Wednesday, July 11, 2012

Orang Yang Di Bangunkan Bidadari

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Dia (Abu Sulaiman Ad-Darani) meriwayatkan kisah ini kepada Ahmad bin Abu Hawari, “Ketika aku sedang sujud, tiba-tiba saya terserang ngantuk. Tanpa aku duga, beberapa orang bidadari membangunkan aku dengan kakinya.

Bidadari itu berkata, ‘Wahai kekasihku, apakah kamu masih akan tidur sementara para malaikat mengawasi orang-orang yang bangun untuk melaksanakan tahajud (qiyamul lail). 

Sungguh celaka mata yang lebih senang tidur daripada berjaga untuk bermunajat kepada Allah Yang Mahamulia. Bangunlah, sebentar lagi orang-orang yang mencintai Allah akan saling bertemu. 

Tidur macam apa ini? Wahai kekasihku dan permata hatiku, Apakah kamu masih juga akan tidur sementara aku menemanimu dalam keheningan malam ini sejak tadi.’

Seketika itu aku melompat, bangun dengan bercucuran keringat karena rasa maluku terhadap celaan bidadari tersebut. Dan sungguh keindahan ucapannya senantiasa terasa dalam hati dan pendengaranku.”

Sumber: 99 Kisah Orang Shalih

Posted By Kang Santri8:01:00 PM

Tuesday, July 10, 2012

Seberapa Kuat Keimanan Kita?

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Iman (percaya kepada Allah) merupakan aset terbesar kita dihadapan Allah. Pernahkan kita mengukur seberapa besar kekuatan iman kita kepada Allah? Mari kita tes keimanan kita masing-masing? Masih sangatlah lemahkah? Sedang-sedang saja? Atau mungkin sudah sangat kuat?

Karena ciri-ciri orang yang kuat imannya adalah:

1. Terbebas dari dikuasai orang lain

قُلْ لا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلا ضَرًّا إِلا مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
Katakanlah: "Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudaratan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman". (Al-A'raf: 188)

2. Merasakan dirinya berani dan kuat

وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تَمُوتَ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ كِتَابًا مُؤَجَّلا وَمَنْ يُرِدْ ثَوَابَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَنْ يُرِدْ ثَوَابَ الآخِرَةِ نُؤْتِهِ مِنْهَا وَسَنَجْزِي الشَّاكِرِينَ
Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat. Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (Ali-Imran: 145)


3. Meyakini bahwa rezeki datangnya dari Allah

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأرْضِ إِلا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ
Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauhulmahfuz). (Hud: 6)

وَكَأَيِّنْ مِنْ دَابَّةٍ لا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Al-Ankabut: 60)

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ نَزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الأرْضَ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهَا لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لا يَعْقِلُونَ
Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?" Tentu mereka akan menjawab: "Allah". Katakanlah: "Segala puji bagi Allah", tetapi kebanyakan mereka tidak memahami (nya). (Al-Ankabut: 63)

4. Tenang hati dan tetap jiwanya 

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram. (Ar-Ra'ad: 28)

5. Mempunyai kekuatan mengalahkan hawa nafsunya dari godaan syaithan

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ يَهْدِيهِمْ رَبُّهُمْ بِإِيمَانِهِمْ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الأنْهَارُ فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya, di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam surga yang penuh kenikmatan. (Yunus: 6)

وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَيُؤْمِنُوا بِهِ فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ وَإِنَّ اللَّهَ لَهَادِ الَّذِينَ آمَنُوا إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al Qur'an itulah yang hak dari Tuhanmu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya, dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus. (Al-Hajj: 54)

6. Allah memberinya penghidupan yang baik semasa didunia dan di akhirat

Yang dimaksud dengan penghidupan yang baik disini adalah selamat dari tergelincirnya akidah, mendapat pertolongan bila berhadapan dengan musuh, dan kehidupannya dapat melewati cobaan.

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (An-Nahl: 97)

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (Al-A'raf: 96)


Posted By Kang Santri4:26:00 PM

Monday, July 9, 2012

Tata Cara Dan Anjuran Shalat Witir

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Shalat witir mempunyai beberapa alternatif. Boleh dilakukan satu rakaat, tiga rakaat, lima rakaat, tujuh rakaat dan sembilan rakaat seperti yang sudah di contohkan oleh Rasulullah.

Waktu Shalat Witir

Setelah melakukan shalat Isya' hingga terbit fajar.

"Sesungguhnya Allah mengulurkan kepadamu dengan shalat, yaitu shalat witir. Allah menjadikannya untuknya disaat  setelah shalat Isya' hingga terbit fajar. (HR. Tirmidzi)

Niat Shalat Witir

أصلى سنة الوتر لله تعالى


Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

"Shalat malam itu dua-dua. Jika engkau khawatir shalat subuh tiba, shalat witirlah satu rakaat." (HR. Bukhari dan Muslim)

Tiga Rakaat

Aisyah Radhiyallahu 'anhu berkata,

"Tsumma yusholli tsalatsan" [Lalu Rasulullah shalat tiga rakaat] (HR. Bukhari)

Lima Rakaat

Diriwayatkan bahwa Rasulullah shalat witir sebanyak lima rakaat dan beliau hanya duduk dirakaat terakhir (maksudnya sekali salam)

Tujuh Rakaat

Rasulullah juga pernah shalat witir sebanyak tujuh rakaat. Beliau duduk dirakaat ke enam (untuk tasyahud awal) dan duduk lagi dirakaat ke tujuh (untuk tasyahud ke dua) lalu salam.

Sembilan Rakaat

Juga diriwayatkan dari Rasulullah , bahwa beliau shalat witir sebanyak sembilan rakaat.  Beliau duduk di rakaat kedelapan (untuk tasyahud awal) dan duduk di rakaat ke sembilan (untuk tasyahud ke dua) lalu salam, dan suara beliau didengar oleh keluarga beliau.

Setelah rakaat ke tujuh atau ke sembilan, rasulullah shalat du rakaat. Mengenai hal ini Ibnu Hajar berkata, " aku tidak tahu, apakah dua rakaat tersebut dua rakaat shalat sunnah subuh atau yang lainnya?".

Rasulullah menganjurkan orang yang khawatir tidak bisa bangun untuk qiyamul lail untuk shalat witir sebelum tidur. Sedang orang yang yakin bisa qiyamul lail, maka menunda shalat witir lebih utama baginya, sehingga shalat witir menjadi shalat penutup qiyamul lail.

Di riwayatkan dari Jabir, "aku mendengar Rasulullah bersabda, "Jika salah  seorang diantara kalian khawatir tidak bisa bangun di akhir malam, hendaklah ia shalat witir lalu tidurlah. Sedang orang yang yakin bisa qiyamul lail, hendaklah shalat witir di akhir qiyamul lailnya, karena bacaan di akhir malam itu dihadiri (malaikat) dan itulah yang lebih utama." (HR. Muslim)

Rasulullah memberi perhatian besar pada shalat witir karena berurgensi tinggi. Sehingga banyak dari para sahabat, tabi'in dan ke empat imam madzhab berpendapat bahwa qadha shalat witir itu di syariatkan. [1]

Rasulullah memerintahkan meng-qadha shalat witir bagi yang tidak mengerjakannya. Diriwayatkan dari Abu Sa'id Al-Khudri beliau berkata, Rasulullah bersabda,

"Siapa tidur tanpa shalat witir, atau lupa, hendaklah ia mengerjakannya pada pagi hari atau ketika ingat." (Diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanad shahih.

