Tuesday, January 24, 2012

Ikhtiar Dan Pasrah Dalam Perihal Jodoh

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Allah ‘Azza wajalla berfirman (dalam hadits Qudsi): “Apabila Aku menginginkan untuk menggabungkan kebaikan dunia dan akhirat bagi seorang muslim maka Aku jadikan hatinya khusyuk dan lidahnya banyak berzikir. Tubuhnya sabar dalam menghadapi penderitaan dan Aku jodohkan dia dengan seorang isteri mukminah yang menyenangkannya bila ia memandangnya, dapat menjaga kehormatan dirinya, dan memelihara harta suaminya bila suaminya sedang tidak bersamanya. 
(HR. Ath-Thahawi)


Disebutkan juga pada sebuah hadits,

لاَ يَرُدُّ الْقَضَاءَ إِلاَّ دُعَاءٌ

“Tidak ada yang dapat menolak ketentuan Tuhan kecuali doa”

Usaha kita dalam mencari jodoh perlulah bersandarkan kepada iman dan diiringi dengan doa yang berpanjangan.  Berdoalah banyak-banyak dengan bersungguh-sungguh kerana mengharapkan rahmat daripada Allah agar insan yang kita pilih itu dijodohkan dengan kita.

Merupakan sebuah misteri yang tidak pernah basi untuk dikaji. Kebahagiaan, kesedihan, kesetiaan, penghianatan, keresahan, kegelisahan, hati yang gemetar, kebencian, kerinduan, cinta, nafsu, juga kepasrahan, semua bercampur dalam satu porsi yang elok, entah itu penantian ataupun pencarian dalam perihal jodoh.

Sengaja saya susun sebuah kisah sederhana ini, dengan tidak mendramatisir  dari kenyataan yang ada, bukanlah kisah suci yang akan anda temui dari kisah-kisah ini sepertihalnya kisah para shalafussholih yang memang sangat terjaga kesuciannya dalam urusan jodoh dan asmara.

Tapi setidaknya ada meskti  tidak banyak, ada beberapa pembelajaran yang bisa diambil hikmahnya.

Diceritakan dari seorang sahabat,

Dari sebuah perkenalan yang tidak disengaja dengan seorang gadis, aku tidak pernah menyangka ternyata terajut sebuah kisah yang tidak begitu panjang.

Hampir 1,5 bulan masa-masa ta’aruf  sama sekali aku tidak pernah menyangka, perhatiannya padaku melebihi perhatian seorang sahabat yang belum lama kenal.

Dari latar belakang kami yang berbeda, rupanya itu yang membuat dia (sarah) ingin lebih tahu banyak tentangku.

Aku masih ingat tulisanku dulu yang sempat membuatnya haru (katanya sih..)

Kemuliaan seorang wanita  
Tidak lahir dari paras ayunya
Tidak lahir dari lekuk tubuh indahnya
Tidak lahir dari putih mulus kulitnya
Tidak lahir dari tutur manis rayunya
Tidak lahir dari tatapannya yang menggoda
Tidak lahir dari gemerlap kekayaannya
Demi mendapati lelaki yang benar-benar bisa menjadi pelindungnya nanti
Dari fitnah keji dunia
Juga lalapan siksa api neraka
Tapi kemuliaannya lahir dari kuatnya menjaga harga diri dan kehormatannya

Hampir enam bulan sudah persahabatan terjalin, kalau dilihat dari cara perhatiannya saat itu aku sempat berfikir sepertinya dia menginginkah hubungan yang lebih dari sekedar persahabatan. Tapi sengaja aku mengacuhkan itu dan pura-pura tidak tahu.

Ternyata dugaanku benar, malam itu sekitar pukul 19.17 wib. Handphone jadulku berdering, ternyata panggilan  dari Sarah, dengan tanpa sungkan dia mengungkapkan perasaannya padaku.

“bagaimana cara aku membalasnya” bisikku, karena waktu itu aku belum berfikir membawa hubungan yang lebih jauh. Bukannya aku tidak mempunyai perasaan yang sama pada Sarah,  saat itu aku berfikir

“apakah mungkin hubungan itu kita jalanin…?” karena kami dipisahkan jarak yang amat jauh, juga perbedaan suku. Karena aku hawatir,  suatu saat hanya akan membuat kita saling terluka.

Malam itu dengan memantapkan hati, ku baca sebuah ijazah amalan dzikir dari guru ku dulu dengan niat dan rasa kepasrahan “ wahai Allah, kalau memang dia jodohku mudahkanlah hati kami untuk menjalani buhungan ini, tapi andaikan kita tidak berjodoh dengan RahmatMu, pisahkanlah kami sesuai dengan caraMu yang maha bijak, agar diantara kami tidak saling terdholimi dengan hubungan ini..”

