Tuesday, March 27, 2012

Perjalanan Menemukan Dzikir

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Perjalanan menemukan sebuah dzikir, tak ubahnya kita menemukan sebuah ketenangan bathiniyyah, yang mana tiap individu seorang muslim akan medapati sebuah jalan yang tidak sama dengan muslim lainnya. Tentunya hal ini terjadi karena tingkat rasa penerimaan dan keihlasan muslim yang berbeda-beda.

Seperti halnya saat kita sakit, kita akan meminum obat yang sama seperti kebanyakan orang. Dan bisa kita jumpai ada yang langsung sembuh, tidak ada reaksi apa-apa, atau bahkan sakitnya tambah parah. Kenapa hal yang demikian bisa terjadi? karena daya ketahanan tubuh kita yang berbeda-beda.

Begitu juga dengan dzikir, seperti yang sudah Allah tuturkan dalam ayat berikut,

  الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram." (QS. Ar Ra'd : 28)

Yang menjadi pertanyaan adalah kenapa saat kita berdzikir kita tidak menemukan ketenangan? bahkan terasa biasa-biasa saja seolah tidak ada hal yang istimewa? Padahal lafadz dzikir yang kita baca adalah dzikir yang sama? 

Jawabannya hampir sama seperti ilustrasi diatas, yakni karena kadar keimanan dan tingkat kepasrahan juga keihlasan kita yang berbeda.

Ikhtiar Mendapat Kenikmatan Dzikir 

Sebelumnya yang harus kita tanamkan dalam hati adalah 'semua yang menggerakkan hati kita, apa yang tersirat dalam hati, pikiran, semua adalah Allah yang menggerakkan, kita masih diberi karunia bisa mengingatnya juga atas anugerah dariNya'.


Kemudian, belajar memasrahkan segenap jiwa raga (dengan segala kedhoifan kita) menuju pada pada satu Dzat penggenggam kehidupan. Membayangkan dosa sekecil apapun yang kita lakukan pasti tidak akan pernah luput dari yang namanya hisab. Merasakan pergerakan aliran darah dan desahan nafas sambil mencoba menghadirkan 'Allah' benar-benar mengawasi kita saat ini. Kemudian pilih dzikir yang sudah kita fahami makna yang terkandung dikebesaran dalam kalimahnya, seperti lafadz "HASBUNALLAH WANI'MAL WAKIL, NI'MAL MAULA WA NI'MAN NASHIR".


Merasakan nikmat dzikir menurut pengalaman saya pribadi seperti halnya saat kita 'reflek', artinya kita tidak mengetahui awal mula datangnya rasa itu. Seperti halnya saat kita larut dalam keharuan dan tangis, karena semua kejadian itu tidak bisa kita dramatisir. Karena rasa penuh pasrah dalam jiwa kehambaan yang berhasil membawa kemomen sakral seperti itu. Inilah salah satu kekuatan dzikir yang bisa meremuk redam segala sifat angkuh seorang hamba.

Teringat sebuah kisah, Saat orang kafir ingin membunuh Rasulullah dengan pedangnya, "hai Muhammad, sekarang siapa yang bisa menolongmu?', kemudian Rasulullah hanya menjawab "Allah..." langsung seketika itu juga tangan sang kafir gemetar hingga pedangnya terjatuh.

Dari kisah ini, Rasulullah ingin memberi tauladan buat kita, bahwa rasa kepasrahan dalam berdzikir yakni hanya dengan menyebut asma 'Allah' saja sudah membuat sang kafir lemah tidak berdaya. Inilah salah satu contoh kekuatan jiwa dalam dzikir yang sudah Rasulullah ajarkan pada ummatnya.

Dzikir Yang Ideal

Kemudian dzikir yang idel itu seperti apa? Karena sering kita terjebak dengan bacaan dzikir yang panjang dan melelahkan hingga berakibat melenceng dari maksud dari dzikir itu sendiri.

Biasanya himmah kita dalam mencari dzkir (berdzikir) saat kita dihadapkan pada keadaan jiwa terlemah (karena biasanya pada saat itu kita sudah tidak bisa melakukan apa-apa dalam memecahkan kesulitan hidup.)


Hingga tak jarang kita mencari dzikir atau do'a-do'a yang instan supaya kita cepat terbebas dari permasalahan dunia. Tentu saja cara ini kurang arif untuk kita lakukan, karena sejatinya Rasulullah sendiri sudah mengajarkan kepada kita dengan hidzib-hidzib (dzikir) dari kita mulai bangun tidur hingga tidur lagi [baca: Adzkar An-Nawawi]

لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ العَظيمُ الْحَليمُ, لاَ اله الا اللهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ, لا اله الا اللهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ, رَبُّ العَرْشِ الْكَرِيْمِ.

يَاحَيُّ يَاقَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ, لا اله الا اللهُ الْكَرِيْمُ الْعَظِيْمُ,

سُبْحَانَهُ تَبَارَكَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ, اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ أَسْتَغِيْث.

لا اله اِلاَّ اَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ.


Do'a ini bisa kita amalkan secara istiqomah (terus-menerus) tanpa kita menunggu Allah menguji kita lagi dengan kesusahan. Insya Allah dengan sendirinya kita akan menemukan dzikir atau do'a yang benar-benar bisa meresap kedalam hati.  Dengan melatihnya dengan kesungguhan dan pemusatan pikiran yang sepenuhnya menuju Allah.

Itulah kenapa saat kita lupa berdzikir (yang sudah istiqomah) kita masih disunahkan untuk meng-qadha (mengulanginya lagi).

Jadikan dzikir sebagai gaya hidup seorang muslim, untuk mendapat ketenangan bathiniyyah sebagaimana Rasulullah bersabda bahwa "do'a adalah senjatanya orang mukmin".


Wallahua'lam

Posted By Kang Santri11:54:00 AM

Monday, March 26, 2012

Kehidupan Memang Seperti Ini

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - "Guru, saya pernah mendengar kisah seorang arif yang pergi jauh dengan berjalan kaki. Cuma yang aneh, setiap ada jalan menurun, sang arif konon agak murung. Tetapi kalau jalan sedang mendaki ia tersenyum. Hikmah apakah yang bisa saya petik dari kisah ini?"

"Itu perlambang manusia yang telah matang dalam meresapi asam garam kehidupan. Itu perlu kita jadikan cermin. Ketika bernasib baik. sesekali perlu kita sadari bahwa satu ketika kita akan mengalami nasib buruk yang tidak kita harapkan. Dengan demikian kita tidak terlalu bergembira sampai lupa bersyukur kepada Sang Maha Pencipta. Ketika nasib sedang buruk, kita memandang masa depan dengan tersenyum optimis. Optimis saja tidak cukup, kita harus mengimbangi optimisme itu dengan kerja keras."

"Apa alasan saya untuk optimis, sedang saya sadar nasib saya sedang jatuh dan berada dibawah."

"Alasannya ialah iman, karena kita yakin akan pertolongan Sang Maha Pencipta."

"Hikmah selanjutnya?"

"Orang yang terkenal satu ketika harus siap untuk dilupakan, orang yang diatas harus siap mental untuk turun kebawah. Orang kaya satu ketika harus siap untuk miskin."