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيْمَانًا دَائِمًا، وَنَسْأَلُكَ قَلْبًا خَاشِعًا، وَنَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَنَسْأَلُكَ يَقِيْنًا صَادِقًا، وَنَسْأَلُكَ عَمَلاً صَالِحًا، وَنَسْأَلُكَ دِيْنًا قَيِّمًا، وَنَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ، وَنَسْأَلُكَ تَمَامَ الْعَافِيَةِ، وَنَسْأَلُكَ الشُّكْرَ عَلَى الْعَافِيَةِ، وَنَسْأَلُكَ الْغِنَى عَنِ النَّاسِ

اَللَّهُمَّ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صَلاَتَنَا وصِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَتَخَشُّعَنَا وَتَضَرُّعَنَا وَتَعَبُّدَنَا، وَتَمِّمْ تَقْصِيْرَنَا يَا اَللَّهُ، يَا اَللَّهُ، يَا اَللَّهُ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
______

[1].Badzlu AL Majhud, jilid VII halaman 256-257

Posted By Kang Santri8:46:00 PM

Realita di Bulan Ramadhan (Renungan)

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Ramadhan... Engkau lah satu-satunya bulan yang sering di elu-elukan ummat Muhammad untuk menumpuk amal. Seakan-akan engkaulah bulan yang dijadikan tumpuan dari kemalasan beribadah di bulan-bulan yang lain. Apakah bijak hal yang seperti ini?

Amalan-amalan  sunnah bertebaran menghiasi siang dan malam kami, dengan mengesampingkan bahwa sebenarnya kami masih mempunyai qadha ibadah wajib yang kami abaikan dulu. Dibenarkankah hal yang demikian itu menurut syari'at? (tentu saja tidak...!!). Lagi-lagi kami tertipu menganggap bahwa hal yang demikian adalah wujud keshalihan.

Kami begitu antusias menanti datangnya shalat tarawih di serambi-serambi masjid dengan pakaian putih bersih dan aroma wangi dengan kopiah lancip yang hampir menutup kening, tapi sayang... kami mengabaikan kewajiban qadha shalat yang pernah ditinggalkan.

Ramadhan... Engkau memang sering kami selewengkan dengan amalan-amalan palsu yang penuh kepura-puraan. Hingga seolah bulanmu menjadi bulan untuk ajang pamer ibadah.

Kami sebar nasehat, kami serukan gema tilawatil qur'an siang-malam di masjid dan surau, ahhh... tapi kebanyakan dari kami sebenarnya berpikiran 'ini adalah ajang untuk pamer keilmuan'.

***

Memang benarlah adanya, karena jiwa keimanan kami masih dalam fase terendah. 

Ramadhan... Meskipun demikian, kedatanganmu merupakan keberkahan yang tak ternilai buat kami yang masih munafiq ini. Semoga dari ratusan ayat suci yang kami baca di bulanmu meski hanya satu huruf saja yang bernilai keihlasan itu sudahlah cukup membahagiakan, karena dibulanmu Allah akan melipat gandakan pahala yang tidak diberikan-Nya selain dibulanmu.

Ramadhan... Meski raga kami berpuasa, tapi sebenarnya hati kami masih lahap menyantap maksiat. Berkali-kali kami menasehati diri bahwa "Kami senantiasa muda untuk melakukan dosa. Tapi kami belum tentu tua untuk melakukan taubat." Astaghfirullah...

Do'a Rasulullah: "Ya Allah, hidupkan hamba selagi hidup masih baik bagi hamba. Dan matikan hamba selagi mati lebih baik bagi hamba."
 
 

Posted By Kang Santri4:15:00 PM

Saturday, July 7, 2012

Nasehat Syaikh Abul Hasan Asy-Syadhili

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Saat itu Syekh Abul Hasan Asy-Syadhili sedang duduk-duduk di depan rumahnya, tiba-tiba ada jenazah seorang laki-laki melintas di depan rumahnya menuju ke tempat pemakaman. Terlihat olehnya di belakang jenazah seorang anak wanita bersama para pelayat yang lain. Rambut wanita itu tergerai dan tidak henti-hentinya menangis. 

Jelas nampak dalam raut wajahnya rasa duka yang sangat mendalam. Syekh Abul Hasan Asy-Syadhili berfikir bahwa mungkin anak wanita itu adalah Putri dari jenazah tadi. Segera saja Syekh Abul Hasan Asy-Syadhili membuntuti iring-iringan jenazah tersebut dan mendekati anak wanita yang dari tadi menangis. 

Tatkala sudah dekat dengan anak wanita itu, Syekh Abul Hasan Asy-Syadhili mendengar dengan jelas rintihannya. 

“Wahai bapak, belum pernah selama hidupku mengalami perasaan sedih dan duka yang sangat mendalam seperti yang aku alami sekarang ini. Aku benar-benar merasa kehilangan bapak.” 

“Nak, belum pernah juga bapakmu mengalami kejadian yang menyusahkan seperti sekarang ini!” sahut Syekh Abul Hasan Asy-Syadhili.

Setelah tiba di sebuah mushalla, jenazah itu pun segera disholati dan kemudian dimakamkan. Derai tangis anak wanita tadi belum juga reda sampai acara pemakaman. Setelah acara pemakaman selesai para pengantar pun segera kembali ke rumahnya masing-masing. 

Esok harinya, setelah menjalankan shalat subuh Syekh Abul Hasan Asy-Syadhili kembali duduk-duduk santai di depan rumahnya. Namun selang beberapa lama kemudian, ia melihat anak wanita dengan jalan yang tergesa-gesa melintasi depan rumahnya. Rupanya, ia adalah anak wanita yang kemarin ditinggal mati oleh bapaknya. Anak wanita ini rupa-rupanya berjalan menuju tempat pemakaman. 

Merasa ada gelagat yang kurang baik, segera Syekh Abul Hasan Asy-Syadhili mengikutinya dari kejauhan. Beliau ingin tahu apa sebenarnya yang ingin dikerjakan anak itu. Saat anak wanita itu memasuki makam, Syeikh Hasan mengintip dari tempat yang tersembunyi. 

Tiba-tiba anak wanita itu memeluk nisan dan pipinya yang basah dengan air mata ditaruh diatas gundukan makam ayahnya, seraya berkata, 

“Wahai bapak, bagaimana tadi malam engkau menginap? Kemarin lusa aku masih mempersiapkan alas tidur untukmu. Lalu siapakah yang mempersiapkan alas tidurmu tadi malam? Kemarin lusa aku masih mempersiapkan lampu untuk menerangimu. Lalu siapakah gerangan yang mempersiapkan lampu untuk menerangimu tadi malam? Wahai bapak, ketika badanmu terasa pegal-pegal, seringkali aku memijat badanmu. Lalu siapa lagi sekarang yang akan memijat-mijatmu?” 

“Wahai Bapak,” rintihnya lebih lanjut, “Ketika engkau merasa haus, dengan segera aku mengambilkan minuman untukmu. Namun siapakah yang mengambilkan engkau minum tadi malam? Ketika engkau merasa jemu dan penat tidur terlentang, maka segara aku balikkan engkau agar nyaman. Namun siapakah tadi malam yang mau membalik tubuhmu agar nyaman?” 

“Dengan perasaan belas kasih, kemarin aku masih memandangi wajahmu. Tapi sekarang siapa lagi yang akan memandangi wajahmu seperti itu? Saat engkau memerlukan sesuatu, engkau segera memanggilku. Tapi bagaimana dengan malam tadi, siapakah yang engkau panggil? Bahkan kemarin lusa, aku masih memasakkan makanan untukmu. Tapi masihkah engkau juga menginginkannya dan siapa yang akan menyiapkan makanan untukmu?” 

Air mata Syekh Abul Hasan Asy-Syadhili tak sanggup lagi dibendungnya saat mendengar rintihan anak wanita itu. Air matanya berderai dengan derasnya berjatuhan satu persatu ke pipinya. Ia langsung menampakkan diri dari tempat persembunyiannya. 

“Janganlah engkau mengucapkan kata-kata seperti itu, Nak!” hibur Syekh Abul Hasan Asy-Syadhili sambil mengusap rambut wanita kecil itu. 

“Namun katakanlah, “Wahai bapak, kemarin kami masih menghadapkan wajahmu ke arah kiblat. Lalu masihkah kini wajahmu menghadap ke kiblat ataukah telah berpaling darinya? Wahai bapak, saat kami menaruhkanmu di kubur, tubuhmu masih tampak utuh. Tapi masihkah sekarang keadaanmu seperti itu ataukah sudah habis dimakan ulat?” 

