Showing posts with label Hikmah. Show all posts
Showing posts with label Hikmah. Show all posts

Sunday, September 10, 2017

Buah Dari Niat Bertaubat

Filled under: ,

Murtakibudz Dzunub - Pada suatu hari,Umar Bin Khatab sedang berjalan-jalan di lorong-lorong dalam kota Madinah. Di ujung simpang jalan beliau bertemu dengan pemuda yang membawa sebuah kendi. 

Pemuda itu segera menyembunyikan kendi itu di dalam kain sarung yang diselimutkan di belakangnya. Timbul pertanyaan di hati Umar Bin Khatab melihat keadaan itu, lantas Beliau bertanya, "Apa yang engkau bawa itu?". 

Karena panik sebab takut dimarahi Umar yang terkenal dengan ketegasan, pemuda itu menjawab dengan terbata-bata yaitu benda yang dibawanya ialah madu. Padahal benda itu ialah khamar. Dalam keadaannya yang berkata bohong itu pemuda tadi sebenarnya berniat ingin berhenti meminum arak. 

Dia sesungguhnya telah menyesal dan insaf dan menyesal melakukan perbuatan yang dilarang oleh agama itu. Dalam penyesalan itu dia berdoa kepada Allah. Pemuda itu masih menunggu kata-kata Khalifah, "Kendi ini berisikan madu." Karena tidak percaya, Khalifah Umar ingin melihat sendiri isi kendi itu. 

Rupanya doa pemuda itu telah dikabulkan oleh Allah seketika itu juga telah menukarkan isi kendi itu menjadi madu. Begitu dia berniat untuk bertaubat, dan Tuhan memberikan hidayah, sehingga niatnya yang ikhlas, ia terhindar dari kemarahan Khalifah Umar Bin Khatab, yang mungkin membahayakan pada dirinya sendiri kalau kendi itu masih berisi khamar.

Wallahu'alam.

Posted By Kang Santri10:00:00 AM

Nasehat Umar Bin Khattab Untuk Para Suami dan Calon Suami

Murtakibudz Dzunub - Ada seorang lelaki menghadap khalifah Umar bin Khatab. Dia ingin mengadukan dan meminta nasehat terkait tabiat istrinya yg buruk. 

Sesampainya di depan rumah khalifah, dia tercekat. Melihat dan mendengar istri khalifah Umar ternyata tidak berbeda dengan istrinya. Marah-marah di depan khalifah, sedangkan beliau hanya diam tidak menjawab. 

Lelaki tadi kemudian beranjak pergi sambil berkata, 

"Amirul mukminin saja kondisinya sepertinya ini, bagaimana denganku?" 

Khalifah Umar keluar rumah. Melihat ada lelaki yg ingin menemuinya pulang lagi, beliau memanggilnya mendekat. Kemudian beliau bertanya, 

"Apa keperluanmu?". 

Dijawab,"Wahai amirul mu'minin, saya menghadap ingin mengadukan perangai buruk istriku. Dia selalu memarahiku. Kemudian setelah aku mendengar ternyata istri anda juga memiliki perangai yg sama, akhirnya aku pulang saja. 

Khalifah Umar berkata,"Aku bersabar dengan semua ini karena hak-hak istri yg seharusnya menjadi kewajibanku. Dia memasak makananku, membuatkan roti untukku, mencuci bajuku, dan menyusui anakku. Padahal semua itu bukan kewajibannya. Belum lagi, dengan keberadaan istriku di sampingku hatiku tenang tidak tergoda untuk melakukan hal haram (zina dll). Aku sabar karena semua ini".  

Lelaki tadi menimpali, "Wahai amirul mu'minin, demikian juga istriku." 

Khalifah menasehatinya, "Bersabarlah wahai saudaraku. Semua ini hanya sebentar."

Subhanallah...... 


Posted By Kang Santri9:16:00 AM

Monday, January 7, 2013

12 Kunci Keselamatan

Filled under:

* Kunci kebahagiaan adalah taat keada Allah dan Rasul-Nya.

* Kunci surga adalah tauhid.

* Kunci keimanan adalah berpikir tentang ayat-ayat Allah dan ciptaan-Nya.

* Kunci kebaikan adalah kejujuran.

* Kunci kehidupan hati adalah membaca dan mendalami Al-Qur'an serta menjauhi dosa.

* Kunci rizki adalah berusaha sambil beristighfar dan bertakwa.

* Kunci ilmu adalah pandai bertanya dan mendengar.

* Kunci kemenangan adalah sabar.

* Kunci kesuksesan adalah takwa.

* Kunci tambah rizki adalah bersyukur.

* Kunci sukses akhirat adalah zuhud terhadap dunia.

* Kunci dikabulkan permintaan adalah doa. 


Posted By Kang Santri12:55:00 PM

Friday, December 28, 2012

Sstt... Hati-hati Kalau Meminta Saat Berdoa

Filled under: ,

Murtakibudz Dzunub - (27) Jangan anda meminta kepada Allah supaya dipindah dari suatu hal kepada yang lain, sebab sekiranya Allah menghendakinya tentu telah memindahmu, tanpa merubah keadaanmu yang lama.

Dalam Suatu hikayat diceritakan: Ada seorang shalih yang bekerja dan beribadah, lalu ia berkata: "Andai aku bisa mendapatkan untuk tiap hari dua potong roti, niscaya aku tidak akan susah payah bekerja dan hanya fokus dalam beribadah."

Tiba-tiba ia menjadi tertuduh dan karenanya ia harus masuk penjara, dan tiap hari ia menerima dua potong roti karena ia harus hidup dipenjara.

Kemudian ia berfikir: Bagaimana bisa terjadi hal yang demikian? Tiba-tiba dia teringat sesuatu yang pernah diucapkannya, dalam perasaannya: "Engkau hanya minta dua potong roti, dan tidak minta selamat maka Kami (Allah) memberi permintaanmu".

Setelah itu ia meminta ampun dan membaca istighfar, maka saat itu pula pintu penjara terbuka dan ia lepas dari penjara.


Sebab Allah menjadikan manusia dengan segala hajat kebutuhannya, sehingga tidak usah manusia hawatir, ragu atau jemu terhadap memberian Allah, meskipun berbentuk bala' pada lahirnya, sebab hakikatnya nikmat besar bagi siapa  saja yang mengetahui hakikatnya. karena tidak ada sesuatu yang tidak muncul (terjadi) dari rahmat karunia dan hikmah dari Allah.

(Kajian SyarahHikam)


Posted By Kang Santri2:20:00 PM

Thursday, November 29, 2012

Nasehat Ulama Salaf (Tentang Diam Sirri)

Filled under: , ,

Murtakibudz Dzunub - Apakah yang dimaksud dengan diam sirri?. Ketika Abu Bakr al-Farisy ditanya tentang diam sirri, beliau menjawabnya, 

“Diam sirri adalah menjauhkan diri dari kepedihan terhadap masa  lampau dan masa depan.” 