--------

Saudaraku, satu hal yang pasti saat kita di hadapkan pada kenyataan yang terasa amat berat untuk kita lalui mungkin kita sering merasa pesimis untuk bisa bangkit menuju taraf kehidupan yang lebih baik. Kenapa hal itu bisa terjadi? Adalah karena kelemahan iman kita sendiri yang membuat luntur keyakinan akan kasih sayang Allah.

Banyak dari kita yang salah menafsirkan tentang kasih sayang Allah, seolah kalau semua keinginan kita dituruti itulah tandanya Allah sayang pada kita, padahal tidak demikian. 

Coba kita lihat seorang anak kecil yang merengek minta dibelikan petasan oleh kedua orang tuanya, pasti saat itu sang anak menganggap bahwa hal yang paling membahagiakannya adalah saat orang tuanya menuruti keinginannya, sang anak tidak paham kenapa sampai kedua orang tuanya bersikeras tidak memenuhi permintaannya. Inilah salah satu contoh kasih sayang yang ingin diperlihatkan kepada anaknya demi menjaga keselamatannya.

Begitu juga dengan kasih sayang Allah. Karena Allah lah yang lebih tahu untuk kebaikan mahluk-mahlukNya. Seperti yang terkandung dalam makna 'Basmalah' bahwa Allah adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada hamba-hambanya. Tak ada perwujudan kasih sayang yang bisa menandingi kasih sayangNya.

Anggap lah saat kita berada pada situasi apapun, semua karena perwujudan dari kasih sayang Allah. Saat kita sedang berada diatas, pun juga saat kita sedang terpuruk dibawah. Karena sejatinya di saat-saat seperti itulah keimanan kita sedang dipertanyakan atau di uji oleh Allah. Apakah makin menguat atau semakin lembek.

Wallahua'lam



Posted By Kang Santri10:36:00 PM

Sunday, March 25, 2012

Insan Dho'if

Murtakibudz Dzunub - "Andai saja mampu, aku ingin memejamkan kedua mataku saat menulis coretan ini, karena aku hanya menulis tentang apa yang ingin hatiku tulis."

Allahu Robii.... Inni dlo'ifun
(Allah Engkau Tuhanku... Sesungguhnya hamba adalah manusia yang lemah)

Tiada maksud untuk mengadu kepada selainMu

Tiada maksud untuk berkeluh kesah kepada selainMu

Tiada maksud untuk membanding-bandingkan kenikmatan kepada sesama mahlukMu

Tiada maksud untuk meminta pertolongan kepada selainMu

Tiada maksud untuk mencari jalan keluar kecuali tegak lurus dijalanMu

Sungguh... bisikan keluh kesah hamba hanya ingin engkau yang mendengar

Namun jujur hamba kepadamu Yaa Robbi
Hamba belum mampu
Padahal hamba tahu bahwa Engkau akan cemburu dan murka dengan hal itu

Hamba begitu rapuh dalam mengingatMu
Hamba begitu munafik berucap cinta keadaMu
Hingga sering hamba ingkari janji-janji saat masih di alam rahim

Allaaahh...
Tumpahkan airmata kesedihan ini
Tumpahkan airmata keinsyafaan ini
Tumpahkan airmata keharuan ini
Layaknya tsunami yang menerjang dahsyat ke hati

Hamba dilema dengan keadaan hati
Karena pergolakan dan pertarungan dengan bisikan setan kerap menipu diri



Posted By Kang Santri4:26:00 PM

Saturday, March 24, 2012

Resep Ampuh Mendapat Ketenangan

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Coba anda lempar sebutir kerikil ke dalam telaga yang tenang. Berpusat dari tempat jatuhnya kerikil itu akan tercipta sebuah riak gelombang yang mengalun ke penjuru telaga. Kini, bisakah anda menghentikan laju riak gelombang itu? Mungkin anda mencoba dengan memasukkan telapak tangan anda ke dalam air. Atau. menghadangnya dengan ke dua belah kaki anda. 

Namun yang terjadi adalah semakin banyak anda melakukan sesuatu pada permukaan telaga, semakin banyak riak gelombang baru bermunculan. Satu-satunya cara menghentikan laju riak gelombang itu hanyalah dengan membiarkannya berhenti sendiri.

Demikian pula dengan ketenangan dan pikiran. Semakin keras anda melakukan sesuatu pada pikiran anda. semakin sulit anda mencapai ketenangan itu. Amati saja. Jangan tolak atau menghentikan riak pikiran anda. Biarkan pikiran berangsur-angsur tenang. Ketenangan diri dimulai dari ketenangan pikiran; sedangkan ketenangan pikiran bermula dari ketenangan bernafas. Dalam nafas yang tenang temukan jiwa yang tenang.

Motivasi.net


Posted By Kang Santri9:32:00 PM

Peraduan Sang Penumpuk Dosa

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Tersungkur dalam ayat yang tak bisa ku maknai
Bait itu terlalu indah untuk ku tabuh dengan genderang hati yang tak suci
Juga, kata itu terlalu mulia untuk ku lukis diatas kanvas diri yang belum mampu menjiwai

Apa-apaan ini?
Kemana saja saujanamu selama ini?
Bicara hati hanya untuk mencaci..!!

Kembalikan nikmatmu, kalau kau memang tak mampu
Serahkan hati itu, andai memang benar tak kau ingini
Kasihan, nafsu terus yang kau jadikan kambing hitam kesalahan

Rayuanmu yang picik sudah terbongkar
Rengekanmu tak lebih baik dari tong sampah penyimpan belukar
Ke-aku-an mu yang yang tak terkontrol terus menjalar liar

Masa bodoh dengan tipu muslihat hatimu
Tiada guna mengelabui Tuhanmu
Karena munajat palsumu

Astaghfirullah....
Astaghfirullah....
Astaghfirullah....

Marah... kepada siapa?
Geram... untuk siapa?
Sedih... tentang apa?

Terasa ingin kulumat dan ku muntahkan kembali dunia ini
Meski kepalan tanganku kecil aku tak peduli
Walau gigi gerahamku tak sekuat martil, aku mampu mengunyah bukit meski itu sakit

Hampir aku tak mampu meneruskan olokan ini pada hati
Kaku jemari ku karena kepalan tanganku semakin mengeras
Pedih mataku, menjerit hatiku, berontak susunan sarafku

Heehhhh..... Allahu Akbar

Aku kalah lagi
Aku tersungkur lagi
Aku berdusta lagi

Allah...
Sekali lagi, ampuni kami
Sekali lagi, jangan Kau putuskan nikmat rasa kehambaan pada kami
Sekali lagi, jauhkan kami dari sesuatu yang tidak Engkau ridloi

Dan yang terahir...

Allah...
Allah...
Allah...
Engkau Tuhanku dan aku hambamu
Engkau Tuhanku dan aku pembuat dosa itu
Engkau Tuhanku dan aku yang senantiasa berharap atas ampunan dosa itu

 

Posted By Kang Santri7:18:00 PM

Friday, March 23, 2012

Ketika Ikhwan dan Akhwat Jatuh Cinta di FB

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Suatu ketika, dalam jaringan sosial facebook koordinasi seorang akhwat berkata pada Seorang Teman Ikhwan yang membuat Note tersebut , “akhi, ana ga bisa lagi berinteraksi dengan akh fulan”. hati akhwat itu bergetar. Nyata sekali menekan perasaannya.”Pekan lalu, ikhwan tersebut membuat pengakuan yang membuat ana merasa risi dan….Afwan, terus terang juga tersinggung.” Sesaat kemudian suara dibalik hijab itu mengatakan….ia jatuh cinta pada ana.”