“Ucapkan pula, Nak! Para ulama telah mengatakan bahwa seseorang yang sudah mati itu pasti akan ditanyai tentang keimanannya. Di antara mereka ada bisa menjawab dengan benar tapi ada juga yang tidak bisa menjawabnya sama sekali. Adakah bapak termasuk di antara mereka yang bisa menjawabnya?” 

“Mereka juga menjelaskan bahwa sebagian jenazah itu ada yang dijepit oleh liang kuburnya sendiri hingga tulang rusuknya hancur berantakan, tapi adakalanya pula yang merasa liang kuburnya tersebut sangat luas sekali. Lalu bagaimana dengan keadaan kubur bapak sekarang ini?” 

“Begitu juga ada keterangan yang menyebutkan bahwa kubur itu acapkali diganti dengan taman-taman surga, tapi adakalanya pula yang diubah menjadi jurang neraka. Lalu bagaimana dengan kubur bapak sekarang? Demikian pula ada yang menerangkan bahwa sebagian kafan itu kelak akan digantikan dengan kafan surga dan adakalanya pula yang diganti dari kafan neraka. Lantas dengan apakah kafan bapak digantikan?” 

“Keterangan lain yang dikatakan oleh para ulama adalah bahwa kubur itu acapkali memeluk penghuninya sebagimana seorang ibu yang memeluk anaknya dengan penuh kasih sayang. Tapi adakalanya pula yang mendapatkan marah dari kuburnya hingga menjepit sampai tulang belulangnya berserakan. Adakah kubur bapak sekarang marah ataukah sebaliknya memeluk bapak dengan kasih sayang?” 

“Demikian juga bahwa para ulama telah menjelaskan, ketika seseorang telah memasuki kuburnya, maka bila dia sebagai orang yang bertakwa, ia akan menyesal karena merasa ketakwaannya belumlah seberapa. Begitu juga dengan orang yang durhaka. Mereka akan menyesal karena semasa hidupnya tidak mau berbuat kebajikan. Lantas apakah bapak tergolong mereka yang menyesal karena tidak pernah berbuat kebajikan ataukah mereka yang menyesal karena merasa ketakwaannya belumlah seberapa?” 

“Wahai bapak, cukup lama aku memanggilmu! Tapi mengapa engkau tidak menjawab sedikit pun panggilanku. Ya Allah, janganlah kiranya Engkau menghalangi pertemuanku kelak di akhirat dengannya!”.

Usai Syekh Abul Hasan Asy-Syadhili mengajari seperti itu, anak kecil tersebut menolehkan kepalanya seraya berkata, 

“Kalimat-kalimat yang engkau ajarkan itu sungguh menyejukkan hatiku. Sehingga hatiku sekarang merasa lebih tentram dan memalingkan aku dari kelalaian.” 

Melihat anak wanita itu sudah tenang hatinya, segera saja Syekh Abul Hasan Asy-Syadhili mengantarnya pulang. 

Mudah-mudahan bermanfaat sebagai bahan renungan buat kita bersama. Silahkan sebarkan artikel ini, semoga kita termasuk dari salah satu golongan yang Allah kehendaki sebagai penyebar hikmah kepada muslim lainnya. Amin


Posted By Kang Santri4:05:00 PM

Tuesday, July 3, 2012

Prahara Pemuda Miskin

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Bukannya ia sudah tidak lagi mempunyai harapan, melainkan ia hanya sadar diri dengan kenyataan hidup yang harus dijalani. Terkadang ia harus menahan luapan jiwa mudanya yang menggelora menyumpal setiap keinginan sebagaimana layaknya pemuda-pemuda lain. Miskin harta dan bersahaja merupakan potret gambaran yang dimilikinya. 

Kadang ia ingin berteriak lantang diatas bukit sembari berkata, "Tuhan... Kalau memang sudah menjadi garis kehidupanku seperti ini, aku mohon hilangkanlah setiap keinginan hati yang tak mampu aku penuhi..".

Meski sering terlihat tabah tapi sebenarnya ia amat rapuh,  mungkin disini sifat fitrahnya sebagai pemuda dimana pastilah memiliki cita dan harapan.

Dulu dia pernah jatuh hati pada seorang akhwat, hingga saking takutnya seakan 10 detik pun dia tidak berani memandangnya karena ia sadar bahwa itu hanya akan membuatnya tersiksa. Hatinya masih erat dalam belenggu kemiskinan harta hingga untuk mengenal wanita saja ia harus mikir sampa seribu kali. 

Mungkin kata yang tepat untuk menggambarkannya adalah "tampaknya pemuda miskin tadi takut untuk jatuh cinta". Meski tidak sepenuhnya benar. Karena bagaimanapun juga ia adalah seorang pemuda yang bisa dikatakan cukup tampan dan santun yang pastinya jiwa asmara dalam hatinya selalu membara.

Ada yang unik dari pemuda ini, disaat kebanyakan pemuda ingin mencari sosok wanita yang kaya, cantik dan lain sebagainya, justeru itu adalah hal yang paling ditakutinya. Pernah kejadian yang membuatnya begitu merana.

Suatu saat, tanpa disengaja ia berpasasan dijalan dengan seorang akhwat yang begitu cantik dengan balutan pakaian mahal dan kendaraan mewah. Kelihatannya pemuda dan akhwat tadi tanpa disengaja saling bertemu pandang, dalam hatinya "subhanallah.... anggun sekali akhwat itu." hingga lamunannya buyar setelah mendapati akhwat itu pergi dengan mobil mewahnya.

Mulai hari itu, pikirannya terus terusik bayangan wajah akhwat yang ia temui tempo hari. Seakan nuraninya berkata "heiii... tidak pantas kamu ngebayangin akhwat tadi". Seakan ia mendapat teguran keras dalam hatinya yang menyuruh untuk menghilangkan perasaan yang tengah membuncah.

"apakah aku tidak pantas untuk mencintai salah satu mahlukMu ya Allah... Kalau memang ada salah satu mahlukMu yang setara dengan kelemahanku, pertemukanlah aku dengannya...Andai memang tiada pantas bagiku untuk mendapatkan satu cinta dari mahlukMu yang bernama wanita, tuntunlah aku untuk menjaga hati dan pandangan dari ketidak mampuan ini".", sehabis shalat isyak ia pun asyik mencurahkan hatinya kepada Sang Khaliq.

Hingga akhirnya pemuda tadi pun berkata pada dirinya "There Is No Time For Love"


[Inspirasi dari kisah nyata kehidupan]

Posted By Kang Santri11:17:00 AM

Sunday, July 1, 2012

Tak Selembut Sangka Ku (Cerbung Bag. 2)

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - [Ya Allah... sungguh benar-benar aku tak tega melihatnya meneteskan airmata dihadapanku. Aku hanya meninggalkan pesan terahir saat pertemuan itu, "Hasna, kamu jangan terlalu kecewa ya, jodoh itu rahasia Allah. Tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti Allah menganugerahkan rasa yang berbeda". Saya berusaha melapangkan hati Hasna'.]

Saat itu Hasna' hanya diam seribu bahasa entah apa yang ada dalam pikirannya. Langkah kakiku serasa berat meninggalkan Hasna', rasa bersalah pastilah ada dan menumpuk dalam hatiku.

***

Siang itu bunyi sms membangunkan bangun dari tidur qailulah, "emm.. sepertinya ada yang salah kirim pesan, tapi bagus juga kata-katanya", bisikku dalam hati.

"maaf ya... sepertinya anda salah kirim pesan", balasku.

Tak tahunya yang punya pesan nyasar tadi malah calling,

"assalamu'alaikum...",

"wa'alaikumussalam..", loh kok suara cewek.

Kalau dilihat dari gaya bahasanya sepertinya dia termasuk 'anak gaul' yang sangat berbeda sekali denganku. Saya pun menimpali percakapan seperlunya, tapi cewek itu emang pinter membuat topik pembicaraan, hingga akhirnya kita pun berkenalan. Diana itulah nama dari cewek itu.