Tujuh hari kemudian,

“apakah tawaran kamu masih berlaku Sarah..?” ujarku setelah mengucapkan salam dan sedikit basa-basi.

“maksudnya apa…?” Sarah masih bingung nampaknya,

Setelah kujelaskan, terdengar dari expresi suaranya menyiratkan kebahagiaan yang teramat sangat.

Hubungan kami berjalan dengan biasa dan sederhana, seperti waktu kami masih berteman dulu. Dia sering menanyakan permasalahan tentang agama, terutama Fiqih dan cara membaca Al-Qur’an  yang sesuai dengan kaidah Tajwid.  Hingga sering menjelang tidur dia minta dibacakan Qur’an meski hanya mendengar suaraku lewat Handphone hingga tanpa sadar ia tertidur.

Hingga suatu saat, aku berbincang dengan Ibu’ guna memberitahukan kalau anaknya ini sedang dekat dengan wanita nan jauh disana, ia pun kaget mungkin dalam benak beliau ia sangat keberatan dengan kedekatanku pada Sarah. Beliau pun menjelaskan alasan tidak menyetujui hubungan kami, setelah ku pikir masuk akal juga sih alasan Ibu’ kalau melihat kondisi keluarga yang cuma pas-pasan  dan aku tidak ingin beban beliau bertambah karena keinginanku.

Disinilah aku dilema harus bagaimana, “pasrah….” Hanya itu yang pertama kali terpikirkan. Setelah ku beri tahu tentang kegelisahanku, tampak sambil tertunduk lesu Sarah hanya diam seribu bahasa.

Setengah bulan berselang, kami melakukan perenungan guna mendapat solusi yang terbaik. Masihku ingat percakan terahir sore itu,

“mungkin Allah tidak mentakdirkan kita berjodoh Sarah….” Suara ku pelan,

“tapi mas….” Sarah tidak jadi meneruskan kata-katanya,

“Sarah… yakin sama takdir ya, kalau kita da jodoh suatu saat nanti Allah pasti akan menyatukan kita lagi..” ucapku sambil memalingkan wajah karena tidak tega melihat airmata yang terus menggenang di kelopak matanya.

Setelah terdiam cukup lama,

“baiklah mas, aku bisa ngerti kok… dan aku gak ingin egois menuntut kamu menuruti keinginanku..” katanya sambil terbata,

“makasih ya, udah membimbing aku selama ini… mungkin kalau aku tidak mengenalmu aku belum bisa menjaga auratku..”

Sambil menunduk aku serasa tidak mampu membalas kata-katanya.

“Sarah, apa yang kau rasai saat ini… aku juga merasakan hal yang sama”.

Juga ada kisah lain dari seorang sahabat,

Sebut saja namanya Asror, dalam pencarian jodohnya ia termasuk sebagai seorang yang gigih dan pantang menyerah. Meski banyak wanita yang memandang sebelah mata, karena kekurang sempurnaan dalam fisiknya. Tapi patut diacungi jempol, karena rasa minder seolah tidak ditemukan dalam kamusnya.

Diumurnya yang hampir 35 tahun ia belum juga mendapati tanda-tanda siapa jodohnya kelak, aku masih ingat perjuangannya. Waktu itu ia memintaku untuk mendekatkan pada seorang gadis, dan menanyakan apakah dia mahu menjadi calon isterinya. Tapi ternyata gadis itu tidak bersedia dengan alasan sudah ada yang punya.

Setelah ku sampaikan pada Asror meskipun sedikit kekecewaan terlihat diraut mukanya,

“ya, sudahlah… gak apa-apa, makasih ya atas bantuannya…”

“sampeyan terlambat kang…  aku yakin ceritanya beda kalau dia masih sendiri, tapi tenang aja masih banyak yang lain heheee…” aku coba menghibur.

Berselang beberapa bulan kemudian Asror datang lagi padaku,

“menurut mu bagaimana dengan gadis diujung desa itu, kira-kira sudah ada yang punya belum..?”

“kayaknya belum kang…” jawabku,

“tapi kalau saran saya jangan yang itu kang, ahlaknya kurang bagus..” Karuan saja Asror langsung kecewa, tapi setelah ku beri penjelasan dia pun menurut.

Ternyata penilaianku benar, selang beberapa hari kemudian gadis itu mendapati sebuah aib yang sangat memalukan buat keluarganya karena salah dalam pergaulan.