Dikatakannya pula, 
“Apabila seorang hamba berbicara hanya mengenai sesuatu yang menyangkut kepentingannya,  dan keharusan bicaranya, maka ia termasuk diam.”

Ibnus Samma' menuturkan, bahwa Syah al-Kirmany dan Yahya bin Mu’adz berteman, dan mereka tinggal di kota yang sama, tetap Syah tidak menghadiri majelisnya. Ketika ditanya alasannya, beliau menjawab, 

“Sudah sepatutnya begini.” 

Orang orang pun  lantas mendesaknya terus hingga suatu hari al-Kirmany datang ke majelis Yahya dan duduk di pojok di mana Yahya tidak akan  dapat melihatnya. Yahya pun mulai berbicara, namun secara tiba-tiba ia diam. Kemudian Yahya mengumumkan, 

"Ada seseorang yang dapat berbicara lebih baik dariku,” 

dan ia tidak mampu melanjutkan perkataannya itu. Maka al-Kirmany berkata, 

“Sudah kukatakan kepada Anda semua bahwa, adalah lebih baik jika aku tidak datang ke majelis ini.”

Terkadang seorang pembicara memaksakan diri untuk diam karena keadaan tertentu yang ada pada salah seorang yang hadir. Barangkali seseorang yang hadir tidak layak mendengar pembicaraan terkait, hingga Allah swt. mencegah lidah si pembicara demi ketentraman dan perlindungan dari mendengar pembicaraan itu.

Mu’adz bin Jabal r.a. berkata, 

“Kurangilah berbicara berlebihan dengan sesama manusia dan perbanyaklah berbicara dengan Tuhanmu, mudah-mudahan hatimu akan (dapat) melihat Nya.”

Dzun Nuun al-Mishry ditanya, 

“Di antara manusia, siapakah pelindung terbaik bagi hatinya?” 

Dzun Nuun menjawab, “Yaitu orang yang paling mampu menguasai lidahnya. “

Ibnu Mas’ud berkata, “Tidak ada sesuatu pun yang patut diikat berlama lama lebih dari lidah.”

Ali bin Bukkar mencatat, “Allah menjadikan dua pintu bagi segala sesuatu, tetapi Dia menjadikan empat pintu bagi lidah, yaitu dua bibir dan dua baris gigi.”

Konon Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. biasa mengulum sebutir batu selama beberapa tahun dengan tujuan agar lebih sedikit berbicara.

Abu Hamzah al-Baghdady adalah seorang pembicara ulung. Pada suatu ketika sebuah suara menyeru kepadanya, 

“Engkau berbicara, dan bicaramu sangat bagus. Sekarang tinggallah bagimu untuk berdiam, sehingga engkau menjadi bagus!” 

Akhirnya ia tidak pernah lagi berbicara sampal wafat menjemputnya.

Para syeikh yang ahli mengenal tharikat menjelaskan, “Terkadang alasan diamnya seseorang adalah karena ada jin yang hadir, yang bukan kompetennya. Karena majelis Para Sufi tidak pernah sepi dari kehadiran sekelompok jin.”

Syeikh Abu Ali ad Daqqaq menuturkan, “Suatu ketika aku jatuh sakit di Marw, dan ingin kembali ke Naisabur. Aku bermimpi bahwa sebuah suara menyeru kepadaku, ‘Engkau tidak dapat meninggalkan kota ini. Ada sekelompok jin yang menghadiri majelis majelismu dan mereka memperoleh manfaat dari ceramah ceramah yang engkau berikan. Demi mereka, tinggallah di tempatmu’!”

Salah seorang ahli hikmah berkata, “Manusia diciptakan hanya dengan satu lidah, namun dianugerahi dua mata dan dua telinga, agar ia mendengar dan mau melihat lebih banyak dari berbicara.”

Ibrahim bin Adham diundang ke sebuah pesta. Ketika ia duduk, orang-orang mulai bergunjing dan memfitnah satu sama lain. Ia lalu berkata, “Kebiasaan kami adalah makan daging sesudah makan roti. Anda ini malah makan daging lebih dahulu. ” Ucapannya ini merujuk kepada firman Allah swt.: “Maukah salah seorang di antaramu memakan daging saudaranya yang mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepada perbuatan itu.” (Q.s. Al Hujurat: 12).

(Dari berbagai sumber)



Posted By Kang Santri9:20:00 PM

Tuesday, August 14, 2012

Belajar Dari Mereka Yang Di Anggap Tidak Penting

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Entah apa yang ada dalam pikirannya, masa lalu sudah ia anggap sebagai taburan debu yang dibiarkannya terbang. Sedang masa depan tak pernah ia pikirkan, "karena yang hanya ia pikirkan adalah hari ini, untuk besok kita lihat saja nanti..".

Ia tidaklah sebijak para tokoh di zaman dahulu, ia bukanlah pembuat rangkaian kata-kata yang indah yang bisa menjadi motivasi bagi pembacanya, tapi ia hanyalah manusia biasa tapi sudah berhasil mengendalikan sebagian besar hawa nafsunya.

Juga, ia bukanlah seorang cendekiawan cerdas yang ucapannya banyak didengar orang, melainkan ia hanyalah manusia yang teramat sederhana, hingga dari kesederhanaannya itu bagi orang yang terbuka mata hatinya akan banyak belajar hikmah hidup darinya.

Bahkan, ia tidak pernah tahu "devinisi bahagia itu seperti apa?", karena yang ia tahu sifat syukur diatas semua sendi kehidupan adalah perasaan yang selalu ia pegang.

Wajahnya polos, hingga tak jarang orang menaruh iba dan menganggap ia adalah salah satu element yang tidak penting hadir di tengah-tengah masyarakat. Karena banyak yang menganggap "adanya sama halnya dengan ketiadaannya".


***

Sahabat, kita sering terjebak dalam bungkus formalitas. Kita sering lena mencari nasihat hingga ahirnya jenuh dan bosan, karena ternyata ratusan kata bijak yang sudah kita hafal tidak membawa dampak apa-apa. Kita terkung-kung oleh idealis dengan sesuatu yang akan kita pilih "karena kata orang: kita harus begini dan harus begitu..". Hingga kita melupakan mengambil nilai pelajaran dari setiap cangkul yang diayun oleh petani, tentang anak kecil yang berlari tergesa sambil membawa rantang nasi dan sebotol air putih.