Ahirnya kami pun akrab meski hanya bersahabat melalui handphone, karena rupanya Diana penasaran juga dan ingin mengenal lebih jauh tentangku. Saya jarang menghubunginya lebih dulu karena jarang punya pulsa hehe, ya maklum aja karena saat itu saya belum bekerja, habis menyelesaikan pendidikanku dipesantren. Sedangkan Diana sepertinya dari keluarga yang berada.

Pernah saya tanya dengan basa-basi "eh.. kamu sehari bisa habis pulsa berapa?". 

"nggak tahu, gak pernah ngitung sih. Ya pokoknya tiap aku calling kamu habis pulsa sekitar 25ribuan lah". dalam hati saya "weleh... kalau aku sih 25rb bisa buat 2 minggu".

Sejak perkenalan saya dengan Diana, saya tidak mempunyai perasaan apa-apa semua murni saya jalani dengan harapan kehadiran saya bisa membawa manfaat untuk Diana terutama dalam hal agama.

Hingga suatu saat,

"As'ad.. kita ketemuan yuk, aku penasaran ingin lihat kamu", ajak Diana.

"waduuh... ketemuan??" jawabku agak grogi.

"iya... ketemuan, please mahu yaa...",

"ee.. ee.. anu.. Diana, maaf bukannya aku gak mahu nurutin keinginan kamu tapiii...",

"tapi kenapa? pokoknya kamu harus mahu ya...", desak Diana

Akupun tidak bisa menolak keinginan Diana, hawatir kalau dia kecewa. Sejak kejadian beberapa bulan yang lalu dengan Hasna' dalam hati saya berjanji akan lebih hati-hati lagi terhadap perempuan karena perasaan sudah mengecewakan hatinya masih menempel dihatiku, dan saya tidak ingin kejadian seperti itu terulang lagi.

Saya dan Diana pun ketemuan ditempat yang telah dijanjikan, kesan pertama lihat Diana di dunia nyata lumanyan ngagetin juga. Dia belum menggunakan jibab dan memakai celana ketat sebatas lutut, agak risih juga sebenarnya diriku. Kita tidak berdua, saya mengajak salah seorang teman dan diapun begitu. Karena memang itu syarat yang aku ajukan keadanya kalau ingin bertemu.

Setelah pertemuan itu, 

"kamu kecewa nggak melihatku...", isi sms dari Diana

"ya enggak lah... masak kecewa melihat perempuan secantik dirimu" balasku, rupanya naluri lelakiku tidak bisa tertahan ingin memujinya.

"ahaha... hayooo, kamu mulai ngerayu aku kan?",

***

Siapakah Diana itu? Setelah aku mengenalnya rada lumayan jauh ada sesuatu yang membuat ku tertarik bukan hanya suaranya yang halus dan lembut melainkan selain dia juga cantik, rupanya dia tertarik ingin mempelajari agama lebih jauh setelah mengenalku. Tanpa disadari akupun menaruh kekaguman tersendiri dengan sosok Diana.

Entah apa penilaian Diana tentangku, karena saya tidak pernah menanyakan. Hanya yang aku ingat dia pernah bilang "kenapa ya... setelah aku mengenalmu hidupku terasa nyaman aja...".

Hingga tak jarang aku pun merasa, "apakah selama ini dia yang aku cari?". Saya mempunyai prinsip salah satunya, 'aku tidak akan mempermasalahkan apakah calon istriku nanti orang yang pandai ilmu agama atau tidak, aku tidak akan mempermasalahkan apakah calon istriku nanti  sudah mengenakan jilbab atau belum, aku hanya akan menilai dari hati dan sifatnya. Lembut, penuh kasih sayang kepada sesama, dan yang terpenting adalah bukan seorang wanita yang materealistis terhadap dunia karena itu adalah sifat yang paling tidak aku sukai dari seorang wanita.

bersambung....
_____________



Posted By Kang Santri2:52:00 PM

Saturday, June 30, 2012

Tak Selembut Sangka Ku (Cerbung Bag. 1)

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Sebut saja namaku As'ad, alhamdulillah dua bulan lagi usiaku memasuki umur 25 tahun. Mungkin bisa dikatakan kalau saya termasuk sosok pemuda yang rada pendiam dan tidak suka sok akrab dengan seseorang yang baru ku kenal. Entah kenapa tiba-tiba ada sesuatu yang mengusik hatiku,

"bukankah Rasulullah menikah pada usia 25 tahun?", tanyaku dalam hati. "Loh kok aku jadi kepikiran nikah ya?".

Mungkin sudah menjadi sebuah kodrat yang lumrah, kalau rasa ingin mencari serta memilih siapa kira-kira yang terbaik untuk menjadi pendamping hidupku nanti mulai membuat diriku sibuk mencari, ya meski saya tahu bahwa jodohku sudah ditetapkan olehNya.

Seperti yang saya bilang tadi, ternyata sifat pendiamku menyulitkanku "bagaimana cara terbaik untuk memulai ta'aruf pada seorang gadis?".

Hingga tak jarang banyak akhwat yang memberi stempel kepadaku sebagai pemuda yang sombong dan sok suci. Yaach... apa mahu dikata namanya juga pemalu, bagaimana bisa care sama akhwat.

Masih teringat jelas peristiwa kemarin,

"ziaah.. aku ditegur habis-habisan sama seorang akhwat". Seakan sulit lepas perkataannya dalam gendang telingaku,

"kamu itu gimana sih, jadi cowok gak peka banget ama cewek. Kasihan tuh Hasna' ampe nangis-nangis gara-gara mikirin kamu". Teguran salah seorang akhwat. Tentu saja saya melakukukan pembelaan,

"emangnya kenapa ama Hasna'? perasaan, saya tidak pernah berbuat salah ama Hasna'?". Tanyaku keheranan.

"Hasna' itu udah lama menaruh hati ama kamu As'ad..!! masak gak ngerti sih?",

"yaaa... emang aku gak tahu", jawabku sambil sedikit melongo.

"Oke... sekarang kamu sudah tahu kan? terus gimana dengan perasaan kamu?" tanya akhwat tadi mendesak, sambil memberi penegasan "As'ad... Hasna' akan terus nunggu kamu..!".

Lama aku shalat istikharah tentang Hasna', hingga aku mengambil sebuah kesimpulan, "mungkin dia bukan jodohku".

Ingin rasa aku membalas cintanya tapi sayang aku tak bisa. Lama juga aku belajar untuk mencintainya tapi sayang, aku masih belum bisa. Kadang aku heran sendiri kenapa aku tidak bisa mencintainya. Pinter iya, cantik iya, lembut iya, sifat keibuan juga iya... kurang apalagi coba?

Hingga aku memberanikan diri untuk memberikan jawaban kepada Hasna',

"maaf Hasna'... aku sudah berusaha untuk membalas cintamu tapi aku masih belum bisa".

