Friday, February 17, 2012

Balasan Yang Indah (dari Allah)

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Abu Ibrahim bercerita, Suatu ketika, aku jalan-jalan di padang pasir dan tersesat tidak bisa pulang. Di sana kutemukan sebuah kemah lawas. Kuperhatikan kemah tersebut, dan ternyata di dalamnya ada seorang tua yang duduk di atas tanah dengan sangat tenang.

Ternyata orang ini kedua tangannya buntung, matanya buta, dan sebatang kara tanpa sanak saudara. Kulihat bibirnya komat-kamit mengucapkan beberapa kalimat.

Aku mendekat untuk mendengar ucapannya, dan ternyata ia mengulang-ulang kalimat berikut:

Segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia… Segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia…

Aku heran mendengar ucapannya, lalu kuperhatikan keadaannya lebih jauh. Ternyata sebagian besar panca inderanya tak berfungsi. Kedua tangannya buntung, matanya buta, dan ia tidak memiliki apa-apa bagi dirinya.

Kuperhatikan kondisinya sambil mencari adakah ia memiliki anak yang mengurusinya? Atau isteri yang menemaninya? Ternyata tak ada seorang pun.

Aku beranjak mendekatinya, dan ia merasakan kehadiranku. Ia lalu bertanya: “Siapa? siapa?”

“Assalaamu’alaikum… aku seorang yang tersesat dan mendapatkan kemah ini” jawabku, “Tapi kamu sendiri siapa?” tanyaku.

“Mengapa kau tinggal seorang diri di tempat ini? Di mana isterimu, anakmu, dan kerabatmu? lanjutku.

“Aku seorang yang sakit, semua orang meninggalkanku, dan kebanyakan keluargaku telah meninggal” jawabnya.

“Namun kudengar kau mengulang-ulang perkataan: “Segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia!! Demi Allah, apa kelebihan yang diberikan-Nya kepadamu, sedangkan engkau buta, faqir, buntung kedua tangannya, dan sebatang kara?!?” ucapku.

“Aku akan menceritakannya kepadamu. Tapi aku punya satu permintaan kepadamu, maukah kamu mengabulkannya?” tanyanya.

“Jawab dulu pertanyaanku, baru aku akan mengabulkan permintaanmu” kataku.

“Engkau telah melihat sendiri betapa banyak cobaan Allah atasku, akan tetapi segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia. Bukankah Allah memberiku akal sehat, yang dengannya aku bisa memahami dan berfikir?”

“Betul” jawabku. lalu katanya: “Berapa banyak orang yang gila?”

“Banyak juga” jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia” jawabnya.

“Bukankah Allah memberiku pendengaran, yang dengannya aku bisa mendengar adzan, memahami ucapan, dan mengetahui apa yang terjadi di sekelilingku?” tanyanya.

“Iya benar”, jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas orang banyak tersebut” jawabnya.

“Betapa banyak orang yang tuli tak mendengar?” katanya.

“Banyak juga” jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas orang banyak tersebut”, katanya.

“Bukankah Allah memberiku lisan yang dengannya aku bisa berdzikir dan menjelaskan keinginanku?” tanyanya.

“Iya benar” jawabku. “Lantas berapa banyak orang yang bisu tidak bisa bicara?” tanyanya.

“Wah, banyak itu” jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas orang banyak tsb” jawabnya.

“Bukankah Allah telah menjadikanku seorang muslim yang menyembah-Nya, mengharap pahala dari-Nya, dan bersabar atas musibahku?” tanyanya.

“Iya benar” jawabku. lalu katanya: “Padahal berapa banyak orang yang menyembah berhala, salib, dan sebagainya dan mereka juga sakit? Mereka merugi di dunia dan akhirat!!”

“Banyak sekali”, jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas orang banyak tersebut” katanya.

Pak tua terus menyebut kenikmatan Allah atas dirinya satu-persatu. Dan aku semakin takjub dengan kekuatan imannya. Ia begitu mantap keyakinannya dan begitu rela terhadap pemberian Allah.

Betapa banyak pesakitan selain beliau, yang musibahnya tidak sampai seperempat dari musibah beliau. Mereka ada yang lumpuh, ada yang kehilangan penglihatan dan pendengaran, ada juga yang kehilangan organ tubuhnya. Tapi bila dibandingkan dengan orang ini, maka mereka tergolong ‘sehat’. Pun demikian, mereka meronta-ronta, mengeluh, dan menangis sejadi-jadinya. Mereka amat tidak sabar dan tipis keimanannya terhadap balasan Allah atas musibah yang menimpa mereka, padahal pahala tersebut demikian besar.

Aku pun menyelami pikiranku makin jauh, hingga akhirnya khayalanku terputus saat pak tua mengatakan:

“Hmmm, bolehkah kusebutkan permintaanku sekarang, maukah kamu mengabulkannya?”

“Iya. apa permintaanmu?” kataku.

Maka ia menundukkan kepalanya sejenak seraya menahan tangis. Ia berkata: “Tidak ada lagi yang tersisa dari keluargaku melainkan seorang bocah berumur 14 tahun. Dia lah yang memberiku makan dan minum, serta mewudhukan aku dan mengurusi segala keperluanku. Sejak tadi malam ia keluar mencari makanan untukku dan belum kembali hingga kini. Aku tak tahu apakah ia masih hidup dan diharapkan kepulangannya, ataukah telah tiada dan kulupakan saja. Dan kamu tahu sendiri keadaanku yang tua renta dan buta, yang tidak bisa mencarinya”.

Maka kutanya ciri-ciri anak tersebut dan ia menyebutkannya, maka aku berjanji akan mencarikan bocah tersebut untuknya. Aku pun meninggalkannya dan tak tahu bagaimana mencari bocah tersebut. Aku tak tahu harus memulai dari arah mana.

Namun tatkala aku berjalan dan bertanya-tanya kepada orang sekitar tentang si bocah, nampaklah olehku dari kejauhan sebuah bukit kecil yang tak jauh letaknya dari kemah si pak tua. Di atas bukit tersebut ada sekawanan burung gagak yang mengerumuni sesuatu. Maka segeralah terbetik di benakku bahwa burung tersebut tidak lah berkerumun kecuali pada bangkai, atau sisa makanan.

Aku pun mendaki bukit tersebut dan mendatangi kawanan gagak tadi hingga mereka berhamburan terbang. Tatkala kudatangi lokasi tersebut, ternyata si bocah telah tewas dengan badan terpotong-potong. Rupanya seekor serigala telah menerkamnya dan memakan sebagian dari tubuhnya, lalu meninggalkan sisanya untuk burung-burung.

Aku lebih sedih memikirkan nasib pak tua dari pada nasib si bocah. Aku pun turun dari bukit, dan melangkahkan kakiku dengan berat menahan kesedihan yang mendalam. Haruskah kutinggalkan pak Tua menghadapi nasibnya sendirian. Ataukah kudatangi dia dan kukabarkan nasib anaknya kepadanya?

Aku berjalan menujuk kemah pak Tua. Aku bingung harus mengatakan apa dan mulai dari mana? Lalu terlintaslah di benakku akan kisah Nabi Ayyub ‘alaihissalaam. Maka kutemui pak Tua itu dan ia masih dalam kondisi yang memprihatinkan seperti saat kutinggalkan. Kuucapkan salam kepadanya, dan pak Tua yang malang ini demikian rindu ingin melihat anaknya, ia mendahuluiku dengan bertanya: “Di mana si bocah?”

Namun kataku: “Jawablah terlebih dahulu… siapakah yang lebih dicintai Allah: engkau atau Ayyub ‘alaihissalaam?”.

“Tentu Ayyub ‘alaihissalaam lebih dicintai Allah” jawabnya.

“Lantas siapakah di antara kalian yang lebih berat ujiannya?” tanyaku kembali.

“Tentu Ayyub…” jawabnya.

“Kalau begitu, berharaplah pahala dari Allah karena aku mendapati anakmu telah tewas di lereng gunung. Ia diterkam oleh serigala dan dikoyak-koyak tubuhnya” jawabku.

Maka pak Tua pun tersedak-sedak seraya berkata: “Laa ilaaha illallaaah…” dan aku berusaha meringankan musibahnya dan menyabarkannya. Namun sedakannya semakin keras hingga aku mulai menalqinkan kalimat syahadat kepadanya, hingga akhirnya ia meninggal dunia. Ia wafat di hadapanku, lalu kututupi jasadnya dengan selimut yang ada di bawahnya. Lalu aku keluar untuk mencari orang yang membantuku mengurus jenazahnya.

