7, 2012

Tak Selembut Sangka Ku (Cerbung Bag. 3)

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - [Hingga tak jarang aku pun merasa, "apakah selama ini dia yang aku cari?". Saya mempunyai prinsip salah satunya, 'aku tidak akan mempermasalahkan apakah calon istriku nanti orang yang pandai ilmu agama atau tidak, aku tidak akan mempermasalahkan apakah calon istriku nanti  sudah mengenakan jilbab atau belum, aku hanya akan menilai dari hati dan sifatnya. Lembut, penuh kasih sayang kepada sesama, dan yang terpenting adalah bukan seorang wanita yang materealistis terhadap dunia karena itu adalah sifat yang paling tidak aku sukai dari seorang wanita.]

***

Setelah kami cukup lama kenal, ahirnya aku tahu betul siapa sebenarnya Diana. Saat itu ia masih sering tinggal di Jakarta dirumah orang tua angkatnya, karena sejak kecil ia diadopsi oleh keluarga kaya yang pernah kehilangan puteri tercintanya dan sebagai gantinya mereka mengangkat Diana [yang katanya wajahnya sangat mirip dengan puterinya yg sudah meninggal] sebagai anak. 

Seperti biasanya, malam itu Diana menghubungiku melalui handphone. Aku sempat dibuatnya kaget saat dia mengatakan,

"sebenarnya perasaan kamu ke aku tuh gimana?",

"maksudya apa Diana.." tanyaku yang sebenarnya sudah tahu arah pembicaraan Diana,

"kamu gimana sih... jadi cowok gak peka banget, aku tu suka ama kamu As'ad..",

Malam itu aku benar-benar dibuatnya mati kutu oleh Diana yang sudah terang-terangan mengungkapkan isi hatinya.

"maafkan aku Diana... aku belum bisa menjawab pertanyaanmu sekarang, kasih aku waktu ya".

***

Malam selanjutnya akupun shalat istikharah dan membaca beberapa ijazah wirid yang pernah diajarkan Ustadzku saat masih dipesantren. Hingga aku pun mendapati sebuah firasat untuk menerima cinta Diana.

[Dua minggu setelah Diana mengungkapkan isi hatinya]

"Assalamu'alaikum Diana...",

"Wa'alaikumussalam... gimana kabarnya? lama kamu gak hubungin aku",

"Alhamdulillah baik, semoga kamu juga ya... emmm tawaran kamu masih berlaku gak?",

"tawaran apa..?" tanyanya,

"masih bisakah aku membalas cintamu?",

"apaaa..!?" terdengar suaranya rada kegirangan,

"Diana... aku juga suka ama kamu..".

***

Hubungan kami lalaui secara jarak jauh antara kota Semarang dan Jakarta, banyak ujian yang kami alami terutama setelah kedua orang tua angkatnya meninggal dalam sebuah kecelakaan. Terjadi konflik antara dirinya dengan keluarga angkatnya. Karena sebelum orang tua angkatnya meninggal mereka sudah mewasiatkan rumah, usahanya dan juga beberapa saham mereka pada Diana dan mereka pun sudah menunjuk pengacara untuk mengurus hak kepemilikan.

Namun ada salah satu tantenya yang tidak menyetujui sepenuhnya, Diana diperbolehkan memiliki semua harta yang sudah diwasiatkan atas namanya dengan satu syarat, bahwa ia harus tetap tinggal dijakarta dan tidak boleh kembali ke orang tua kandungnya di Semarang.

Dengan adanya masalah ini, hubungan kami pun diuji. Terutama bagi Diana, apakah dia akan tetap tinggal di Jakarta atau masih melanjutkan hubungan denganku.

Setelah melalui proses yang lama, ahirnya Diana mengambil keputusan yang sangat mengagetkanku. Ternyata dia memilih kembali ke kedua orang tuanya dan melanjutkan hubungan denganku. Sementara dia tidak mahu ambil pusing dengan yang di Jakarta, semua harta dari kedua orang tua angkatnya ia berikan kepada panti asuhan dan tidak mengambil bagian sepeserpun.

bersambung.....
___________


Posted By Kang Santri8:29:00 PM

Friday, July 27, 2012

Ukhti, Inilah Yang Kebanyakan Pemuda Pikirkan Tentangmu

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Demi Allah, tidaklah seorang pemuda melihat gadis kecuali gadis itu dibayangkannya dalam keadaan telanjang tanpa pakaian.