Teman Ikhwan tersebut terkejut, tapi ditekannya getar suaranya. Ia berusaha tetap tenang. “Sabar ukhti, jangan terlalu diambil hati. Mungkin maksudnya tidak seperti yang anti bayangkan.” Teman ikhwan nya pun mencoba menenangkan terutama untuk dirinya sendiri.

“Afwan…ana tidak menangkap maksud lain dari perkataannya. Ikhwan itu mungkin tidak pernah berpikir dampak perkataannya. Kata-kata itu membuat ana sedikit banyak merasa gagal menjaga hijab ana, gagal menjaga komitmen dan menjadi penyebab fitnah. Padahal, ana hanya berusaha menjadi bagian dari perputaran dakwah ini.” sang akhwat kini mulai tersedak terbata.

“Ya sudah…Ana berharap anti tetap istiqamah dengan kenyataan ini, ana tidak ingin kehilangan tim dakwah di jaringan sosial ini oleh permasalahan seperti ini”. temannya ikhwan tersebut itu membuat keputusan, “ana akan ajak bicara langsung akh fulan”

Beberapa Waktu berlalu, ketika akhirnya teman ikhwan tersebut mendatangi dulan yang bersangkutan. Sang Akh berkata, “Ana memang menyatakan hal tersebut, tapi apakah itu suatu kesalahan?”

temannya ikhwan tersebut berusaha menanggapinya searif mungkin. “Ana tidak menyalahkan perasaan antum. Kita semua berhak memiliki perasaan itu. Pertanyaan ana adalah, apakah antum sudah siap ketika menyatakan perasaan itu. Apakah antum mengatakannya dengan orientasi bersih yang menjamin hak-hak saudari antum. Hak perasaan dan hak pembinaannya. Apakah antum menyampaikan kepada pembina antum untuk diseriuskan?. Apakah antum sudah siap berkeluarga. Apakah antum sudah berusaha menjaga kemungkinan fitnah dari pernyataan antum, baik terhadap ikhwah lain maupun terhadap dakwah????” teman ikhwan tersebut membuat penekanan substansial. ” Akhi bagi kita perasaan itu tidak semurah tayangan sinetron atau bacaan picisan dalam novel-novel. Bagi kita perasaan itu adalah bagian dari kemuliaan yang Allah tetapkan untuk pejuang dakwah. Perasaan itulah yang melandasi ekspansi dakwah di dunia maya dan jaminan kemuliaan Allah SWT. Perasaan itulah yang mengeksiskan kita dengan beban berat amanah ini. Maka Jagalah perasaan itu tetap suci dan mensucikan.”

Cinta Aktivis Dakwah

Bagaimana ketika perasaan itu hadir. Bukankah ia datang tanpa pernah diundang dan dikehendaki?

Jatuh cinta bagi aktivis dakwah bukanlah perkara sederhana. Dalam konteks dakwah, jatuh cinta adalah gerbang ekspansi pergerakan. Dalam konteks pembinaan, jatuh cinta adalah naik marhalah pembinaan. Dalam konteks keimanan, jatuh cinta adalah bukti ketundukan kepada sunnah Rosullulah saw dan jalan meraih ridho Allah SWT.

Ketika aktivis dakwah jatuh cinta, maka tuntas sudah urusan prioritas cinta. Jelas, Allah, Rosullah dan jihad fii sabilillah adalah yang utama. Jika ia ada dalam keadaan tersebut, maka berkahlah perasaannya, berkahlah cintanya dan berkahlah amal yang terwujud dalam cinta tersebut. Jika jatuh cintanya tidak dalam kerangka tersebut, maka cinta menjelma menjadi fitnah baginya, fitnah bagi ummat, dan fitnah bagi dakwah. Karenannya jatuh cinta bagi aktivis dakwah bukan perkara sederhana.

Ketika Ikhwan mulai bergetar hatinya terhadap akhwat dan demikian sebaliknya. Ketika itulah cinta ‘lain’ muncul dalam dirinya. Cinta inilah yang akan kita bahas disini. Yaitu sebuah karunia dari kelembutan hati dan perasaan manusia. Suatu karunia Allah yang membutuhkan bingkai yg jelas. Sebab terlalu banyak pengagung cinta ini yang kemudian menjadi hamba yang tersesat. Bagi aktivis dakwah, cinta lawan jenis adalah perasaan yang lahir dari tuntutan fitrah, tidak lepas dari kerangka pembinaan dan dakwah. Suatu perasaan produktif yang dengan indah dikemukakan oleh ibunda kartini,” …akan lebih banyak lagi yang dapat saya kerjakan untuk bangsa ini, bila saya ada disamping laki-laki yg cakap, lebih banyak kata saya…..daripada yang saya usahakan sebagai perempuan yg berdiri sendiri..”

Cinta memiliki 2 mata pedang. Satu sisinya adalah rahmat dengan jaminan kesempurnaan agama dan disisi lainnya adalah gerbang fitnah dan kehidupan yg sengsara. Karenanya jatuh cinta membutuhkan kesiapan dan persiapan. Bagi setiap aktivis dakwah, bertanyalah dahulu kepada diri sendiri, sudah siapkah jatuh cinta???jangan sampai kita lupa, bahwa segala sesuatu yang melingkupi diri kita, perkataan, perbuatan, maupun perasaan adalah bagian dari deklarasi nilai diri sebagai generasi dakwah. Sehingga umat selalu mendapatkan satu hal dari apapun pentas kehidupan kita, yaitu kemuliaan Islam dan kemuliaan kita karena memuliakan Islam.

Deklarasi Cinta

Sekarang adalah saat yang tepat bagi kita untuk mendeklarasikan cinta diatas koridor yang bersih. Jika proses dan seruan dakwah senantiasa mengusung pembenahan kepribadiaan manusia, maka layaklah kita tempatkan tema cinta dalam tempat utama. Kita sadari kerusakan prilaku generasi hari ini, sebagian besar dilandasi oleh salah tafsir tentang cinta. Terlalu banyak penyimpangan terjadi, karena cinta didewakan dan dijadikan kewajaran melakukan pelanggaran. Dan tema tayangan pun mendeklarasikan cinta yang dangkal. Hanya ada cinta untuk sebuah persaingan, sengketa. Sementara cinta untuk sebuah kemuliaan, kerja keras dan pengorbanan, serta jembatan jalan kesurga dan kemuliaan Allah, tidak pernah mendapat tempat disana.

Sudah cukup banyak pentas kejujuran kita lakukan. Sudah terbilang jumlah pengakuan keutamaan kita, sebuah dakwah yang kita gagas, Sudah banyak potret keluarga yg baru dalam masyarakat yg kita tampilkan. Namun berapa banyak deklarasi cinta yang sudah kita nyatakan. Cinta masih menjadi topik ‘asing’ dalam dakwah kita. Wajah, warna, ekspresi dan nuansa cinta kita masih terkesan ‘misteri. Pertanyaan sederhana, “Gimana sih, kok kamu bisa nikah sama dia, Emang kamu cinta sama dia?”, dapat kita jadikan indikator miskinnya kita mengkampanyekan cinta suci dalam dakwah ini.