Bukankah kita bisa melihat, bahwa tiap ayunan cangkul yang ia lakukan padanya menyimpan harapan yang besar yang akan selalu diikuti kekecewaan di tiap hasil akhir. Meski dengan nafas terengah dan jengkal kaki yang sempit, kita bisa melihat anak itu nampak khawatir jika orang tuanya kehausan dan kelaparan karena terus asyik dengan pekerjaannya menggarap sawah. Inilah wujud dari kasih sayang dalam balut kekhawatiran, karena ia yakin meski hanya satu jengkal saja ia memberlambat lajunya maka semakin lama pula orang tuanya merasakan haus dan lapar ditengah pekerjaan beratnya.

Adakalanya, kita mengambil pelajaran hidup yang sangatlah berharga dari mereka-mereka yang kita anggap sebelumnya tidak penting dan mungkin sudah biasa kita remehkan.


Semarang, 14/08/2012

Posted By Kang Santri4:46:00 PM

Cara Mensucikan Diri Setelah Zina (Kisah Sahabat Rasulullah)

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Suatu hari, Rasulullah sedang duduk di dalam masjid bersama para sahabat. Tiba-tiba datanglah seorang wanita yang kemudian masuk ke dalam masjid. Dengan ketakutan, wanita tersebut mengaku kepada Rasulullah bahwa dia telah berzina. Mendengar hal itu, memerahlah wajah Rasulullah SAW seperti hampir meneteskan darah. Kemudian beliau bersabda kepadanya, Pergilah, hingga engkau melahirkan anakmu.

Sembilan bulan berlalu, wanita itu akhirnya melahirkan. Dihari pertama nifasnya, dia datang kembali membawa anaknya, dan berkata kepada Rasulullah SAW: Wahai Rasulullah, sucikanlah aku dari dosa zina
Rasulullah melihat kepada anak wanita tersebut, dan bersabda: Pulanglah, susuilah dia, maka jika engkau telah menyapihnya, kembalilah kepadaku.


Dengan sedih, wanita itu akhirnya kembali lagi kerumahnya.



Tiga tahun lebih berlalu, namun si wanita tetap tidak berubah pikiran. Dia datang kembali kepada Rasulullah untuk bertaubat. Dia berkata: Wahai Rasulullah, aku telah menyapihnya, maka sucikanlah aku!


Rasulullah SAW bersabda kembali kepada semua yang hadir disana, Siapa yang mengurusi anak ini, maka dia adalah temanku di surga


Sesaat kemudian beliau memerintahkan agar wanita tersebut dirajam. Setelah wanita tersebut meninggal, beliaupun menshalatinya.


Melihat hal tersebut, umar Bin Khatab merasa sangat heran sekali. Beliau berkata: Engkau menshalatinya wahai Nabi Allah, sungguh dia telah berzina!.


Rasulullah kembali bersabda: Sungguh dia telah bertaubat dengan satu taubat, yang seandainya taubatnya itu dibagikan kepada 70 orang dari penduduk Madinah, maka taubat itu akan mencukupinya. Apakah engkau mendapati sebuah taubat yang lebih utama dari pengorbanan dirinya untuk Allah? (HR. Ahmad)

Posted By Kang Santri10:21:00 AM

Thursday, August 2, 2012

Saat Keinginan Tak Sesuai Harapan

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Saya terkesan dengan salah satu perjalanan hidup seorang sahabat, saat ia lahir kedunia Allah memberinya fisik yang tidak sempurna di salah satu bagian tangan kirinya.

Seiring berputarnya masa, ia tumbuh menjadi seorang pemuda yang hidupnya banyak didedikasikan mengajar anak-anak membaca qur'an dan ilmu-ilmu agama lainnya. Saya melihat dia sangat menikmati masa-masa itu. 

Hingga terjadilah sesuatu yang sangat tidak dia inginkan dan sempat frustasi dengan masalah yang menderanya. Waktu itu, ia harus dihadapkan pada kenyataan dimana tempat yang bisa dia gunakan mengajar anak-anak santri diperselisihkan oleh para tokoh masyarakat yang menginginkan terjadinya sususan kepengurusan di Madrasah yang sudah ia rintis dari nol bersama para sahabatnya.

Dengan mencoba berlapang dada, ahirnya ia dan sahabatnya menuruti keinginan sebagian tokoh masyarakat menyerahkan kepengurusan Madrasah kepada pihak yang telah dipilih.

***

Saat itu, ia datang padaku mengutarakan maksudnya yang ingin segera menikah. Hingga akhirnya saya pun gagal menemukan perempuan yang mahu menikah dengannya. Ya.. mungkin karena cacat fisiknya hingga dia sulit mendapatkan jodoh. Saat itu dia sudah ditinggal wafat oleh kedua orang tuanya, sedang yang dijadikannya tumpuan hanyalah para saudara kandungnya yang diharapkannya tahu akan keinginan hatinya untuk segera menikah.

"Masya Allah.." aku sempat heran dengan keluarganya, seolah mereka malu untuk mencarikannya jodoh karena fisiknya yang tidak sempurna. Sampai ada yang bilang "apa ada yang mahu sama dia..?".

Namun Alhamdulillah, selang beberapa tahun, dia dipertemukan oleh Allah kepada seorang wanita yang bersedia menerimananya apa adanya.

Setelah melalui proses yang amat rumit, ahirnya proses pernikahanpun berjalan dengan tanpa kendala yang berarti.

Mungkin sahabat saya ini membayangkan, setelah dia menikah kehidupannya lebih tentram dan bahagia. Tapi yang terjadi ternyata tidak sesuai dengan keinginan yang selama ini ia harapkan.

***

Hubungan dengan para saudaranya yang sebelum menikah bisa dikatakan baik-baik saja berubah menjadi pertikaian (pertikaian itu pun masih berlangsung sampai saat tulisan ini saya buat).

Harta warisan adalah ujung permasalahannya. Sebenarnya sebelum kedua orang tuanya meninggal, sudah diberi bagian-bagian tersendiri, namun sayangnya ada satu saudaranya yang memutar balikkan fakta, karena dia (saudaranya) ingin menguasai sebagian harta yang sudah menjadi haknya (sahabat saya).

Saat ini, saya masih menyaksikan kedukaan yang begitu mendalam. karena tergambar jelas dari raut mukanya, dia tidak mempunyai pekerjaan tetap yang bisa menopang rumah tangganya, sementara sang isteri sering sakit-sakitan oleh penyakitnya. Hingga diapun masih menitipkan isterinya pada orangtua kandungnya, karena ia tidak mampu membiayai pengobatan sang isteri.

Seperti yang dia sering katakan, dia sering menjerit dan menangis tiap malam. Dalam keadaan tidak berdaya ia malah dijauhi dan difitnah oleh saudaranya yang ingin merebut satu-satunya warisan yang ia miliki (sepetak tanah dan bangunan rumah sederhana yang berdiri diatasnya), padahal sebenarnya saudaranya itu bisa dikatakan orang yang hidup sangat berkecukupan.

