Thursday, October 4, 2012

Sang Penyejuk Hati

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Mungkin mudah bagiku menulis syair kerinduan dan cinta
Tapi tidak saat hatiku hanyut dan tenggelam di dasar hatimu,  yang telah berkenan menjadi muara

Guritan kata terbaik musnah
Pecah menjadi repihan rasa yang indah

Hatiku membisu bak tutur suara tanpa lagu
Mengenang risau hatimu akan kepergian sementara ku

Hingga kau berkata "Ingat aku yaa... Ingat akuu... (Jangan lupakan aku)"
Itulah kata darimu yang berhasil kau tikam ke qalbu terdalam ku

Untukmu sang penyejuk hati...

Bagaimana aku bisa melupakanmu?
Sementara kau tidak pernah bosan menyuruhku meletakkan
cinta pertamaku hanya pada Tuhanku

Bagaimana aku bisa melupakanmu?
Sementara hanya kau yang rajin mengingatkanku untuk bangun
disepertiga malam terahirku

Bagaimana aku bisa melupakanmu?
Sementara hatiku seperti hatimu

Meskipun aku tahu
Bahwa aku belum mampu memberimu bintang
Dan menyuguhkan rembulan

Namun aku tahu jika keduanya kerap hadir
Dalam romansa penantian takdir



[didedikasikan untuk sepasang kekasih yang saling mengerti bahwa
"Cinta Tidaklah Harus Memiliki"]


Posted By Kang Santri3:25:00 PM

Sunday, September 16, 2012

Ribuan Malaikat Mendoakan Orang Yang Di Caci Maki (Kisah Sahabat Rasul)

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Suatu hari, Rasulullah SAW bertamu ke rumah Abu Bakar Ash-Shidiq. Ketika bercengkrama dengan Rasulullah, tiba-tiba datang seorang Arab Badui menemui Abu Bakar dan langsung mencela Abu Bakar. Makian, kata-kata kotor keluar dari mulut orang itu. Namun, Abu Bakar tidak menghiraukannya. Ia melanjutkan perbincangan dengan Rasulullah. Melihat hal ini, Rasulullah tersenyum.

Kemudian, orang Arab Badui itu kembali memaki Abu Bakar. Kali ini, makian dan hinaannya lebih kasar. Namun, dengan keimanan yang kokoh serta kesabarannya, Abu Bakar tetap membiarkan orang tersebut. Rasulullah kembali memberikan senyum.

Semakin marahlah orang Arab Badui tersebut. Untuk ketiga kalinya, ia mencerca Abu Bakar dengan makian yang lebih menyakitkan. Kali ini, selaku manusia biasa yang memiliki hawa nafsu, Abu Bakar tidak dapat menahan amarahnya. Dibalasnya makian orang Arab Badui tersebut dengan makian pula. Terjadilah perang mulut. Seketika itu, Rasulullah beranjak dari tempat duduknya. Ia meninggalkan Abu Bakar tanpa mengucapkan salam.

Melihat hal ini, selaku tuan rumah, Abu Bakar tersadar dan menjadi bingung. Dikejarnya Rasulullah yang sudah sampai halaman rumah. Kemudian Abu Bakar berkata, "Wahai Rasulullah, janganlah Anda biarkan aku dalam kebingungan yang sangat. Jika aku berbuat kesalahan, jelaskan kesalahanku!"

Rasulullah menjawab, "Sewaktu ada seorang Arab Badui datang dengan membawa kemarahan serta fitnaan lalu mencelamu, kulihat tenang, diam dan engkau tidak membalas, aku bangga melihat engkau orang yang kuat mengahadapi tantangan, menghadapi fitnah, kuat menghadapi cacian, dan aku tersenyum karena ribuan malaikat di sekelilingmu mendoakan dan memohonkan ampun kepadamu, kepada Allah SWT."