Maka kudapati ada tiga orang yang mengendarai unta mereka… nampaknya mereka adalah para musafir, maka kupanggil mereka dan mereka datang menghampiriku. Kukatakan: “Maukah kalian menerima pahala yang Allah giring kepada kalian? Di sini ada seorang muslim yang wafat dan dia tidak punya siapa-siapa yang mengurusinya. Maukah kalian menolongku memandikan, mengafani dan menguburkannya?”

“Iya..” jawab mereka.

Mereka pun masuk ke dalam kemah menghampiri mayat pak Tua untuk memindahkannya. Namun ketika mereka menyingkap wajahnya, mereka saling berteriak: “Abu Qilabah… Abu Qilabah…!!”. Ternyata Abu Qilabah adalah salah seorang ulama mereka, akan tetapi waktu silih berganti dan ia dirundung berbagai musibah hingga menyendiri dari masyarakat dalam sebuah kemah lusuh. Kami pun menunaikan kewajiban kami atasnya dan menguburkannya, kemudian aku kembali bersama mereka ke Madinah.

Malamnya aku bermimpi melihat Abu Qilabah dengan penampilan indah. Ia mengenakan gamis putih dengan badan yang sempurna. Ia berjalan-jalan di tanah yang hijau. Maka aku bertanya kepadanya:

“Hai Abu Qilabah… apa yang menjadikanmu seperti yang kulihat ini?”

Maka jawabnya: “Allah telah memasukkanku ke dalam Jannah, dan dikatakan kepadaku di dalamnya:

Salam sejahtera atasmu sebagai balasan atas kesabaranmu… maka (inilah Surga) sebaik-baik tempat kembali

[Kisah ini diriwayatkan oleh Al Imam Ibnu Hibban dalam kitabnya: “Ats Tsiqaat” dengan penyesuaian]




Posted By Kang Santri3:04:00 PM

Wednesday, February 15, 2012

Belajar Memahami Fiqih

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Dewasa ini sering terjadi polemic bagaimana mengkondisikan Fiqih zaman dulu dengan Fiqih zaman sekarang, karena bagi sebagian pendapat umum mengatakan bahwa metode Ilhaq (menyamakan satu kasus yang muncul dengan teks kitab-kitab salaf sebagai referensi) dianggap sudah tidak relevan lagi untuk diterapkan karena sudah tidak adanya Illat ataupun sosio-histori yang mendasari. Sehingga metode Maudlu’I (langsung kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah) merupakan hal yang sangat tepat sebagai perumusan hukum. Sekarang yang menjadi pertanyaan, beranikah kita secara langsung menggunakan metode ini? Dengan kadar pemahaman yang sangat minim dibanding dengan Ulama’-ualama’ salaf terdahulu?

Tanpa mengabaikan konteks Al Qur’an dan Al Hadits sudah seharusnya kita merujuk pada Ushul Fiqih dan Qoidah Fiqih-nya, ketika kita menemukan satu kasus yang Illatnya tidak kita temui dari kitab-kitab salaf. Kemudian bagaimana cara kita merumuskan sebuah hukum yang belum pernah kita temui kasus yang sama sebelumnya?

Pertama yang harus kita ketahui bahwa hukum itu ada yang Ta’abudiy dan Ta’aquliy. Untuk merangsang pemikiran kita, mari kita ulas sedikit tentang contoh hukum yang tergolong dalam Ta’abudiy dan Ta’aquliy.

1. Hukum Ta’abudiy
Hukum Ta’abudiy adalah hukum yang tidak bisa diketahui bagaimana proses perumusannya dan Illat apa yang mendasari hingga suatu hukum itu bisa dikatakan halal ataupun haram, atau dalam kata lain hukum yang sudah tidak bias di Ijtihadi lagi karena dalam Ta’abudiy dipastikan kebenaran dan kerelevanannya sampai kapanpun.

Namun ahir-ahir ini banyak sekali pemahaman-pemahaman yang menggugat hukum yang bersifat Ta’abudiy karena dianggapnya sudah tidak relevan lagi untuk zaman sekarang. Seperti Iddahnya seorang perempuan yang di Thalaq suaminya ketika Mu’taddah tadi dalam kondisi normal (masih haidl) maka Iddahnya adalah tiga kali suci dari haidlnya seperti diterangkan dalam Surah Al Baqoroh ayat 228 :

وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلاثَةَ قُرُوءٍ وَلا يَحِلُّ لَهُنَّ أَنْ يَكْتُمْنَ مَا خَلَقَ اللَّهُ فِي أَرْحَامِهِنَّ إِنْ كُنَّ يُؤْمِنَّ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ
Artinya :“Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru. Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat”

Sementara kalau perempuan tadi tidak normal (belum atau sudah tidak haidl lagi) maka masa Iddahnya cukup menanti selama tiga bulan sesuai dengan firman Alloh :

وَاللائِي يَئِسْنَ مِنَ الْمَحِيضِ مِنْ نِسَائِكُمْ إِنِ ارْتَبْتُمْ فَعِدَّتُهُنَّ ثَلاثَةُ أَشْهُرٍ وَاللائِي لَمْ يَحِضْنَ
Artinya : “Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya) maka iddah mereka adalah tiga bulan” (Q.S At- Tholaq : 4)

Sedang masa Iddah perempuan yang hamil adalah mulai dari suaminya meninggal dan ketika sudah melahirkan maka habislah masa Iddahnya. Seperti diterangkan dalam Al Qur’an :

وَأُولاتُ الأحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ
Artinya : “Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu idah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya” (Q.S At- Tholaq : 4)

Ayat diatas sudah sangat tegas memberi batasan pada masa penantian seorang wanita (mu’taddah), dan tentunya sudah sangat pasti tentang ke-Ta’abudiy-annya. Kemudian atas dasar apa hingga sebagian orang menganggap bahwa hukum yang diterangkan ayat diatas sudah tidak lagi relevan? Ternyata hanya berdasarkan pertimbangan, bahwa baroatur rahmi (pembersihan rahim) pada saat ini bisa diketahui dengan alat-alat yang canggih sehingga tidak harus menunggu sampai empat bulan sepuluh hari atau yang lainnya. Karena dengan alat modern ini dengan sekejap sudah bisa diketahui bersihnya rahim.

Perlu ditegaskan bahwa baroatur rohmi bukanlah sebuah Illat yang memberikan konsekwensi sebagai penetapan sebuah hukum, tapi baroatur rohmi hanya merupakan sebuah hikmah yang bisa dipetik dari ketentuan masa Iddah. Kalau baroatur rohmi dianggap sebagai Illat maka mestinya Al Qur’an tidak perlu mengklasifikasi mu’taddah dalam beberapa kategori dan mestinya iddah diwajibkan sampai empat tahun sebab ada juga yang mengandung sampai empat tahun.

2. Hukum Ta’aquliy
Hukum Ta’aquliy adalah hukum yang diambil dari Al Qur’an dan Hadits yang bisa diketahui proses perumusannya dengan adanya Illat yang mendasari. Kalau hukum itu masih berpijak pada dalil Qiyas, maka setelah Illatnya ditemukan dan masih bisa dikontekstualisasikan dengan kasus yang ada sekarang kita langsung bisa merumuskan hukum itu. Dan tentunya kita harus berani melakukan Ijtihad dalam rangka memutuskan hukum ketika Illatnya dianggap sudah tidak lagi relevan. Artinya langsung merujuk pada Ushul Fiqh dan Qoidah Fiqhnya. Secara garis besar pintu Ijtihad akan selalu terbuka dalam permasalahan hukum yang bersufat Ta’aquliy. Pertanyaannya sudah beranikah kita ber-Ijtihad sendiri?


الَمُحافظةُ على قديمِ الصَّالحِ والأخذُ بجديدِ الأصْلَحِ
Artinya : “Menjaga pada suatu hal yang lama (kuno) yang baik, dan mengambil pada hal-hal baru yang lebih baik”

Sebagai pondasi pokok untuk relevansi hukum-hukum Fiqh yang ada, perlu diperhatikan masalah-masalah yang muncul. Karena dalam merumuskan hukum tidak pernah terlepas dari lima unsur dasar yaitu, Hifdzu Ad Din, Hifdzu Al Mal, Hifdzu An Nasli, Hifdzu An Nafsi, Hifdzu Al Aqly.

a. Hifdzu Ad Din
Adalah sebuah ketetapan yang diperuntukkan untuk menjaga agama Islam agar tetap survive ditengah gerak kehidupan yang begitu dinamis. Dengan adanya konsep Hifdzu Ad Din diharapkan tidak adanya pelanggaran yang akan muncul dalam uapaya mengaplikasikan ajaran Islam. Sehingga ketika ada seseorang yang tidak mengindahkan peraturan hifdzu Ad Din, maka ia berhak mendapat hukuman dari Islam atas perbuatannya. Semisal orang murtad, ketika ia diperintahkan untuk bertaubat menolak maka darahnya halal untuk ditumpahkan.