Ya Allah... sungguh benar-benar aku tak tega melihatnya meneteskan airmata dihadapanku. Aku hanya meninggalkan pesan terahir saat pertemuan itu, "Hasna, kamu jangan terlalu kecewa ya, jodoh itu rahasia Allah. Tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti Allah menganugerahkan rasa yang berbeda". Saya berusaha melapangkan hati Hasna'.


bersambung....
_____________


Posted By Kang Santri9:13:00 PM

Friday, June 29, 2012

Dekapan Dzikir

Murtakibudz Dzunub - Aku ingin seperti jaring laba-laba 
Tanpa rasa hawatir gagal si empunya begitu piawai menyusunnya menjadi rumah dan pengumpul nafkah
Aku ingin seperti sangkar burung
Dari potongan sisa-sisa ranting patah oleh si empunya mampu tersusun menjadi tempat perlindungan yang nyaman dan indah
Karena aku terlalu khawatir dengan skema hidup yang sudah jadi
Karena aku terlalu bodoh untuk memanfaatkan sisa-sisa kepayahanku menjaga iman

Jiwaku berkarat
Hatiku berlumut
Sedang keimananku kian kusut

Aku sering menasehati hati saat sukmaku kemarau
Aku sering membisiki hati agar senantiasa sejuk seperti surau
Aku sering menasehati hati bahwa dzikir adalah penentram tatkala hati tengah berjibaku mencari kedamaian

Berkali-kali aku temukan alasan tentang dzikirku untuk apa
Sering aku terjebak oleh iming-iming "jika aku membaca ini, maka aku akan mendapatkan ini"
Meskipun pada kenyataannya itu tidaklah salah
Tapi untuk malam ini, ia aku anggap salah

Sebab aku tidak pernah menemukan kenikmatan yang sejati dalam dzikir yang seperti itu
Pernah seakan aku ingin memprotes Tuhan karena laku dzikirku
Pernah aku kecewa akan amalanku yang belum membuahkan hasil
Tapi sekali lagi aku katakan bahwa "niatku yang seperti itu adalah salah"

Aku ingin masuk dan tertidur lelap dalam buaian dzikirku
Sungguh dan sungguh aku ingin mampu menangis saat aku menyebut namaMu
"Allaaaah.... aku mohon, anugerahkanlahlah rasa itu"

Hingga ahirnya aku sadar
Bahwa sesuatu itu akan amatlah indah dan megah saat aku tidak terlalu mengharapkan pamrih dalam dzikirku

Aku coba mulai dari awal lagi
Aku hanya ingin meniru Rasulullah saat ia mengagungkan namaNya
Aku hanya ingin meniru Rasulullah saat beliau menangis karena mengingat Tuhannya

Aku hanya ingin seperti Rasulullah...
Aku hanya ingin seperti Rasulullah...
Aku hanya ingin seperti Rasulullah...
Aku hanya ingin seperti Rasulullah...
Aku hanya ingin seperti Rasulullah...

Meski hanya beberapa persen dari  ahlak beliau


Posted By Kang Santri9:40:00 PM

Tuesday, June 19, 2012

Diam Dalam Pengasingan

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - DIAM. Tidak selamanya tidak berbuat apa-apa, karena dalam diam rotasi antara hati dan pikiran sedang mencoba mencari penyelarasan. Hingga tak jarang hati mengajukan pertanyaan kepada si empunya "apa sebenarnya yang saya rasakan?", "kenapa seolah aku tidak bisa berbuat apa-apa?", dan lain sebagainya hingga kita sendiri tidak tahu jawaban dari pertanyaan yang diajukan oleh hati.

Layaknya putaran roda pedati, tak mungkin selamanya ia terus berputar tanpa henti. Kadang ia harus diam sejenak untuk membersihkan sisa-sisa lumpur yang belepotan karena sebentar lagi ia akan melewati jalanan yang sangatlah bersih dan lurus.

Menyepilah dan menyendirilah dari hiruk pikuk kepenatan aktifitas dunia. Diamlah dan jangan berkata apa-apa, karena pada saat itu giliran kita membiarkan mata dan hati kita yang bicara. Diamlah dalam pengasingan hati dengan teman sebaya, supaya kita benar-benar faham akan ketiadaan kita dan ketiadaannya. 

Biarkan rotasi hati dan pikiran berjalan lambat, jangan dipaksakan untuk dipercepat karena itu hanya akan menambah mudharat. Semua sudah mempunyai porsi dan tanggung jawab masing-masing mari persilahkan kita bebaskan urat-urat yang sudah lama terkekang oleh kepenatan.

Karena (menurutku) ada kalanya diam dalam pengasingan itu menjadi keharusan.

Posted By Kang Santri7:44:00 PM

Monday, June 18, 2012

Sebuah Doa Yang Menyentuh Dari Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzili

Filled under: ,

Murtakibudz Dzunub - Berikut ini kami kutipkan sebuah do'a dari beliau Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzili. Dengan harapan mudah-mudahan doa beliau bisa menginspirasi kita dalam makrifat kepada Allah. Sehingga kita benar-benar tahu bahwa kita hanyalah seorang hamba yang tidak mampu berbuat apa tanpa anugerah pertolonganNya.

Dengan Menyebut Nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Semoga Allah memberi pertolongan kepada kami dan kamu pada apa yang Dia sukai dan Dia Ridhoi. Semoga Dia memilihkan untuk kami dan kamu apa yang Dia takdirkan dan Dia qodha’kan. Dan menjadikan kami dan kamu tergolong orang-orang yang menang di hari bertemu dengan-Nya.

Wahai Allah.....
Wafatkanlah kami sebagai orang muslim dan ikutkanlah kami bersama Muhammad dan golongannya atas Ridha dari-Mu dan mereka dengan iringan selamat dari rasa malu dan segan serta hina oleh sebab amal perbuatan yang campur aduk kami yang telah berlalu.

Wahai Allah.....
Maafkanlah kami dalam kebodohan kami, dan janganlah Engkau menuntut kami karena kelalaian kami terhadap-Mu, dan sebab kejelekan adab kami bersama-Mu dan bersama para malaikat pencatat yang mulia.

Wahai Allah....
Ampunilah dosa-dosa dan kelalaian kami, kebodohan kami terhadap nikmat-nikmat-Mu. Ampunilah kami yang sedikitnya rasa malu kami terhadap-Mu, dan sudilah kiranya Engkau menghadap kepada kami dengan Wajah-Mu, dan janganlah Engkau membiarkan kami difitnah oleh sesuatu dari makhluk-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Wahai Allah....
Ampunilah kami tentang apa yang sudah diketahui oleh manusia dari makhluk-makhluk-Mu dan ampunilah kami atas apa saja yang telah Engkau ketahui dan sudah ditulis oleh para malaikat-Mu, dan ampunilah kami atas apa yang telah kami ketahui dari diri kami sedangkan tidak seorangpun dari para makhluk-Mu yang mengetahui, dan ampunilah kami atas apa yang telah Engkau tentukan kepada kami dalam semua hukum-hukum-Mu, dan karuniakanlah kami kekayaan yang dengannya kami tidak lagi membutuhkan apa-apa dari semua makhluk-Mu dan disertai pula dengan terbukanya penutup antara kami dan antara-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Wahai Allah.....
Ampunilah kami dengan ampunan yang Engkau berikan kepada para kekasih-Mu yang tidak membiarkan sedikitpun keraguan dan tidak menyisakan bersamanya sesuatu celaan dan cercaan. Jadikanlah apa yang telah Engkau ketahui dalam diri kami dan dari diri kami sesuatu yang paling baik diketahui setelah dihapus dan ditetapkannya amal-amal. Sesungguhnya Ummul Kitab (Lauh Mahfudzh) ada di sisi-Mu.

Wahai Allah....
Ampunilah semua dosa-dosa kami baik yang kecil maupun yang besar, yang rahasia maupun yang nampak, yang pertama maupun yang terakhir. Dan ampunilah orang-orang yang kami cintai yang melakukan perjalanan jauh dari kami, perjalanan dunia maupun akhirat, jadikanlah gerak langkah mereka sebagaimana gerak langkah orang-orang yang taqwa dan kepulangan mereka sebagaimana kembalinya orang-orang yang memperoleh keuntungan. Dan Jadikanlah kita semua dengan Rahmat-Mu orang-orang yang diterima (permohonannya), sekalipun kami adalah orang-orang yang berjalan sombong, karena para penyanggah itu sesungguhnya bermurah hati meskipun mereka mengetahui, dan Engkau lebih utama terhadap yang demikian karena Engkau Maha Mulia dari siapapun pengasih. Segala Puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Tiada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.


Wahai Allah....
Janganlah Engkau pulangkan kami dengan hampa sedang kami penuh berharap kepada-Mu. Janganlah Engkau tolak kami sedang kami berdo’a kepada-Mu. Kami benar-benar memohon kepada-Mu sebagaimana telah Engkau perintahkan kepada kami, maka kabulkanlah permohonan kami sebagaimana telah Engkau janjikan kepada kami, dan janganlah Engkau jadikan kerendahan diri kami sesuatu yang tidak berarti bagi-Mu dan tidak diterima. Dan sebagaimana Engkau telah memudahkan kami untuk berdoa, maka mudahkan pula terkabulnya. Sengguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. 