Begitu pun yang kedua kali, ketika ia mencelamu dan engkau tetap membiarkannya, maka para malaikat semakin bertambah banyak jumlahnya. Oleh sebab itu, aku tersenyum. Namun, ketika kali ketiga ia mencelamu dan engkau menanggapinya, dan engkau membalasnya, maka seluruh malaikat pergi meninggalkanmu.

Hadirlah iblis di sisimu. Oleh karena itu, aku tidak ingin berdekatan dengan kamu aku tidak ingin berdekatan dengannya, dan aku tidak memberikan salam kepadanya.

Setelah itu menangislah abu bakar ketika diberitahu tentang rahasia kesabaran bahwa itu adalah kemuliaan yang terselubung.

 

Posted By Kang Santri4:14:00 PM

Saturday, September 15, 2012

Beberapa Faedah Dan Bahaya Nikah Bag. 5 (Habis)

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Hal-hal yang berkaitan dengan masing-masing suami isteri. Hal yang terbilang pada suami adalah bahwa suami harus seimbang dengan isteri, karena ada keterangan dari sebuah hadits,

"Nikah itu ibarat budak (hamba), maka salah seorang diantara kamu sebaiknya melihat dimana dia harus meletakkan kemuliaan wanita dari padanya. Maka janganlah menikahinya, kecuali dengan laki-laki yang seimbang." Maksudnya adalah yang seimbang atau hampir seimbang.

Adapun hal-hal yang terbilang 'seimbang' menurut pendapat ulama' adalah dalam hal agama, nasab, sempurna kejadiannya, kekayaan dan pekerjaan yang mulia.

Seyogyanya bagi suami dalam pernikahannya dengan isteri niat mengikuti sunnah Rasul, memperbanyak umat Nabi saw. lalu berbuat baik dalam memimpin, mengarahkan isteri, menjaga agama dan mengharap keturunan shalih-shalihah yang dapat mendoakannya.

Nabi Saw. bersabda, "Adapun kesalahan beberapa amal, adalah karena niat dan sesungguhnya bagi setiap orang menurut apa yang diniatkannya."

Sedangkan hal-hal yang terbilang pada isteri, adalah tidak adanya sesuatu yang mencegah nikah, baik dari suami atau masih dalam keadaan Iddah (masa penantian bersihnya rahim) dari suami yang dulu, mengerti makna yang terkandung di dalam syahadatain, dan memeluk agama islam.

Nabi saw. bersabda, "Seorang wanita itu dinikahi karena harta, kecantikan, nasab, dan agamanya. Maka hendaknya kamu menikah dengan wanita karena agamanya. Dengan demikian maka bahagialah kamu."

Rasulullah bersabda, "Barang siapa menikah dengan wanita karena harta dan kecantikannya, maka harta dan kecantikan itu akan ditutup oleh Allah swt. Dan barang siapa menikahi wanita karena agamanya, maka Allah akan memberi rejeki pada harta dan kecantikannya itu." 

Nabi saw. bersabda, "Janganlah kamu menikah dengan wanita karena kecantikannya. Besar kemungkinan karena kecantikannya dia akan jatuh kelembah kehinaan. Dan janganlah menikah dengan wanita karena hartanya. Besar kemungkinan karena hartanya dia akan berbuat lacut (serong). dan hendaklah kamu menikah dengan wanita yang baik budi pekertinya."

Nabi saw. bersabda, "Menikahlah kalian dengan wanita yang penuh dengan kasih sayang dan mampu melahirkan anak-anak yang banyak, sebab sesungguhnya aku berpacu dalam memperbanyak umat sebab kalian. Dan janganlah kalian menikah dengan wanita tua yang mandul. Sebab sesungguhnya anak-anak orang islam berada di bayang-bayang arsy. Mereka dikumpulkan oleh ayahnya, yaitu Nabi Ibrahim as. Mereka memohon ampun untuk bapak-bapak mereka."