Saya hanya bisa mengatakan, "kang.. njenengan yang sabar ya, inilah cara Allah untuk mengangkat tinggi derajatmu...".

***

Saat keinginan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, yakinlah bahwa Allah masih menyimpan anugerah yang akan diberikan sambil menunggu waktu yang benar-benar tapat untuk Allah memberikannya pada kita.

Kadang kita sering merasa bahwa hidup ini tidak adil, dan seolah kita tidak diperdulikan oleh Tuhan. Maka yakinlah bahwa perasaan seperti itu merupakan salah satu tipudaya Setan.

Semoga, Allah senantiasa menganugerahkan sifat sabar kepada saya, dia dan anda semua.... Amiin.

Posted By Kang Santri8:51:00 PM

Thursday, May 31, 2012

Dialog Bijak Tentang Kebosanan

Murtakibudz Dzunub - Anda sedang bosan?. Tak ada salahnya menyimak sebentar dialog sederhana yang sarat akan petuah bijak ini. Ini adalah sebuah cerita ringan tentang kebosanan. Seorang tua yang bijak ditanya oleh tamunya.

Tamu : "Sebenarnya apa itu perasaan 'bosan', pak tua?

Pak Tua : "Bosan adalah keadaan dimana pikiran menginginkan perubahan, mendambakan sesuatu yang baru, dan menginginkan berhentinya rutinitas hidup dan keadaan yang monoton dari waktu ke waktu".

Tamu : "Kenapa kita merasa bosan?".

Pak Tua : "Karena kita tidak penah merasa puas dengan apa yang kita miliki."

Tamu : "Bagaimana menghilangkan kebosanan?"

Pak Tua : " Hanya ada satu cara, nikmatilah kebosanan itu, maka kita pun akan terbebas darinya."

Tamu : "Bagaiman mungkin bisa menikmati kebosanan?"

Pak Tua : "Bertanyalah pada dirimu sendiri, mengapa kamu tidak pernah bosan makan nasi yang sama rasanya setiap hari?"

Tamu : "Karena kita makan nasi dengan lauk dan sayur yang berbeda, Pak Tua."

Pak Tua : "Benar sekali anakku, tambahkan sesuatu yang baru dalam rutinitasmu maka kebosanan pun akan hilang."

Tamu : "Bagaimana menambahkan hal baru dalam rutinitas?"

Pak Tua : "Ubahlah caramu melakukan rutinitas itu. Kalau biasanya menulis sambil duduk, cobalah menulis sambil jongkok atau berbaring. kalau biasanya membaca di kursi, cobalah membaca sambil berjalan-jalan atau meloncat-loncat. Kalau biasanya menelpon dengan tangan kanan, cobalah dengan tangan kiri atau dengan kaki kalau bisa. Dan seterusnya."

Lalu Tamu itu pun pergi.

Beberapa hari kemudian Tamu itu mengunjungi Pak Tua lagi.

Tamu : "Pak Tua, saya sudah melakukan apa yang Anda sarankan, kenapa saya masih merasa bosan juga?"

Pak Tua : "Coba lakukan sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan."

Tamu : "Contohnya?"

Pak Tua : "Mainkan permainan yang paling kamu senangi di waktu kecil dulu."

Lalu Tamu itu pun pergi.

Beberapa minggu kemudian, Tamu itu datang lagi ke rumah Pak Tua.

Tamu : "Pak Tua, saya melakukan apa yang Anda sarankan. Di setiap waktu senggang saya bermain sepuas-puasnya semua permainan anak-anak yang saya senangi dulu. Dan keajaiban pun terjadi. Sampai sekarang saya tidak pernah merasa bosan lagi, meskipun disaat saya melakukan hal-hal yang dulu pernah saya anggap membosankan. Kenapa bisa demikian, Pak Tua?"

Sambil tersenyum Pak Tua berkata : "Karena segala sesuatu sebenarnya berasal dari pikiranmu sendiri, anakku. Kebosanan itu pun berasal dari pikiranmu yang berpikir tentang kebosanan. Saya menyuruhmu bermain seperti anak kecil

Agar pikiranmu menjadi ceria. Sekarang kamu tidak merasa bosan lagi karena pikiranmu tentang keceriaan berhasil mengalahkan pikiranmu tentang kebosanan. Segala sesuatu berasal dari pikiran. Berpikir bosan menyebabkan kau bosan. Berpikir ceria menjadikan kamu ceria."

Semoga bermanfaat.


Posted By Kang Santri1:25:00 PM

Tuesday, May 22, 2012

Cemburu Itu Anugerah

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Tak ada cinta dan kasih sayang bila tak ada rasa cemburu. Cemburu dapat membangkitkan himmah tersendiri bagi para pecinta kepada yang dicintainya. Cemburu juga merupakan sebuah perasaan yang bisa mengaduk hati demi mendapati perhatian kepada yang disayangi.

Tanamlah rasa cemburu karena itu merupakan bukti nyata dari kasih sayang. Kemudian yang menjadi pertanyaan, kepada siapa layaknya kita merawat kecemburuan, kapan saat kita benar-benar mampu menikmati bahwa cemburu itu merupakan wujud salah satu dari kenikmatan?

Cemburuilah mereka manusia-manusia yang sudah mendapatkan predikat keshalihan, ditiap sepertiga malam terahir mereka senantiasa bangun dengan segala cara upaya mencurahkan segenap rasa kecintaan kepada Tuhan. 

Kenapa kita mesti cemburu? Karena kita belum mampu untuk melakukan seperti yang telah orang-orang shalih itu lakukan. Kalau Allah saja cemburu jika kita minta sesuatu kepada selainNya, kenapa kita tidak cemburu jika Allah memberikan anugerah keshalihan kepada para waliNya?. (tanbihun.com)


Posted By Kang Santri9:43:00 PM

Friday, May 18, 2012

Anggota Tubuh Yang Bisa Di Masuki Cahaya Allah

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Menurut ulama yang lain, qolbu adalah perasaan-perasaan dan emosi yang mendorong, mencegah atau memuji sesuatu, pengaruh dari perasaan-perasaan ini akan tampak dengan jelas dan nyata dalam jantung seseorang yang diaplikasikan dengan rasa cinta, takut dan hormat. 
 
مطالع الأنوار, القلوب والأسرار

"Tempat terbitnya cahaya Allah adalah hati dan rahasia-rahasianya."