Bulan berganti  tahun, Asror masih terus melakukan pengembaraannya.Siang itu dia amat berbunga-bunga datang kepadaku, karena merasa sudah menemukan bakal calon istrinya, tentu saja aku ikut bahagia. Namun setelah sekian lama ia berhubungan lagi-lagi takdir berkata lain, ia dihianati oleh perempuan itu dan ditinggalkannya dalam suasana  hati yang terkantung-kantung tanpa kejelasan.

Hingga ahirnya petunjuk dari Allah datang, lewat seorang temannya Asror dikenalkan pada seorang gadis, setelah keduanya saling kenal nampaknya timbul kecocokan pada mereka. Dan hebatnya lagi gadis itu menerima segala kekurangannya. Setelah melalui proses yang sangat rumit keduanya pun siap sedia membawa hubungan mereka ke mahligai pernikahan.

Semoga ada pelajaran yang bisa diambil dari kedua kisah ini.




Posted By Kang Santri4:27:00 PM

Sunday, January 22, 2012

Ketika Sholat Tak Lagi Terasa Nikmat

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Dari Mu’adz bin Jabal rodhiallohu ‘anhu berkata: Aku berkata, “Wahai Rasulullah, beritahu aku amal yang  akan memasukanku ke dalam surga dan menjauhkanku dari neraka”. Beliau bersabda, “Engkau telah bertanya  tentang masalah yang besar. Namun itu adalah perkara yang mudah bagi siapa yang dimudahkan  oleh Alloh subhanahu wa ta’ala. Engkau harus menyembah Alloh dan jangan menyekutukan-Nya dengan apapun,  mendirikan sholat, mengeluarkan zakat, berpuasa Ramadhan, dan haji ke Baitullah.” Kemudian beliau bersabda,

“Maukah kamu aku tunjukkan pintu-pintu kebajikan? Puasa adalah perisai, sedekah memadamkan dosa  sebagaimana air memadamkan api, dan shalat di tengah malam.” Kemudian beliau membaca ayat.

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya….” Hingga firman-Nya, “…sebagai balasan terhadap apa  yang telah mereka kerjakan,” (As-Sajdah 16-17). Kemudian beliau bersabda kembali,

“Maukah kalian kuberitahu pangkal agama, tiangnya dan puncak tertingginya?”. Aku menjawab,  “Mau, wahai Rasulullah.” Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pokok urusan adalah Islam  (masuk Islam dengan syahadat,-pent), tiangnya adalah sholat, dan puncak tertingginya adalah jihad. (HR. Tirmidzi ia berkata, “Hadits ini hasan shahih.”)

Saudaraku, mari sejenak kita tinggalkan semua urusan duniawi kita. Dari keruwetan-keruwetan hidup yang datang silih berganti. Kita lupakan sejenak urusan mu’amalah, kita lupakan sejenak keluh kesah kita yang belum sempat kita curahkan kepada teman dan sahabat, kita tinggalkan sejenak mereka yang mahu curhat tentang dunia asmaranya.

Sudilah kita sempatkan waktu walau hanya beberapa menit, guna membaca dan memahami hadits Rosulloh diatas.  Karena kita hidup tidak lain agar Alloh ridlo dengan sisa umur. Teringat nasihat salah seorang ulama’,


“Bukanlah pencarian ilmu itu untuk melawan kebodohan.

Bukanlah pencarian ilmu itu untuk menegakkan kalimah Alloh.

Janganlah berniat dalam pencarian ilmu untuk menjadi orang yang alim.
Tapi, tuntutlah ilmu untuk menggapai keridloan Alloh”
(sari pati dawuh Syaikh Maimoen Zubair Sarang-Rembang )

Saudaraku, kita sama-sama tahu teori tentang sholat yang husuk itu seperti apa, kita tahu sholat adalah tiangnya agama, kita tahu secara dlohir yang membedakan seorang kafir dan muslim adalah dari sholat, tentu kita masih ingat waktu ngaji dulu, bahwa sholat itu seperti angka 1 (satu) sedang amalan-amalan lainnya seperti angka 0 (nol)

Sampai seorang guru pernah bilang ” muridku, sudahkah kalian melakukan ibadah ataupun kebaikan dihari ini?”,

Salah seorang murid menjawab dengan penuh percaya diri “sudah dong guru”,

Sambil tersenyum sang guru meneruskan pertanyaannya “bapak boleh tahu nak..?”, sang guru sambil tersenyum.