Nabi saw. bersabda, "Hendaklah kalian menikah dengan wanita-wanita yang masih perawan. Sebab mereka lebih bersih mulutnya, lebih menghadap rahimnya (lebih subur masa birahinya) dan lebih baik budi pekertinya."

Rasulullah bersabda, "Janganlah kamu menikah dengan wanita yang masih berhubungan keluarga sendiri. Sebab kelak anak akan tercipta dalam keadaan kurus."

Yang dimaksud kurus adalah karena kelemahan syahwat. Lain halnya apabila isteri dari wanita lain (bukan kerabat sendiri). Adapun wanita yang masih kerabat sendiri, maka hanya mampu membangkitkan kekuatan sebatas rasa untuk menghidupkan syahwat saja. 

Jika dipandang dari segi kehidupan dan keharmonisan, mas kawin dari kerabat sendiri adalah yang paling utama. Sebab wanita yang masih ada hubungan kerabat ini jarang sekali menghianati suaminya, karena ia senantiasa menjaganya.

Ia senantiasa sabar (tahan) apabila suaminya menyakiti hatinya, tidak memberi ampun apabila suaminya dicela orang dan tidak condong pada lelaki yang bukan suaminya, bisa tertanam melebihi dari cemburunya yang bersifat perjodohan.

Ahlak-ahlak ini seperti yang disebutkan diatas, sedikit sekali terdapat pada wanita selain kerabat. Dan yang paling akhir, hendaklah diusahakan isteri yang cantik, sebab kecantikan (biasanya) akan lebih mendatangkan kerukunan dan kedamaian.

Demikianlah kiranya keterangan-keterangan diatas semoga bisa menjadi bekal untuk memasuki jenjang pernikahan. Hanya Allah swt. yang menguasai taufiq dan hidayah.

[disarikan dari Kitab Qurratul 'Uyuun]

Artikel sebelumnya:






Posted By Kang Santri11:42:00 AM

Tuesday, September 11, 2012

Masih Enggan Melaksanakan Shalat? Baca Ini (Kisah Nyata)

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Kisah nyata ini diceritakan sendiri oleh pelakunya dan pernah disiarkan oleh Radio Al Qur’an di Makkah al Mukarramah. Kisah ini terjadi pada musim haji dua tahun yang lalu di daerah Syu’aibah, yaitu daerah pesisir pantai laut merah, terletak 110 Km di Selatan Jeddah.

Pemilik kisah ini berkata:

Ayahku adalah seorang imam masjid, namun demikian aku tidak shalat. Beliau selalu memerintahkan aku untuk shalat setiap kali datang waktu shalat. Beliau membangunkan ku untuk shalat subuh. Akan tetapi aku berpura-pura seakan-akan pergi ke masjid padahal tidak.

Bahkan aku hanya mencukupkan diri dengan berputar-putar naik mobil hingga jama’ah selesai menunaikan shalat. Keadaan yang demikian terus berlangsung hingga aku berumur 21 tahun. Pada seluruh waktu ku yang telah lewat tersebut aku jauh dari Allah dan banyak bermaksiat kepada-Nya. Tetapi meskipun aku meninggalkan shalat, aku tetap berbakti kepada kedua orang tuaku.

[Inilah sekelumit dari kisah hidupku di masa lalu]

Pada suatu hari, kami sekelompok pemuda bersepakat untuk pergi rekreasi ke laut. Kami berjumlah lima orang pemuda. Kami sampai di pagi hari, lalu membuat tenda di tepi pantai. Seperti biasanya kamipun menyembelih kambing dan makan siang. Setelah makan siang, kamipun mempersiapkan diri turun ke laut untuk menyelam dengan tabung oksigen. Sesuai aturan, wajib ada satu orang yang tetap tinggal di luar, di sisi kemah, hingga dia bisa bertindak pada saat para penyelam itu terlambat datang pada waktu yang telah ditentukan.

