Thursday, February 9, 2012

Menangkal Santet 'Ala Fisika

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Santet, teluh, sihir atau apapun namanya adalah energi negatif yang mampu merusak kehidupan seseorang, berupa terkena penyakit, kehancuran rumah tangga hingga sampai kematian.

Berbagai penyelidikan pun telah banyak dilakukan ilmuwan terhadap fenomena santet dan sejenisnya. Tentu metode penelitian para ilmuwan agak berbeda dengan agamawan.

Jika para agamawan memakai rujukan dalil-dalil kitab suci (ayat kitabiyah), maka para ilmuwan menggunakan ayat kauniyah (alam semesta) untuk menyelidiki santet ini.

Penyelidikan yang menggunakan ayat kauniyah tentunya harus memiliki metode yang sifatnya ilmiah, mulai dari mencari kasus-kasus santet, tipe-tipe santet, gejala, akibat dan sebagainya.

Lalu kemudian dilakukan berbagai eksperimen untuk penyembuhannya. Salah satu kesimpulan / pendapat yang mengemuka adalah santet itu sebenarnya adalah energi. Kenapa dalam kasus santet bisa masuk paku, kalajengking, penggorengan, dan lainnya, bisa dijelaskan melalui proses materialisasi energi.

Nah, santet dan mahluk halus itu ternyata energi yang bermuatan (-). Bumipun ternyata memiliki muatan (-). Dalam hukum C Coulomb dikatakan bahwa muatan yang senama akan saling tolak menolak dan muatan yang tidak senama justru akan tarik menarik. Rumusnya :

F = K * ((Q1*Q2)/R^2)
F = gaya tarik menarik
K = Konstanta
Q1, Q2 = muatan
R = jarak

Nah karena demit alias mahluk halus dan bumi itu sama-sama bermuatan (-) makanya para demit itu tidaklah menyentuh bumi.

Orang tua jaman dulu juga sering mengingatkan jika bicara dengan orang yang tidak dikenal pada malam hari maka lihatlah apakah kakinya menapak ke bumi atau tidak. Jika tidak, maka ia berarti golongan mahluk halus.

Begitu juga dengan santet yang ternyata bermuatan (-), maka secara fisika bisa ditanggulangi atau ditangkal dengan hukum C Coulomb ini.

Disini kita tidak membahas metode melawan santet dengan zikir karena sudah banyak dibahas tapi kita akan mencoba menawarkan alternatif lainnya yang bisa bersifat "stand alone" (untuk non muslim) maupun digabungkan dengan zikir (untuk muslim).

Beberapa Metodenya :

1. Tidurlah di lantai yang langsung menyentuh bumi















Boleh gunakan alas tidur asal tidak lebih dari 15 Cm. Dengan tidur di lantai maka santet kesulitan masuk karena terhalang muatan (-) dari bumi.

2. Membuat alat elektronik yang mampu memancarkan gelombang bermuatan (-)














Makhluk halus, jin, santet, dll akan menjauh jika terkena getaran alat ini. Tapi kelemahan alat ini tidak mampu mendeteksi mahluk baik dan jahat.

Jadi, alat ini akan "menghajar" mahluk apa saja. Jika ada jin baik dan jin jahat maka keduanya akan "diusir" juga.

3. Menanam pohon atau tanaman yang memiliki muatan (-)



















Bagi yang peka spiritual, aura tanaman ini adalah terasa "dingin". Pohon yang memiliki muatan (-) diantaranya : dadap, pacar air, kelor, bambu kuning dll.

Tanaman sejenis ini paling tidak disukai mahluk halus. Biasanya tanaman bermuatan (-) ini tidaklah mencengkram terlalu kuat di tanah (bumi) dibandingkan dengan tanaman bermuatan (+)

Lain halnya dengan pohon yang memiliki muatan (+) seperti pohon asem, beringin, belimbing, kemuning, alas randu, dll maka phohon sejenis ini tentu akan menarik mahluk halus dan seringkali dijadikan tempat tinggal.

Hal ini dikarenakan ada gaya tarik menarik antara pohon (+) dan mahluk halus (-) sesuai hukum C Coulomb.

Terlepas dari berhasil atau tidaknya cara-cara di atas, semuanya pasti akan kembali bergantung pada Kekuasaan Tuhan Sang Pencipta.

Cara yang paling ampuh untuk menangkal segala hal buruk yang ada di sekeliling kita adalah tetap berserah dan mendekatkan diri kepada-Nya sembari mengharapkan perlindungan-Nya.

[Sumber: ApakabarDunia]

Posted By Kang Santri7:54:00 PM

Kata Mutiara Cinta Ala Santri

Filled under:


"Asmara adalah api Allah yang menyala, dimana datang dan perginya adalah dihati"

"Tanda-tanda cinta itu tidaklah samar pada seseorang, seperti halnya pembawa 

minyak kasturi wangian bunga semerbak tak dapat dirahasiakan"

"Sesungguhnya hati itu bila telah hilang cintanya maka bagaikan kaca 

yang pecah tak dapat di tambal lagi"

"Biarlah ku berbicara padanya dengan secarik kertas dan tarian penaku ini, 

barangkali ia mahu menerima cintaku dengan tanpa penyesalan"

"Tiada jalan bagiku padanya selain menyebutnya dengan hati 

yang dapat mengobarkan api cinta dan rindu didadaku"

"Sungguh kok andaikan engkau minta saksi akan cintaku padamu 

maka basahnya pipiku dengan air mata lebih tepat sebagai saksi"

"Kalau engkau aku ibaratkan dengan bulan purnama yang terbit, 

berarti aku mengurangi hakmu sebab engkau lebih elok dan lebih indah"

"Bukan maksud hatiku berpisah denganmu, 

akan tetapi kehendak Allah diatas semua maksudku"

"Tak ada tabir penghalang yang dapat menjauhkan harapanku terhadap dirimu. 

Langit saja masih dapat diharap cerah ketika tertutup awan"

"Bila aku berbaring seorang diri dikamarku maka seketika itu terlintas bayangmu dalam hatiku"

"Hatipun kini terbakar, airmata berderai sudah, kesusahan makin menumpuk dada dan kesabaran sudah hilang bagaimana bisa ada ketenangan? 

pada orang yang tak bisa tenang karena terluka oleh amukan cinta, rindu dan gelisah"

 "Asmara seseorang itu dapat menyebabkan dia hina
dan mendamparkannya kesebuah bencana yang panjang"

"PIndahkanlah hatimu kemanapun yang engkau sukai dari cintamu (cinta kepada Allah).
Namun ketahuilah, tak ada cinta selain cinta pertama (cinta kepada Allah).
Banyak sekali tempat dibumi ini yang disukai oleh pemuda (hamba)
Sedangkan kerinduannya selamanya pada tempat tinggal yang
pertama (kembali kepada Allah)"


"Wahai jiwaku, sabarlah jangan bergejolak. Sebab apa yang
di tentukan Allah pasti akan terjadi"


"Bacalah suratku seolah-olah engkau melihatku, dan jika
engkau tidak merasa melihatku maka rasakanlah
aku yang melihatmu"





 

Posted By Kang Santri4:08:00 PM

Cerpen (Biarlah Waktu Yang Menuntunku)

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Tampak dari kejauhan bersama kehangatan surya pagi, seorang anak kecil berlari dengan kedua kaki mungilnya yang dihiasi lumpur becek, senyum mungil nan lucu kian terukir indah tergambar diraut wajahnya. Dengan tetesan keringat yang mengguyur tubuh layaknya lelaki dewasa sambil mengayunkan sebilah sabit kecil.