A. Penjelasan

Dalam khazanah ilmu anatomi dan kedokteran, yang dimaksud dengan Al qolbu adalah jantung, yaitu sekumpulan otot yang tersembunyi dibalik rongga dada, lebih tepatnya bagian kiri bawah. Jantung merupakan organ tubuh yang memiliki peran paling besar dalam kehidupan, fungsi terpenting dari jantung yaitu memompa darah agar terus mengalir melalui urat-urat dan pembuluh darah yang ada di seluruh tubuh dengan sebuah sistematika yang begitu komplek dan menakjubkan. 

Namun penggambaran tersebut bukanlah qolbu yang dimaksudkan Al quran ataupun yang dikehendaki ulama-ulama islam, khususnya ulama tasawuf, sebagian diantara mereka ada yang mengatakan bahwa qolbu adalah akal. 

Menurut ulama yang lain, qolbu adalah perasaan-perasaan dan emosi yang mendorong, mencegah atau memuji sesuatu, pengaruh dari perasaan-perasaan ini akan tampak dengan jelas dan nyata dalam jantung seseorang yang diaplikasikan dengan rasa cinta, takut dan hormat.

Namun sebenarnya kedua makna qolbu yang diutamakan oleh para ulama diatas sama-sama terdapat di dalam Al quran. Dan qolbu yang bermakna akal dapat kita temukan dalam surat Al-A'raaf ayat 179. 


B. Ruh merupakan pokok dalam hati manusia

Secara sederhana, marilah kita mencoba membicarakan tentang tiga macam rahasia Allah, yaitu kehidupan, intelektualitas (pemahaman) dan jantung. Sebenarnya sumber dari ketiga rahasia ini adalah sebuah perkara yang sama dan serupa. Katakan saja bahwa perkara tersebut adalah ruh, ruh yang mengalir kedalam sel-sel tubuh akan menimbulkan kehidupan, sedangkan ruh yang masuk dan mengisi ruang-ruang otak akan menghasilkan intelektualitas dan pemahaman, kemudian jika ruh terbit dan menyinari jantung, maka lahirlah perasaan-perasaan dan emosi tertentu. 

Artinya sifat-sifat pemahaman dan intelektualitas akan muncul dari dalam otak yang teraliri muatan-muatan ruh. Jika ada orang yang mengatakan bahwa akal dan intelektualitas adalah hati atau jantung, maka ibarat seperti ini adalah majaz. Menurut ulama tata bahasa arab biasanya dinamakan istikhdam. Lebih jelasnya, pada saat otak terserang penyakit atau virus-virus perusak, hal ini akan berpengaruh kepada pemahaman dan gaya pikir. Andaikan sumber pemahaman adalah jantung, mestinya tidak akan ada kebingungan otak yang diakibatkan penyakit yang menyerangnya. 

Namun yang perlu diingat, bahwa sumber pemahaman dan perasaan bukanlah otak ataupun jantung. Karena hakikat kedua organ ini hanyalah manifestasi perwujudan dari pemahaman dan perasaan sedangkan sumber aslinya adalah ruh, sumber kehidupan, intelektualitas, serta perasaan dan emosi.


C. Rahasia yang ada didalam hati

Qolbu yang dikehendaki oleh Ibnu Atho'illah dalam hikmah ini adalah rahasia-rahasia Allah yang merasuk kedalam jantung sehingga terbitlah perasaan cinta, takut dan hormat. Mengapa qolbu menjadi tempat munculnya cahaya-cahaya yang merupakan akibat dari tersingkapnya Allah subhanahu wat'ala kepada seorang hamba, mengapa bukan otak yang bisa kita gunakan untuk memahami atau bagian-bagian tubuh lain yang menjadi indera perasa serta menjadi tempat tersebarnya kehidupan ? 

Jawabannya adalah karena otak ataupun bagian-bagian tubuh yang lain bukanlah organ yang berfungsi untuk mengeluarakan perasaan cinta, hormat atau takut. Sedangkan yang mampu berinteraksi dengan Allah adalah perasaan-perasaan cinta, hormat dan takut. Ketika daya intelektual tidak diimbangi oleh perasaan-perasaan tersebut, maka ia tidak akan layak menjadi tempat terbitnya cahaya Allah subhanahu wata'ala

Banyak kita saksikan orang-orang beriman dan berakal yang mengetahui berbagai macam ilmu, namun tidak mendatangkan manfaat baginya. Pengetahuan yang ia miliki tidak mampu mendekatkannnya kepada Allah Azza wajalla dikarenakan hatinya telah tertutupi oleh noda yang begitu tebal. Ilmu yang tersimpan dalam otaknya sama sekali tidak berdaya untuk menerbitkan aliran-aliran perasaan cinta, takut dan sebaginya. 

Hal ini bukan berarti bahwa ilmu yang menjadi buah dari akal, sama sekali tidak berharga dan tidak dibutuhkan dalam kehidupan seorang hamba. Kita harus tahu bahwa ilmu adalah pintu gerbang untuk memasuki perjalanan menghadap kepada Allah subhanahu wata'ala. Karena perasaan cinta, takut dan hormat adalah akibat tertancapnya ilmu dan ma'rifat dalam hati, maka barang siapa tidak mengetahui Allah dengan akalnya ia tidak akan memiliki rasa cinta atau ta'dzim kepadaNya.


D. Intropeksi kepada Allah subhanahu wata'ala

Ruh adalah sesuatu yang suci dan sangat rahasia. Karenanya Allah menisbatkan perkara suci ini kepada DzatNya yang agung.Pada awalanya, ruh telah merasakan ketenangan dan kedamaian alam arwah yang begitu indah, kemudia takdir Allah subhanahu wata'ala menentukan bahwa dia harus turun dari alam arwah untuk menempati jasad manusia hingga kematian menemuinya. 

Ditempat yang baru ini, ruh selalu merasakan kerinduan untuk kembali kepada kehidupan yang dulu, ia ingin selalu disisi Allah yang maha pencipta. Karena Allah telah menghendaki bahwa jantung adalah tempat tersibaknya Allah bagi seorang hamba, maka perasaan-perasaan rindu, cinta dan takut yang tersembunyi dalam rahasia-rahasia ruh akan tampak jelas ketika jantung telah terisi aliran-aliran ruh. 

Lalu mengapa emosi dan perasaan-perasaan suci tersebut tidak terlihat nyata dalam hati semua manusia ? mengapa kebanyakan diantara mereka malah menampakan perasaan-perasaan kotor yang dipenuhi keinginan dan nafsu dunia ?, padahal kita tahu bahwa ruh yang ada dalam diri mereka selalu diliputi kerinduan dan kecintaan kepada Allah yang maha Esa.

Memang setiap perasaan dan emosi suci yang terpancar dari ruh kedalam hati hanya tergantung dan terhubung kepada Allah saja, baik cinta, rindu, takut ataupun ta'dzim semuanya hanya tertuju kepada Allah Azza wajalla. Hanya saja ketika perasaan-perasaan suci itu telah sampai ke hati, ternyata didalamnya telah terdapat penghuni lain yang berupa perangai dan tabi'at nafsu syahwat yang selalu berusaha mengalahkan dan membelenggu perasaan suci itu.