Akupun duduk, dikarenakan aku lemah dalam penyelaman. Aku duduk seorang diri di dalam kemah, sementara disamping kami juga terdapat sekelompok pemuda yang lain. Saat datang waktu shalat, salah seorang diantara mereka mengumandangkan adzan, kemudian mereka mulai menyiapkan shalat. Aku terpaksa masuk ke dalam laut untuk berenang agar terhindar dari kesulitan yang akan menimpaku jika aku tidak shalat bersama mereka. Karena kebiasaan kaum muslimin di sini adalah sangat menaruh perhatian terhadap shalat berjamaah dengan perhatian yang sangat besar, hingga menjadi aib bagi kami jika seseorang shalat fardhu sendirian.

Aku sangat mahir dalam berenang. Aku berenang hingga merasa kelelahan sementara aku berada di daerah yang dalam. Aku memutuskan untuk tidur diatas punggungku dan membiarkan tubuhku hingga bisa mengapung di atas air. Dan itulah yang terjadi. Secara tiba-tiba, seakan-akan ada orang yang menarikku ke bawah… aku berusaha untuk naik…..aku berusaha untuk melawan….aku berusaha dengan seluruh cara yang aku ketahui, akan tetapi aku merasa orang yang tadi menarikku dari bawah menuju ke kedalaman laut seakan-akan sekarang berada di atasku dan menenggelamkan kepalaku ke bawah.

Aku berada dalam keadaan yang ditakuti oleh semua orang. Aku seorang diri, pada saat itu aku merasa lebih lemah daripada lalat. Nafaspun mulai tersendat, darah mulai tersumbat di kepala, aku mulai merasakan kematian! Tiba-tiba, aku tidak tahu mengapa…aku ingat kepada ayahku, saudara-saudaraku, kerabat-kerabat dan teman-temanku… hingga karyawan di toko pun aku mengingatnya. Setiap orang yang pernah lewat dalam kehidupanku terlintas dalam ingatanku…semuanya pada detik-detik yang terbatas…kemudian setelah itu, aku ingat diriku sendiri..!.!!

Mulailah aku bertanya kepada diriku sendiri…apa engkau shalat? Tidak. Apa engkau puasa? Tidak. Apa engkau telah berhaji? Tidak. Apa engkau bershadaqah? Tidak. Engkau sekarang di jalan menuju Rabbmu, engkau akan terbebas dan berpisah dari kehidupan dunia, berpisah dari teman-temanmu, maka bagaimana kamu akan menghadap Rabb-mu? Tiba-tiba aku mendengar suara ayahku memanggilku dengan namaku dan berkata: “Bangun dan shalatlah.” Suara itupun terdengar di telingaku tiga kali. Kemudian terdengarlah suara beliau adzan. Aku merasa dia dekat dan akan menyelamatkanku. Hal ini menjadikanku berteriak menyerunya dengan memanggil namanya, sementara air masuk ke dalam mulutku.

Aku berteriak-teriak…tapi tidak ada yang menjawab. Aku merasakan asinnya air di dalam tubuhku, mulailah nafas terputus-putus. Aku yakin akan mati, aku berusaha untuk mengucapkan syahadat….ku ucapkan Asyhadu…Asyhadu…aku tidak mampu untuk menyempurnakannya, seakan-akan ada tangan yang memegang tenggorokanku dan menghalangiku dari mengucapkannya. Aku merasa bahwa nyawaku sudah dalam perjalanan keluar dari tubuhku.

Akupun berhenti bergerak…inilah akhir dari ingatanku. Aku terbangun sementara kau berada di dalam kemah…dan di sisiku ada seorang tentara dari Khafar al Sawakhil (penjaga garis batas laut), dan bersamanya para pemuda yang tadi mempersiapkan diri untuk shalat.

Saat aku terbangun, tentara itu berkata: ”Segala puji bagi Allah atas keselamatan ini.” Kemudian dia langsung beranjak pergi dari tempat kami. Aku pun bertanya kepada para pemuda tentang tentara tersebut. Apakah kalian mengenalnya? Mereka tidak mengetahuinya, dia datang secara tiba-tiba ke tepi pantai dan mengeluarkanmu dari laut, kemudian segera pergi sebagaimana engkau lihat, kata mereka.