"rumput-rumput ini harus aku potong", bisiknya lirih sembari mengusap keringat.

Setengah jam kemudian,

"istirahatlah dulu Jaka" terlihat seorang kakek memanggil Jaka kecil dari kejauhan yang tengah sibuk dengan pekerjaannya.

Keduanya mencari tempat berteduh dari panasnya terik matahari, sambil meneguk air putih yang memang sudah dipersiapkan dari rumah.

"cucuku inilah kehidupan, sekeras apapun usaha dari manusia takkan pernah bisa mencapai titik kesempurnaan, seperti rumput yang kamu potong barusan, karena suatu saat ia akan tumbuh lebat lagi"

"maksud kakek?" Jaka hanya menatap bengong pada kakeknya yang sudah sembilan tahun mengasuhnya, semenjak Jaka harus kehilangan kedua orang tuanya dalam musibah longsor didesanya beberapa tahun yang lalu.

Sang kakek hanya tersenyum karena dia yakin suatu hari nanti Jaka pasti akan mengetahuinya sendiri.
Waktu terus berlalu, bertambah dua belas tahun sudah Jaka diberi kesempatan oleh Tuhan merasakan nikmatnya masih bisa menghirup udara segar.

Dibawah rimbun wangian kamboja, Jaka mendekati gundukan pusara dengan dua batu nisan berwarna hijau yang bediri tegak diatasnya.

"maafkan Jaka kek" butiran air bening menyapa wajahnya.

"Jaka tidak ada disamping kakek ketika izro'il menjemput kakek menghadap-Nya" Jaka masih larut dalam keheningan, karena memang pada waktu itu Jaka masih berada disalah satu pondok pesantren yang ada di Jawa Tengah.

Setelah melantunan bait do'a, Jaka teringat masa kecilnya bersama sang kakek.

"kek, nasihat-nasihat yang dulu pernah kakek sampaikan akan selalu Jaka pegang hingga Jaka menyusul kakek nanti.."


Pengalaman hidup telah memberi warna di setiap jengkal langkahnya menyusuri garis hidup, hidup sebatang kara tak membuatnya menafikan keadilan Tuhan. Karena ia bisa mensyukuri nikmat Tuhan yang ia terima.

Malam itu Jaka terlihat menitikan air mata dalam munajat, sesekali ia teringat nasihat mendiang sang kakek, usaha manusia takkan bisa mencapai hasil yang sempurna.

"kek, sekarang Jaka baru mengerti, maksud dari nasihat kakek dulu, kerena kesempurnaan hanyalah ada pada-Nya."


Seiring kehidupan yang berjalan sesuai qodrat yang telah ditetapkan, ukiran kesederhanaan terpatri kuat dalam kepribadiannya, langkah kaki yang dihiasi pelangi budi serta ramah tutur sapanya yang seakan mampu menjinakkan aungan ganas serigala. Tak heran bila orang-orang sekitar banyak yang menyukainya.

Jiwa muda yang mengalir dalam darahnya dibuntal dengan balutan kulit putih bersih dan memiliki aura wajah rupawan, sepertinya menjadi satu cobaan tersendiri yang harus ia hadapi ketika ada seorang gadis selalu memperhatikan dan sepertinya menaruh harapan akan cintanya.

"apa yang harus aku lakukan?" desahnya lirih seraya menatap daun kuning yang jatuh ditiup angina sore dipelataran rumahnya.

Setelah menunaikan sholat ashar disurau, tanpa diduga terlihat gadis cantik berkerudung ungu mengetuk pintu.

"Assalamu'alaikum, Jaka membukakan pintu sambil menjawab salam,

"Anisa.. kamu..??" Jaka agak canggung,

"eee..ee maaf ka, boleh aku bicara sebentar..?" Jaka mempersilahkan,
Setelah pertemuannya dengan Anisa, Jaka merasa sepertinya akan ada episode baru dalam kehidupannya yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Hampir dua puluh tiga tahun ia lalui masa sulit tanpa mengeluh tentang keadaan yang menimpa dirinya, sampai indah masa remaja pun seakan tak pernah ia rasakan.

Ibarat menjaga nyala lilin dimalam badai, sesulit itu pula ia berusaha menjaga perasaan Anisa supaya tidak kecewa dan sakit hati. Karena memang pada saat itu Jaka bingung harus menjawab apa.

"Jaka hampir dua tahun lamanya setelah kamu pulang dari pesantren aku memendam perasaan ini, tapi mengapa sedikitpun tak pernah kamu sadari". Jaka terus teringat kata-kata Anisa. Baginya lebih sulit mengeluarkan kata-kata untuk menjawab dibanding ia harus meratakan dan meluluh-lantahkan gundukan bukit.

Demi menjaga perasaan Anisa, Jaka mengambil selembar kertas.

"Iqro' risaalati ka annaki tarooni, fain lam takun tarooni arooki."
(bacalah suratku seakan-akan engkau melihatku, andai engkau tidak melihatmu maka aku yang melihatmu)
Anisa, kegersangan bumi yang dilupakan guyuran hujan adalah satu perumpamaan yang ada padaku saat ini, sampai-sampai aku tidak menyadari tentang perasaanmu terhadapku.

Anisa, Aku hawatir dengan siraman hujan yang engkau tawarkan.

Untuk saat ini biarlah ku isi celah-celah retakan tanah dengan proses keyakinanku untuk bisa mencintaimu, sampai hati ini benar-benar siap menerima siraman hujan yang engkau tawarkan padaku.

Nampak tersirat sedikit raut kekecewaan dari raut muka Anisa, Jaka apa yang terjadi denganmu..?. digenggamnya surat Jaka erat-erat.

Tapi dalam hati "Jaka aku suka caramu menanggapi perasaanku, meski itu tidak sesuai dengan keinginanku"

Anisa pun membalas surat Jaka.

"Jaka, tak ada tabir penghalang yang dapat menjauhkan harapanku terhadap dirimu. Seperti langit yang masih dapat diharap cerah ketika tertutup awan legam.

Sunguh kok andaikan engkau minta saksi akan cintaku padamu, maka basahnya pipiku dengan air mata lebih tepat menjadi saksinya.

Masih dalam suratnya, Anisa menambahkan sebuah syair,

"Hatipun kini terbakar, air mata berderai sudah.
Kesusahan makin menumpuk didadaku.
Bagaimana ada ketenangan?
Pada orang yang tak bisa tenang karena terluka oleh amukan cinta, rindu dan gelisah?.