“oh.. tentu guru”, “silahkan…”

“hari ini aku sudah membaca al-qur’an, memberi sedekah pengemis, menolong temen yang lagi kesusahan dan masih banyak lagi. terang muridnya

“bagus…”. gurunya melanjutkan ” tapi bagaimana dengan sholatmu hari ini..?” tanya gurunya

“eee…eee anu guru, sholat subuhnya mbablas”

“hahahaha….” semua murid tertawa.

Setelah memberi perumpamaan diatas, sang guru melanjutkan, “emmm.. jadi nila ibadahmu hari ini berapa nak?”

“nooooooollll….” serentak semua murid menjawab.

Saudaraku, pernahkan kita merasakan nikmatnya mendirikan sholat se-asyik kita berjumpa orang terkasih kita?,  pernahkah kita merasakan getaran hati ketika kita membaca surat-surat dalam sholat senikmat waktu kita membaca surat atau SMS cinta dari sang kekasih?, pernahkah kita merasa malu terhadap Tuhan karena meninggalkan sholat, semalu  ketika guru kita yang mengetahui?

Saudaraku, setidaknya sebagai seorang awam yang belum pernah bisa merasakan nikmatnya sholat karena ke-husu’an yang sering terganngu, minimal kita bisa merasakan dan benar-benar bisa merasakan sholat ketika kita niat beserta takbirotul ihroh, umpama kita lalai merasakan rukun-rukun setelah itu setidaknya kita ingat ketika membaca “iyyaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin”

Andai kita lalai merasakan sholat setelah itu, rasakan bahwa kita sedang melakukan sujud yang menjadi salah satu lambang kedekatan mahluk terhadap sang-Kholiq, andai kita juga lalai setelah itu rasakan ketika kita membaca tasyahud “assalamu’alaika ayyuhannabiyyu warohmatullohi wabarokatuh” dan ketika kita mengacungkan jari telunjuk.

Dari Abu Abdillah Jabir bin Abdullah Al-Anshori rodhiallohu ‘anhu. Bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah  sholallahu ‘alaihi wa sallam, “Apa pendapatmu bila aku telah sholat lima waktu, berpuasa Ramadhan, aku menghalalkan yang  halal, dan mengharamkan yang haram, dan aku tidak menambah amalan selain itu,  apakah aku akan masuk surga?” Nabi menjawab, “Ya” (HR Muslim)

Dari Abu Malik Al-Harits bin Ashim Al-Asy’ari radhiyallaahu ‘anhu, Dia berkata: Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam  pernah bersabda, “Bersuci adalah separuh dari keimanan, ucapan ‘Alhamdulillah’ akan memenuhi timbangan, ‘subhanalloh  walhamdulillah’ akan memenuhi ruangan langit dan bumi, sholat adalah cahaya, dan sedekah itu merupakan bukti,  kesabaran itu merupakan sinar, dan Al Quran itu merupakan hujjah yang akan membela atau menuntutmu. Setiap jiwa manusia  melakukan amal untuk menjual dirinya, maka sebagian mereka ada yang membebaskannya (dari siksa Alloh)  dan sebagian lain ada yang menjerumuskannya (dalam siksa-Nya).” (HR Muslim)


Posted By Kang Santri11:36:00 PM

Kisah Nenek Yang Ihlas

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Seorang nenek harus berjalan jauh ke pasar di kota untuk menjual bunga cempaka. Itulah kerja hariannya. Selepas berjualan, beliau singgah dahulu ke masjid di kota untuk bersolat zuhur.

Selepas berdoa dan berwirid sekadarnya, nenek itu akan terlebih dahulu membersihkan dedaun yang berselerakan di halaman masjid. Ini dilakukannya setiap hari di bawah terik matahari. Setelah semua dedaun itu dibersihkan barulah beliau pulang ke desanya.Jemaah dan pengelola masjid kasihan melihat rutin nenek yang demikian.

Suatu hari, pengurus masjid memutuskan untuk membersihkan dedaun yang berselerakan di halaman masjid sebelum nenek itu datang. Fikirnya, usaha itu akan membantu nenek tadi agar tidak perlu bersusah payah membersihkan halaman masjid itu.

Rupanya, niat baik itu telah membuat nenek tersebut menangis sedih.
Dia bermohon supaya dia terus diberi kesempatan membersihkan halaman masjid seperti biasa.

Akhirnya, pihak masjid terpaksa membiarkan situasi berjalan seperti biasa supaya nenek itu tidak lagi hiba.
Satu ketika apabila ditanyakan seorang kiai mengapa nenek tersebut perlu melakukan hal itu, nenek tersebut menjawab:

Saya ini perempuan bodoh, kiai. Saya tahu amal-amal saya yang kecil ini mungkin juga tidak benar dijalankan. Saya tidak mungkin selamat pada hari kiamat tanpa syafaat Rasulullah sollallahu `alaihi wasallam.

Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu selawat kepada Rasulullah sollallahu `alaihi wasallam. Kelak jika saya mati, saya ingin Rasulullah menjemput saya.

Biarlah semua dedaun ini bersaksi bahwa saya telah membacakan selawat kepadanya.

Allah SWT berfirman :
Sesungguhnya Allah dan Malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman bershalawat salamlah kepadanya. (QS Al-Ahzab 33: 56)

Rasulullah SAW bersabda :
Tidak seorang pun yang memberi salam kepadaku kecuali Allah akan menyampaikan kepada ruhku sehingga aku bisa menjawab salam itu. (HR Abu Dawud dari Abu Hurairah. Ada di kitab Imam an-Nawawi, dan sanadnya shahih).

Mudah-mudahan kita dapat sama-sama menghayati keikhlasan sifat nenek yang mulia itu. Amin!

Silahkan SHARE ke rekan anda jika menurut anda notes ini bermanfaat.


Posted By Kang Santri11:20:00 PM

Sedekah Sembunyi-sembunyi Meredam Murka Allah

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Seorang pria muda (sebutlah ia bernama amir) mendengar hadits-hadits dan ayat tentang mulianya bersedekah di jalan Allah, betapa mulianya ber infaq dengan shadaqatussir (sedekah secara sembunyi-sembunyi), sebagaimana hadits Rasul saw : "Sedekah dengan sembunyi sembunyi memadamkan kemurkaan Allah" (HR Thabrani dg sanad Hasan).

Maka bangkitlah di hati Amir niat luhur untuk melakukannya, ia merasa telah banyak bermaksiat dan ia merasa ibadah-ibadahnya tak cukup untuk memadamkan kemurkaan Allah swt, dan iapun mulai mengumpulkan hartanya, setiap ia mendapat untung dari pekerjaannya selalu ia sisihkan untuk bersedekah secara sembunyi-sembunyi, siang malam ia terus berusaha dengan gigih mengumpulkan uang hingga setahun lamanya, terkumpullah sejumlah uang dinar emas yang cukup banyak jumlahnya.

Malam itu Amir menaruh seluruh uangnya itu dalam kantung besar, lalu ia berpakaian gelap dan penutup wajah hingga tak seorangpun mengenalinya, ia berjalan ditengah malam yang sunyi, tiba-tiba ia melihat seorang wanita yang tertidur di emper jalan, maka ia lemparkan kantong uangnya pada tubuh si wanita, si wanita pun kaget terbangun, dan hanya menyaksikan pria bercadar itu lari terbirit-birit. Amir membatin dalam hatinya : "ah? wanita itu pasti berharap isi kantung itu adalah makanan, namun MASYA ALLAH' SETUMPUK UANG DINAR"!!..wah.. dia pasti gembira dan mendoakanku..Puji syukur atas Mu Rabbi, aku lelah setahun mengumpulkan uang untuk hal ini.., semoga Engkau menjadikannya shadaqah rahasia yang kau terima..

Keesokan harinya heboh lah kampung itu dengan kabar bahwa seorang wanita pelacur mendapat sekantung uang dinar emas ketika sedang menunggu pelanggannya!, mendengar berita itu maka Amir terhenyak lemas.. ia membatin, " Subhanallah .. pelacur .. sedekahku yang kukumpulkan setahun ternyata ditelan pelacur!, ah.. sedekahku tak diterima oleh Allah.. hanya menjadi santapan wanita pezina dan penyebab orang berzina, naudzubillah!"

Amir muram dan sedih.. namun ia tetap penasaran, ingin agar sedekahnya diterima oleh Allah dan tak salah alamat, maka ia mengumpulkan lagi harta dengan lebih gigih lagi hingga setahun lamanya, setelah harta terkumpul ia membeli sebanyak-banyaknya perhiasan emas dan berlian, terkumpullah sekarung perhiasan beragam corak dan jenis.. ah.. ia puas memandang jerih payahnya.., iapun mengulangi perbuatannya, menggunakan penutup wajah dan membawa karung perhiasan itu ditengah malam.., tiba-tiba ia melihat seorang lelaki setengah baya yang sedang berjalan ditengah malam, wajahnya tampak kusut dan penuh kegundahan, maka si Amir pun melemparkan karung itu pada si lelaki dan berkata : "terimalah sedekahku..!", lalu iapun lari terbirit-birit, agar si lelaki itu tak mengenalinya.