Demi Allah, begitulah... Yang kami bersumpah untuk kali keduanya padamu. Jangan kau percaya apa yang dikatakan lelaki, bahwa ia tidak akan melihat seorang gadis kecuali akhlak dan budi bahasanya. Ia akan berbicara sebagai seorang sahabat, ia akan mencintainya sebagai seorang kawan.

Demi Allah ia telah berbohong! bila engkau mendengar obrolan anak-anak muda ditengah kesepian mereka, maka engkau akan mendengarkan sesuatu yang mengerikan. Senyuman yang dia berikan padamu, kehalusan budi serta bahasa dan perhatiannya, semua itu tidak lain hanyalah perangkap rayuan untuk mencapai tujuannya atau paling tidak, pemuda itu merasa bahwa itu adalah rayuan untuk melunakkan hatimu [hingga kau terpesona.pen]

Kemudian setelah itu apa yang akan terjadi? Apa, wahai puteriku? Coba kau pikirkan!

Kalian berdua sesaat masuk dalam kenikmatan, kemudian engkau ditinggalkan, dan engkau selama-lamanya akan tetap merasakan penderitaan akibat kenikmatan sesaat itu.

Sedang pemuda tersebut akan terus mencari mangsa lain untuk diterkam kehormatannya, sedang engkau sendiri yang menanggung beban kehamilan dalam perutmu yang membuncit.

Jiwamu menangis, kening [kehormatanmu] tercoreng. Mungkin masyarakat yang dzalim dapat mengampuni pemuda itu, dengan mengatakan: "Ia hanyalah pemuda yang tersesat lalu bertaubat".

Tetai engkau, selama hidupmu tetap berkubang dalam kehinaan dan ke-aiban, karena masyarakat tidak akan mengampunimu selama-lamanya.

Namun, jika saat engkau bertemu pemuda kau busungkan dadamu, kau palingkan mukamu dan kau tunjukkan [luhurnya kepribadian seorang muslimah] lalu kau menghindar... Dan kalau pemuda yang mengganggumu itu belum mengindahkan, sampai berbuat lancang lewat erkataan atau tangannya yang usil, kau lepaskan sepatu dari kakimu lalu kau lemparkan kekepalanya, bila semua itu kau lakukan, maka semua orang dijalan akan membelamu.

Setelah itu, pemuda-pemuda nakal tak kan mengganggu gadis-gadis lagi. Dan tentu jika ia seorang pemuda yang shalih ia akan datang kepadamu untuk meminta maaf dan tidak akan mengulangi perbuatannya. Selanjutnya, ia akan mengharapkan hubungan yang halal dengan datang melamarmu.

(Kutipan artikel ini ditulis oleh beliau Syaikh Ali Tanthawi dalam bukunya yang berjudul "Yaa Binti". Semoga bermanfaat.)

Posted By Kang Santri7:12:00 PM

Wednesday, July 18, 2012

Sampaikan, Meskipun Itu Pahit

Filled under:

Sampaikan, meski itu pahit

Murtakibudz Dzunub - Hak ilmu adalah untuk disampaikan, terlebih tentang hal yang menyangkut syari'at Islam bagi orang mukalaf. Kita tidak jarang menjumpai saudara Muslim, yang bisa dikatakan baru mengenal ataupun yang sedang ingin mendalami hukum syari'at Islam.

Mereka yang notabene-nya tidaklah terlahir dari keluarga atau lingkungan yang kuat ajaran syari'at agamanya. Pada awalnya, tergugah dan merasakan keindahan islam melalui berbagai ceramah atau artikel ke-agamaan. 