Akupun bertanya kepada mereka: “Bagaimana kalian melihatku di air?” Mereka menjawab,”Sementara kami di tepi pantai, kami tidak melihatmu di laut, dan kami tidak merasakan kehadiranmu, kami tidak merasakannya hingga saat tentara tersebut hadir dan mengeluarkanmu dari laut.” Perlu diketahui bahwa jarak terdekat denga Markas Penjaga Garis Laut adalah sekitar 20 Km dari kemah kami, sementara jalannya pun jalan darat, yaitu membutuhkan sekitar 20 menit hingga sampai di tempat kami sementara peristiwa tenggelam tadi berlangsung dalam beberapa menit.

Para pemuda itu bersumpah bahwa mereka tidak melihatku. Maka bagaimana tentara tersebut melihatku? Demi Rabb yang telah menciptakanku, hingga hari ini aku tidak tahu bagaimana dia bisa sampai kepadaku. seluruh peristiwa ini terjadi saat teman-temanku berada dalam penyelaman di laut. Ketika aku bersama para pemuda yang menengokku di dalam kemah, HP-ku berdering. segera HP kuangkat, ternyata ayah yang menelepon. Akupun merasa bingung, karena sesaat sebelumnya aku mendengar suaranya ketika aku di kedalaman, dan sekarang dia menelepon?

Aku menjawab….beliau menanyai keadaanku, apakah aku dalam keadaan baik? Beliau mengulang-ulangnya, berkali-kali. Tentu saja aku tidak mengabarkan kepada beliau, supaya tidak cemas. Setelah pembicaraan selesai aku merasa sangat ingin shalat. Maka aku berdiri dan shalat dua rakaat, yang selama hidupku belum pernah aku lakukan. Dua rakaat itu aku habiskan selama dua jam. Dua rakaat yang kulakukan dari hati yang jujur dan banyak menangis di dalamnya.

Aku menunggu kawan-kawanku hingga mereka kembali dari petualangan. Aku meminta izin pulang duluan. Akupun sampai di rumah dan ayahku ada di sana. Pertama kali aku membuka pintu, beliau sudah ada di hadapanku dan berkata: “Kemari, aku merindukanmu!” Akupun mengikutinya, kemudian beliau bersumpah kepadaku dengan nama Allah agar aku mengatakan kepada beliau tentang apa yang telah terjadi padaku di waktu Ashar tadi. Akupun terkejut, bingung, gemetar dan tidak mampu berkata-kata.

Aku merasa beliau sudah tahu. Beliau mengulangi pertanyaannya dua kali. Akhirnya aku menceritakan apa yang terjadi padaku. Kemudian beliau berkata: ”Demi Allah, sesungguhnya aku tadi mendengarmu memanggilku, sementara aku dalam keadaan sujud kedua pada akhir shalat Ashar, seakan-akan engkau berada dalam sebuah musibah. Engkau memanggil-manggilku dengan teriakan yang menyayat-nyayat hatiku. Aku mendengar suaramu dan aku tidak bisa menguasai diriku hingga aku berdo’a untukmu dengan sekeras-kerasnya sementara manusia mendengar do’aku".

Tiba-tiba, aku merasa seakan-akan ada seseorang yang menuangkan air dingin di atasku. Setelah shalat, aku segera keluar dari masjid dan menghubungimu. Segala puji bagi Allah, aku merasa tenang bagitu mendengar suaramu. Akan tetapi wahai anakku, engkau teledor terhadap shalat. Engkau menyangka bahwa dunia akan kekal bagimu, dan engkau tidak mengetahui bahwa Rabbmu berkuasa merubah keadaanmu dalam beberapa detik. Ini adalah sebagian dari kekuasaan Allah yang Dia perbuat terhadapmu.