Keesokan harinya kampung itu gempar, semalam ada seorang perampok yang ketiban rizki sekarung perhiasan dari lelaki misterius?, ah..ah.. Amir sangat lesu.. dua tahun sudah kukumpulkan uang dengan susah payah, tapi selalu salah alamat. Namun Amir masih juga penasaran.., ia kembali kumpulkan uang.. berlanjut hingga setahun, maka ia berbuat seperti tahun yang lalu lalu, menaruh uang dinar emasnya di kantung kulit, lalu berjalan ditengah malam.. ia melihat seorang tua renta yang berjalan tertatih tatih sendirian.. nah.. ini.. pasti tak salah alamat..gumam Amir.. iapun memberikan kantung Dinar Emasnya pada Kakek itu dan lari.

Keesokan harinya kampung itu gempar lagi, seorang Kakek yang menjadi orang terkaya di kampung itu mendapat sedekah sekantung emas dinar.. maka Amir pun roboh.. ia kapok.. berarti memang ia adalah pria busuk yang sedekahnya tak akan diterima oleh Allah, 3 tahun ia berjuang namun Allah menghendaki lain.., Amir pun berdoa : "Rabbi ... kalau kau menerima sedekahku itu maka tunjukkanlah".

Zaman terus berlanjut tanpa terasa, puluhan tahun kemudian Amir sudah tua renta, di usia senjanya ia mendengar ada dua orang ulama adik kakak, keduanya menjadi ulama besar dan mempunyai murid ribuan, kedua Ulama itu anak yatim, ayah mereka wafat saat mereka masih kecil, lalu karena jatuh miskin maka ibunya akhirnya melacur untuk menghidupi anaknya, dalam suatu malam ibunya bermunajat pada Allah : "Ya Allah ya Rabbi, kuharamkan rizki yang haram untuk anak-anakku, malam ini berilah aku rizki Mu yang halal," lalu Ibu itu tertidur di emper jalan, lalu ada seorang misterius yang melemparkan sekantung uang dinar emas padanya, lelaki itu menutup wajahnya dengan cadar, maka sang Ibu gembira, bertobat, dan menyekolahkan anaknya dengan uang itu dan hingga kedua anaknya menjadi Ulama dan mempunyai murid ribuan banyaknya…

Airmata menetes membasahi kedua pipi Amir yang sudah tua renta, oh.. sedekah ku itu ternyata diterima Allah.. dan pahalanya dijaga Allah hingga berkesinambungan dengan anak-anak sipelacur yang menjadi ulama dengan uang sedekahnya, dan memiliki murid ribuan pula, Maha Suci Allah.. Dia tidak menyia-nyiakan jerih payahku.. namun apa nasibnya dengan sedekahku yang tahun kedua?, belum lama Amir membatin, datang pula kabar bahwa seorang Wali Allah baru saja wafat.., dia dulunya adalah perampok, suatu malam ia dilempari sekarung perhiasan oleh pria misterius, lalu ia bersyukur kepada Allah, beribadah dan beribadah, meninggalkan kehidupan duniawi, berpuasa dan bertahajjud, hingga menjadi orang yang Shalih dan Mulia, dan wafat sebagai dengan mencapai derajat Waliyullah (kekasih Allah) dan banyak pula orang yang bertobat ditangannya.

Amir semakin cerah wajahnya dan semakin malu kepada Allah, tak lama sampai pula kabar padanya bahwa telah dibangun sebuah rumah amal, yang selalu tak pernah sepi dikunjungi para pengemis, rumah amal itu selalu membagi-bagikan hartanya pada para Fuqara, rumah amal itu didirikan oleh seorang tua renta yang kaya raya di kampung itu, ia awalnya sangat kikir, namun suatu malam ia dihadiahi sekantung uang dinar emas oleh pria misterius, iapun malu dan bertobat, lalu menginfakkan seluruh hartanya untuk rumah amal.

Amir tak tahan menyungkur sujud kehadirat Allah swt, betapa luhurnya Dia Yang Maha Menjaga Amal nya yang tak berarti hingga berlipat-lipat dan berkesinambungan, ah.. Amir benar-benar telah mencapai cita-citanya.. yaitu sabda Rasul saw : "Sedekah secara sembunyi-sembunyi memadamkan kemurkaan Allah", dan ia mendapatkan pahala yang terus mengalir tanpa henti, bagai menaruh saham dengan keuntungan berjuta kali lipat setiap kejapnya, betapa tidak?, apalah artinya sekantung uang dinar emas dibanding pahala sujud orang yang bertobat?, sedangkan kita mendengar hadits Rasul saw :
"Dua raka'at Qabliyah Subuh lebih mulia dari dunia dan segala isinya" ...