Akibatnya sang pemilik hati akan terbayang-bayang bahwa rindu yang ada dalam dirinya adalah kepada bentuk dan gambar-gambar yang disodorkan oleh nafsunya, bahwa cinta yang ia miliki untuk kemewahan dunia yang dipilih oleh syahwatnya.

Pertempuran yang terjadi antara perasaan-perasaan suci yang dibawa oleh ruh dengan keinginan-keinginan kotor yang dipimpin oleh nafsu syahwat akan menimbulkan kebingungan seorang manusia, sedangkan nafsu syahwat tidak akan pernah menghentikan perlawanannya untuk mengalahkan perasaan-perasaan suci tersebut, kemudian menjadikannnya sebagai pelaksanan kemauan dan keinginan kotornya. 

Seorang hamba harus berusaha melenyapkan kerisauan dan kebingungan semacam ini, lalu bagaimanakah cara untuk menghentikan pertempuran antara perasaan suci dengan nafsu syahwat yang menyebabkan kebingungannya ? 

Solusi dan jalan keluar yang harus ia tempuh adalah dengan memperbanyak dan melanggengkan dzikir kepada Allah subhanahu wata'ala dengan berbagai macam tata caranya. Diantara beberapa cara yang paling utama dan paling mudah untuk mengingat Allah Azza wajalla adalah selalu berusaha menghubungkan segala nikmat yang diperoleh dengan Dzat yang telah memberikan nikmat tersebut, artinya seorang menusia harus menerima dan memanfaatkan semua nikmat yang ia terima dengan tetap mengingat bahwa Allah subhanahu wata'ala adalah Dzat yang telah memberi dan menganugerahkan semua nikmat itu. 

Jika keadaan seperti ini berlangsung terus menerus, maka ia termasuk dalam golongan orang-orang yang selalu berdzikir kepada Allah meskipun mulutnya tidak melantunkan kalimat-kalimat dzikir apapun. Karena yang dimaksud dengan dzikrullah adalah selalu berusaha mengingatNya dan tidak lupa kepadaNYa, sedangkan mengingat adalah perbuatan dan pekerjaan hati. 

Apabila seorang hamba selalu mengingat dzat pemberi nikmat dengan disertai ketundukan menjalankan perintah dan menjauhi laranganNya tanpa lupa meminta apapun dan bertaubat atas kesalahan dan kekurangannya, maka perasaan-perasaan suci yang tersembunyi dalam rahasia ruh akan bersinar-sinar berkilau dalam hati. Hingga akhirnya tampak beda dan terpisah dari keinginan-keinginan nafsu yang ada dalam tabi'atnya.

Kebiasaan manusia jika melihat kecantikan dan keindahan dunia, maka ia tertawa olehnya dan menyangka bahwa semua itu adalah hal-hal yang menjadi tujuan cinta suci yang ada dalam hatinya. Ketika hatinya menjadi hidup karena dzikrullah yang ia langgengkan, maka rasa cinta dan rindunya akan mulai menuju kesisiNya. Ia menjadi tahu bahwa cinta kepada dunia adalah kesesatan yang wajib dihindari, sedangkan hakikat yang seharusnya ia cari hanyalah keindahan belas kasih dan keagungan Allah Azza wajalla. Dengan jalan dzikrullah penelitian dan pencariannya akan sampai kepada cinta suci yang abadi, yaitu cinta kepad Allah yang maha sempurna. 

Bila hati seorang hamba telah konsisten menjalani dzikrullah hingga selalu menghadap kepada keindahan sejati, sumber segala kebaikan dan raja keagungan yang maha Esa, maka dzikir tersebut akan menumbuhkan cinta sejati kepadaNya, semua ucapan yang keluar dari mulutnya adala pujian dan sanjungan untukNya. Akhirnya Allah subhanahu wata'ala akan tampak jelas dalam hatinya, Dia akan menariknya agar selalu berada dekat disiNya, senantiasa dalam rahmat dan perlindunganNya, hatinya menjadi penuh terisi cahaya-cahaya Nya, yaitu ma'rifat dan keyakinan yang menyebabkan ketinggian derajatnya dihadapan Allah Azza wajalla.


E. Dalil 
 
a. Firman Allah dalam surat Al-Baqoroh ayat 74

إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ (37) [ق : 37] 

Artinya : "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya."(Q.S. Qaaf : 37) 

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا [الأعراف : 179] 

Artinya : "Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah)." (Q.S. Al-‘Araaf : 179)
Yang dimaksud dengan orang-orang yang mempunyai akal adalah mereka yang menggunakan dan merasakan manfa'at alat-alat yang berfungsi untuk mengerti dan memahami sesuatu yaitu akal. hal ini memperkuat pendapat ulama yang mengatakan qolbu adalah akal. Begitu juga dengan firman Allah dalam surat Al-A'raaf, Yang berfungsi untuk memahami adalah akal, berarti Qolbu dalam ayat tersebut adalah akal. 

Sedangkan qolbu yang berarti rahasia-rahasia yang mempengaruhi organ jantung sehingga muncul perasaan cinta dan lain-lain. Hal ini bisa kita lihat dalam ayat berikut.

ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً [البقرة : 74] 

Artinya : "Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi." (Q.S. Al-Baqoroh : 74) 

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ [الحديد : 16] 

Artinya : "Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah." (Q.S. Al-Hadiid : 16)

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ [الأنفال : 2] 

Artinya : "Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka." (Q.S. AL-‘Anfaal : 2) 

Keras, khusu'atau tunduk dan takut dalam ayat-ayat tersebut merupakan perasaan-perasaan yang ada dalam hati, bukan termasuk bagian intelektualitas dan pemahaman. 

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آَتَيْنَاهُ آَيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ (175) [الأعراف/175] 

Artinya : "Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat." (Q.S. Al-‘Araaf : 175) 

Ayat ini menunjukan tentang penggambaran orang-orang yang beriman dan berakal tetapi hatinya tertutup oleh noda yang tebal. 

فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ (29) [الحجر/29] 

Artinya : "Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud." (Q.S. Al-Hajr : 29) 

Allah memberikan kepada makhluqNya sesuatu yang suci dan sangat rahasia, disamping itu Allah menisbatkan DzatNya kepada sesuatu tersebut, dalam ayat ini sesuatu yang dikehendaki adalah ruh. 

b. Perkataan Imam Ghozali
Imam Ghozali berkata : "bertambahnya ilmu dalam diri seseorang yang jahat bagaikan bertambahnya air yang diserap oleh akar حنظل (jenis tanaman labu), semakin banyak air yang dihisap maka buahnya semakin bertambah pahit." Perkataan ini menyinggung terhadap ilmuwan-ilmuwan yang tidak memberikan keimanan yang bertambah dalam dirinya, bahkan tidak percaya adanya Allah subhanahu wata'ala. 
 