Hal ini sesuai dengan Hadits Nabi Saw. Yang diriwayatkan oleh Bukhori dari Abbas yang berbunyai:


مَنْ بَدَّلَ دِيْنَهُ فَاقْتُلُوْهُ
Artinya : “Barang siapa mengganti agamanya (murtad) maka bunuhlah”

b. Hifdzu Al Mal
Hifdzul al Mal merupakan sebuah ketetapan yang berfungsi untuk memberikan perlindungan terhadap harta benda. Dan rumusan ini menelurkan banyak sekali permasalahan, termasuk diantaranya adalah orang yang mencuri akan mendapatkan hukuman had (potong tangan) dikarenakan telah melanggar satu undang-undang yang berupa Hifdzu Al Mal, sebagaimana termaktub dalam Al Qur’anul Karim:

بِمَا كَسَبَا نَكَالا مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ
Artinya : “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.
(Q.S Al Maidah : 38)


c. Hifdzu An Nafsi
Merupakan sebuah runusan yang bertujuan untuk menjaga keselamatan diri insane atau anggota tubuhnya. Sehingga dengan adanya Hifdzu An Nafsi ini, banyaknya kasus pembunuhan, pertikaian dan lain sebagainya dapat ditekan serendah mungkin frekuensinya. Masalah yang timbul dari rumusan ini banyak sekali seperti orang yang membunuh maka wajib dibunuh (hukum Qishos). Dalam Al Qur’an telah diterangkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى الْحُرُّ بِالْحُرِّ وَالْعَبْدُ بِالْعَبْدِ وَالأنْثَى بِالأنْثَى
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba dan wanita dengan wanita”.
(Q.S Al Baqoroh : 178)
Hukuman ini merupakan bentuk realisasi dari konsep Hifdzu An Nafsi.

d. Hifdzu An Nasli
Adalah konsep yang bertujuan untuk menjaga pada kelestarian keturunan anak Adam. Seandainya Hifdzu An Nasli ini tidak ditetapkan, niscaya anak-anak yang dilahirkan dimuka bumi ini semua akan terlantar karena tidak adanya perhatian dari kedua orang tua. Contoh orang yang melanggar tatanan Hifdzu An Nasli adalah orang yang berzina maka baginya wajib untuk di had atas perbuatannya sesuai dengan Firman Alloh :

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ وَلا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ
Artinya : “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman”. (An Nur : 2)

e. Hifdzu Al Aqli
Akal adalah sebuah anggota tubuh yang sangat vital,sehingga menjaga kesehatan akal sangatlah penting, karena dengan akallah manusia bias lebih mulia dibanding mahluk-mahluk Alloh yang lain. Dalam rumusan ini tercakup bebagai permasalahan, diantaranya tentang wajibnya had ( hukuman cambuk sebanyak 40 kali) bagi seorang yang minum arak, dikarenakan membawa dampak negative terhadap fungsi kerja akal (otak). Seperti dalam hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Annas disebutkan :

أنَّ النِبيَّ صل الله عليه وسلم : كان يَضْرِبُ في الخَمْرِ بِالِّنعالِ والجريدِ اَرْبَعِيْنَ
Artinya : “Sesungguhnya Nabi Saw itu memukul pada orang yang minum arak dengan sandal dan pelepah kurma sebanyak 40 kali”



Di rangkum dari buku “Masih Relevankah Fiqih

Posted By Kang Santri9:00:00 PM

Keresahan Kami Yang Selalu Ingkar PadaMu

Filled under:

Wahai Allah...

Engkau telah menciptakan ruh, jasad dan sebongkah hati pada diri kami.  Jutaan kenikmatan telah engkau anugerahkan, kasih sayang-Mu yang melimpah, Rahmat-Mu serta Anugerah-Mu yang indah, bila di banding dengan nuqthoh kecil keingkaran, kami pantas Engkau hinakan dihadapan seluruh mahluk-Mu yang ada didaratan, di lautan, dilangit bahkan penghuni neraka sekalipun.



Wahai Allah...

Kebodohan kami dalam mengenal-Mu, dalam mensyukuri nikmat-Mu telah membuat lubang hitam kehinaan didalam catatan amal kami.

Ampuni kami Ya Robb...

Dalam mengisi hari... mengisi setiap desahan nafas, kami sering tertipu dan terbujuk gemerlap duniawi yang padahal kami tahu ketidak kekalan ini.

Berulang kali kami memperbaiki diri untuk bisa lebih takut kepada-Mu, tapi rasa itu hanya sepintas lalu pergi lagi.

Ya Robb...

Jaga pergaulan kami, dekatkan kami pada mahluk-Mu yang bisa sebagai washilah suluk kami. Engkau telah mengatur tiap jengkal langkah kami dengan teramat sempurna. Hanya satu yang paling kami takutkan, yakni mati dalam keadaan su'ul khotimah.

Ya Robb...

Kiranya ampuni ketika kami memohon kepada-Mu belum sesuai dengan tuntunan Rasul-Mu
Karena kami kerap lancang dan tidak sopan dalam do'a yang kami panjatkan.


Posted By Kang Santri8:54:00 PM

Batas Kepasrahan Tertinggi

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - “Sempurnakanlah ikhtiar..” Meski hanya dua patah kata, tapi agak sulit bagi saya /pen.  untuk menerjemahkan kata ini dalam tindak kehidupan nyata. Karena disaat kita menggali makna lebih dalam dari dua kata diatas maka kita akan mendapati banyak sekali pertanyaan, yang mana kita sendiri yang harus menjawabnya.

Sebagai contoh, ada seseorang yang memang sebagian besar waktunya ia ingin dedikasikan untuk membahagiakan keluarganya hingga ia pun berfikir “aku harus kerja keras untuk mendapatkan uang”. Tapi sayang meski ia sudah mati-matian sampai membanting tulang namun hasilnya belum bisa sepenuhnya mencukupi kebutuhan rumah tangganya.

Dari contoh diatas, ada satu pertanyaan yang timbul “apakah ikhtiarnya sudah maksimal?”, (umpama kita menjawab sudah, akan muncul pertanyaan baru lagi) “bukankah ia bisa mendapatkan uang yang lebih andai saja keterampilan kerja yang lainnya ia gunakan juga..” (jadi apakah seseorang tadi sudah benar-benar menyempurnakan ikhtiarnya?)  dan masih banyak lagi pertanyaan yang mana penulis sendiri belum bisa menterjemahkan kedalam bahasa tulisan.

“Karena untuk bisa mencapai pada batas kepasrahan yang menjadi syarat utamanya adalah ketika sudah sempurnanya sebuah ikhtiar.”

Imam Ahmad pernah ditanyakan mengenai seorang yang kerjaannya hanya duduk di rumah atau di masjid.
Pria itu mengatakan, “Aku tidak mengerjakan apa-apa sehingga rezekiku datang kepadaku.”
Lalu Imam Ahmad mengatakan, “Orang ini tidak tahu ilmu (bodoh). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Allah menjadikan rezekiku di bawah bayangan tombakku.

Juga hadits Rosululloh s.a.w:

يَقُولُ سَمِعَ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ إِنَّهُ سَمِعَ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ

عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ

الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

Dari Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Seandainya kalian betul-betul bertawakal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rezeki sebagaimana burung mendapatkan rezeki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.”

(HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Al Hakim. Dikatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shohihah no. 310)

Sedang sisi lain dari makna kepasrahan menurut Imam Ahmad bin Hambal, bahwa pasrah/tawakal itu merupakan aktivias hati, artinya tawakal itu merupakan perbuatan yang dilakukan oleh hati, bukan sesuatu yang diucapkan oleh lisan, bukan pula sesuatu yang dilakukan oleh anggota tubuh. Dan pasrah/tawakal juga bukan merupakan sebuah keilmuan dan pengetahuan.