Jaka tampak terasa tertegun dan tersentak membacanya.

"Anisa, aku yakin Alloh sudah mempunyai rencana yang indah buat kita, entah apapun itu, dan kapan waktunya", bisiknya dalam hati.

Setelah berziarah kemakam kedua orang tua dan kakeknya, tanpa sepengetahuan Jaka lelaki separuh baya dengan janggut agak lebat yang menempel rapi didagu datang menghampiri.

"Assalamu'alaikum nak Jaka"

Setelah menjawab salam, Jaka mencoba mengenali lelaki yang menyapanya,

"masih ingat dengan paman..?"
"paman Awab?" Jaka nampak girang.

Setelah beramah-tamah menuju jalan pulang, keduanya kini duduk dibawah rimbun pohon beringin depan rumah tua yang tidak lain adalah rumah yang dulu banyak memberi pelajaran hidup bersama kakeknya.

"Nak Jaka...ada yang ingin paman sampaikan dari mendiang Mbah Zainal",

"maksud paman..?" sambil keduanya masuk kedalam rumah.


Malam itu rintik gerimis menambah kehangatan bagi manusia yang sudah lelap dalam tidur. Lukisan mendung perlahan menutup rembulan yang mulai malas menampakkan cahaya, dengan iringan kilat serta suara gaduh halilintar.

Sehabis qiyamullail, pandangan Jaka tertuju pada kotak segi empat yang terbungkus kain putih lusuh tergeletak rapi di laci.

Dengan perlahan Jaka membukanya, ia mendapati sebuah kitab dengan sampul warna hitam yang tidak lain adalah kitab Syarihul Iman karangan Syaikh Ahmad Rifa'i, juga kumpulan kertas yang berisikan nasihat.

Tanpa sengaja Jaka mendapati selembar kertas yang terselip didalam kitab dengan gaya tulisan jawa pegon, Jaka pun membaca sambil menterjemahkan kedalam bahasa Indonesia.

"Cinta merupakan salah satu rahasia kebesaran Tuhan, dimana datang dan perginya hanyalah hati yang mengerti",

"Isyqul insani tuuritsuhudzdzulla watulqiihi filbalaa'i ththowwil" (Asmara seseorang itu dapat menyebabkan ia hina dan mendamparkannya kesebuah bencana yang panjang)

Sambil tersenyum simpul "mungkin ini tulisan kakek waktu masih seusia denganku dulu".

Tanpa ia sadari bayangan wajah Anisa penyapa ingatan.
"Anisa.. Insya Alloh..?" desahnya lirih.


Posted By Kang Santri4:00:00 PM

Kisah Haru Dari Seorang Puteri Kecil (Silahkan Menitikan Air Mata)

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Sepasang suami isteri, seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur. Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.

Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan , tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya... karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.

Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.

Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, "Kerjaan siapa ini !!!" .... Pembantu rumah yang tersentak engan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah adam ketakutan lebih-lebih melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ' Saya tidak tahu..tuan." "Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?" hardik si isteri lagi.

Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata "Dita yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik ...kan!" katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa.. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali-kali ke telapak tangan anaknya . Si anak yang tak mengerti apa apa menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya.

Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tidak tahu harus berbuat apa... Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.

Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka-luka dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka-lukanya itu terkena air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. "Oleskan obat saja!" jawab bapak si anak.

Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. "Dita demam, Bu"...jawab pembantunya ringkas. "Kasih minum panadol aja ," jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya.

Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas. "Sore nanti kita bawa ke klinik.. Pukul 5.00 sudah siap" kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya susah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. "Tidak ada pilihan.." kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut..."Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah" kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi.

Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. "Ayah.. ibu... Dita tidak akan melakukannya lagi.... Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi... Dita sayang ayah..sayang ibu.", katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. "Dita juga sayang Mbok Narti.." katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.

"Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti ?... Bagaimana Dita mau bermain nanti ?... Dita janji tidak akan mencoret-coret mobil lagi, " katanya berulang-ulang. Serasa hancur hati si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung-raung dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf...Tahun demi tahun kedua orang tua tersebut menahan kepedihan dan kehancuran bathin sampai suatu saat Sang Ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan wafat diiringi tangis penyesalannya yg tak bertepi..., Namun...., si Anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tersebut tetap hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya.

Subhanalloh......


Posted By Kang Santri3:17:00 PM

Sang Juara (Semoga Aku Tidak Menangis Saat Kalah)

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Suatu ketika, ada seorang anak yang sedang mengikuti sebuah lomba balap mobil mainan. Suasana sungguh meriah siang itu, sebab ini adalah babak final. Hanya tersisa empat orang sekarang dan mereka memamerkan setiap mobil mainan yang dimiliki. Semuanya buatan sendiri, sebab memang itulah peraturannya.

Ada seorang anak bernama Mark. Mobilnya tak istimewa, namun ia termasuk dalam empat anak yang masuk
final. Dibanding semua lawannya, mobil Mark lah yang paling tak sempurna. Beberapa anak menyangsikan kekuatan mobil itu untuk berpacu melawan mobil lainnya.

Yah, memang mobil itu tak begitu menarik. Dengan kayu yang sederhana dan sedikit lampu kedip diatasnya, tentu tak sebanding dengan hiasan mewah yang dimiliki mobil mainan lainnya. Namun, Mark bangga dengan semua itu, sebab mobil itu buatan tangannya sendiri.

Tibalah saat yang dinantikan. Final kejuaraan mobil balap mainan. setiap anak mulai bersiap digaris start, untuk mendorong mobil mereka kencang-kencang. Disetiap jalur lintasan, telah siap empat mobil, dengan empat pembalap kecilnya. Lintasan itu berbentuk lingkaran dengan empat jalur terpisah.

Namun, sesaat kemudian Mark meminta waktu sebentar sebelum lomba dimulai. Ia tampak berkomat-kamit seperti sedang berdo'a. Matanya terpejam, dengan tangan yang bertangkup memanjatkan do'a. Lalu, semenit
kemudian, ia berkata "ya, aku siap.."

Doorr... Tanda telah dimulai. Dengan satu hentakan kuat, mereka mulai mendorong mobilnya kuat-kuat. Semua mobilpun meluncur dengan cepat. Setiap orang bersorak-sorai, bersemangat, menjagokan mobilnya
masing-masing.

"Ayoo.. ayo.. cepat..cepat.. maju..maju" begitu teriak mereka. Ahha, sang pemenag harus ditentukan, tali lintasan finis pun telah terlambai. Dan Mark lah pemenangnya. Ya, semuanya senang, begitu juga Mark, ia berucap, dan berkomat-kamit dalam hati  "Terima kasih..."

Saat pembagian piala tiba. Mark maju kedepan dengan bangg. Sebelum piala itu diserahkan, ketua panitia bertanya.

"Hai jagoan, kamu tadi pasti berdo'a kepada Tuhan agar kamu menag bukan?" Mark terdiam.