Posted By Kang Santri8:06:00 PM

Friday, June 8, 2012

Kenangan Bersama Kalian

Murtakibudz Dzunub - Tepatnya malam jum'at tanggal 07/06/2012 pukul 08:35 wib, benar-benar kami cermati wajah dan tingkah polah kalian satu persatu hingga pikiran pun langsung flash back ke tahun 2003. Dimana waktu itu kalian masihlah amat kecil karena kalian baru masuk tahap pendidikan TKA/TPA atau pun MDA. Masih tergambar jelas kemanjaan kalian yang ingin diperhatikan, masih teringat jelas waktu kalian masih kesusahan mempelajari makhorijul huruf.

Tapi sekarang, kami terpesona memandang kalian yang makin tumbuh besar menjadi remaja. Begitu menikmati dan antusias kalian menabuh rebana plus dengan vokalnya. Begitu fasih membawakan nada dalam shalawat dan syair-syair pegon. 

Hingga tibalah giliran kami (giliranku .pen) menjalankan tugas, mengkaji kitab Riayatal Himmah yang membahas bab tentang hukum akal. Dengan diselingi canda ku ajak kalian kembali kemasa kalian kecil dulu, hingga terdengar riuh canda membayangkan kenakalan dan kepolosan kalian waktu itu.

Untuk kepandaian kalian dalam membaca qur'an mungkin sudah tidak kami ragukan, hanya satu yang kami hawatirkan "bagaimana ahlak kalian? karena kalian berada dalam fase zona hidup yang lebih banyak fitnah pergaulan dibanding dengan masa remaja kami dulu".

Mungkin saat ini kita diam, tapi sesungguhnya dari jauh kita mengamati pergaulan yang kalian lakukan. Kalau kalian pengen tahu, rasa kepedulian guru-guru yang pernah mengajar kalian sampai saat ini tidak pernah luntur. Kami sering berdialog membahas bagaimana cara untuk bisa mengarahkan dan membimbing kalian, tapi untuk sementara hanya ini yang bisa kami lakukan.

Semoga Allah menjaga masa remaja kalian dengan sebaik-baiknya penjagaan.

(didedikasikan untuk AMRI Cepokomulyo)

Posted By Kang Santri7:09:00 PM

Thursday, June 7, 2012

Kenapa Kalian Menangis

Filled under: ,

Murtakibudz Dzunub - Di Bashrah, ada seorang abid (ahli ibadah) yang rasa khaufnya keada Allah sangatlah tinggi, hingga hidupnya selalu didera dengan tangis. Tatkala ajal telah mendekatinya, seluruh keluarga berada disisinya.

Abid itu pun berkata kepada mereka, "dudukkanlah aku", maka merekapun mendudukkannya.

Ia menghadap kearah keluarganya dan bertanya, "wahai ayahku, apa yang membuatmu menangis?".

Sang ayah menjawab, "wahai anakku, aku terfikir kehilangan dirimu dan kesendirianku tanpamu".

Kemudian sang abid menghadap ibunya dan bertanya, "wahai ibu apa yang membuatmu menangis?".

Sang ibu menjawab, "karena aku harus meneguk pahitnya rasa seorang ibu yang kehilangan anaknya".

Kemudian ia berpaling kearah isterinya dan bertanya, "apa yang membuatmu menangis?".

Sang isteri menjawab, "karena aku tidak bisa lagi berbuat baik kepadamu dan aku akan membutuhkan orang selainmu".

Kemudian ia berpaling kearah anak-anaknya dan bertanya, "apa yang membuat kalian menangis?.

Mereka menjawab, "karena yatim dan lemah sepeninggalanmu".

Kemudian, saat itulah sang abid menatap mereka satu persatu kemudian menangis.

Merekapun bertanya, "apa yang membuatmu menangis?".

Ia menjawab, "aku menangis karena kalian menangis untuk diri kalian sendiri bukan untukku, adakah yang menangis karena jauhnya perjalananku? Adakah yang menangis karena sedikitnya amalku? Adakah yang menangis karena tempat tidurku diatas tanah? Adakah yang menangis karena pemberhentianku dihadapan Rabb semesta alam?".

Kemudia sang abid pun terjatuh. Keluarganya menggerakkannya tetapi ia telah meninggal.

***

Apa yang hati kita rasakan setelah membaca kisah ini? Mari belajar menemukan hikmah sesuai kadar ketajaman mata hati kita masing-masing. Maha Suci Engkau Wahai Allah.




Posted By Kang Santri5:47:00 PM

Tuesday, June 5, 2012

Kisah Nyata Yang Aneh: Pendeta Militan Itupun Masuk Islam

Filled under: ,

Murtakibudz Dzunub - Mungkin kisah ini terasa sangat aneh bagi mereka yang belum pernah bertemu dengan orangnya atau langsung melihat dan mendengar penuturannya. Kisah yang mungkin hanya terjadi dalam cerita fiktif, namun menjadi kenyataan. Hal itu tergambar dengan kata-kata yang diucapkan oleh si pemilik kisah yang sedang duduk di hadapanku mengisahkan tentang dirinya. Untuk mengetahui kisahnya lebih lanjut dan mengetahui kejadian-kejadian yang menarik secara komplit, biarkan aku menemanimu untuk bersama-sama menatap ke arah Johannesburg, kota bintang emas nan kaya di negara Afrika Selatan di mana aku pernah bertugas sebagai pimpinan cabang kantor Rabithah al-’Alam al-Islami di sana.

Pada tahun 1996, di sebuah negara yang sedang mengalami musim dingin, di siang hari yang mendung, diiringi hembusan angin dingin yang menusuk tulang, aku menunggu seseorang yang berjanji akan menemuiku. Istriku sudah mempersiapkan santapan siang untuk menjamu sang tamu yang terhormat. Orang yang aku tunggu dulunya adalah seorang yang mempunyai hubungan erat dengan Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela. Ia seorang misionaris penyebar dan pendakwah agama Nasrani. Ia seorang pendeta, namanya ‘Sily.’ Aku dapat bertemu dengannya melalui perantaraan sekretaris kantor Rabithah yang bernama Abdul Khaliq Matir, di mana ia mengabarkan kepada-ku bahwa seorang pendeta ingin datang ke kantor Rabithah hendak membicarakan perkara penting.

Tepat pada waktu yang telah dijanjikan, pendeta tersebut datang bersama temannya yang bernama Sulaiman. Sulaiman adalah salah seorang anggota sebuah sasana tinju setelah ia memeluk Islam, selepas bertanding dengan seorang petinju muslim terkenal, Muhammad Ali. Aku menyambut kedatangan mereka di kantorku dengan perasaan yang sangat gembira. Sily seorang yang berpostur tubuh pendek, berkulit sangat hitam dan mudah tersenyum. Ia duduk di depanku dan berbicara denganku dengan lemah lembut. Aku katakan, "Saudara Sily bolehkah kami mendengar kisah keislamanmu?" ia tersenyum dan berkata, "Ya, tentu saja boleh."

Pembaca yang mulia, dengar dan perhatikan apa yang telah ia ceritakan kepadaku, kemudian setelah itu, silahkan beri penilaian.!

Sily berkata, "Dulu aku seorang pendeta yang sangat militan. Aku berkhidmat untuk gereja dengan segala kesungguhan. Tidak hanya sampai di situ, aku juga salah seorang aktifis kristenisasi senior di Afrika Selatan. Karena aktifitasku yang besar maka Vatikan memilihku untuk menjalankan program kristenisasi yang mereka subsidi. Aku mengambil dana Vatikan yang sampai kepadaku untuk menjalankan program tersebut. Aku mempergunakan segala cara untuk mencapai targetku. Aku melakukan berbagai kunjungan rutin ke madrasah-madrasah, sekolah-sekolah yang terletak di kampung dan di daerah pedalaman. Aku memberikan dana tersebut dalam bentuk sumbangan, pemberian, sedekah dan hadiah agar dapat mencapai targetku yaitu memasukkan masyarakat ke dalam agama Kristen. Gereja melimpahkan dana tersebut kepadaku sehingga aku menjadi seorang hartawan, mempunyai rumah mewah, mobil dan gaji yang tinggi. Posisiku melejit di antara pendeta-pendeta lainnya. Pada suatu hari, aku pergi ke pusat pasar di kotaku untuk membeli beberapa hadiah. Di tempat itulah bermula sebuah perubahan!