Lalu bagaimana dengan pahala yang bertumpuk dari sebab amal sedekahnya yang tak berarti itu?, betapa beruntungnya si pria ini, dan betapa mulia derajatnya, dan merugilah mereka yang kikir dengan hartanya, yang merasa bahwa makan dan minumnya lebih berhak didahulukan daripada menjadikannya perantara yang mendekatkannya pada Keluhuran yang Abadi, ah.. semoga aku dan kalian dikelompokkan sebagai penanam saham untuk meneruskan tegaknya Dakwah Nabi Muhammad saw, amiin.....


Posted By Kang Santri3:55:00 PM

Tanpa-Mu Aku Tak Mampu

Filled under:

Murtakibudz Dzunub -  
Entah sekarang hari ku berada dimana Sampai-sampai kedua langkah kaki pun sudah tak ku kenali lagi

Aku tak tahu
Apakah aku masih bisa selembut dahulu

Ketika merengek meminta-Mu Guna mengabulkan semua do'a dan harapanku


Ku akui lalai sifat manusiawi, kini datang lagi
Yang tak pernah mampu bisa ku ketahui Kapan bisa ku akhiri
Akhir kisah drama ini

Kelopak mata yang mulai letih
Memang kalah dengan syair kabut
Yang tak pernah henti bertasbih

Tapi aku tak kan pernah berhenti berharap
Sebelum ketulusanku membesarkan-MU
Bersedia merengkuh dan mencumbuku kembali

Sungguh kenikmatan ibadah itu datangnya dariMu
Sungguh ringan lisan melafadzkan qur'an datangnya dariMu
Sungguh ayun langkah menuju sajadah juga datangnya dariMu

Karena aku sadar
TanpaMu
Aku tak mampu
Dan tanpaMu
Aku bukanlah apa-apa



Posted By Kang Santri3:13:00 PM

Friday, January 20, 2012

Mutiara Kata Syaikh Abul Hasan Asy-Syadhili

Filled under:


Sebab-sebab sempit dan susah pikiran itu ada tiga:
1. Karena berbuat dosa, dan unutuk mengatasinya dengan bertaubat dan beristighfar.
2. Karena kehilangan dunia, maka kembalilah kepada Allah SWT. Sadarlah bahwa itu bukan kepunyaanmu dan hanya titipan dan akan ditarik lagi oleh Allah SWT.
3. Disakiti orang lain, kalau dianiaya orang lain maka bersabarlah dan sadarlah bahwa semua itu yang membuat adalah Allah SWT, untuk mengujimu.


Keramat itu tidak diberikan kepada orang yang mencarinya dan menuruti keinginan nafsunya. Dan tidak pula diberikan kepada orang yang badannya digunakan untuk mencari keramat.  Yang di beri keramat hanya orang yang tidak merasa diri mencari keramat dengan amalnya. Akan tetapi ia selalu di sibukkan dengan pekerjaan-pekerjaan yang disenangi Allah dan merasa mendapat anugerah dari Allah semata. Tidak menaruh harapan dari kebiasaan diri dan amalnya.


Kamu jangan menyebarkan ilmu yang bertujuan agar manusia membetulkanmu dan menganggap baik padamu, akan tetapi sebarkanlah ilmu dengan tujuan agar Allah SWT membenarkanmu.

Posted By Kang Santri6:00:00 AM

Cermin Positif

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Mengkritik itu mudah, karena melihat kesalahan orang lain itu gampang. Namun kritik yang didasari oleh mencari-cari kesalahan orang lain tak mungkin dapat mempermudah keadaan.

Anda tak perlu menghabiskan waktu dan tenaga anda untuk menilai apakah orang lain telah berbuat salah atau benar. Karena itu sangat mudah!, yang sulit adalah melihat kesalahan diri sendiri.

Waspadailah bila anda begitu pandai mengkritik, jangan-jangan anda tak mampu melihat kebenaran. Dan sebuta-butanya orang ialah mereka yang tidak bisa menangkap cahaya kebenaran.

Sekali anda gembira menemukan sebutir debu kesalahan orang lain, anda tergoda untuk mendapatkan yang sebesar kerikil. Begitu seterusnya, hingga tanpa sadar anda telah menciptakan gunung kesalahan orang.