F. Kesimpulan 

Cahaya Allah yang berupa ilmu, ma'rifat dan keyakinan tauhid akan terbit dalam hati seorang hamba yang telah terisi muatan-muatan ruh, karena ruh selalu diliputi ketergantungan dan kerinduan kepada Allah Azza wajalla, maka ia akan memunculkan perasaan-perasaan suci yang berupa cinta, takut dan ta'dzim kepada Dzat yang maha pencipta dalam hati yang ia masuki. Namun perasaan suci ini tidak selamanya memenuhi ruang-ruang hati sanubari. Ruh yang membawa perasaan suci harus berjuang melawan nafsu syahwat yang selalu berusaha merajai hati. 

Untuk memenangkan pertempuran ini, seorang hamba harus selalu konsisten mengingat Allah, ingat bahwa semua nikmat yang peroleh hanya karena anugerah dan karuniaNya. Dengan jalan ini, ruh akan senantiasa terhubung kepada Allah Azza wajalla

Perasaan cinta, takut dan ta'dzim yang dibawa oleh ruh saat memasuki hati akan selalu aman dan tidak terkalahkan, karena berada dalam pengawasan dan penjagaan Allah yang maha kuasa dengan perlindunganNya, dengan interaksi yang begitu dekat denganNya, maka hati menjadi terang benderang karena cahaya Allah selalu menyinarinya. 

Seorang hamba yang memiliki hati seperti ini, akan terkurung dalam lingkaran ilmu, ma'rifat dan tauhid kepadaNya. Dan hal ini akan menjadi sebuah kunci bagi seorang hamba untuk menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.  


Penulis: KH. M.Wafi MZ. Lc. Msi 
 
http://www.ppalanwar.com







Posted By Kang Santri6:44:00 PM

Friday, May 4, 2012

Delapan Intisari Belajar Hikmah

Filled under: ,

Murtakibudz Dzunub - Diriwayatkan dari Syaqiq Al-Bajaly rahimahullâh, bahwa beliau bertanya kepada muridnya Hatim, “Engkau telah menemaniku dalam kurung waktu (yang lama). Lalu apakah yang engkau telah pelajari dari ku?”

Hatim rahimahullâh menjawab: “Saya telah mempelajari delapan perkara:

Pertama : Saya melihat kepada makhluk, ternyata setiap orang memiliki kecintaan. Namun jika ia telah mencapai kuburnya maka kecintaannya akan berpisah darinya. Maka saya pun menjadikan (amalan-amalan) kebaikanku sebagai kecintaanku agar ia senantiasa bersamaku di alam kubur.

Kedua : Saya melihat kepada Firman ALLAH Ta’âlâ, “(Dan orang-orang yang) menahan diri dari keinginan hawa nafsunya.” [An-Nâzi’ât : 40], maka saya pun bersungguh-sungguh menolak hawa nafsu dari diriku sehingga senantiasa tetap di atas ketaatan kepada ALLAH Ta’âlâ.

Ketiga : Saya melihat setiap orang yang memiliki sesuatu yang berharga baginya, pasti ia akan senantiasa menjaganya. Kemudian saya memperhatikan Firman (ALLAH) Subhânahu wa Ta’âlâ, “Apa yang di sisimu akan sirna, dan apa yang ada di sisi ALLAH adalah kekal.” [An-Nahl :96], maka setiap kali saya memiliki sesuatu yang berharga, pasti saya hadapkan kepada-NYA agar ia kekal untukku di sisi-NYA.

Keempat : Saya melihat manusia kembali kepada harta, kedudukan dan kehormatan, sedangkan itu tidak (berarti) sedikit pun. Kemudian saya mencermati Firman (ALLAH) Ta’âlâ, “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian.” [Al-Hujarât :13] maka saya pun beramal dengan ketakwaan agar saya menjadi mulia di sisi-NYA.

Kelima : Saya melihat manusia saling mendengki (hasad). Lalu saya memperhatikan Firman (ALLAH) Ta’âlâ, “KAMI telah menentukan antara mereka penghidupan mereka.” [Az-Zukhruf :32], maka saya pun meninggalkan hasad.

Keenam : Saya melihat manusia saling bermusuhan. Kemudian saya mencermati Firman (ALLAH) Ta’âlâ, “Sesungguhnya syaithân itu adalah musuh bagi kalian, maka anggaplah ia sebagai musuh.” [Fâthir :6], maka saya pun meninggalkan permusuhan mereka dan saya jadikan syaithân sebagai musuh satu-satunya.

Ketujuh : Saya melihat mereka menghinakan diri-diri mereka dalam mencari rezki. Lalu saya mencermati Firman (ALLAH) Ta’âlâ, “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan ALLAH-lah yang memberi rezkinya.” [Hûd :6], maka saya pun menyibukkan diriku dengan apa-apa yang merupakan hak ALLAH terhadapku dan saya tinggalkan apa yang untukku di sisi-NYA.

Kedelapan : Saya melihat mereka bergantung (tawakkal) pada perdagangan, usaha dan kesehatan badan, maka saya pun bertawakkal hanya kepada ALLAH."

(Bahjatul Majâlis Wa Anîsul Muqîm Wal Musâfir Juz II hal 12-13)
Sumber: An-Nashihah Volume 12 Tahun 1428H/2007M

Posted By Kang Santri7:07:00 PM

Wednesday, May 2, 2012

Menjaga Diri (Al-'Iffah)

Filled under: ,

Murtakibudz Dzunub - Sifat 'Iffah (menjaga diri) merupakan sifat yang wajib dimiliki bagi setiap muslim. Menjaga diri dari hal-hal yang bisa membawanya pada kesengsaraan dunia dan akhirat. Kalau dalam kaidah fiqih biasa disebut dengan Hifdhu an-Nafsi.

Seperti yang sudah diterangkan oleh Al Imam Al Mawardi (AL Imam Abi Al Hasan Ali Bin Muhammad Bin Habib Al Bashari Al Wamawardi Asy-Syafi'i), menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan itu dibagi menjadi dua yaitu, menjaga farji (kelamin) dari hal-hal yang diharamkan dan mejaga lidah dari membual (kedustaan).

Rasulullah bersabda, "Orang yang menjaga (menghindari) kejelekan kelaminnya, lidah dan perutnya, maka dia telah terjaga".

Faktor yang menyebabkan hilangnya sifat 'Iffah

Ada dua faktor yang mendorong tejadinya perbuatan tersebut (tidak bisa menjaga diri dari yang diharamkan) yaitu, mengikuti pandangan mata, dan tunduk kepada syahwat (nafsu).