"Bukan pak, bukan itu yang aku panjatkan.." kata Mark.

Ia lalu melanjutkan,

"Sepertinya tak adil untuk meminta pada Tuhan untuk menolongmu mengalahkan orang lain. "Aku hanya bermohon pada Tuhan, supaya aku tak menangis, jika aku kalah.." Semua hadirin terdiam mendengar itu. Setelah beberapa saat, terdengarlah gemuruh tepuk tangan yang memenuhi ruangan.


"Mari renungi, perkataan bijak dari seorang anak kecil ini..."

Posted By Kang Santri3:12:00 PM

(Ya Rasul) Aku Ingin Anak Lekakiku Menirumu

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Ketika lahir, anak lelakiku gelap benar kulitnya, Lalu kubilang pada ayahnya:  “Subhanallah, dia benar-benar mirip denganmu ya!”

Suamiku menjawab: “Bukankah sesuai keinginanmu? Kau yang bilang kalau anak lelaki ingin seperti aku.” 

Aku mengangguk. Suamiku kembali bekerja seperti biasa. Ketika bayi kecilku berulang tahun pertama, aku mengusulkan perayaannya dengan mengkhatamkan Al Quran di rumah Lalu kubilang pada suamiku: 

“Supaya ia menjadi penghafal Kitabullah ya,Yah.”

Suamiku menatap padaku seraya pelan berkata:
“Oh ya. Ide bagus itu.”

Bayi kami  itu, kami beri nama Ahmad, mengikuti panggilan Rasulnya. Tidak berapa lama, ia sudah pandai memanggil-manggil kami berdua: Ammaa. Apppaa. Lalu ia menunjuk pada  dirinya  seraya  berkata: Ammat! Maksudnya  ia Ahmad. Kami  berdua  sangat  bahagia dengan kehadirannya.

Ahmad  tumbuh  jadi  anak  cerdas,  persis  seperti  papanya.  Pelajaran  matematika sederhana sangat mudah dikuasainya. Ah, papanya memang jago matematika. Ia kebanggaan keluarganya. Sekarang pun sedang S3 di bidang Matematika.

Ketika Ahmad ulang tahun kelima, kami mengundang keluarga. Berdandan rapi kami semua. Tibalah saat Ahmad menjadi bosan dan agak mengesalkan. Tiba-tiba ia minta naik ke punggung  papanya.  Entah  apa  yang  menyebabkan  papanya  begitu  berang,  mungkin menganggap  Ahmad  sudah  sekolah,  sudah  terlalu  besar  untuk  main  kuda-kudaan,  atau lantaran banyak tamu dan ia kelelahan. Badan Ahmad terhempas ditolak papanya, wajahnya merah, tangisnya pecah, Muhammad terluka hatinya di hari ulang tahunnya kelima.
Sejak hari itu, Ahamad jadi pendiam. Murung ke sekolah, menyendiri di rumah. Ia tak lagi  suka  bertanya,  dan  ia menjadi  amat mudah marah. Aku  coba mendekati  suamiku,  dan menyampaikan  alasanku.  Ia  sedang  menyelesaikan  papernya  dan  tak  mau  diganggu  oleh urusan seremeh itu, katanya.

Tahun demi tahun berlalu. Tak terasa Ahmad telah selesai S1. Pemuda gagah, pandai dan pendiam telah membawakan aku seorang mantu dan seorang cucu. Ketika lahir, cucuku itu, istrinya berseru sambil tertawa-tawa lucu:

“Subhanallah! Kulitnya gelap, Mas, persis seperti kulitmu!”
Ahmad menoleh dengan kaku, tampak ia tersinggung dan merasa malu.

“Salahmu. Kamu yang ingin sendiri, kan. Kalau lelaki ingin seperti aku!”
Di  tanganku,  terajut  ruang  dan waktu.  Terasa  ada  yang  pedih  di  hatiku. Ada  yang mencemaskan aku.

Cucuku pulang ke rumah, bulan berlalu. Kami, nenek dan kakeknya, datang bertamu. Ahmad kecil sedang digendong ayahnya. Menangis  ia. Tiba-tiba Ahmad anakku menyergah sambil berteriak menghentak,

“Ah, gimana sih, kok nggak dikasih pampers anak ini!” Dengan kasar disorongkannya bayi mungil itu. 

Suamiku membaca korannya, tak tergerak oleh suasana. Ahmad, papa bayi ini, segera membersihkan  dirinya  di  kamar mandi.  Aku,  wanita  tua,  ruang  dan  waktu  kurajut  dalam pedih duka seorang  istri dan seorang  ibu. Aku  tak sanggup  lagi menahan gelora di dada  ini.

Pecahlah  tangisku  serasa  sudah  berabad  aku  menyimpannya.  Aku  rebut  koran  di  tangan suamiku dan kukatakan padanya: 

“Dulu kau hempaskan Ahmad di lantai itu! Ulang tahun ke lima, kau ingat? Kau tolak ia merangkak  di  punggungmu!  Dan  ketika  aku minta  kau  perbaiki,  kau  bilang  kau  sibuk sekali.  Kau  dengar?  Kau  dengar  anakmu  tadi?  Dia  tidak  suka  dipipisi.  Dia  asing  dengan anaknya sendiri!”

Allahumma  Shali  ala Muhammad.  Allahumma  Shalli  alaihi  wassalaam.  Aku  ingin anakku menirumu, wahai Nabi. Engkau  membopong  cucu-cucumu  di  punggungmu,  engkau  bermain  berkejaran dengan mereka  Engkau  bahkan menengok  seorang  anak  yang  burung  peliharaannya mati.

Dan engkau pula yang berkata ketika seorang ibu merenggut bayinya dari gendonganmu,  “Bekas najis  ini bisa kuseka,  tetapi apakah kau bisa menggantikan  saraf halus  yang putus di kepalanya?”

Aku memandang suamiku yang terpaku. Aku memandang anakku yang tegak diam bagai karang tajam. Kupandangi keduanya, berlinangan air mata. Aku tak boleh berputus asa dari Rahmat-Mu, ya Allah, bukankah begitu? Lalu kuambil tangan suamiku, meski kaku, kubimbing ia mendekat kepada Ahmad. Kubawa tangannya menyisir kepala anaknya, yang berpuluh tahun tak merasakan sentuhan tangan
seorang ayah yang didamba.

Dada Ahmad berguncang menerima belaian. Kukatakan di hadapan mereka berdua, “Lakukanlah  ini,  permintaan  seorang  yang  akan  dijemput  ajal  yang  tak  mampu mewariskan apa-apa: kecuali Cinta.

Lakukanlah, demi setiap anak lelaki yang akan lahir dan menurunkan keturunan demi keturunan. Lakukanlah, untuk sebuah perubahan besar di rumah tangga kita! Juga di permukaan dunia. Tak  akan pernah  ada perdamaian  selama  anak  laki-laki  tak diajarkan  rasa kasih dan sayang,  ucapan  kemesraan,  sentuhan  dan  belaian,  bukan  hanya  pelajaran  untuk  menjadi jantan seperti yang kalian pahami. Kegagahan tanpa perasaan.