Dari Abul Abbas Abdulloh bin Abbas rodhiallohu ‘anhuma beliau berkata:

Suatu hari aku berada di belakang Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam Lalu beliau bersabda,

“Nak, aku akan ajarkan kepadamu beberapa patah kata: Jagalah Alloh, Niscaya Dia akan senantiasa menjagamu. Bila engkau meminta sesuatu, mintalah kepada Alloh, dan bila engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Alloh. Ketahuilah, jika semua umat manusia bersatu padu untuk memberikan suatu kebaikan kepadamu, niscaya mereka tidak dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah ditulis oleh Alloh bagimu, dan jika semua umat manusia bersatu padu untuk mencelakakanmu, niscaya mereka tidak dapat mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah ditulis oleh Alloh bagimu. Pena telah diangkat dan catatan-catatan telah mengering.” (HR Tirmidzi Dia berkata , “Hadits ini hasan shohih”)

Inilah batas akhir dari ikhtiar manusia, artinya dari batas menyempurnakan ikhtiar hingga sampai menuju pada batas kepasrahan tertinggi.




Posted By Kang Santri3:43:00 PM

Kenapa Seorang Pria Memilihmu?

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Tulisan ini terinspirasi melihat setatus FB yang sering lewat diberanda, terutama status dari akhwat yang dengan sabar menunggu siapa kelak yang bakal menjadi seorang ayah dari anak-anaknya ataupun seorang suami yang akan menjadi imamnya nanti.

Hingga sebagian besar mengatakan "merindukan lelaki yang bisa menerimaku apa adanya" dan tentunya ini menyakup  banyak hal, terutama salah satu kekurangannya dalam hal-hal tertentu.

Entah itu secara fisik yang kurang menarik, minder karena ketika mengharapkan seorang lelaki yang alim tentang agama sementara dia tidak begitu faham dengan agama dan lain sebagainya.


Saudariku, usah kau risau... Jika dirimu merindukan seorang pria yang baik inilah salah satu kriterianya;

[Ketika dirimu resah dan minder dengan keadaanmu sekarang, 
pastikan untuk memiliki senjata ini.]

"Seorang pria yang baik (dan sudah siap menikah) selalu merindukan wanita yang memiliki kelembutan akhlak, baik itu santun dari perilakunya juga tutur sapanya, karena seorang pria tidak akan membiarkan anak-anaknya nanti didik oleh wanita yang tidak memiliki akhlak seperti itu"


"Tidak usah khawatir, pemuda yang shalih yang sudah faham akan makna sebuah pernikahan. Ia tidak mengutamakan kepandaianmu tentang urusan agama, karena ia lebih memilih seorang wanita yang bisa dan bersedia ia tuntun untuk mempelajari ilmu agama. Karena baginya mendidik istri adalah sebuah ibadah yang amat berharga nilainya disisi Tuhannya. (baca: Menjadikanmu Wanita Paling Bahagia)

Andai seorang pemuda dihadapkan pada suatu pilihan, antara wanita pandai agama tapi kurang bisa mengamalkan ilmu dalam keta'annya pada suami dengan wanita yang pas-pasan ilmu agamanya tapi dia penurut dan bersedia untuk dituntun. Saya yakin pemuda shalih tadi akan memilih kriteria wanita yang kedua"


"Jangan resah, kalau dirimu memang betul-betul menginginkan seorang pria yang baik ia tidak akan menilaimu dari sisi itu"


"Tenagkan hatimu jangan risau, seorang pria baik yang kau harapkan, ia tidak akan memandangmu dari segi itu.

Karena baginya kemewahan dunia hanyalah fatamorgana yang tidak kekal, ia akan datang menjemputmu dan menikahimu dengan suatu harapan besar bahwa semoga buah dari pernikahan dan kesabarannya menjalani kesusahan hidup karena himpitan ekonomi berumah tangga denganmu akan Allah ganti dengan kenikmatan surganya nanti.

Saudariku, buang kegelisahan juga keresahanmu dengan segala kekuranganmu. Dan pastikan selalu pelihara muru'ahmu sebagai seorang muslimah karena itulah satu-satunya kemuliaan terbesarmu hidup didunia, hingga para malaikatpun tidak pernah berhenti mendoakan seorang muslimah yang memiliki kemuliaan ahlakul karimah.

Posted By Kang Santri11:12:00 AM

Thursday, February 9, 2012

Menangkal Santet 'Ala Fisika

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Santet, teluh, sihir atau apapun namanya adalah energi negatif yang mampu merusak kehidupan seseorang, berupa terkena penyakit, kehancuran rumah tangga hingga sampai kematian.

Berbagai penyelidikan pun telah banyak dilakukan ilmuwan terhadap fenomena santet dan sejenisnya. Tentu metode penelitian para ilmuwan agak berbeda dengan agamawan.

Jika para agamawan memakai rujukan dalil-dalil kitab suci (ayat kitabiyah), maka para ilmuwan menggunakan ayat kauniyah (alam semesta) untuk menyelidiki santet ini.

Penyelidikan yang menggunakan ayat kauniyah tentunya harus memiliki metode yang sifatnya ilmiah, mulai dari mencari kasus-kasus santet, tipe-tipe santet, gejala, akibat dan sebagainya.

Lalu kemudian dilakukan berbagai eksperimen untuk penyembuhannya. Salah satu kesimpulan / pendapat yang mengemuka adalah santet itu sebenarnya adalah energi. Kenapa dalam kasus santet bisa masuk paku, kalajengking, penggorengan, dan lainnya, bisa dijelaskan melalui proses materialisasi energi.

Nah, santet dan mahluk halus itu ternyata energi yang bermuatan (-). Bumipun ternyata memiliki muatan (-). Dalam hukum C Coulomb dikatakan bahwa muatan yang senama akan saling tolak menolak dan muatan yang tidak senama justru akan tarik menarik. Rumusnya :

F = K * ((Q1*Q2)/R^2)
F = gaya tarik menarik
K = Konstanta
Q1, Q2 = muatan
R = jarak

Nah karena demit alias mahluk halus dan bumi itu sama-sama bermuatan (-) makanya para demit itu tidaklah menyentuh bumi.

Orang tua jaman dulu juga sering mengingatkan jika bicara dengan orang yang tidak dikenal pada malam hari maka lihatlah apakah kakinya menapak ke bumi atau tidak. Jika tidak, maka ia berarti golongan mahluk halus.

Begitu juga dengan santet yang ternyata bermuatan (-), maka secara fisika bisa ditanggulangi atau ditangkal dengan hukum C Coulomb ini.

Disini kita tidak membahas metode melawan santet dengan zikir karena sudah banyak dibahas tapi kita akan mencoba menawarkan alternatif lainnya yang bisa bersifat "stand alone" (untuk non muslim) maupun digabungkan dengan zikir (untuk muslim).

Beberapa Metodenya :

1. Tidurlah di lantai yang langsung menyentuh bumi















Boleh gunakan alas tidur asal tidak lebih dari 15 Cm. Dengan tidur di lantai maka santet kesulitan masuk karena terhalang muatan (-) dari bumi.

2. Membuat alat elektronik yang mampu memancarkan gelombang bermuatan (-)














Makhluk halus, jin, santet, dll akan menjauh jika terkena getaran alat ini. Tapi kelemahan alat ini tidak mampu mendeteksi mahluk baik dan jahat.

Jadi, alat ini akan "menghajar" mahluk apa saja. Jika ada jin baik dan jin jahat maka keduanya akan "diusir" juga.

3. Menanam pohon atau tanaman yang memiliki muatan (-)



















Bagi yang peka spiritual, aura tanaman ini adalah terasa "dingin". Pohon yang memiliki muatan (-) diantaranya : dadap, pacar air, kelor, bambu kuning dll.

Tanaman sejenis ini paling tidak disukai mahluk halus. Biasanya tanaman bermuatan (-) ini tidaklah mencengkram terlalu kuat di tanah (bumi) dibandingkan dengan tanaman bermuatan (+)

Lain halnya dengan pohon yang memiliki muatan (+) seperti pohon asem, beringin, belimbing, kemuning, alas randu, dll maka phohon sejenis ini tentu akan menarik mahluk halus dan seringkali dijadikan tempat tinggal.

Hal ini dikarenakan ada gaya tarik menarik antara pohon (+) dan mahluk halus (-) sesuai hukum C Coulomb.

Terlepas dari berhasil atau tidaknya cara-cara di atas, semuanya pasti akan kembali bergantung pada Kekuasaan Tuhan Sang Pencipta.

Cara yang paling ampuh untuk menangkal segala hal buruk yang ada di sekeliling kita adalah tetap berserah dan mendekatkan diri kepada-Nya sembari mengharapkan perlindungan-Nya.