Akan tetapi Rabb kita telah menetapkan umur baru bagimu. Saat itulah aku tahu bahwa yang menyelamatkan aku dari peristiwa tersebut adalah karena Rahmat Allah Ta’ala kemudian karena do’a ayah untukku. Ini adalah sentuhan lembut dari sentuhan-sentuhan kematian. Allah Ta’ala ingin memperlihatkan kepada kita bahwa betapapun kuta dan perkasanya manusia akan menjadi makhluk yang paling lemah di hadapan keperkasaan dan keagungan Allah Ta’ala.

Maka semenjak hari itu, shalat tidak pernah luput dari pikiranku. Alhamdulillah. Wahai para pemuda, wajib atas kalian taat kepada Allah dan berbakti kepada kedua orang tua.

Ya Allah, ampunilah kami dan kedua orang tua kami, terimalah taubat kami dan taubat mereka dan rahmatilah mereka dengan rahmat-Mu.

Sumber: Majalah Qiblati Edisi 10 tahun II, Juli 2007 M

Posted By Kang Santri7:35:00 PM

Saturday, August 25, 2012

Telah Ku Adukan Perkara Ini Pada Tuhan

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Telah ku adukan perkara ini pada Tuhanku
Tentang kesedihan
Tentang air mata
Juga tentang hati yang tidak sengaja telah ku sakiti

Aku sadar
Jika aku bukanlah kekasih halalmu
Yang pantas merayu hatimu

Namun meskipun begitu
Kau sudah tahu akan kasih sayang yang ada dalam diriku untukmu
Meski terkadang aku belum yakin jika kau juga mempunyai rasa yang seperti itu untukku

Sungguh
Aku teramat malu menyaksikan diri
Yang sudah memberimu gelar zahratus shofi
Tapi aku sendiri malah menyakiti hati sang bunga suci

Ijinkan aku mengirim butiran airmata ini...

Melalui cakrawala alam yang sering kau sapa
Melalui setiap keindahan yang kau rasa
Melalui cekungan merah kelopak mata
Melalui bait-bait doa yang sering ku baca

Aku masih ingin mengatakan jika,

HATIKU SEPERTI HATIMU

Meski tulisan kerap kali mengatakan kata pisah
Namun hati selalu meyanggah

Aku menyayangimu karena Tuhanku
Bukan aku menyayangimu karena nafsuku

Perkenankan aku mengobati kelukaan hatimu
Yang terjadi karena kebodohanku memahamimu

Posted By Kang Santri7:38:00 PM

Saturday, August 18, 2012

Setelah Gagal Membakar Qur'an Pendeta Ini Masuk Islam

Filled under: ,

Murtakibudz Dzunub - Koran harian “Tartim” yang beredar di Nigeria dan merupakan koran terbesar dengan oplah paling banyak menyebarkan berita yang tidak akan dilupakan oleh penduduk Nigeria. 

Koran yang terbit setiap hari Rabu tersebut, dalam editorialnya telah menggoncangkan salah satu kota besar di Nigeria, kota Kajoula. Dalam berita tersebut dipaparkan bahwa seorang pimpinan pendeta Nasrani dengan sangat mengejutkan melempar mushaf Al-Qur’an ke tanah di depan para hadirin yang datang dalam majelisnya. Tidak hanya itu, ia kemudian menuangkan bensin dan berusaha membakar mushaf tersebut.

Namun yang sangat mengherankan, mushaf tersebut sama sekali tidak terbakar dan api tidak sampai menyentuhnya. Bahkan, tangan pendeta tersebut yang justru terbakar oleh kobaran api. Peristiwa ini terjadi pada saat umat Nasrani sedang melaksanakan kebaktian di gereja.

Setelah kejadian ini, Pendeta Froos seketika langsung menyatakan keislamannya dan diikuti oleh pemimpin gereja Ya’kub Musa, kemudian diikuti oleh para pendeta dan misionaris di sana, sehingga jumlah mereka mencapai 200 misionaris. Setelah jangka waktu satu tahun berikutnya, pendeta Ya’kub Musa mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Sekjen Organisasi Kependetaan di Kanjoula.