Dua laki-laki dewasa mengambang air di mata mereka. Dua laki-laki dewasa dan seorang wanita tua terpaku di tempatnya. Memang tak mudah untuk berubah. Tapi harus dimulai. Aku serahkan bayi Ahmad ke pelukan suamiku. Aku bilang:

“Tak ada kata terlambat untuk mulai, Sayang.”
Dua  laki-laki  dewasa  itu  kini  belajar  kembali. Menggendong  bersama,  bergantian menggantikan  popoknya,  pura-pura  merancang  hari  depan  si  bayi  sambil  tertawa-tawa berdua,  membuka  kisah-kisah  lama  mereka  yang  penuh  kabut  rahasia,  dan  menemukan betapa  sesungguhnya  di  antara  keduanya  Allah menitipkan  perasaan  saling membutuhkan yang  tak  pernah  terungkapkan  dengan  kata,  atau  sentuhan.  Kini  tawa  mereka  memenuhi rongga dadaku yang sesak oleh bahagia, syukur pada-Mu , Ya Allah! Engkaulah penolong satu-satunya ketika semua jalan tampak buntu.

Engkaulah cahaya di ujung keputusasaanku. Tiga laki-laki dalam hidupku aku titipkan mereka di tangan-Mu.
Kelak, jika aku boleh bertemu dengannya, Nabiku, aku ingin sekali berkata:

Ya, Nabi. aku telah mencoba sepenuh daya tenaga untuk mengajak mereka semua menirumu! Amin, Alhamdulillah. 

SEBARKAN ke teman anda jika menurut anda catatan ini bermanfaat

Author : PercikanIman.org
Shared By Kisah Penuh Hikmah 


Posted By Kang Santri2:56:00 PM

Wednesday, February 8, 2012

Selamat Jalan Saudaraku (Kisah Nyata)

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Tiga tahun belakangan ini, aku sering teringat kisah masa kecilku dulu.  “siapa yang buat kamu nangis sampai kayak gini dik..?” itulah sepenggal kalimah kakak yang terus kuingat sampai sekarang.

Juga tentang adikku satu-satunya, kami sering berantem hanya karena hal sepele, meski demikian aku tidak terima saat melihat ia dinakalin teman sepermainannya ahhh… namanya juga masih anak-anak.

Hingga kami tumbuh dewasa..

Sore itu, sehabis pulang ngajar dari TKA/TPA ADDIENA tidak seperti biasanya tiba-tiba kakakku mengajak ngobrol didalam kamar “kok, tumben-tumbenan dia ngajak ngobrol” aku agak sedikit heran, dari obrolan itulah aku mendapati keanehan dari kakak ku, karena tanpa alasan yang jelas ia menuduh sahabatku baikku yang bukan-bukan.

Hingga suatu malam, sekitar jam satu ia berteriak amat keras hingga membangunkan seisi rumah yang sedang tidur. Ia meraung keras sambil mengumpat seperti orang yang sedang kesurupan. Hingga keesokan harinya baru aku sadari bahwa kakak ku tercinta ini sudah kehilangan akal sehatnya. Sudah berbagai macam cara jenis pengobatan ia alami, namun belum juga menemukan kesembuhan.

Ya.. Alloh....
Aku masih teringat jelas, suatu malam pas kondisinya bisa diajak komunikasi ia bertanya “din… apakah kakakmu ini bisa sembuh?”, aku tidak tega karena waktu kondisi kakak kambuh, kakak sering nyakitin kalian terutama Ibu..” aku berusaha menahan agar airmata yang makin menggenang dikelopakan ini untuk tidak jatuh, dengan dada yang agak sesak “kak.. semua penyakit itu pasti ada obatnya”. “kamu disini aja ya temenin kakak tidur” sambil menemaninya tidur aku mengambil kitab Durrotun Nasihin dan mambacanya guna menceritakan kisah-kisah hikmah agar kakak ku kuat.

Karena waktu putus asa dia pernah bilang mahu bunuh diri. Hingga keluarga memutuskan untuk membawanya ke pondok khusus yang menangani orang-orang yang mengalami gangguan jiwa tepatnya.

Hampir tiga tahun sudah kakakku sakit. Belum selesai dengan satu cobaan, tiba-tiba kakak ku yang sulung memberi kabar “din.. cepet pulang  fidhun masuk rumah sakit”. Masyaa Alloh… ia divonis mengidap penyakit gagal ginjaal!!! di umurnya yang baru 22 tahun.

Masih aku ingat.. saat ia merintih kesakitan yang teramat sangat, menahan rasa dahaga melebihi dahaganya orang yang berpuasa karena dokter hanya memperbolehkan maksimal satu hari minumnya tidak boleh lebih dari setengah gelas. Masih teringat jelas ketika ia merengek minta minum “kak.. minta satu cendok aja… masak gak boleh” hampir menangis aku melihatnya,  sambil tersenyum aku mengusap dahinya yang keringetan, seraya ku hibur biar sejenak dia lupa akan dahaganya.

Tiga puluh sembilan hari sudah dia dalam kondisi kritis dan tidak berdaya.
“Astaghfirulloh…. Ya Alloh… hamba mohon ampun” keluhnya sambil menangis, “Bu’… tolong sampein kepada semua orang di desa kita, aku minta maaf kalau pernah berbuat salah pada mereka semua,” Ibuku hanya mengangguk menahan tangis, “kak… kak sabih sedang apa ya sekarang… aku nyesel dulu waktu aku sehat gak pernah ngejenguk dia”. Akupun tidak bisa berkata apa-apa.

Tibalah dimalam ke empat puluh ia dirawat di rumah sakit. Sehabis menunaikan sholat maghrib, aku dan kakak sulungku Rey, menemani dipinggir ranjangnya, “Ya Alloh…!!! sakit kaakkk…. sakiiitttt”, sambil terengah-engah “kak…. kok susah banget bernafas..” tubuhku pun merinding, dentuman jantungkupun kian tidak beraturan karena dilanda kehawatiran yang sangat.

Dengan bergegas kakak sulungku memanggil dokter. Hingga akhirnya sambil ku genggam erat tanggannya dan kurasakan tubuh yang dulunya hangat menjadi dingin, hingga ahirnya aku beru menyadari bahwa adikku sudah tidak bernyawa lagi. “INNAA LILLAHI WAINNAA ILAIHI ROJI’UN…”.

Selamat jalan adikku… kakak yakin, rasa sakit yang kau alami bisa menjadikanmu kederejat syahid akhirat.

Niat sucimu ingin memberangkatkan haji kedua orang tuamu, semoga menjadi salah satu amalan yang diterima Tuhanmu.