Orang tak penah suka berkaca pada cermin yang memantulkan kekurangan wajahnya. Maka dari itu janganlah anda menjadi bayangan bagi kesalahan orang lain. Bantulah mereka menemukan sisi positif diri mereka. Dan saat itu pula orang lain akan memantulkan sisi baik anda sendiri.

Motivasi.Net

Posted By Kang Santri5:58:00 AM

Thursday, January 19, 2012

Diatas Biduk Kecil Keimanan

Filled under:

Murtakibudz Dzunub

Atma ku layu
Karena pikiran-pikiran itu berhasil menuangkan racun di hatiku
Hingga berkali-kali ku dibuatnya mabuk kepayang

Hayalan itu begitu menikmatkanku
Hayalan itu begitu menggodaku
Hayalan itu begitu cantik buatku


Ah… hayalan itu terasa amat sempurna buat nafsuku

Perlahan ku raih ranting jiwaku yang patah

“kasihan….” Bisik sang besuta membelai  kemalanganku
Aku ingin bisa ihlas dalam kehidupanku
Se-ihlas saat ku buang puntung rokok itu dijalanan
Aku ingin bisa sabar dalam kehidupanku
Se-sabar kerikil mungil itu menunggu menjadi batu

Namun sayang…
Comberan dari keangkuhanku kembali menyiram muka ku
Namun sayang…
Duri mawar itu kembali menjaihili kehusu’anku

Meskipun begitu…
Selalu kunanti biduk kecil yang bersedia membawaku menyeberang ke pulau itu
Supaya bisa ku padamkan bara dari puntung rokok hawa nafsu panasku
Supaya bisa ku titipkan kerikil kerdil pemahaman ma’rifatku didasar lautNya
Supaya bisa ku basuh muka comberan maksiatku dengan air lautNya
Supaya bisa ku hayati bahwa luka perih kecilku karena duri teguran itu menambah rasa kedloifanku padaNya, sembari berharap menemukan penawar dari terlukanya dosa

Separuh perjalanan belum kulalai…
Tiba-tiba bianglala penuh aneka warna itu menyapaku
Meski hujan tidak habis turun saat itu

“hai… siapakah biduk kecil yang kau naiki itu” tanyanya

“dia adalah biduk kecil keimananku..”

“oh ya…  kenapa tampak begitu kumuh dan kotor?”

“karena aku malas membersihkannya dengan air wudlu”

“kenapa ia begitu kusam?”

“karena aku jarang memolesnya dengan tilawatil Qur’an”

“kenapa tak kau tambal celah-celah yang mulai melebar itu?”

“karena aku terlalu sibuk dengan urusan duniawiku”

“tak takutkah kau tenggelam dengan perahu seperti itu?”

“itulah keangkuhanku, seolah-olah aku sudah merasa bisa selamat sampai kepulau itu..”

“bagaimana bila nanti kedatanganku kembali, setelah hujan adzab yang teramat dahsyat?
masih bisakah kau menjumpaiku?”

“entahlah, mungkin saat itu aku sudah binasa bersama lumpur keruh dosaku, bisakah kau beri petuah untukku, karena sudah terlanjur ku lalui separuh dari perjalananku?”

“sahabatku,  belum ada kata terlambat untuk memperbaiki dan mempercantik biduk kecil keimananmu, tamballah celah-celah itu dengan memperbanyak istighfar, cucilah kayu-kayu kumuh itu dengan air wudlu, setelah itu siramkan dengan ketaatanmu, hiasilah biduk kecil itu dengan ke-ihlasanmu menjalani takdirmu…”

Aku pun tertunduk mendengr petuah itu

“wahai bianglala, siapakah sebenarnya dirimu..” tanyaku

“aku adalah pelangi ilmu yang dulu sudah susah payah kau mempelajariku, aku adalah pelangi kata-kata bijak yang dulu kau rajin menyusunku, aku adalah pelangi kemuliaan yang selama ini kau lupakan..”

“kenapa tiba-tiba kau hadir, bukankah biasanya kemunculanmu datang setelah hujan rahmat dariNya?”

“memang benar, inilah salah satu tanda kebesaran Tuhanmu, juga tsamroh dari keutamaan ilmu yang dulu kau pelajari..”

“Tuntutlah ilmu, sesungguhnya menuntut ilmu adalah pendekatan diri kepada Allah Azza wajalla, dan mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah sodaqoh. Sesungguhnya ilmu pengetahuan menempatkan orangnya, dalam kedudukan terhormat dan mulia (tinggi). ilmu pengetahuan adalah keindahan bagi ahlinya di dunia dan di akhirat. (HR. Ar-Rabii’)”

Posted By Kang Santri7:51:00 PM