[Sumber: ApakabarDunia]

Posted By Kang Santri7:54:00 PM

Kata Mutiara Cinta Ala Santri

Filled under:


"Asmara adalah api Allah yang menyala, dimana datang dan perginya adalah dihati"

"Tanda-tanda cinta itu tidaklah samar pada seseorang, seperti halnya pembawa 

minyak kasturi wangian bunga semerbak tak dapat dirahasiakan"

"Sesungguhnya hati itu bila telah hilang cintanya maka bagaikan kaca 

yang pecah tak dapat di tambal lagi"

"Biarlah ku berbicara padanya dengan secarik kertas dan tarian penaku ini, 

barangkali ia mahu menerima cintaku dengan tanpa penyesalan"

"Tiada jalan bagiku padanya selain menyebutnya dengan hati 

yang dapat mengobarkan api cinta dan rindu didadaku"

"Sungguh kok andaikan engkau minta saksi akan cintaku padamu 

maka basahnya pipiku dengan air mata lebih tepat sebagai saksi"

"Kalau engkau aku ibaratkan dengan bulan purnama yang terbit, 

berarti aku mengurangi hakmu sebab engkau lebih elok dan lebih indah"

"Bukan maksud hatiku berpisah denganmu, 

akan tetapi kehendak Allah diatas semua maksudku"

"Tak ada tabir penghalang yang dapat menjauhkan harapanku terhadap dirimu. 

Langit saja masih dapat diharap cerah ketika tertutup awan"

"Bila aku berbaring seorang diri dikamarku maka seketika itu terlintas bayangmu dalam hatiku"

"Hatipun kini terbakar, airmata berderai sudah, kesusahan makin menumpuk dada dan kesabaran sudah hilang bagaimana bisa ada ketenangan? 

pada orang yang tak bisa tenang karena terluka oleh amukan cinta, rindu dan gelisah"

 "Asmara seseorang itu dapat menyebabkan dia hina
dan mendamparkannya kesebuah bencana yang panjang"

"PIndahkanlah hatimu kemanapun yang engkau sukai dari cintamu (cinta kepada Allah).
Namun ketahuilah, tak ada cinta selain cinta pertama (cinta kepada Allah).
Banyak sekali tempat dibumi ini yang disukai oleh pemuda (hamba)
Sedangkan kerinduannya selamanya pada tempat tinggal yang
pertama (kembali kepada Allah)"


"Wahai jiwaku, sabarlah jangan bergejolak. Sebab apa yang
di tentukan Allah pasti akan terjadi"


"Bacalah suratku seolah-olah engkau melihatku, dan jika
engkau tidak merasa melihatku maka rasakanlah
aku yang melihatmu"





 

Posted By Kang Santri4:08:00 PM

Cerpen (Biarlah Waktu Yang Menuntunku)

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Tampak dari kejauhan bersama kehangatan surya pagi, seorang anak kecil berlari dengan kedua kaki mungilnya yang dihiasi lumpur becek, senyum mungil nan lucu kian terukir indah tergambar diraut wajahnya. Dengan tetesan keringat yang mengguyur tubuh layaknya lelaki dewasa sambil mengayunkan sebilah sabit kecil.

"rumput-rumput ini harus aku potong", bisiknya lirih sembari mengusap keringat.

Setengah jam kemudian,

"istirahatlah dulu Jaka" terlihat seorang kakek memanggil Jaka kecil dari kejauhan yang tengah sibuk dengan pekerjaannya.

Keduanya mencari tempat berteduh dari panasnya terik matahari, sambil meneguk air putih yang memang sudah dipersiapkan dari rumah.

"cucuku inilah kehidupan, sekeras apapun usaha dari manusia takkan pernah bisa mencapai titik kesempurnaan, seperti rumput yang kamu potong barusan, karena suatu saat ia akan tumbuh lebat lagi"

"maksud kakek?" Jaka hanya menatap bengong pada kakeknya yang sudah sembilan tahun mengasuhnya, semenjak Jaka harus kehilangan kedua orang tuanya dalam musibah longsor didesanya beberapa tahun yang lalu.

Sang kakek hanya tersenyum karena dia yakin suatu hari nanti Jaka pasti akan mengetahuinya sendiri.
Waktu terus berlalu, bertambah dua belas tahun sudah Jaka diberi kesempatan oleh Tuhan merasakan nikmatnya masih bisa menghirup udara segar.

Dibawah rimbun wangian kamboja, Jaka mendekati gundukan pusara dengan dua batu nisan berwarna hijau yang bediri tegak diatasnya.

"maafkan Jaka kek" butiran air bening menyapa wajahnya.

"Jaka tidak ada disamping kakek ketika izro'il menjemput kakek menghadap-Nya" Jaka masih larut dalam keheningan, karena memang pada waktu itu Jaka masih berada disalah satu pondok pesantren yang ada di Jawa Tengah.

Setelah melantunan bait do'a, Jaka teringat masa kecilnya bersama sang kakek.

"kek, nasihat-nasihat yang dulu pernah kakek sampaikan akan selalu Jaka pegang hingga Jaka menyusul kakek nanti.."


Pengalaman hidup telah memberi warna di setiap jengkal langkahnya menyusuri garis hidup, hidup sebatang kara tak membuatnya menafikan keadilan Tuhan. Karena ia bisa mensyukuri nikmat Tuhan yang ia terima.

Malam itu Jaka terlihat menitikan air mata dalam munajat, sesekali ia teringat nasihat mendiang sang kakek, usaha manusia takkan bisa mencapai hasil yang sempurna.

"kek, sekarang Jaka baru mengerti, maksud dari nasihat kakek dulu, kerena kesempurnaan hanyalah ada pada-Nya."


Seiring kehidupan yang berjalan sesuai qodrat yang telah ditetapkan, ukiran kesederhanaan terpatri kuat dalam kepribadiannya, langkah kaki yang dihiasi pelangi budi serta ramah tutur sapanya yang seakan mampu menjinakkan aungan ganas serigala. Tak heran bila orang-orang sekitar banyak yang menyukainya.

Jiwa muda yang mengalir dalam darahnya dibuntal dengan balutan kulit putih bersih dan memiliki aura wajah rupawan, sepertinya menjadi satu cobaan tersendiri yang harus ia hadapi ketika ada seorang gadis selalu memperhatikan dan sepertinya menaruh harapan akan cintanya.

"apa yang harus aku lakukan?" desahnya lirih seraya menatap daun kuning yang jatuh ditiup angina sore dipelataran rumahnya.

Setelah menunaikan sholat ashar disurau, tanpa diduga terlihat gadis cantik berkerudung ungu mengetuk pintu.

"Assalamu'alaikum, Jaka membukakan pintu sambil menjawab salam,

"Anisa.. kamu..??" Jaka agak canggung,

"eee..ee maaf ka, boleh aku bicara sebentar..?" Jaka mempersilahkan,
Setelah pertemuannya dengan Anisa, Jaka merasa sepertinya akan ada episode baru dalam kehidupannya yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Hampir dua puluh tiga tahun ia lalui masa sulit tanpa mengeluh tentang keadaan yang menimpa dirinya, sampai indah masa remaja pun seakan tak pernah ia rasakan.

Ibarat menjaga nyala lilin dimalam badai, sesulit itu pula ia berusaha menjaga perasaan Anisa supaya tidak kecewa dan sakit hati. Karena memang pada saat itu Jaka bingung harus menjawab apa.

"Jaka hampir dua tahun lamanya setelah kamu pulang dari pesantren aku memendam perasaan ini, tapi mengapa sedikitpun tak pernah kamu sadari". Jaka terus teringat kata-kata Anisa. Baginya lebih sulit mengeluarkan kata-kata untuk menjawab dibanding ia harus meratakan dan meluluh-lantahkan gundukan bukit.

Demi menjaga perasaan Anisa, Jaka mengambil selembar kertas.

"Iqro' risaalati ka annaki tarooni, fain lam takun tarooni arooki."
(bacalah suratku seakan-akan engkau melihatku, andai engkau tidak melihatmu maka aku yang melihatmu)
Anisa, kegersangan bumi yang dilupakan guyuran hujan adalah satu perumpamaan yang ada padaku saat ini, sampai-sampai aku tidak menyadari tentang perasaanmu terhadapku.

Anisa, Aku hawatir dengan siraman hujan yang engkau tawarkan.

Untuk saat ini biarlah ku isi celah-celah retakan tanah dengan proses keyakinanku untuk bisa mencintaimu, sampai hati ini benar-benar siap menerima siraman hujan yang engkau tawarkan padaku.