Pernyataan ‘Nikah dulu baru pacaran’ masih menjadi jargon yang menyimpan pertanyaan misteri, “Bagaimana caranya, emang bisa?”. Sangat sulit bagi masyarakat kita untuk mencerna dan memahami logika jargon tersebut. Terutama karena konsumsi informasi media tayangan, bacaan, diskusi dan interaksi umum, sama sekali bertolak belakang dengan jargon tersebut.

Inilah salah satu alasan penting dan mendesak untuk mengkampanyekan cinta dengan wujud yang baru. Cinta yang lahir sebagai bagian dari penyempurnaan status hamba. Cinta yang diberkahi karena taat kepada sang Penguasa. Cinta yang diberkahi karena taat pada sang penguasa. Cinta yang menjaga diri dari penyimpangan, penyelewengan dan perbuatan ingkar terhadap nikmat Allah yang banyak. Cinta yang berorientasi bukan sekedar jalan berdua, makan, nonton dan seabrek romantika yang berdiri diatas pengkhianatan terhadap nikmat, rezki, dan amanah yang Allah berikan kepada kita.

Kita ingin lebih dalam menjabarkan kepada masyarakan tentang cinta ini. Sehingga masyarakat tidak hanya mendapatkan hasil akhir keluarga dakwah. Biarkan mereka paham tentang perasaan seorang ikhwan terhadap akhwat, tentang perhatian seorang akhwat pada ikhwan, tentang cinta ikhwan-akhwat, tentang romantika ikhwan-akhwat dan tentang landasan kemana cinta itu bermuara. Inilah agenda topik yang harus lebih banyak dibuka dan dibentangkan. Dikenalkan kepada masyarakat berikut mekanisme yang menyertainya. Paling tidak gambaran besar yang menyeluruh dapat dinikmati oleh masyarakat, sehingga mereka bisa mengerti bagaimana proses panjang yang menghasilkan potret keluarga dakwah hari ini.

Epilog

Setiap kita yang mengaku putra-putri Islam, setiap kita yg berjanji dalam kafilah dakwah, setiap kita yang mengikrarkan Allahu Ghoyatuna, maka jatuh cinta dipandang sebagai jalan jihad yang menghantarkan diri kepada cita-cita tertinggi, syahid fi sabililah. Inilah perasaan yang istimewa. Perasaan yang menempatkan kita satu tahap lebih maju. Dengan perasaan ini, kita mengambil jaminan kemuliaan yang ditetapkan Rosullulah. Dengan perasaan ini kita memperluas ruang dakwah kita. Dengan perasaan ini kita naik marhalah dalam dakwah dan pembinaan.

Betapa Allah sangat memuliakan perasaan cinta orang-orang beriman ini. Dengan cinta itu mereka berpadu dalam dakwah. Dengan cinta itu mereka saling tolong menolong dalam kebaikan, dengan cinta itu juga mereka menghiasi Bumi dan kehidupan di atasnya. Dengan itu semua Allah berkahi nikmat itu dengan lahirnya anak-anak shaleh yang memberatkan Bumi dengan kalimat Laa Illaha Ilallah. Inilah potret cinta yang sakinah, mawaddh, warahmah.

jadi…Berkomen sih boleh saja tapi Ingat di jaga hati dan pandangan terhadap yang bukan muhrim nya ! Soooooo sudah berani kau jatuh cinta…Ikhwan dan Akhwat :D ?? (sumber)

Posted By Kang Santri4:58:00 PM

Thursday, March 22, 2012

Akhi Ukhti Kalian Sedang Jatuh Cinta?

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Assalamu'alaikum saudara muslimku, pada tulisan kali ini  saya ingin membahas tentang CINTA. Cinta seorang anak manusia atau cinta yang tumbuh dari lawan jenis kepada kita begitu juga sebaliknya saat kita jatuh cinta kepada si dia (akhwat madsudnya :D).

Bagi seorang muslim-muslimah, dari pengalaman yang saya temui ada sedikit dilema dengan apa yang namanya 'Jatuh Cinta'. Kenapa saya katakan dilema? Kalau dilihat dari urut-urutannya cinta pertama yaitu cinta kita kepada Allah, kedua cinta kita kepada Rasulullah dan seterusya. Dimana dilemanya? Sebelum saya bahas, saya tidak ingin munafik dalam menulis (alias merasa sok suci) dengan kata-kata yang seolah-olah "saya sudah berhasil menempatkan cinta kepada Allah sebagai cinta pertama". Karena memang belum bisa menghadirkan sepenuhnya rasa itu.

Cinta adalah sesuatu yang sangat sakral menurut saya. Dalam mendefinisikan Cinta (jatuh cinta kepada lawan jenis) "Akan ku berikan hati ku untukmu ketika sudah tak ku temui lagi alasan, kenapa aku mencintaimu...". Sakral bukan? karena didalamnya kita kita akan menemukan sebuah rasa yang kita sendiri tidak tahu akan alasannya, tapi cukup indah jika dirasa. 

Tiap kali kita menemukan satu alasan, seperti karena kesalihannya, parasnya yang tampan, kecantikannya yang menawan, dan lain sebagainya. Suatu saat kalau satu alasan itu sudah tidak kita temui lagi dengan sendirinya perasaan yang pernah kita katakan 'cinta' akan pudar dengan sendirinya.

Nah, disini letak dilemanya seperti yang saya katakan diatas. Kita hidup dizaman terburuk dari umat Rasulullah, dimana pergaulan dan gaya hidup seolah sudah menjadi trend tersendiri supaya kita mengesampingkan nilai-nilai ke-islaman misalnya saja 'pacaran'.

Saat kita mencintai seseorang (baca: Aku Jatuh Cinta), kemungkinan besar itu bisa menjadi salah satu hal yang bisa merubah tatanan ahlak. Kita cenderung lebih menuruti apa-apa yang diinginkan oleh sang pujaan hati, entah itu baik atau buruk seolah menjadi nomor yang kesekian untuk dipertimbangkan.

Hingga biasanya, seorang muslim ataupun muslimah akan menemui perasaan yang sangat dilematis, antara membagi kecintaannya kepada Tuhannya. Tidak bisa dipungkiri secara tidak langsung kita sudah mengesampingkan cinta kita kepada Allah, saat persaan (jadi budak cinta kepada mahluk) mulai mengganggu kenyamanan saat tidur, menghilangkan nikmat kelezatan makanan, terbuai rasa rindu yang tak terbendung.

Ahirnya, yang biasanya kita begitu rajin bangun malam untuk qiyamullail kita ganti menjadi hayalan-hayalan tentang si dia. Yang biasanya kita begitu antusias menantikan waktu shalat, berubah menjadi antusias menunggu sms ataupun email dari si dia. Begitu seterusnya.....

Kalau jatuh cinta itu adalah sesuatu yang sangat fitrah dan alami, apa ada yang salah saat kita jatuh cinta?. Tentu saja tidak, tak ada yang salah dengan perasaan cinta namun yang salah adalah jika rasa cinta itu membuat kita mengalihkan perhatian dari cinta pertama kita kepada Allah menjadi cinta pertama kita kepada mahluk Allah.