Telah diriwayatkan dari Rasulullah, seraya beliau bersabda yang ditujukan kepada Ali Bin Abi Thalib: "Wahai Ali, janganlah kamu mengiringi pandangan dengan pandangan, karena yang pertama diperbolehkan bagimu, dan yang kedua menjadi dosa bagimu".

Berkenaan dengan lafadz "janganlah kamu mengiringi pandangan dengan pandangan" terdapat dua penafsiran. Pertama, janganlah kamu mengiringi pandangan matamu dengan pandangan hatimu. Kedua, janganlah kamu mengiringi pandangan yang pertama yang dapat menimbulkan syahwat dengan pandangan yang kedua yang dapat menimbulkan syahwat dengan cara sengaja.

Nabi Isa A.S pernah berkata: "Hendaknya kamu takut dengan pandangan setelah pandangan, karena hal itu menumbuhkan syahwat dalam hatimu, dan cukup bagi pelakunya menimbulkan fitnah".

Ali Bin Abi Thalib juga berkata: "Mata itu tempat berjalannya syaithan." Sedang menurut ahli hikmah, "Orang yang membiarkan pandangan matanya maka dia telah mengundang kebinasaan".

Posted By Kang Santri10:39:00 AM

Tuesday, May 1, 2012

Larangan Bernafas Saat Minum (Nasehat Rasulullah)

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Dari Tsumamah bin Abdullah, "Dahulu Anas bin Malik radhiyallahu ta'alaa anhu pernah bernafas di dalam bejana dua kali atau tiga kali, dan dia mengira Nabi sallallahu alaihi wa sallam pernah melakukan hal itu (HR. Bukhari, No. 5631)

Dari Abu Qatadah dan bapaknya, Rasulullah bersabda, "Apabila salah seorang diantara kalian minum, maka janganlah ia bernafas di bejana (gelas), dan jika salah seorang dari kalian kencing maka janganlah ia memegang dzakar (kemaluannya) dengan tangan kanannya, jika membersihkan maka jangan membersihkan dengan tangan kanannya (HR. Bukhari 5630)

Sebagian ulama mengatakan, "Larangan bernafas di dalam bejana ketika minum sama seperti larangan ketika makan dan minum, sebab hal itu bisa menyebabkan keluarnya ludah sehingga bisa mempengaruhi kebersihan air minum tersebut. Dan keadaan ini apabila dia makan dan minum dengan orang lain. Adapun bila ia makan sendirian atau bersama keluarganya atau dengan orang yang tidak terganggu dengan caramu tersebut, maka hal itu tidak mengapa." Aku ( Imam Ibn Hajar Al-Asqalani) berkata, "Dan yang lebih bagus adalah memberlakukan larangan hadits Nabi tersebut, sebab larangan itu bukan untuk menghormati orang yang layak dihormati ataupun untuk mendapat penghargaan dari orang lain.... Berkata Imam Al-Qurthubi, "Makna larangan itu adalah agar bejana dan air tersebut tidak tercemar dengan air ludah atau pun bau yang tidak sedap". (Fat-hul Bari, 10/94).
 
Bernafas adalah aktivitas menghirup dan mengeluarkan udara; menghirup udara yang bersih lagi penuh dengan oksigen ke dalam paru-paru sehingga tubuh bisa beraktivitas sebagaimana mestinya; dan menghembuskan nafas adalah udara keluar dari paru-paru yang penuh dengan gas karbon dan sedikit oksigen, serta sebagian sisa-sisa tubuh yang beterbangan di dalam tubuh dan keluar melalui kedua paru-paru dalam bentuk gas. Gas-gas ini dalam persentase yang besar ketika angin dihembuskan, padanya terdapat sejumlah penyakit, seperti pada toksin air kencing ... Maka udara yang dihembuskan mengandung sisa-sisa tubuh yang berbentuk gas dengan sedikit oksigen. Dari hal ini kita mengetahui hikmah yang agung dari larangan Rasulullah; yaitu agar kita tidak bernafas ketika makan atau minum; akan tetapi yang dibenarkan adalah minum sebentar lalu diputus dengan bernafas di luar bejana, lalu minum kembali. 

Rasulullah memberikan wejangan tentang awal yang bagus dalam perintahnya tentang memutus minum dengan bernafas sebentar-sebentar. Sebagimana sudah kita ketahui, bahwa seorang yang minum 1 gelas dalam satu kali minuman akan memaksa dirinya untuk menutup/menahan nafasnya hingga ia selesai minum. Yang demikian karena jalur yang dilalui oleh air dan makanan dan jalan yang dilalui oleh udara akan saling bertabrakan, sehingga tidak mungkin seseorang akan bisa makan atau minum sambil bernafas secara bersama-sama. Sehingga tidak bisa tidak, ia harus memutus salah satu dari keduanya. Dan ketika seseorang menutup/menahan nafasnya dalam waktu lama, maka udara di dalam paru-paru akan terblokir, maka ia akan menekan kedua dinding paru-paru, maka membesar dan berkuranglah kelenturannya setahap demi setahap. Dan gejala ini tidak akan terlihat dalam waktu yang singkat. Akan tetapi apabila seseorang membiasakan diri melakukan ini (minum dengan menghabiskan air dalam satu kali tenggakan) maka ia akan banyak sekali meminum air, seperti unta, dimana paru-parunya selalu terbuka.... Maka paru-paru akan menyempitkan nafasnya manakala ia sedikit minum air, maka kedua bibirnya kelu dan kaku, dan demikian juga dengan kukunya. Kemudian, kedua paru-parunya menekan jantung sehingga mengalami dis-fungsi jantung (gagal jantung), kemudian membalik ke hati, maka hati menjadi membesar (membengkak), kemudian sekujur tubuh akan menggembur. Dan Demikianlah keadaannya, sebab kedua paru-paru yang terbuka merupakan penyakit yang berbahaya, sampai para dokter pun menganggapnya lebih berbahaya daripada kanker tenggorokan.


Dan Nabi Sallallahu alaihi wassallam tidak menginginkan seorangpun dari ummatnya sampai menderita penyakit ini. Oleh karena itu, beliau menasihati ummatnya agar meminum air seteguk demi seteguk (antara dua tegukan dijeda dengan nafas), dan meminum air 1 gelas dengan 3 kali tegukan, sebab hal ini lebih memuaskan rasa dahaga dan lebih menyehatkan tubuh (Lihat Al-Haqa'iq Al-Thabiyyah fii Al-Islam, secara ringkas)



Sumber: Al-Arba'in Al-Ilmiah, Abdul Hamid Mahmud Thahmaaz 

Posted By Kang Santri10:13:00 AM