Di hari berikutnya, pemimpin redaksi koran “Ukazh”, Haji Ibrahim Sulaiman menulis berita tentang aktifitas Ya’kub Musa pasca mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Sekjen. la berdakwah menyebarkan agama Islam ke seluruh pelosok negeri Nigeria, Ibrahim Sulaiman juga menulis kisah-kisah Ya’kub Musa yag bisa dijadikan pelajaran bagi umat Islam di seluruh penjuru dunia.

Subhanallah...

Sumber: Kisah Pastur & Pendeta Yang Masuk Islam, Syaikh al-Husaini al-Muiddi, Penerbit al Kautsar, Hal.268-267




Posted By Kang Santri11:52:00 AM

Tuesday, August 14, 2012

Belajar Dari Mereka Yang Di Anggap Tidak Penting

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Entah apa yang ada dalam pikirannya, masa lalu sudah ia anggap sebagai taburan debu yang dibiarkannya terbang. Sedang masa depan tak pernah ia pikirkan, "karena yang hanya ia pikirkan adalah hari ini, untuk besok kita lihat saja nanti..".

Ia tidaklah sebijak para tokoh di zaman dahulu, ia bukanlah pembuat rangkaian kata-kata yang indah yang bisa menjadi motivasi bagi pembacanya, tapi ia hanyalah manusia biasa tapi sudah berhasil mengendalikan sebagian besar hawa nafsunya.

Juga, ia bukanlah seorang cendekiawan cerdas yang ucapannya banyak didengar orang, melainkan ia hanyalah manusia yang teramat sederhana, hingga dari kesederhanaannya itu bagi orang yang terbuka mata hatinya akan banyak belajar hikmah hidup darinya.

Bahkan, ia tidak pernah tahu "devinisi bahagia itu seperti apa?", karena yang ia tahu sifat syukur diatas semua sendi kehidupan adalah perasaan yang selalu ia pegang.

Wajahnya polos, hingga tak jarang orang menaruh iba dan menganggap ia adalah salah satu element yang tidak penting hadir di tengah-tengah masyarakat. Karena banyak yang menganggap "adanya sama halnya dengan ketiadaannya".


***

Sahabat, kita sering terjebak dalam bungkus formalitas. Kita sering lena mencari nasihat hingga ahirnya jenuh dan bosan, karena ternyata ratusan kata bijak yang sudah kita hafal tidak membawa dampak apa-apa. Kita terkung-kung oleh idealis dengan sesuatu yang akan kita pilih "karena kata orang: kita harus begini dan harus begitu..". Hingga kita melupakan mengambil nilai pelajaran dari setiap cangkul yang diayun oleh petani, tentang anak kecil yang berlari tergesa sambil membawa rantang nasi dan sebotol air putih.

Bukankah kita bisa melihat, bahwa tiap ayunan cangkul yang ia lakukan padanya menyimpan harapan yang besar yang akan selalu diikuti kekecewaan di tiap hasil akhir. Meski dengan nafas terengah dan jengkal kaki yang sempit, kita bisa melihat anak itu nampak khawatir jika orang tuanya kehausan dan kelaparan karena terus asyik dengan pekerjaannya menggarap sawah. Inilah wujud dari kasih sayang dalam balut kekhawatiran, karena ia yakin meski hanya satu jengkal saja ia memberlambat lajunya maka semakin lama pula orang tuanya merasakan haus dan lapar ditengah pekerjaan beratnya.

Adakalanya, kita mengambil pelajaran hidup yang sangatlah berharga dari mereka-mereka yang kita anggap sebelumnya tidak penting dan mungkin sudah biasa kita remehkan.