Kemudian baiknya bagaimana?

Biarkan rasa cinta itu tumbuh dan berkembang seperti kodratnya (karena semua cinta itu suci, sebelum dinodai oleh hawa nafsu). Rasa rindu selalu ingin bertemu dan ingin memiliki adalah hal yang lumrah, andai kita mengkondisikannya dengan tatanan syariat. 

Alangkah sangat indah kala rasa itu berkecamuk hebat didalam hati, kita larikan kepada Dia Dzat yang menciptakan rasa cinta. Sering-seringlah selalu tadabbur jika rasa itu datang. Minta kepada Allah agar bisa selamat dari fitnah jatuh cinta kepada lawan jenis. 

Banyak kisah dari shalafush shalih dalam meng-expresikan rasa cintanya. Jadi lah seolah-olah kita adalah peran utama yang memainkan kisah hidup yang suatu saat nanti akan di tiru oleh anak cucu dalam menjaga dan memelihara rasa cinta. Dengan menyajikan kisah yang dramatis nan indah.

Jadilah pecinta yang mempunyai sebuah do'a


Jika aku hendak mencintai seseorang
Pertemukanlah aku dengan orang yang mencintai-Mu
Agar bertambah kuat cintaku pada-Mu

Jika aku ragu mencintai seseorang
Hilangkanlah sifat itu ketika aku yakin bahwa
dia bisa mendekatkanku pada-Mu

Jika aku gelisah mencintai seseorang
Hilangkanlah kegelisahan itu ketika aku tahu bahwa dia
bisa menuntunku menghilangkan keraguanku pada kebesaran-Mu

Jika aku rindu pada seseorang
Rindukanlah aku pada dia yang rindu akan cinta sejati-Mu
Agar kerinduanku pada-Mu semakin tak terbendung

Sebagaimana mereka yang bijak berucap:

"Mencintai seseorang bukanlah apa-apa
Dicintai seseorang bukanlah sesuatu
Dicintai orang yang sangat kau cintai sangatlah berarti
Tapi dicintai oleh sang pencipta adalah segalanya."

"Semoga kita temui cinta yang bisa menjaga, bukan cinta yang membawa petaka........" 

Posted By Kang Santri9:06:00 PM

Inilah 10 Permintaan Iblis Yang Di Kabulkan Allah

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Ini sebuah cerita renungan yang menurut saya wajib dibaca. Ceritanya Rasulallah sedang berbicara kepada iblis dan bertanya apa saja permintaan iblis yang sampai saat ini dikabulkan Allah SWT.

Ada 10 permintaan iblis yang dikabulkan Allah.
“Berapa hal yang kau pinta dari Tuhanmu?”
“10 macam”
“Apa saja?”
1. Aku minta agar Allah membiarkanku berbagi dalam harta dan anak manusia, Allah mengizinkan. Allah berfirman,
“Berbagilah dengan manusia dalam harta dan anak. dan janjikanlah mereka, tidaklah janji setan kecuali tipuan.” (QS Al-Isra :64)
“Harta yang tidak dizakatkan, aku makan darinya. Aku juga makan dari makanan haram dan yang bercampur dengan riba, aku juga makan dari makanan yang tidak dibacakan nama Allah.
2. Aku minta agar Allah membiarkanku ikut bersama dengan orang yang berhubungan dengan istrinya tanpa berlindung dengan Allah, maka setan ikut bersamanya dan anak yang dilahirkan akan sangat patuh kepada syaithan.
3. Aku minta agar bisa ikut bersama dengan orang yang menaiki kendaraan bukan untuk tujuan yang halal.
4. Aku minta agar Allah menjadikan kamar mandi sebagai rumahku.
5. Aku minta agar Allah menjadikan pasar sebagai masjidku.
6. Aku minta agar Allah menjadikan syair sebagai Quranku.
7. Aku minta agar Allah menjadikan pemabuk sebagai teman tidurku.
8. Aku minta agar Allah memberikanku saudara, maka Ia jadikan orang yang membelanjakan hartanya untuk maksiat sebagai saudaraku.
Allah swt berfirman,
“Orang -orang boros adalah saudara – saudara syaithan. ” (QS Al-Isra : 27).
9. Wahai Muhammad, aku minta agar Allah membuatku bisa melihat manusia sementara mereka tidak bisa melihatku.
10. Dan aku minta agar Allah memberiku kemampuan untuk mengalir dalam aliran darah manusia.
Allah menjawab, “silahkan”, dan aku bangga dengan hal itu hingga hari kiamat.
Sebagian besar manusia bersamaku di hari kiamat.”
Iblis berkata : “Wahai muhammad, aku tak bisa menyesatkan orang sedikitpun, aku hanya bisa membisikan dan menggoda.
Jika aku bisa menyesatkan, tak akan tersisa seorangpun…!!!
Sebagaimana dirimu, kamu tidak bisa memberi hidayah sedikitpun, engkau hanya rasul yang menyampaikan amanah.
Jika kau bisa memberi hidayah, tak akan ada seorang kafir pun di muka bumi ini. Kau hanya bisa menjadi penyebab untuk orang yang telah ditentukan sengsara.

Orang yang bahagia adalah orang yang telah ditulis bahagia sejak di perut ibunya. Dan orang yang sengsara adalah orang yang telah ditulis sengsara semenjak dalam kandungan ibunya.”
Rasulullah SAW lalu membaca ayat :
“Mereka akan terus berselisih kecuali orang yang dirahmati oleh Allah SWT” (QS Hud :118 – 119)
juga membaca,
“Sesungguhnya ketentuan Allah pasti berlaku” (QS Al-Ahzab : 38)
Iblis lalu berkata:
“Wahai Muhammad Rasulullah, takdir telah ditentukan dan pena takdir telah kering. Maha Suci Allah yang menjadikanmu pemimpin para nabi dan rasul, pemimpin penduduk surga, dan yang telah menjadikan aku pemimpin mahluk mahluk celaka dan pemimpin penduduk neraka. aku si celaka yang terusir, ini akhir yang ingin aku sampaikan kepadamu. dan aku tak berbohong.”
Sampaikanlah risalah ini kepada saudara-saudara kita, agar mereka mengerti dengan benar, apakah tugas-tugas dari Iblis atau Syaithan tersebut. Sehingga kita semua dapat mengetahui dan dapat mencegahnya dan tidak menuruti bisikan dan godaan Iblis atau Syaithan. (Sumber)

Posted By Kang Santri7:39:00 PM

Wednesday, March 21, 2012

Doa Saat Mendapat Kesusahan dan Terjadi Perkara Penting

Filled under:



هذا دعاء عند الكرب ووقوع الؤمور المهماة

لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ العَظيمُ الْحَليمُ, لاَ اله الا اللهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ, 
لا اله الا اللهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ, رَبُّ العَرْشِ الْكَرِيْمِ.

يَاحَيُّ يَاقَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ, لا اله الا اللهُ الْكَرِيْمُ الْعَظِيْمُ, 
سُبْحَانَهُ تَبَارَكَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ, اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ أَسْتَغِيْثُ.
لا اله اِلاَّ اَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ.