Nampak tersirat sedikit raut kekecewaan dari raut muka Anisa, Jaka apa yang terjadi denganmu..?. digenggamnya surat Jaka erat-erat.

Tapi dalam hati "Jaka aku suka caramu menanggapi perasaanku, meski itu tidak sesuai dengan keinginanku"

Anisa pun membalas surat Jaka.

"Jaka, tak ada tabir penghalang yang dapat menjauhkan harapanku terhadap dirimu. Seperti langit yang masih dapat diharap cerah ketika tertutup awan legam.

Sunguh kok andaikan engkau minta saksi akan cintaku padamu, maka basahnya pipiku dengan air mata lebih tepat menjadi saksinya.

Masih dalam suratnya, Anisa menambahkan sebuah syair,

"Hatipun kini terbakar, air mata berderai sudah.
Kesusahan makin menumpuk didadaku.
Bagaimana ada ketenangan?
Pada orang yang tak bisa tenang karena terluka oleh amukan cinta, rindu dan gelisah?.

Jaka tampak terasa tertegun dan tersentak membacanya.

"Anisa, aku yakin Alloh sudah mempunyai rencana yang indah buat kita, entah apapun itu, dan kapan waktunya", bisiknya dalam hati.

Setelah berziarah kemakam kedua orang tua dan kakeknya, tanpa sepengetahuan Jaka lelaki separuh baya dengan janggut agak lebat yang menempel rapi didagu datang menghampiri.

"Assalamu'alaikum nak Jaka"

Setelah menjawab salam, Jaka mencoba mengenali lelaki yang menyapanya,

"masih ingat dengan paman..?"
"paman Awab?" Jaka nampak girang.

Setelah beramah-tamah menuju jalan pulang, keduanya kini duduk dibawah rimbun pohon beringin depan rumah tua yang tidak lain adalah rumah yang dulu banyak memberi pelajaran hidup bersama kakeknya.

"Nak Jaka...ada yang ingin paman sampaikan dari mendiang Mbah Zainal",

"maksud paman..?" sambil keduanya masuk kedalam rumah.


Malam itu rintik gerimis menambah kehangatan bagi manusia yang sudah lelap dalam tidur. Lukisan mendung perlahan menutup rembulan yang mulai malas menampakkan cahaya, dengan iringan kilat serta suara gaduh halilintar.

Sehabis qiyamullail, pandangan Jaka tertuju pada kotak segi empat yang terbungkus kain putih lusuh tergeletak rapi di laci.

Dengan perlahan Jaka membukanya, ia mendapati sebuah kitab dengan sampul warna hitam yang tidak lain adalah kitab Syarihul Iman karangan Syaikh Ahmad Rifa'i, juga kumpulan kertas yang berisikan nasihat.

Tanpa sengaja Jaka mendapati selembar kertas yang terselip didalam kitab dengan gaya tulisan jawa pegon, Jaka pun membaca sambil menterjemahkan kedalam bahasa Indonesia.

"Cinta merupakan salah satu rahasia kebesaran Tuhan, dimana datang dan perginya hanyalah hati yang mengerti",

"Isyqul insani tuuritsuhudzdzulla watulqiihi filbalaa'i ththowwil" (Asmara seseorang itu dapat menyebabkan ia hina dan mendamparkannya kesebuah bencana yang panjang)

Sambil tersenyum simpul "mungkin ini tulisan kakek waktu masih seusia denganku dulu".

Tanpa ia sadari bayangan wajah Anisa penyapa ingatan.
"Anisa.. Insya Alloh..?" desahnya lirih.


Posted By Kang Santri4:00:00 PM

Kisah Haru Dari Seorang Puteri Kecil (Silahkan Menitikan Air Mata)

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Sepasang suami isteri, seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur. Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.

Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan , tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya... karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.

Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.

Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, "Kerjaan siapa ini !!!" .... Pembantu rumah yang tersentak engan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah adam ketakutan lebih-lebih melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ' Saya tidak tahu..tuan." "Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?" hardik si isteri lagi.

Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata "Dita yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik ...kan!" katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa.. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali-kali ke telapak tangan anaknya . Si anak yang tak mengerti apa apa menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya.

Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tidak tahu harus berbuat apa... Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.

Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka-luka dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka-lukanya itu terkena air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. "Oleskan obat saja!" jawab bapak si anak.

Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. "Dita demam, Bu"...jawab pembantunya ringkas. "Kasih minum panadol aja ," jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya.

Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas. "Sore nanti kita bawa ke klinik.. Pukul 5.00 sudah siap" kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya susah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. "Tidak ada pilihan.." kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut..."Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah" kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi.

Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. "Ayah.. ibu... Dita tidak akan melakukannya lagi.... Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi... Dita sayang ayah..sayang ibu.", katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. "Dita juga sayang Mbok Narti.." katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.

"Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti ?... Bagaimana Dita mau bermain nanti ?... Dita janji tidak akan mencoret-coret mobil lagi, " katanya berulang-ulang. Serasa hancur hati si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung-raung dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf...Tahun demi tahun kedua orang tua tersebut menahan kepedihan dan kehancuran bathin sampai suatu saat Sang Ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan wafat diiringi tangis penyesalannya yg tak bertepi..., Namun...., si Anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tersebut tetap hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya.

Subhanalloh......


Posted By Kang Santri3:17:00 PM

Sang Juara (Semoga Aku Tidak Menangis Saat Kalah)

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Suatu ketika, ada seorang anak yang sedang mengikuti sebuah lomba balap mobil mainan. Suasana sungguh meriah siang itu, sebab ini adalah babak final. Hanya tersisa empat orang sekarang dan mereka memamerkan setiap mobil mainan yang dimiliki. Semuanya buatan sendiri, sebab memang itulah peraturannya.

Ada seorang anak bernama Mark. Mobilnya tak istimewa, namun ia termasuk dalam empat anak yang masuk
final. Dibanding semua lawannya, mobil Mark lah yang paling tak sempurna. Beberapa anak menyangsikan kekuatan mobil itu untuk berpacu melawan mobil lainnya.

Yah, memang mobil itu tak begitu menarik. Dengan kayu yang sederhana dan sedikit lampu kedip diatasnya, tentu tak sebanding dengan hiasan mewah yang dimiliki mobil mainan lainnya. Namun, Mark bangga dengan semua itu, sebab mobil itu buatan tangannya sendiri.

Tibalah saat yang dinantikan. Final kejuaraan mobil balap mainan. setiap anak mulai bersiap digaris start, untuk mendorong mobil mereka kencang-kencang. Disetiap jalur lintasan, telah siap empat mobil, dengan empat pembalap kecilnya. Lintasan itu berbentuk lingkaran dengan empat jalur terpisah.

Namun, sesaat kemudian Mark meminta waktu sebentar sebelum lomba dimulai. Ia tampak berkomat-kamit seperti sedang berdo'a. Matanya terpejam, dengan tangan yang bertangkup memanjatkan do'a. Lalu, semenit
kemudian, ia berkata "ya, aku siap.."

Doorr... Tanda telah dimulai. Dengan satu hentakan kuat, mereka mulai mendorong mobilnya kuat-kuat. Semua mobilpun meluncur dengan cepat. Setiap orang bersorak-sorai, bersemangat, menjagokan mobilnya
masing-masing.

"Ayoo.. ayo.. cepat..cepat.. maju..maju" begitu teriak mereka. Ahha, sang pemenag harus ditentukan, tali lintasan finis pun telah terlambai. Dan Mark lah pemenangnya. Ya, semuanya senang, begitu juga Mark, ia berucap, dan berkomat-kamit dalam hati  "Terima kasih..."

Saat pembagian piala tiba. Mark maju kedepan dengan bangg. Sebelum piala itu diserahkan, ketua panitia bertanya.

"Hai jagoan, kamu tadi pasti berdo'a kepada Tuhan agar kamu menag bukan?" Mark terdiam.

"Bukan pak, bukan itu yang aku panjatkan.." kata Mark.

Ia lalu melanjutkan,

"Sepertinya tak adil untuk meminta pada Tuhan untuk menolongmu mengalahkan orang lain. "Aku hanya bermohon pada Tuhan, supaya aku tak menangis, jika aku kalah.." Semua hadirin terdiam mendengar itu. Setelah beberapa saat, terdengarlah gemuruh tepuk tangan yang memenuhi ruangan.


"Mari renungi, perkataan bijak dari seorang anak kecil ini..."

Posted By Kang Santri3:12:00 PM

(Ya Rasul) Aku Ingin Anak Lekakiku Menirumu

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Ketika lahir, anak lelakiku gelap benar kulitnya, Lalu kubilang pada ayahnya:  “Subhanallah, dia benar-benar mirip denganmu ya!”