Ditulis, 24 November 2010 M



Posted By Kang Santri9:18:00 AM

Tuesday, February 7, 2012

Kisah Ayah, Anak dan Burung Gagak

Filled under:


Murtakibudz Dzunub - Pada  suatu  petang  seorang  tua  bersama  anak  mudanya  yang  baru  menamatkan pendidikan  tinggi  duduk  berbincang-bincang  di  halaman  sambil memperhatikan  suasana  di  sekitar mereka.

Tiba-tiba  seekor  burung  gagak  hinggap  di  ranting  pokok  berhampiran.  Si  ayah  lalu menuding jari ke arah gagak sambil bertanya,

“Nak, apakah benda itu?”
“Burung gagak”, jawab si anak.

Si  ayah  mengangguk-angguk,  namun  sejurus  kemudian  sekali  lagi  mengulangi pertanyaan yang sama. Si anak menyangka ayahnya kurang mendengar jawabannya tadi, lalu menjawab dengan sedikit kuat,

“Itu burung gagak, Ayah!”

Tetapi sejurus kemudian si ayah bertanya lagi pertanyaan yang sama. Si  anak  merasa  agak  keliru  dan  sedikit  bingung  dengan  pertanyaan  yang  sama diulang-ulang, lalu menjawab dengan lebih kuat, 

“BURUNG GAGAK!!” Si ayah terdiam seketika.

Namun  tidak  lama  kemudian  sekali  lagi  sang  ayah  mengajukan  pertanyaan  yang serupa  hingga membuat  si  anak  hilang  kesabaran  dan menjawab  dengan  nada  yang  kesal kepada si ayah,

“Itu  gagak,  Ayah.”  Tetapi  agak  mengejutkan  si  anak,  karena  si  ayah  sekali  lagi membuka mulut hanya untuk bertanya hal yang sama. Dan kali ini si anak benar-benar hilang sabar dan menjadi marah.

“Ayah!!! Saya tak tahu Ayah paham atau tidak. Tapi sudah 5 kali Ayah bertanya soal hal  tersebut  dan  saya  sudah  juga memberikan  jawabannya. Apa  lagi  yang Ayah mau  saya katakan???? Itu burung gagak, burung gagak, Ayah…..”, kata si anak dengan nada yang begitu marah. Si  ayah  lalu  bangun  menuju  ke  dalam  rumah  meninggalkan  si  anak  yang kebingungan.

Sesaat kemudian si ayah keluar lagi dengan sesuatu di tangannya. Dia mengulurkan benda itu kepada anaknya yang masih geram dan bertanya-tanya. Diperlihatkannya sebuah diary lama.

“Coba kau baca apa yang pernah Ayah tulis di dalam diary ini,” pinta si Ayah. Si anak setuju dan membaca paragraf yang berikut.

“Hari ini aku di halaman melayani anakku yang genap berumur lima tahun. Tiba-tiba seekor  gagak  hinggap  di  pohon  berhampiran.  Anakku  terus menunjuk  ke  arah  gagak  dan bertanya, 

“Ayah, apa itu?”
Dan aku menjawab,
“Burung gagak.”

Walau  bagaimana  pun,  anakku  terus  bertanya  soal  yang  serupa  dan  setiap  kali  aku menjawab dengan jawaban yang sama. Sehingga 25 kali anakku bertanya demikian, dan demi rasa cinta dan sayangku, aku terus menjawab untuk memenuhi perasaan ingin tahunya.

“Aku berharap hal ini menjadi suatu pendidikan yang berharga untuk anakku kelak.” Setelah  selesai membaca paragraf  tersebut  si  anak mengangkat muka memandang wajah  si Ayah yang kelihatan sayu. Si Ayah dengan perlahan bersuara,

“Hari  ini Ayah  baru  bertanya  kepadamu  soal  yang  sama  sebanyak  5  kali,  dan  kau telah hilang kesabaran serta marah.”

Lalu  si  anak  seketika  itu  juga  menangis  dan  bersimpuh  di  kedua  kaki  ayahnya memohon ampun atas apa yg telah ia perbuat.

Author : PercikanIman.org

Posted By Kang Santri12:50:00 PM

Monday, February 6, 2012

Rasulullah SAW dan Pengemis Buta

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya, Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya.


Namun, setiap pagi Muhammad Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawakan makanan, dan tanpa berucap sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah SAW. Rasulullah SAW melakukan hal ini setiap hari sampai beliau wafat.
Setelah wafatnya Rasulullah SAW, tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari sahabat terdekat Rasulullah SAW yakni Abubakar RA berkunjung ke rumah anaknya Aisyah RA yang tidak lain tidak bukan merupakan isteri Rasulullah SAW dan beliau bertanya kepada anaknya itu,Anakku, adakah kebiasaan kekasihku yang belum aku kerjakan?

Aisyah RA menjawab,Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak ada satu kebiasaannya pun yang belum ayah lakukan kecuali satu saja.

Apakah Itu?, tanya Abubakar RA.

Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada disana, kata Aisyah RA.

Keesokan harinya Abubakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abubakar RA mendatangi pengemis itu lalu memberikan makanan itu kepadanya.
Ketika Abubakar RA mulai menyuapinya, sipengemis marah sambil menghardik, Siapakah kamu? Abubakar RA menjawab,Aku orang yang biasa (mendatangi engkau). Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku, bantah si pengemis buta itu.

Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut, setelah itu ia berikan padaku, pengemis itu melanjutkan perkataannya.

Abubakar RA tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW.

Seketika itu juga pengemis itu pun menangis mendengar penjelasan Abubakar RA, dan kemudian berkata, Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia….

Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abubakar RA saat itu juga dan sejak hari itu menjadi muslim.



Posted By Kang Santri10:17:00 PM

Detik-Detik Wafatnya Rasulullah

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Fatimah binti Rasulullah sedang diliputi kesedihan karena ayah tercintanya sedang dilanda sakit, tiba-tiba dari luar pintu terdengar seseorang berseru mengucapkan salam, kemudian berkata:

“Bolehkah aku masuk?” tanyanya.

Tanpa mengetahui siapa orang itu, Fatimah tidak mengizinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?”

“Tak tahulah ayahku, orang itu sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut.
Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. “Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut,” kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut bersama menyertainya.

Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. “Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. “Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu, ” kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

“Engkau tidak senang mendengar khabar ini wahai kekasih Allah?” Tanya Jibril lagi. “Wahai Jibril, khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?” “Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. “Jibril, betapa sakitnya sakaratul maut ini.”
Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.

“Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. “Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril.

Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi.
“Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. “Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.

Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. “Uushiikum bis-shalaati, wa maa malakat aimaanukum – peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.” Di luar, pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii, ummatii, ummatiii!”

Subhanallah, tulisan ini menginagtkanku sekitar 10 tahun yang lalu saat pertama kali membaca kisah wafatnya Rasulullah. Masih ku rasakan bagaimana terharu dan sedihnya waktu itu. Karena kesan pertama membaca kisah wafatnya Rasulullah seolah begitu masuk kehati hingga bercucuran airmata penuh keharuan.