هُوَاللهُ, اَللهُ رَبِّيْ لاَ أُشْرِكُ بِهِ شَيْأً.

اللهمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُوْ, فَلاَ تَكِلْنِيْ اِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ, 
وَاصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ, لاَ اِلَهَ اِلاَّ اَنْتَ.

أعوذُ بكلماتِ التامات مِنْ كُلِّ شَيْطَانِ وَّهَمَّاةِ وَمِنْ كُلِّ عَيْنِ الْأَمَّةِ.

 أعوذُ بِكَلِمَاتِ التَّامَّاتِ مِنْ غَضَبِهِ وَعِقَابِهِ وَمِنْ شَرِّ عِبَادِهِ 
وَمِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِيْنَ وَأَنْ يَخْضُرُوْنِ.


referensi: Adzkarun Nawawi


Posted By Kang Santri4:55:00 PM

Doa Melamar Wanita

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Doa ketika melihat wanita yang Ingin di lamar. Di ini baca 7 kali dengan melihat wajah wanita yang akan di lamar. Insya Allah dengan penuh keyakinan akan di terima.

أللهم يوسف بقلب حاليها وأناسها - جانتوعكو - محمد يوسف قلب بنور كوحها بدانة - كوكناسيه - برحمتك يا أرحم الراحمين


"Allohumma yuusufa biqolbi haaliyaha wa anaasiha - jantungku - muhammad yuusufa qolbi binuuri kuhihhaa badanatu - ku kinasih - birohmatika yaa arhamarrohimiin"



(dari pojok pesantren 'Pustaka Lirboyo')


Posted By Kang Santri3:39:00 PM

Tuesday, March 20, 2012

Izinkan Kami Merayumu Sebentar

Murtakibudz Dzunub -
Apa kabar iman mu (muslimah) hari ini?
Masihkah kaum ku (kaum adam) terus memberatkanmu mencintai Tuhanmu?

Beginilah adanya kami, tak kuasa memandang raut muka kecantikan
Senantiasa tiap ukir senyuman singgah, membuat kami gundah
Santun tutur kelembutan seakan tak dapat kami lupakan

Di satu sisi, kami terpesona dengan kecantikan ahlakmu sebagai muslimah
Namun di sisi lain kami juga terpesona dengan kecantikan dzatiahmu
Bagi kami, kalian begitu mempesonakan hati
Hingga banyak dari kami yang lupa diri

Sebagai ungkapan atas rasa ini
Izinkan kami merayumu meski barang sebentar

Saat kami di landa al-'isyq (asmara)
Saat kami di landa rindu
Di saat itulah kami dibuat tidak berdaya akan pesonamu
Hingga banyak dari kalangan kami yang terjerumus dan terkena 
tusukan panah dari bala tentara musuh (iblis)

Hanya satu pesan kami
Janganlah kalian gampang terbujuk oleh rayu puji sanjungan dari kaum kami
Karena itu hanya akan menyengsarakan hati

Kami sering terpedaya saat memujimu
Kami bingkai ayat qur'an sebagai alat untuk merayumu
Dengan maksud agar kalian tidak menganggap kami sebagai perayu

Kami kemas hadits dengan begitu rapih
Agar kalian tertarik dan menganggap kami adalah lelaki shalih

Kami utarakan dalil-dalil ijma' dan qiyas ulama
Tapi sesungguhnya itu adalah cara kami agar kalian menaruh simpati

Inilah salah satu kelalaian kami
Yang terpedaya oleh bisikan nurani yang tak suci

Untuk itu, jangan buka celah kalian untuk mendengar rayuan
Dengan harapan kami mengurungkan niat supaya tidak jadi melakukan

Memang demikianlah seharusnya kita
Saling menjaga, supaya kaumku tidak mempunyai kesempatan untuk memperdaya
Pun begitu, agar kaummu  dapat bertahan
Saat kalian mulai lena dengan bait rayu penuh sanjungan




Posted By Kang Santri6:39:00 PM

Monday, March 19, 2012

Kebaikan Bersembunyi di Balik Keburukan

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Diceritakan dahulu ada seorang pria bernama Anas Bin Amir, seperti pria lainnya beliau juga ingin memiliki istri cantik, beliau pun memilih seorang gadis yang diyakininya berparas cantik berbalut cadar.

Akhirnya pernikahan terjadi, di malam pengantin beliau membuka cadar sang istri, namun ternyata tak sesuai dengan tipe beliau. Di balik cadar dan jubahnya adalah seorang wanita berkulit hitam dengan fisik yang  kurang menarik.

Malam pengantin tidak sesuai yang diharapkan, beliau pun tidur terpisah dengan sang istri. Beberapa hari masih sama, malam pertama tak kunjung indah, akhirnya sang istri menyadari apa yang terjadi kepada suaminya, adalah karena fisiknya tidak sesuai dengan yang di bayangkan suaminya. 

Lalu dihampirilah sang suami dan berkata: "kadang kebaikan bersembunyi dalam keburukan", mau tidak mau beliau harus memberi nafkah biologis kepada sang istri,  malam pengantin yang dulu jadi mimpi kini benar terjadi. Hari demi hari telah dilalui tapi, perasaan tidak suka terus menghantui. Ahirnya beliau pergi untuk yang kedua kali, namun kali ini jauh dan lama sekali, tak ada kabar juga berita.

Dua puluh tahun telah berlalu, entah angin apa yang membuat beliau ingin pulang ke kampung halaman, ahirnya beliau benar-benar pulang. Tempat pertama yang beliau tuju adalah masjid.

Beliau memasuki masjid, lalu shalat berjama'ah dan meneruskan dengan mendengar khutbah seorang Alim, beliau tercengang dengan pemuda yang sedang berpidato tersebut, pintar dan mengena hati. 

Bertanyalah beliau, "siapa pemuda Allamah itu?", 

"beliau adalah imam Malik", 

"putra siapa beliau?", 

"putra seorang pria yang menghilang 20 tahun lalu", 

Degg..!! "mungkinkah aku punya anak?", 

Kemudian beliau menghampiri Imam Malik, 

"nak, bolehkah aku bertandang ke rumahmu sekarang?", 

"dengan senang hati, mari silahkan", 

Sesampainya di rumah hati kecil bicara "tidak salah lagi ini adalah rumah istriku", 

Berkata beliau kepada Imam Malik "nak, biar aku diluar, tolong sampaikan kepada ibumu 'kadang kebaikan bersembunyi dalam kebaikan' ", 

Disampaikan pesan itu kepada sang ibu dan berkata "lekas buka pintu, beliau adalah ayahmu yang baru pulang", 

Dibukalah pintu dan itulah moment mengharukan, Imam Malik tak pernah mendengar ibunya bercerita buruk tentang ayahnya, "ayahmu sedang bepergian" bukan "ayahmu meninggalkan kita"

Itulah salah satu tauladan istri sholehah yang melahirkan allamah sholeh Imam Malik, Imam umat muslimin, istri yang tak pernah menjelekkan suaminya, istri setia, istri sabar, istri berfisik hati bukan berhati fisik.



Posted By Kang Santri12:02:00 PM

Sunday, March 18, 2012

Istirahatlah Sejenak

Filled under:


 Assalamu'alaikum Nafsi...