Suamiku menjawab: “Bukankah sesuai keinginanmu? Kau yang bilang kalau anak lelaki ingin seperti aku.” 

Aku mengangguk. Suamiku kembali bekerja seperti biasa. Ketika bayi kecilku berulang tahun pertama, aku mengusulkan perayaannya dengan mengkhatamkan Al Quran di rumah Lalu kubilang pada suamiku: 

“Supaya ia menjadi penghafal Kitabullah ya,Yah.”

Suamiku menatap padaku seraya pelan berkata:
“Oh ya. Ide bagus itu.”

Bayi kami  itu, kami beri nama Ahmad, mengikuti panggilan Rasulnya. Tidak berapa lama, ia sudah pandai memanggil-manggil kami berdua: Ammaa. Apppaa. Lalu ia menunjuk pada  dirinya  seraya  berkata: Ammat! Maksudnya  ia Ahmad. Kami  berdua  sangat  bahagia dengan kehadirannya.

Ahmad  tumbuh  jadi  anak  cerdas,  persis  seperti  papanya.  Pelajaran  matematika sederhana sangat mudah dikuasainya. Ah, papanya memang jago matematika. Ia kebanggaan keluarganya. Sekarang pun sedang S3 di bidang Matematika.

Ketika Ahmad ulang tahun kelima, kami mengundang keluarga. Berdandan rapi kami semua. Tibalah saat Ahmad menjadi bosan dan agak mengesalkan. Tiba-tiba ia minta naik ke punggung  papanya.  Entah  apa  yang  menyebabkan  papanya  begitu  berang,  mungkin menganggap  Ahmad  sudah  sekolah,  sudah  terlalu  besar  untuk  main  kuda-kudaan,  atau lantaran banyak tamu dan ia kelelahan. Badan Ahmad terhempas ditolak papanya, wajahnya merah, tangisnya pecah, Muhammad terluka hatinya di hari ulang tahunnya kelima.
Sejak hari itu, Ahamad jadi pendiam. Murung ke sekolah, menyendiri di rumah. Ia tak lagi  suka  bertanya,  dan  ia menjadi  amat mudah marah. Aku  coba mendekati  suamiku,  dan menyampaikan  alasanku.  Ia  sedang  menyelesaikan  papernya  dan  tak  mau  diganggu  oleh urusan seremeh itu, katanya.

Tahun demi tahun berlalu. Tak terasa Ahmad telah selesai S1. Pemuda gagah, pandai dan pendiam telah membawakan aku seorang mantu dan seorang cucu. Ketika lahir, cucuku itu, istrinya berseru sambil tertawa-tawa lucu:

“Subhanallah! Kulitnya gelap, Mas, persis seperti kulitmu!”
Ahmad menoleh dengan kaku, tampak ia tersinggung dan merasa malu.

“Salahmu. Kamu yang ingin sendiri, kan. Kalau lelaki ingin seperti aku!”
Di  tanganku,  terajut  ruang  dan waktu.  Terasa  ada  yang  pedih  di  hatiku. Ada  yang mencemaskan aku.

Cucuku pulang ke rumah, bulan berlalu. Kami, nenek dan kakeknya, datang bertamu. Ahmad kecil sedang digendong ayahnya. Menangis  ia. Tiba-tiba Ahmad anakku menyergah sambil berteriak menghentak,

“Ah, gimana sih, kok nggak dikasih pampers anak ini!” Dengan kasar disorongkannya bayi mungil itu. 

Suamiku membaca korannya, tak tergerak oleh suasana. Ahmad, papa bayi ini, segera membersihkan  dirinya  di  kamar mandi.  Aku,  wanita  tua,  ruang  dan  waktu  kurajut  dalam pedih duka seorang  istri dan seorang  ibu. Aku  tak sanggup  lagi menahan gelora di dada  ini.

Pecahlah  tangisku  serasa  sudah  berabad  aku  menyimpannya.  Aku  rebut  koran  di  tangan suamiku dan kukatakan padanya: 

“Dulu kau hempaskan Ahmad di lantai itu! Ulang tahun ke lima, kau ingat? Kau tolak ia merangkak  di  punggungmu!  Dan  ketika  aku minta  kau  perbaiki,  kau  bilang  kau  sibuk sekali.  Kau  dengar?  Kau  dengar  anakmu  tadi?  Dia  tidak  suka  dipipisi.  Dia  asing  dengan anaknya sendiri!”

Allahumma  Shali  ala Muhammad.  Allahumma  Shalli  alaihi  wassalaam.  Aku  ingin anakku menirumu, wahai Nabi. Engkau  membopong  cucu-cucumu  di  punggungmu,  engkau  bermain  berkejaran dengan mereka  Engkau  bahkan menengok  seorang  anak  yang  burung  peliharaannya mati.

Dan engkau pula yang berkata ketika seorang ibu merenggut bayinya dari gendonganmu,  “Bekas najis  ini bisa kuseka,  tetapi apakah kau bisa menggantikan  saraf halus  yang putus di kepalanya?”

Aku memandang suamiku yang terpaku. Aku memandang anakku yang tegak diam bagai karang tajam. Kupandangi keduanya, berlinangan air mata. Aku tak boleh berputus asa dari Rahmat-Mu, ya Allah, bukankah begitu? Lalu kuambil tangan suamiku, meski kaku, kubimbing ia mendekat kepada Ahmad. Kubawa tangannya menyisir kepala anaknya, yang berpuluh tahun tak merasakan sentuhan tangan
seorang ayah yang didamba.

Dada Ahmad berguncang menerima belaian. Kukatakan di hadapan mereka berdua, “Lakukanlah  ini,  permintaan  seorang  yang  akan  dijemput  ajal  yang  tak  mampu mewariskan apa-apa: kecuali Cinta.

Lakukanlah, demi setiap anak lelaki yang akan lahir dan menurunkan keturunan demi keturunan. Lakukanlah, untuk sebuah perubahan besar di rumah tangga kita! Juga di permukaan dunia. Tak  akan pernah  ada perdamaian  selama  anak  laki-laki  tak diajarkan  rasa kasih dan sayang,  ucapan  kemesraan,  sentuhan  dan  belaian,  bukan  hanya  pelajaran  untuk  menjadi jantan seperti yang kalian pahami. Kegagahan tanpa perasaan.

Dua laki-laki dewasa mengambang air di mata mereka. Dua laki-laki dewasa dan seorang wanita tua terpaku di tempatnya. Memang tak mudah untuk berubah. Tapi harus dimulai. Aku serahkan bayi Ahmad ke pelukan suamiku. Aku bilang:

“Tak ada kata terlambat untuk mulai, Sayang.”
Dua  laki-laki  dewasa  itu  kini  belajar  kembali. Menggendong  bersama,  bergantian menggantikan  popoknya,  pura-pura  merancang  hari  depan  si  bayi  sambil  tertawa-tawa berdua,  membuka  kisah-kisah  lama  mereka  yang  penuh  kabut  rahasia,  dan  menemukan betapa  sesungguhnya  di  antara  keduanya  Allah menitipkan  perasaan  saling membutuhkan yang  tak  pernah  terungkapkan  dengan  kata,  atau  sentuhan.  Kini  tawa  mereka  memenuhi rongga dadaku yang sesak oleh bahagia, syukur pada-Mu , Ya Allah! Engkaulah penolong satu-satunya ketika semua jalan tampak buntu.

Engkaulah cahaya di ujung keputusasaanku. Tiga laki-laki dalam hidupku aku titipkan mereka di tangan-Mu.
Kelak, jika aku boleh bertemu dengannya, Nabiku, aku ingin sekali berkata:

Ya, Nabi. aku telah mencoba sepenuh daya tenaga untuk mengajak mereka semua menirumu! Amin, Alhamdulillah. 

SEBARKAN ke teman anda jika menurut anda catatan ini bermanfaat

Author : PercikanIman.org
Shared By Kisah Penuh Hikmah 


Posted By Kang Santri2:56:00 PM

Wednesday, February 8, 2012

Selamat Jalan Saudaraku (Kisah Nyata)

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Tiga tahun belakangan ini, aku sering teringat kisah masa kecilku dulu.  “siapa yang buat kamu nangis sampai kayak gini dik..?” itulah sepenggal kalimah kakak yang terus kuingat sampai sekarang.

Juga tentang adikku satu-satunya, kami sering berantem hanya karena hal sepele, meski demikian aku tidak terima saat melihat ia dinakalin teman sepermainannya ahhh… namanya juga masih anak-anak.