Di pasar itu aku bertemu dengan seseorang yang memakai kopiah. Ia pedagang berbagai hadiah. Waktu itu aku mengenakan pakaian jubah pendeta berwarna putih yang merupakan ciri khas kami. Aku mulai menawar harga yang disebutkan si penjual. Dari sini aku mengetahui bahwa ia seorang muslim. Kami menyebutkan agama Islam yang ada di Afrika selatan dengan sebutan ‘agama orang Arab.’ Kami tidak menyebutnya dengan sebutan Islam. Aku pun membeli berbagai hadiah yang aku inginkan. Sulit bagi kami menjerat orang-orang yang lurus dan mereka yang konsiten dengan agamanya, sebagaimana yang telah berhasil kami tipu dan kami kristenkan dari kalangan orang-orang Islam yang miskin di Afrika Selatan.

Si penjual muslim itu bertanya kepadaku, "Bukankah anda seorang pendeta?" Aku jawab, "Benar." Lantas ia bertanya kepadaku, "Siapa Tuhanmu?" Aku katakan, "Al-Masih." Ia kembali berkata, "Aku menantangmu, coba datangkan satu ayat di dalam Injil yang menyebutkan bahwa al-Masih AS berkata, ‘Aku adalah Allah atau aku anak Allah. Maka sembahlah aku’." 

Ucapan muslim tersebut bagaikan petir yang menyambar kepalaku. Aku tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut. Aku berusaha membuka-buka kembali catatanku dan mencarinya di dalam kitab-kitab Injil dan kitab Kristen lainnya untuk menemukan jawaban yang jelas terhadap pertanyaan lelaki tersebut. Namun aku tidak menemukannya. Tidak ada satu ayat pun yang menceritakan bahwa al-Masih berkata bahwa ia adalah Allah atau anak Allah.

Lelaki itu telah menjatuhkan mentalku dan menyulitkanku. Aku ditimpa sebuah bencana yang membuat dadaku sempit. Bagaimana mungkin pertanyaan seperti ini tidak pernah terlintas olehku? Lalu aku tinggalkan lelaki itu sambil menundukkan wajah. Ketika itu aku sadar bahwa aku telah berjalan jauh tanpa arah. Aku terus berusaha mencari ayat-ayat seperti ini, walau bagaimanapun rumitnya. Namun aku tetap tidak mampu, aku telah kalah.

Aku pergi ke Dewan Gereja dan meminta kepada para anggota dewan agar berkumpul. Mereka menyepakatinya. Pada pertemuan tersebut aku mengabarkan kepada mereka tentang apa yang telah aku dengar. Tetapi mereka malah menyerangku dengan ucapan, "Kamu telah ditipu orang Arab. Ia hanya ingin meyesatkanmu dan memasukkan kamu ke dalam agama orang Arab." Aku katakan, "Kalau begitu, coba beri jawabannya!" Mereka membantah pertanyaan seperti itu namun tak seorang pun yang mampu memberikan jawaban.

Pada hari minggu, aku harus memberikan pidato dan pelajaranku di gereja. Aku berdiri di depan orang banyak untuk memberikan wejangan. Namun aku tidak sanggup melakukannya. Sementara para hadirin merasa aneh, karena aku berdiri di hadapan mereka tanpa mengucapkan sepatah katapun. Aku kembali masuk ke dalam gereja dan meminta kepada temanku agar ia menggantikan tempatku. Aku katakan bahwa aku sedang sakit. Padahal jiwaku hancur luluh.

Aku pulang ke rumah dalam keadaan bingung dan cemas. Lalu aku masuk dan duduk di sebuah ruangan kecil. Sambil menangis aku menengadahkan pandanganku ke langit seraya berdoa. Namun kepada siapa aku berdoa. Kemudian aku berdoa kepada Dzat yang aku yakini bahwa Dia adalah Allah Sang Maha Pencipta, "Ya Tuhanku… Wahai Dzat yang telah men-ciptakanku… sungguh telah tertutup semua pintu di hadapanku kecuali pintuMu… Janganlah Engkau halangi aku mengetahui kebenaran… manakah yang hak dan di manakah kebenaran? Ya Tuhanku… jangan Engkau biarkan aku dalam kebimbangan… tunjukkan kepadaku jalan yang hak dan bimbing aku ke jalan yang benar…" lantas akupun tertidur.

Di dalam tidur, aku melihat diriku sedang berada di sebuah ruangan yang sangat luas. Tidak ada seorang pun di dalamnya kecuali diriku. Tiba-tiba di tengah ruangan tersebut muncul seorang lelaki. Wajah orang itu tidak begitu jelas karena kilauan cahaya yang terpancar darinya dan dari sekelilingnya. Namun aku yakin bahwa cahaya tersebut muncul dari orang tersebut. Lelaki itu memberi isyarat kepadaku dan memanggil, "Wahai Ibrahim!" Aku menoleh ingin mengetahui siapa Ibrahim, namun aku tidak menjumpai siapa pun di ruangan itu. Lelaki itu berkata, "Kamu Ibrahim… kamulah yang bernama Ibrahim. Bukankah engkau yang memohon petunjuk kepada Allah?" Aku jawab, "Benar." Ia berkata, "Lihat ke sebelah kananmu!" Maka akupun menoleh ke kanan dan ternyata di sana ada sekelompok orang yang sedang memanggul barang-barang mereka dengan mengenakan pakaian putih dan bersorban putih. Ikutilah mereka agar engkau mengetahui kebenaran!" Lanjut lelaki itu.

Kemudian aku terbangun dari tidurku. Aku merasakan sebuah kegembiraan menyelimutiku. Namun aku belum juga memperoleh ketenangan ketika muncul pertanyaan, di mana gerangan kelompok yang aku lihat di dalam mimipiku itu berada.

Aku bertekad untuk melanjutkannya dengan berkelana mencari sebuah kebenaran, sebagaimana ciri-ciri yang telah diisyaratkan dalam mimpiku. Aku yakin ini semua merupakan petunjuk dari Allah SWT. Kemudian aku minta cuti kerja dan mulai melakukan perjalanan panjang yang memaksaku untuk berkeliling di beberapa kota mencari dan bertanya di mana orang-orang yang memakai pakaian dan sorban putih berada. Telah panjang perjalanan dan pencarianku. Setiap aku menjumpai kaum muslimin, mereka hanya memakai celana panjang dan kopiah. Hingga akhirnya aku sampai di kota Johannesburg.

Di sana aku mendatangi kantor penerima tamu milik Lembaga Muslim Afrika. Di rumah itu aku bertanya kepada pegawai penerima tamu tentang jamaah tersebut. Namun ia mengira bahwa aku seorang peminta-minta dan memberikan sejumlah uang. Aku katakan, "Bukan ini yang aku minta. Bukankah kalian mempunyai tempat ibadah yang dekat dari sini? Tolong tunjukkan masjid yang terdekat." Lalu aku mengikuti arahannya dan aku terkejut ketika melihat seorang lelaki berpakaian dan bersorban putih sedang berdiri di depan pintu.

Aku sangat girang, karena ciri-cirinya sama seperti yang aku lihat dalam mimpi. Dengan hati yang berbunga-bunga, aku mendekati orang tersebut. Sebelum aku mengatakan sepatah kata, ia terlebih dahulu berkata, "Selamat datang ya Ibrahim!" Aku terperanjat mendengarnya. Ia mengetahui namaku sebelum aku memperkenalkannya. 