Satu hal yang terkadang atau bahkan sering terjadi adalah, jika pada tingkatan disiplin ilmu harus mempelajari ilmu Ushuliddin, Fiqih dan Tashawuf (syari'at, thariqat dan haqiqat), banyak yang langsung menuju ke Tashawuf (haqiqat) karena ketidak tahuannya akan pentingnya mempelajari Ushuliddin dan Fiqih. Sedangkan ketiga ilmu itu harus saling berkesinambungan saat kita melakukan amal ibadah. Artinya kita tidak mungkin melakukan sebuah ibadah sepertihalnya shalat sedang kita tidak mengetahui perkara yang mengesahkan dan membatalkan shalat, tapi langsung menuju 'mengharap ridho dari Allah'.

Sebagai perumpamaan contoh diatas, adalah Zaid bisa dikatakan dia sangatlah awam dengan ilmu agama, hingga pada suatu hari dia membaca artikel yang mampu mengetuk hatinya untuk mendalami agama hingga ahirnya yang dulunya dia jarang shalat menjadi rajin shalat. Dengan tekad yang kuat dan semangat yang membara tidak hanya shalat wajib saja melainkan shalat-shalat sunah semampunya ia kerjakan. Juga hatinya tergerak untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah dia pun rajin baca Al-Qur'an.

Namun sayangnya ada satu hal yang belum dia ketahui, ternyata dia tidak tahu bahwa jika seorang mukalaf pernah meninggalkan shalat wajib maka dia diharuskan meng-qadhanya dahulu, juga kelalaiannya akan bacaan qur'an yang haruslah sesuai dengan kaidah tajwidnya.

Karena jika tidak hanya akan merubah makna dan itu termasuk hal yang diharamkan. Sebagaimana yang dijelaskan dalam sebuah ayat,

ÙˆَرَتِّÙ„ِ الْÙ‚ُرْآنَ تَرْتِيلا
"Bacalah qur'an secara tartil",

Yang dimaksud dengan 'tartil' disini adalah membaca  Al-Qur'an yang sesuai dengan tajwidnya. Artinya memberikan hak kepada setiap makhorijul huruf bacaan mad-nya dan lain sebagainya. Sedang hal ini bisa menimbulkan kehawatiran "dari niat yang baik, berubah menjadi ibadah yang tidak baik".


Bagaimana menyikapi fenomena diatas?
Sampaikanlah ilmu yang hak, meskipun kita tahu akan konsekwensinya.  Sampaikan kepada Zaid akan tata cara ibadah yang sesuai syari'at dengan mengatakan, 

"Wahai sahabatku Zaid, sebelum kau asyik dengan shalat-shalat sunahmu qadhalah terlebih dahulu berepa kali shalat wajib yang kau tinggalkan dahulu..."

"Wahai sahabatku Zaid, setelah aku saksikan bacaan qur'anmu, ternyata bacaanmu tidak sesuai dengan kaidah ilmu tajwid, maka pelajarilah dahulu tentang cara membaca qur'an secara tartil, karena saya hawatir atas niatmu yang ingin beribadah dengan tilawatil qur'an berubah menjadi laknat karena kau salah dalam melafadzkannya."

"Carilah guru yang bisa membimbingmu, karena ilmu agama tidaklah cukup kita pelajari lewat membaca saja. Ingatlah, jika ada seseorang yang mendalami ilmu agama tanpa adanya seorang guru, maka gurunya adalah syaithan."

***

Inilah salah satu tantangan Amar ma'ruf yang tidaklah ringan, karena konsekwensinya bisa menimbulkan kesalah pahaman yang tidak kita inginkan. 

Seperti yang diwasiyatkan oleh Rasulullah kepada Abu Dzar,

 

Ùˆَ اَÙˆْصَانِÙ‰ اَÙ†ْ اَÙ‚ُÙˆْÙ„َ اْلحَÙ‚َّ Ùˆَ اِÙ†ْ Ùƒَانَ Ù…ُرًّا


"Beliau mewashiyatkan kepadaku supaya aku mengatakan yang benar meskipun pahit (akibatnya)."
Memanglah, Amar Ma'ruf itu berat dan banyak fitnah namun, Nahi Munkar jauh lebih berat dan lebih banyak fitnah.

Posted By Kang Santri1:24:00 PM