Hingga kami tumbuh dewasa..

Sore itu, sehabis pulang ngajar dari TKA/TPA ADDIENA tidak seperti biasanya tiba-tiba kakakku mengajak ngobrol didalam kamar “kok, tumben-tumbenan dia ngajak ngobrol” aku agak sedikit heran, dari obrolan itulah aku mendapati keanehan dari kakak ku, karena tanpa alasan yang jelas ia menuduh sahabatku baikku yang bukan-bukan.

Hingga suatu malam, sekitar jam satu ia berteriak amat keras hingga membangunkan seisi rumah yang sedang tidur. Ia meraung keras sambil mengumpat seperti orang yang sedang kesurupan. Hingga keesokan harinya baru aku sadari bahwa kakak ku tercinta ini sudah kehilangan akal sehatnya. Sudah berbagai macam cara jenis pengobatan ia alami, namun belum juga menemukan kesembuhan.

Ya.. Alloh....
Aku masih teringat jelas, suatu malam pas kondisinya bisa diajak komunikasi ia bertanya “din… apakah kakakmu ini bisa sembuh?”, aku tidak tega karena waktu kondisi kakak kambuh, kakak sering nyakitin kalian terutama Ibu..” aku berusaha menahan agar airmata yang makin menggenang dikelopakan ini untuk tidak jatuh, dengan dada yang agak sesak “kak.. semua penyakit itu pasti ada obatnya”. “kamu disini aja ya temenin kakak tidur” sambil menemaninya tidur aku mengambil kitab Durrotun Nasihin dan mambacanya guna menceritakan kisah-kisah hikmah agar kakak ku kuat.

Karena waktu putus asa dia pernah bilang mahu bunuh diri. Hingga keluarga memutuskan untuk membawanya ke pondok khusus yang menangani orang-orang yang mengalami gangguan jiwa tepatnya.

Hampir tiga tahun sudah kakakku sakit. Belum selesai dengan satu cobaan, tiba-tiba kakak ku yang sulung memberi kabar “din.. cepet pulang  fidhun masuk rumah sakit”. Masyaa Alloh… ia divonis mengidap penyakit gagal ginjaal!!! di umurnya yang baru 22 tahun.

Masih aku ingat.. saat ia merintih kesakitan yang teramat sangat, menahan rasa dahaga melebihi dahaganya orang yang berpuasa karena dokter hanya memperbolehkan maksimal satu hari minumnya tidak boleh lebih dari setengah gelas. Masih teringat jelas ketika ia merengek minta minum “kak.. minta satu cendok aja… masak gak boleh” hampir menangis aku melihatnya,  sambil tersenyum aku mengusap dahinya yang keringetan, seraya ku hibur biar sejenak dia lupa akan dahaganya.

Tiga puluh sembilan hari sudah dia dalam kondisi kritis dan tidak berdaya.
“Astaghfirulloh…. Ya Alloh… hamba mohon ampun” keluhnya sambil menangis, “Bu’… tolong sampein kepada semua orang di desa kita, aku minta maaf kalau pernah berbuat salah pada mereka semua,” Ibuku hanya mengangguk menahan tangis, “kak… kak sabih sedang apa ya sekarang… aku nyesel dulu waktu aku sehat gak pernah ngejenguk dia”. Akupun tidak bisa berkata apa-apa.

Tibalah dimalam ke empat puluh ia dirawat di rumah sakit. Sehabis menunaikan sholat maghrib, aku dan kakak sulungku Rey, menemani dipinggir ranjangnya, “Ya Alloh…!!! sakit kaakkk…. sakiiitttt”, sambil terengah-engah “kak…. kok susah banget bernafas..” tubuhku pun merinding, dentuman jantungkupun kian tidak beraturan karena dilanda kehawatiran yang sangat.

Dengan bergegas kakak sulungku memanggil dokter. Hingga akhirnya sambil ku genggam erat tanggannya dan kurasakan tubuh yang dulunya hangat menjadi dingin, hingga ahirnya aku beru menyadari bahwa adikku sudah tidak bernyawa lagi. “INNAA LILLAHI WAINNAA ILAIHI ROJI’UN…”.

Selamat jalan adikku… kakak yakin, rasa sakit yang kau alami bisa menjadikanmu kederejat syahid akhirat.

Niat sucimu ingin memberangkatkan haji kedua orang tuamu, semoga menjadi salah satu amalan yang diterima Tuhanmu.

Ditulis, 24 November 2010 M



Posted By Kang Santri9:18:00 AM

Tuesday, February 7, 2012

Kisah Ayah, Anak dan Burung Gagak

Filled under:


Murtakibudz Dzunub - Pada  suatu  petang  seorang  tua  bersama  anak  mudanya  yang  baru  menamatkan pendidikan  tinggi  duduk  berbincang-bincang  di  halaman  sambil memperhatikan  suasana  di  sekitar mereka.

Tiba-tiba  seekor  burung  gagak  hinggap  di  ranting  pokok  berhampiran.  Si  ayah  lalu menuding jari ke arah gagak sambil bertanya,

“Nak, apakah benda itu?”
“Burung gagak”, jawab si anak.

Si  ayah  mengangguk-angguk,  namun  sejurus  kemudian  sekali  lagi  mengulangi pertanyaan yang sama. Si anak menyangka ayahnya kurang mendengar jawabannya tadi, lalu menjawab dengan sedikit kuat,

“Itu burung gagak, Ayah!”

Tetapi sejurus kemudian si ayah bertanya lagi pertanyaan yang sama. Si  anak  merasa  agak  keliru  dan  sedikit  bingung  dengan  pertanyaan  yang  sama diulang-ulang, lalu menjawab dengan lebih kuat, 

“BURUNG GAGAK!!” Si ayah terdiam seketika.

Namun  tidak  lama  kemudian  sekali  lagi  sang  ayah  mengajukan  pertanyaan  yang serupa  hingga membuat  si  anak  hilang  kesabaran  dan menjawab  dengan  nada  yang  kesal kepada si ayah,

“Itu  gagak,  Ayah.”  Tetapi  agak  mengejutkan  si  anak,  karena  si  ayah  sekali  lagi membuka mulut hanya untuk bertanya hal yang sama. Dan kali ini si anak benar-benar hilang sabar dan menjadi marah.

“Ayah!!! Saya tak tahu Ayah paham atau tidak. Tapi sudah 5 kali Ayah bertanya soal hal  tersebut  dan  saya  sudah  juga memberikan  jawabannya. Apa  lagi  yang Ayah mau  saya katakan???? Itu burung gagak, burung gagak, Ayah…..”, kata si anak dengan nada yang begitu marah. Si  ayah  lalu  bangun  menuju  ke  dalam  rumah  meninggalkan  si  anak  yang kebingungan.

Sesaat kemudian si ayah keluar lagi dengan sesuatu di tangannya. Dia mengulurkan benda itu kepada anaknya yang masih geram dan bertanya-tanya. Diperlihatkannya sebuah diary lama.

“Coba kau baca apa yang pernah Ayah tulis di dalam diary ini,” pinta si Ayah. Si anak setuju dan membaca paragraf yang berikut.

“Hari ini aku di halaman melayani anakku yang genap berumur lima tahun. Tiba-tiba seekor  gagak  hinggap  di  pohon  berhampiran.  Anakku  terus menunjuk  ke  arah  gagak  dan bertanya, 

“Ayah, apa itu?”
Dan aku menjawab,
“Burung gagak.”

Walau  bagaimana  pun,  anakku  terus  bertanya  soal  yang  serupa  dan  setiap  kali  aku menjawab dengan jawaban yang sama. Sehingga 25 kali anakku bertanya demikian, dan demi rasa cinta dan sayangku, aku terus menjawab untuk memenuhi perasaan ingin tahunya.

“Aku berharap hal ini menjadi suatu pendidikan yang berharga untuk anakku kelak.” Setelah  selesai membaca paragraf  tersebut  si  anak mengangkat muka memandang wajah  si Ayah yang kelihatan sayu. Si Ayah dengan perlahan bersuara,

“Hari  ini Ayah  baru  bertanya  kepadamu  soal  yang  sama  sebanyak  5  kali,  dan  kau telah hilang kesabaran serta marah.”

Lalu  si  anak  seketika  itu  juga  menangis  dan  bersimpuh  di  kedua  kaki  ayahnya memohon ampun atas apa yg telah ia perbuat.

Author : PercikanIman.org

Posted By Kang Santri12:50:00 PM