Istirahatlah sejenak
Taruh penat praharmu kali ini
Sudah berapa persen sisa tenaga yang dihabiskan
sebagai pemuas nafsumu hari ini?

Walau saat ini hanya tinggal 0,1 persen dari sisa-sisa tenagamu
Jangan biarkan ia binal kembali 
Karena pikiranmu masih saja terikat oleh lelah duniawi

Habis kan sisa tenaga itu untuk mengambil air wudlu
Guna membasuh muka keruhmu karena debu dosa mu hari ini
Manfaatkan sisa terahir dari tenagamu untuk 
mendirikan shalat yang memang sudah menjadi kewajibanmu

Karena bagi Tuhanmu, teramat mudah mengambil kepingan receh 
yang susah payah kau kumpulkan hari ini
Letakkan sususan ambisimu yang ingin menguasi dunia
Karena sekarang sudah saatnya hatimu tenang dengan lantunan Qur'an

Jangan biarkan kesia-siaan terus yang menjadi andalan
Sebab itu akan sangat merugikan buat akhiratmu
Sementara malaikat maut tidak pernah tidur menunggu titah Tuhan
untuk mengambil nyawamu


Posted By Kang Santri10:01:00 PM

Melapangkan Hati (Ati Segoro)

Murtakibudz Dzunub - Sahabat Muslim, tak ada salahnya hari ini kita mengukur kembali seberapa luas rasa penerimaan kita akan kepastian-Nya. Mari luangkan waktu sejenak untuk berdialog dengan hati kecil barangkali selama ini hati kita kurang begitu peka membacanya. Sembari menanamkan dalam hati, bahwa semua yang terjadi tidak akan pernah bisa terjadi kecuali atas kehendak-Nya.

Mungkin saat ini ada sebagian diantara kita atau kita sendiri sedang mengalami ujian hidup yang dirasa cukup berat, hingga sering kita merasa 'sudah tidak ada jalan keluar lagi untuk menyelesaikannya' entah itu masalah rumah tangga, di lilit hutang yang sudah menggunung, di dholimi dan lain sebagainya.

Sekali lagi mari kita kembali ingatkan hati, jika seandainya lupa. Bahwa ada Allah yang maha memiliki semua jalan keluar dari segala penjuru macam kesulitan. Lapangkan hati kita usah dipersempit dengan berprasangka buruk kepada Allah, karena hal yang demikian akan semakin menyiksa hati. Seperti merasa tidak pernah cukup dengan pemberian rizki, merasa do'a tidak di ijabah, merasa selalu dirundung permasalahan yang tak kunjung usai dan lain-lain.

Kembali kepada Allah. Karena saat hati kita sempit menerima hal yang demikian, berarti kita sudah teramat jauh meninggalkan-Nya dalam kehidupan.

Dengan melalui ini, Allah ingin memperlihatkan Kekuasaan-Nya pada kita, untuk membungkam semua keangkuhan dan kesombongan sikap dan perilaku kepada dunia, bahwa manusia itu amatlah dho'if (lemah) dan tidak mempunyai daya apa-apa tanpa Inayah-Nya. 

Ingatkan sekali lagi nurani kita, bahwa semua yang kita alami dan kita dapati merupakan atsar dari perilaku kita sendiri. 

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ خَيْرٌ مِنْهَا وَهُمْ مِنْ فَزَعٍ يَوْمَئِذٍ آمِنُونَ
Barang siapa yang membawa kebaikan, maka ia memperoleh (balasan) yang lebih baik daripadanya, sedang mereka itu adalah orang-orang yang aman tenteram dari kejutan yang dahsyat pada hari itu. (An-Naml: 89)


وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَكُبَّتْ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ هَلْ تُجْزَوْنَ إِلا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Dan barang siapa yang membawa kejahatan, maka disungkurkanlah muka mereka ke dalam neraka. Tiadalah kamu dibalasi, melainkan (setimpal) dengan apa yang dahulu kamu kerjakan.(An-Naml: 90)

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ خَيْرٌ مِنْهَا وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلا يُجْزَى الَّذِينَ عَمِلُوا السَّيِّئَاتِ إِلا مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Barang siapa yang datang dengan (membawa) kebaikan, maka baginya (pahala) yang lebih baik daripada kebaikannya itu; dan barang siapa yang datang dengan (membawa) kejahatan, maka tidaklah diberi pembalasan kepada orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan itu, melainkan (seimbang) dengan apa yang dahulu mereka kerjakan. (Al-Qashash: 84)

Maka dari itu tidak ada lagi alasan buat kita untuk tidak melapangkan dada membesarkan hati seluas samudera, saat cemo'ohan, makian, hinaan, sindiran menginjak harga diri. Meski itu bukanlah perkara yang mudah hingga sering kita memerlukan proses yang lumayan panjang untuk bisa menerimanya dengan berbesar hati. 

Membesarkan hati, bahwa hina'an  dari mahluk akan ketidak berdayaan kita oleh materi dunia bisa menambah rasa kehambaan karena sebesar dan sekecil apapun Allah tidak akan mengurangi bagian kita. 

Membesarkan hati, apapun yang kita alami semua tidak lepas dari cara Allah supaya kita mahu mendekati-Nya.

Melapangkan hati, saat kita berbuat dzalim kepada sesama. Maka inilah balasan teradil dari Allah buat kita. 

Membesarkan hati, saat kita di hinakan ataupun di remehkan. Jadikan itu sebagai kekuatan tersendiri untuk menambah alasan kita mengadu pada-Nya.

Saudara Muslimku, dengan segala kerendahan hati. Tulisan ini hanyalah sekedar teguran dan penguat buat diri sendiri, jika sesama Muslim adalah saudara atau Muslim satu dengan Muslim lainnya ibarat satu anggota tubuh. Maka inilah potret dari salah satu saudaramu atau bagian dari anggota tubuhmu. Seperti inilah salah satu  saudaramu (yaitu aku) berikhtiar membesarkan hati akan keruwetan hidup sembari berbagi kepada kesesama.



Posted By Kang Santri10:44:00 AM

Friday, March 16, 2012

Ku Nanti Takdir ku Bersamamu

Murtakibudz Dzunub - Takdir yang telah mempertemukan. Takdir juga yang akan memisahkan.

Hari ku berjalan seperti biasa mengisi kesibukan dunia, sesekali berfikir...

"inilah diriku dengan segala keterbatasan akal dan pikiran, cita-cita, harapan, pengorbanan terasa sesak berderet di ulu hati"

Bahkan tak ada kelebihan yang patut di tonjolkan, karena yang ada hanya 'kapan aku bisa memberi manfaat buat hidupku dan duniaku?'.

Inilah takdir ku....

Takdir ku dengan nafsu ku
Takdir ku dengan segala kedho'ifan ku
Takdir ku mengharapkan sesuatu
Takdir ku memiliki sesuatu
Takdir ku bertemu belahan jiwaku
Takdir ku berpisah dengan orang terkasihku
Juga takdir ku akan kematian ku

Disini, ku nanti menjalani takdir ku bersamamu. Begitu juga denganmu, menjalani takdirmu bersamaku. 

Untukmu yang menjadi bagian dari takdirku, disini di hati ini aku sendiri. Andai boleh bertanya,

"Apa yang sedang di rencanakan Allah untuk kita?".