Lantas ia melanjutkan ucapan-nya, "Aku melihatmu di dalam mimpi bahwa engkau sedang mencari-cari kami. Engkau hendak mencari kebenaran? Kebenaran ada pada agama yang diridhai Allah untuk hamba-Nya yaitu Islam." Aku katakan, "Benar. Aku sedang mencari kebenaran yang telah ditunjukkan oleh lelaki bercahaya dalam mimpiku, agar aku mengikuti sekelompok orang yang berpakaian seperti busana yang engkau kenakan. Tahukah kamu siapa lelaki yang aku lihat dalam mimpiku itu?" Ia menjawab, "Dia adalah Nabi kami Muhammad, Nabi agama Islam yang benar, Rasulullah SAW." Sulit bagiku untuk mempercayai apa yang terjadi pada diriku. Namun langsung saja aku peluk dia dan aku katakan kepadanya, "Benarkah lelaki itu Rasul dan Nabi kalian yang datang menunjukiku agama yang benar?" Ia berkata, "Benar."

Ia lalu menyambut kedatanganku dan memberikan ucapan selamat karena Allah telah memberiku hidayah kebenaran. Kemudian datang waktu shalat zhuhur. Ia mempersilahkanku duduk di tempat paling belakang dalam masjid dan ia pergi untuk melaksanakan shalat bersama jamaah yang lain. Aku memperhatikan kaum muslimin banyak memakai pakaian seperti yang dipakainya. Aku melihat mereka rukuk dan sujud kepada Allah. Aku berkata dalam hati, "Demi Allah, inilah agama yang benar. Aku telah membaca dalam berbagai kitab bahwa para nabi dan rasul meletakkan dahinya di atas tanah sujud kepada Allah." 

Setelah mereka shalat, jiwaku mulai merasa tenang dengan fenomena yang aku lihat. Aku berucap dalam hati, "Demi Allah sesungguhnya Allah SAW telah menunjukkan kepadaku agama yang benar." Seorang muslim memanggilku agar aku mengumumkan keislamanku. Lalu aku mengucapkan dua kalimat syahadat dan aku menangis sejadi-jadinya karena gembira telah mendapat hidayah dari Allah SWT.

Kemudian aku tinggal bersamanya untuk mempelajari Islam dan aku pergi bersama mereka untuk melakukan safari dakwah dalam waktu beberapa lama. Mereka mengunjungi semua tempat, mengajak manusia kepada agama Islam. Aku sangat gembira ikut bersama mereka. Aku dapat belajar shalat, puasa, tahajjud, doa, kejujuran dan amanah dari mereka. Aku juga belajar dari mereka bahwa seorang muslim diperintahkan untuk menyampaikan agama Allah dan bagaimana menjadi seorang muslim yang mengajak kepada jalan Allah serta berdakwah dengan hikmah, sabar, tenang, rela berkorban dan berwajah ceria.

Setelah beberapa bulan kemudian, aku kembali ke kotaku. Ternyata keluarga dan teman-temanku sedang mencari-cariku. Namun ketika melihat aku kembali memakai pakaian Islami, mereka mengingkarinya dan Dewan Gereja meminta kepadaku agar diadakan sidang darurat.

Pada pertemuan itu mereka mencelaku karena aku telah meninggalkan agama keluarga dan nenek moyang kami. Mereka berkata kepadaku, "Sungguh kamu telah tersesat dan tertipu dengan agama orang Arab." Aku katakan, "Tidak ada seorang pun yang telah menipu dan menyesatkanku. Sesungguhnya Rasulullah Muhammad SAW datang kepadaku dalam mimpi untuk menunjukkan kebenaran dan agama yang benar yaitu agama Islam. Bukan agama orang Arab sebagaimana yang kalian katakan. Aku mengajak kalian kepada jalan yang benar dan memeluk Islam." Mereka semua terdiam.

Kemudian mereka mencoba cara lain, yaitu membujukku dengan memberikan harta, kekuasaan dan pangkat. Mereka berkata, "Sesungguhnya Vatikan memintamu untuk tinggal bersama mereka selama enam bulan untuk menyerahkan uang panjar pembelian rumah dan mobil baru untukmu serta memberimu kenaikan gaji dan pangkat tertinggi di gereja."

Semua tawaran tersebut aku tolak dan aku katakan kepada mereka, "Apakah kalian akan menyesatkanku setelah Allah memberiku hidayah? Demi Allah aku takkan pernah melakukannya walaupun kalian memenggal leherku." Kemudian aku menasehati mereka dan kembali mengajak mereka ke agama Islam. Maka masuk Islamlah dua orang dari kalangan pendeta.

Alhamdulillah, Setelah melihat tekadku tersebut, mereka menarik semua derajat dan pangkatku. Aku merasa senang dengan itu semua, bahkan tadinya aku ingin agar penarikan itu segera dilakukan. Kemudian aku mengembalikan semua harta dan tugasku kepada mereka dan akupun pergi meninggalkan mereka,” Sily mengakhiri kisahnya.

Kisah masuk Islam Ibrahim Sily yang ia ceritakan sendiri kepadaku di kantorku, disaksikan oleh Abdul Khaliq sekretaris kantor Rabithah Afrika dan dua orang lainnya. Pendeta sily sekarang dipanggil dengan Da’i Ibrahim Sily berasal dari kabilah Kuza Afrika Selatan. Aku mengundang pendeta Ibrahim -maaf- Da’i Ibrahim Sily makan siang di rumahku dan aku laksanakan apa yang diwajibkan dalam agamaku yaitu memuliakannya, kemudian ia pun pamit. Setelah pertemuan itu aku pergi ke Makkah al-Mukarramah untuk melaksanakan suatu tugas. Waktu itu kami sudah mendekati persiapan seminar Ilmu Syar’i I yang akan diadakan di kota Cape Town. Lalu aku kembali ke Afrika Selatan tepatnya ke kota Cape Town.

Ketika aku berada di kantor yang telah disiapkan untuk kami di Ma’had Arqam, Dai Ibrahim Sily mendatangiku. Aku langsung mengenalnya dan aku ucapkan salam untuknya dan bertanya, "Apa yang kamu lakukan disini wahai Ibrahim.?" Ia menjawab, "Aku sedang mengunjungi tempat-tempat di Afrika Selatan untuk berdakwah kepada Allah. Aku ingin mengeluarkan masyarakat negeriku dari api neraka, mengeluarkan mereka dari jalan yang gelap ke jalan yang terang dengan memasukkan mereka ke dalam agama Islam."

Setelah Ibrahim selesai mengisahkan kepada kami bahwa perhatiannya sekarang hanya tertumpah untuk dakwah kepada agama Allah, ia meninggalkan kami menuju suatu daerah… medan dakwah yang penuh dengan pengorbanan di jalan Allah. Aku perhatikan wajahnya berubah dan pakaiannya bersinar. Aku heran ia tidak meminta bantuan dan tidak menjulurkan tangannya meminta sumbangan. Aku merasakan ada yang mengalir di pipiku yang membangkitkan perasaan aneh. Perasaan ini seakan-akan berbicara kepadaku, "Kalian manusia yang mempermainkan dakwah, tidakkah kalian perhatikan para mujahid di jalan Allah!"

Benar wahai sudaraku. Kami telah tertinggal… kami berjalan lamban… kami telah tertipu dengan kehidupan dunia, sementara orang-orang yang seperti Da’i Ibrahim Sily, Da’i berbangsa Spanyol Ahmad Sa’id berkorban, berjihad dan bertempur demi menyampaikan agama ini. Ya Rabb rahmatilah kami.

SUMBER: SERIAL KISAH TELADAN karya Muhammad Shalih al-Qaththani, seperti yang dinukilnya dari tulisan Dr. Abdul Aziz Ahmad Sarhan, Dekan fakultas Tarbiyah di Makkah al-Mukarramah, dengan sedikit perubahan. PENERBIT DARUL HAQ, TELP.021-4701616.(http://hanafishahdan.blogsome.com)


Posted By Kang Santri6:18:00 PM