 

Posted By Kang Santri10:11:00 PM

Hari Ini Iblis Berhasil Menertawakanku

Murtakibudz Dzunub - Mungkin hari ini Iblis dan bala tentaranya sedang tertawa terbahak-bahak merayakan keberhasilannya, yang sukses membuat hatiku terpuruk seakan tak berbentuk.

Bahkan anak kecil pun takut melihat kemuraman raut muka ku hari ini,  harus aku akui bahwa ketika Allah menguji kita dan kita berhasil melewatinya suatu saat nanti Allah akan menguji kita lewat orang-orang yang dekat dengan kita entah itu keluarga, tetangga, bahkan sahabat.

Begitu juga dengan Syaithon la'natullah 'alaih, saat dia gagal merayu kita untuk mengikuti bisikannya. Maka dia akan beralih menemui orang-orang yang dekat dengan kita yang bisa dijadikannya sebagai media.


Kenapa syaithon hari ini menertawakanku?
Bukankah semalam dia menangis melihatku?

Karena hari ini hatiku terbawa oleh kesedihan orang terdekatku.
Karena hari ini seolah hatiku ingin berteriak beringas.
Karena hari ini hatiku gundah dan resah hingga membuat apa yang seharusnya 
hari ini aku selesaikan jadi terbengkalai.
Hanya bisa kulihat arsip materi tulisan yang belum mampu kuselesaikan, 
karena benar-benar otak ku sedang tumpul. Karena hari ini bisikannya
berhasil mengelabui hatiku.

Hingga aku berfikir, "tak ada waktu seindah malam hari"
Karena pada waktu malam, sudah ku letakkan semua penat duniawi dalam tas hitamku
Karena pada waktu siang, syaithon-syaithon yang selalu mengikuti orang yang mencari 
rezeki sudah kembali ke posnya masing-masing
Karena pada waktu siang, memang lebih banyak bising dari pada hening

(hemm.. kiranya sudah cukup menyalahkan syaithon. Sekarang kita ambil sisi baiknya)

Kita tahu bahwa Iblis amat membenci bahkan menangis ketika melihat seorang mukmin berhasil menghidupkan malamnya dengan shalat, munajat, baca qur'an juga dzikir.

Kalau kita ditanya "masihkah kau mahu mendapat anugerah menghidupkan malammu?" Jika kita menjawab mahu, maka bersiap-siaplah dengan teror juga fitnah dari bisikan syaithon,  karena dia pasti bersumpah supaya kita tidak bisa mendapatkan kemuliaan di malam itu.

Itulah kenapa saat kita diuji dan kita mampu, Allah mengalihkan ujian kita lahir bukan dari diri sendiri tapi melainkan dari orang-orang sekitar, semua tidak lain agar kita bisa menghidupkan malam guna merintih dalam shalat dan munajat.

Oke, baiklah wahai syaithon la'natullaoh 'alaih.

Cukup disini saja menikmati tertawamu, sebentar lagi raut muka kusutku akan disiram air wudlu untuk shalat dhuhur, dan aku tahu pasti saat itu kamu akan lari terbirit-birit ngumpet di selokan saat mendengar adzan.

La haula wala quwwata illa billah......


Posted By Kang Santri1:03:00 PM

Sunday, February 5, 2012

Wanita, begitu besar fitnahmu buat kami (Lelaki)

Filled under:

Murtakibudz DZunub - Siapa yang bisa menolak tipu daya dari seorang wanita? Tidak ada satu pun yang bisa menolak, kecuali mereka yang senantiasa dalam penjagaan Allah.

Qabil, Harut dan Marut, Bal'am, Barsisha dan lain sebagainya... Mereka yang sudah mencapai kedudukan tertinggi dihadapan Allah, harus binasa karena fitnah dari kecantikan seorang wanita.

Apalagi seorang hamba biasa yang tingkat keimanannya masih ditingkat terendah? "Astaghfirullah...". Benarlah jika Rasulullah pernah bersabda yang diriwayatkan oleh Asysyihaab, bahwa "Wanita adalah alat perangkap (penjaring) setan.."

Wanita digunakan Iblis la'natullah 'alaih sebagai senjata pamungkas, ketika senjata yang lainnya tandas.

Wahai kaum dari Ibu Hawa...
Kami sangat bersyukur dan berterimakasih karena engkau sudah menjadi shalihah
Kami sangat bangga kepadamu yang terus berusaha ingin menjadi shalihah

Kami para lelaki Insya Allah akan membantumu menjaga auratmu dan kehormatanmu
Karena kami juga sadar bahwa kamilah salah satu yang menyebabkan diantara kalian tidak mampu menjadi shalihah

Sebagaimana dulu Rasulullah berkata dalam riwayat Ibnu Majah dan Al Hakim:

Tiap menjelang pagi hari dua malaikat berseru: "Celaka laki-laki dari godaan wanita dan
celaka wanita dari godaan laki-laki."

Wahai wanita, engkau adalah ibu dari lelaki, engkau adalah nenek dari lelaki, engkau adalah kakak dari lelaki, engkau adalah adik dari lelaki, engkau adalah istri dari lelaki, engkau adalah ibu dari anak-anaknya lelaki, dan engkau juga nenek dari cucu-cucunya lelaki. Maka dari itu kami (lelaki) amat sedih saat membaca hadits ini....

Diperlihatkan kepadaku neraka kebanyakan penghuninya kaum wanita karena kekufuran mereka. Para sahabat bertanya, "Apakah mereka kufur kepada Allah?" Nabi Saw menjawab, "Mereka mengkufuri pergaulan dan kebajikan (kebaikan). Apabila kamu berbuat ihsan kepada seorang dari mereka sepanjang umur lalu dia mengalami sesuatu yang tidak menyenangkannya
dia akan berkata, "Kamu belum pernah berbuat baik kepadaku." (HR. Bukhari)

Hingga kami selalu berdo'a, agar engkau tidak termasuk diantara salah satu yang disebutkan di hadits tadi.

Untuk itu, mari kita jaga 'hablum minannas' ini dengan baik, karena kami membutuhkanmu seperti juga engkau membutuhkan kami untuk berjalan diatas landasan ketaqwa'an.

Dan inilah wasiat Rasulullah, yang harus kita jaga bersama,
Barangsiapa berjabatan tangan dengan perempuan yang bukan mahramnya
maka dia dimurkai Allah Azza wajalla. (HR.Ibnu Baabawih)

Seorang wanita yang memakai minyak wangi lalu lewat di tengah-tengah kaum (laki-laki)
dengan maksud agar mereka menghirup bau harumnya maka wanita itu adalah pelacur. (HR. An-Nasaa'i)

Tiada aku meninggalkan suatu fitnah sesudahku lebih berbahaya terhadap kaum pria
daripada godaan wanita. (HR. Bukhari dan Muslim)

Posted By Kang Santri3:46:00 PM

Saturday, February 4, 2012

Saat Ajal Menjemput ku Nanti

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Sahabat... Ketika ajal menjemputku nanti, ku harap ada bias-bias kebaikan amal yang sedia menemani.