Suatu saat nanti saat aku letih dengan hidupku, kau yang akan memapahku (entah kapan waktu untuk itu) karena aku juga tidak tahu siapa dirimu saat ini, di belahan bumi mana tempat yang kau singgahi. Hanya satu keyakinanku 'takdir yang akan menuntunmu menemuiku atau aku yang akan menemuimu'.

Untukmu yang sudah di gariskan menjalani takdir hidup bersamaku, andai Allah mempertemukan kita dibagian akhir dari cerita hidup manusia, terkadang pertemuan kita tidaklah panjang mungkin aku yang akan meninggalkanmu lebih dulu atau dirimu yang meninggalkanku lebih dulu. Tak ada jaminan buatku atau buatmu mengucapkan salam perpisahan saat dunia kita dipisahkan dimensi yang tak kasat mata.

Untuk itu meski Allah belum mengijinkan saat ini kita bertemu, ingin ku ucapkan salam perjumpaan bersanding dengan salam perpisahan. Selagi waktu ku masih sempat untuk berkata demikian.

Tunggu aku di surga jika kau pergi dariku lebih dulu, aku juga akan menunggumu di surgaku jika aku yang pergi lebih dulu meninggalkanmu.

Wahai engkau yang sudah digariskan menjalani takdir bersamaku...
Surga itu perkara yang haq, neraka juga perkara yang haq. Ada satu pesan penting yang ingin aku samaikan kepadamu.

"Jangan kau ikuti aku jika jalanku akan menjauhkanmu dari surga.  Tinggalkan diriku andai takdir pertemuan kita hanya akan membawamu ke neraka".



Posted By Kang Santri8:56:00 PM

Thursday, March 15, 2012

Perjalanan Spiritual

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Dari kepolosan wajahnya  sebenarnya menyimpan ribuan tanda tanya, “aku ingin seperti dia, aku ingin pinter ngaji, aku ingin menjadi orang yang shalih kelak, tapi bagaimana caranya? Kok mereka bisa ya?”
 
Mungkin seperti itulah yang ada dalam fikiran si bocah. Hari itu merupakan hari yang bersejarah baginya, karena si bocah mulai masuk pesantren.  Dengan tekad kuat, dalam hatinya “mungkin ini salah satu jalannya untuk menjadi orang yang pinter ngaji…”.

Setiap materi pelajaran dengan tekun dia pelajari, meski banyak yang kurang ia fahami. Pada suatu malam dia amat tertarik mendengar perbincangan para seniornya,

“jum’at kemarin ustadz ngasih ijazah apalagi?”

“amalan asma’ul husa sama karomah..”

Mendengar percakapan seniornya si bocah tambah penasaran,

“amalan asma’ul husa sama karomah..?? ilmu apa itu ya??”, dengan mengendap-endap sang bocah membuntuti para seniornya,

“sedang apa mereka?” si bocah tampak takjub,

“wahh, mereka sedang latihan silat..!!! hebat nih”

Hari demi hari si bocah makin tertarik untuk belajar ilmu kanuragan, hingga tiap malam dia selalu mendekati salah satu seniornya supaya mahu ngajarin. Ternyata  kemauannya didukung, hingga dia pun diajak sowan (silaturrahim) kesalah satu yang katanya sudah ahli dibidang kejadugan (olah kanuragan).

“le… ini kamu amalin ya..”

“injih mbah…”

“tapi  jangan lupa, biar bagus nanti kamu beli kemenyan putih yo..”
Si bocah tampak kelihatan sumringah.

Keesokan harinya, ada salah satu teman kakaknya yang belum lama menyelesaikan mesantren dari daerah lain berkunjung, si bocah pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu,

“kak, nyari kemenyan putih tu di mana sih?”

“meh buat ngapain…?”

“gini kak, aku dapat ijazah suruh ngamalin wirid ini… supaya reaksinya cepet harus pakai kemenyan putih..”

Sambil geleng-geleng kepala,

“buat apa kayak gituan…? Sini tak nasihatin, ilmu seperti itu paling mudah dipelajari..  jangan terburu-buru, utamain belajar baca dan mahamin kitab dulu… karena itu yang terpenting”, Si bocah sedikit kecewa,

“jangan hawatir, entar kalau sudah waktunya aku yang akan ngajarin… jangan sia-siain waktu kamu dengan melajari ilmu-ilmu seperti itu…”

Dengan tanpa mendebat  ahirnya sang bocah menuruti nasihat teman kakaknya, dan mengurungkan niatnya.

Hingga ahirnya si bocah mulai tumbuh dewasa, disela-sela waktu luangnya dia pun sedikit demi sedikit mulai mempelajari kanuragan dan hal-hal yang berhubungan dengan perkara gaib. Sebenarnya dia berbakat mempelajari ilmu itu, tapi rupanya ia sedikit bimbang,

“apa sih manfaatnya aku mempelajari ilmu ini?”
Rupanya dia tidak menemukan ketentraman setelah belajar meski hanya sedikit, dan pencarian jati diri pun dimulai.

Hari itu dia terlihat mengurung dikamar, sambil tertunduk lesu matanya tak bergeming dari tulisan hingga kedua pipi bersimbah peluh airmata. Kisah hikmah para shalafusshalih yang ia baca membuat hatinya bergetar, rasa takut, rasa syukur campur aduk jadi satu.

Dia membandingkan perjalanan spiritual  yang sudah dialami tidak ada apa-apanya, cobaan hidup yang datang silih berganti  ternyata juga belum ada apa-apanya, dibanding perjalanan spiritual manusia-manusia shalih dizaman dulu.

Waktu terus menuntun diumurnya yang menginjak 20 tahun, setelah tamat dia pun hijrah kepesantren lain. Semakin dia mendalami ilmu agama semakin pula dia merasa bahwa dirinya teramat kotor dengan tumpukan dosanya, hingga ia sampai berfikir,

Apakah ibadahku selama ini engkau terima Ya Robb…
Betapa sombongnya dahulu hamba pernah berkata, ‘ini semua aku niati demi menegakkan kalimah-Mu’

Padahal hati ini teramat jauh dari niat itu, karena kabodohan hati ini mengerti
akan kata ihlas yang semata hanya untuk-Mu..

Juga ketika Engkau uji seonggok daging ini dengan ketetapan takdir-Mu,
Hati ini merasa sudah lebih tinggi diatas mahluk lain,

Entah tangisan apa yang aku cucurkan?
Entah ketakutan apa yang aku rasakan?
Entah niat ibadah seperti apa yang sudah aku kerjakan?

Sering si bocah yang sekarang sudah beranjak dewasa ini menangis ketika mendengar muhasabah dari gurunya, hingga tak jarang kitabnya lusuh dengan tetesan airmata.

Sering si bocah yang sudah beranjak dewasa ini menyendiri disudut kamar menangisi tumpukan dosanya, ia tidak menghiraukan kawan-kawan disampingnya yang rame dengan bercanda.

Rupanya dia sangat menghawatirkan akan satu hal,

“apakah ketika aku sudah tidak dipesantren lagi aku masih bisa merasakan kenikmatan seperti ini…?” desahnya sembari menutup kitab yang ia pangku.



Posted By Kang Santri7:11:00 PM