Ketika maut merenggutku nanti, ku ingin bersandar pada tirai warna pelangi bertudung sutra senja dari ketulusan budi dengan iman di hati sebagai bekal yang akan ku bawa nanti.

Ketika malaikat maut mengunjungiku nanti diatas pembaringan jasad, ku nanti bimbinganmu menuntun lafadz thayyibah nan indah.

Ketika sakaratul maut nanti, meski tak sempat sebenarnya ada yang ingin aku  sampaikan kepadamu sahabat.

Sebentar lagi akan sirna semua nikmat duniawi, beberapa detik lagi tak kan kau jumpai senyum, canda, bahkan tangis dari raut muka kotor ini.

Hanya berharap semoga ikatan yang di jalin diatas pondasi cinta dan benci semata karena Allah bisa mempertemukan kita di syurga nanti.

Janganlah bersedih hati atas prahara ini, hapus air matamu aku akan menunggumu karena pasti suatu saat nanti kau akan menyusulku.

Ambillah kebaikan dari ikatan ini supaya manfaatnya masih bisa ku dapati, dan aku berharap engkau tidak menceritakan kepada orang-orang atas keburukan yang telah aku lakukan selama hidupku.

Ku nanti syafaatmu, ketika malaikat penjaga neraka meluluh-lantahkan ragaku dan membakar kulit tipis ku, supaya aku bisa merasakan wangian syurga bersamamu.

Saat jasad ku di usung di dalam keranda berbalut harum kenanga dan melati, do’akan aku. Semoga setelah kau kuburkan nanti, dengan Rahmat dan belas kasihNya bisa ku jawab pertanyaan-pertanyaan dari kedua malaikat itu. Agar lapang kuburku, supaya tak kualami penyempitan kubur yang akan meremukkan tulang-tulang rusukku.

Salam kesejahteraan ku sampaikan untukmu, bagimu masih ada waktu memperbaiki diri dan memperbanyak amal shalih. Sekarang waktu ku hampir habis, aku akan merindukan saat kita larut dalam sedu tangisan dzikir malam itu.

Sahabat, aku menunggumu....


Posted By Kang Santri5:03:00 PM

Friday, February 3, 2012

Cinta Suci Seorang Muslimah

Murtakibudz Dzunub -  Dikisahkan ada seorang pemuda yang sangat terpesona melihat kecantikan seorang wanita,  hatinya selalu gelisah sejak tatapan pertamanya, dia  gemetar  tatkala bayangan wajahnya hadir dalam lamunan, hingga ia merasa sangat tersiksa dengan perasaan cinta yang menjangkiti dirinya.

Dengan memberanikan diri  ia menyuruh salah seorang budaknya untuk menyampaikan perasaan hatinya. Ia pun menulis sepucuk surat yang diletakkan diatas nampan perak dengan ditutupi selembar kain sutera kuning.


“wahai engkau yang sudah membuat diriku  dimabuk kepayang setelah memandang wajahmu, kiranya hasrat untuk menyampaikan perasaanku bisa mengurangi kegundahanku karena senantiasa mengingat dan membayangkan wajahmu.”

Wanita tadi pun membalas suratnya,

“wahai pemuda, kiranya apakah yang membuat dirimu amat tertarik melihat ku…?”

Sambil melancarkan jurus rayuannnya,

“aku terpesona dengan keindahan matamu dinda…”

Kemudian wanita tadi mengambil pisau dan mencongkel kedua matanya,

Dalam surat balasannya,

“wahai pemuda kalau kiranya kedua mata ini yang membuatmu terpikat, maka aku berikan kepadamu kedua bola mataku. Karena aku sendiri gelisah ternyata kedua mataku membawa fitnah bagimu”

Pemuda tadi kaget bukan kepalang setelah membuka nampan yang ternyata berisi dua bola biji wanita yang dicintainya. Hingga rasa malu kepada wanita itu membuatnya menagis berhari-hari meratapi kesalahnnya. Dan ternyata  setelah kejadian itu dia menjelma menjadi seorang pemuda yang shalih dan pemalu kepada wanita beda dengan yang sebelumnya.

Sahabat, betapa agung dan mulianya seorang Muslimah, hingga sifat-sifat mereka dipuji oleh Allah dalam Al-Qur’an:

“Sesungguhnya lelaki dan wanita yang muslim, lelaki dan wanita yang mukmin, lelaki dan wanita yang taat, lelaki dan wanita yang jujur, lelaki dan wanita yang sabar, lelaki dan wanita yang khusyu’, lelaki dan wanita yang bersedekah, lelaki dan wanita yang berpuasa, lelaki dan wanita yang memelihara kehormatannya, lelaki dan wanita yang banyak menyebut nama Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” ( QS Al Ahzab: 35 )

Karena dia adalah pembakar  semangat  pasukan Rijalillah dalam Jihadun-Nafsi, demi cinta sejatinya (cinta kepada Allah)  ia rela menanggalkan jubah kemawahan duniawi, ia tidak terpengaruh oleh zaman, ia gigih dalam menjalankan syari’at, cintanya tidak pernah terbagi selain mencinta-Nya, ia menangis dan gundah kalau kecantikannya dzatiahnya membuat kaum Adam terlena  hingga lupa akan cinta kasih-Nya.

Demi sinar bahagia di surga  ia rela melepas nafsu syahwat dunia

Demi  menjaga mutiara imannya ia sering teteskan peluh airmata dan keringat  untuk  menjaga kehormatannya

Demi cinta hakikinya ia sibukkan diri dengan lantunan halus dalam munajatnya

“ Saya tidak akan mengabdi kepada Tuhan, seperti seorang buruh yang selalu mengharapkan gaji” kata Rabia’ah.

Ketika ditanya apakah dia benci setan, dia menjawab bahwa dia tidak benci setan.

“ Aku mencintai Tuhan, tetapi aku tidak benci setan. Cinta tidak akan meninggalkan ruang di hati bagi yang lainnya.”

Kemurnian cinta Rabi’ah memancar dari seruannya,

“ Oh Tuhanku! Jika aku meyembahmu karena takut neraka, maka lemparkan aku ke dalam neraka. Jika aku meyembahmu karena mengharapkan surga, maka jauhkan aku dari surga.”

Subhanallah….

Rasulullah saw bersabda,” Wahai sekalian wanita, sesungguhnya yang paling baik di antara kalian akan memasuki surga sebelum orang yang terbaik di kalangan lelaki. Mereka akan mandi dan memakai minyak wangi dan menyambut suami-suaminya di atas keledai-keledai merah dan kuning. Bersama mereka anak-anak kecil. Mereka seperti batu permata yang berkilauan.”

Demikian mulianya seorang wanita shalihah, sehingga Abu Sulaiman Ad Darani r.a berkata,

”Istri yang shalihah bukan termasuk dunia, karena istri itu menjadikanmu tempat (beramal demi) akhirat.” 

Posted By Kang Santri9:01:00 AM