Semarang, 14/08/2012

Posted By Kang Santri4:46:00 PM

Cara Mensucikan Diri Setelah Zina (Kisah Sahabat Rasulullah)

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Suatu hari, Rasulullah sedang duduk di dalam masjid bersama para sahabat. Tiba-tiba datanglah seorang wanita yang kemudian masuk ke dalam masjid. Dengan ketakutan, wanita tersebut mengaku kepada Rasulullah bahwa dia telah berzina. Mendengar hal itu, memerahlah wajah Rasulullah SAW seperti hampir meneteskan darah. Kemudian beliau bersabda kepadanya, Pergilah, hingga engkau melahirkan anakmu.

Sembilan bulan berlalu, wanita itu akhirnya melahirkan. Dihari pertama nifasnya, dia datang kembali membawa anaknya, dan berkata kepada Rasulullah SAW: Wahai Rasulullah, sucikanlah aku dari dosa zina
Rasulullah melihat kepada anak wanita tersebut, dan bersabda: Pulanglah, susuilah dia, maka jika engkau telah menyapihnya, kembalilah kepadaku.


Dengan sedih, wanita itu akhirnya kembali lagi kerumahnya.



Tiga tahun lebih berlalu, namun si wanita tetap tidak berubah pikiran. Dia datang kembali kepada Rasulullah untuk bertaubat. Dia berkata: Wahai Rasulullah, aku telah menyapihnya, maka sucikanlah aku!


Rasulullah SAW bersabda kembali kepada semua yang hadir disana, Siapa yang mengurusi anak ini, maka dia adalah temanku di surga


Sesaat kemudian beliau memerintahkan agar wanita tersebut dirajam. Setelah wanita tersebut meninggal, beliaupun menshalatinya.


Melihat hal tersebut, umar Bin Khatab merasa sangat heran sekali. Beliau berkata: Engkau menshalatinya wahai Nabi Allah, sungguh dia telah berzina!.


Rasulullah kembali bersabda: Sungguh dia telah bertaubat dengan satu taubat, yang seandainya taubatnya itu dibagikan kepada 70 orang dari penduduk Madinah, maka taubat itu akan mencukupinya. Apakah engkau mendapati sebuah taubat yang lebih utama dari pengorbanan dirinya untuk Allah? (HR. Ahmad)

Posted By Kang Santri10:21:00 AM

Monday, August 13, 2012

Yang di Rasakan Hati

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Yang di alami belum berhenti
Yang terjadi sangatlah berarti dalam diri
Masa lalu... padanya menyimpan hijab yang menuntut untuk segera di ungkap

Haruskah manis dan indahnya fatamorgana tentang cinta kembali meracuni hati?


Hijau daun sore telah menguning bersama menuanya waktu
Mengering
Terombang-ambing
Tersapu benturan benda halus yang tak serius


Yang dirasa
Membentuk peta kehidupan yang tak berskala
Hingga tak mampu diterjemah dalam bahasa tulis dan lisan


Yang dirayu juga yang merayu
Ibarat insan dungu tanpa induk semang
Melong-long tiada nada


Yang dirahasiakan hati
Berujung dilema jika sang permaisuri mengetahui


Yang ditakuti kini telah terjadi
Cerminan tentang pilihan ia atau tidak
Makin meraung garang dalam sarang
Hingga terkadang galau menjadi peranan utama dalam sandiwara hidup


Yang di ingini masih sebatas mimpi
Kelopak mata membengkak
Sampai cucuran air bah dari kelopak makin membuat hati tersendak

Dimana bisa kutemukan obat
Dari prahara hati yang tak bersahabat?
Biarlah bahagia dan sedih bersanding harmonis
Karena aku tak ingin lagi ada tangis

Di tulis di Al-Anwar Sarang - Rembang, 5 April 2005

Posted By Kang Santri5:04:00 PM

Thursday, August 9, 2012

Di Hakimi Waktu

Filled under:

Memahamimu ibarat menyusun bukit kabut

Kau begitu ringan dipelukan
Namun begitu mudah juga hatimu dicera-beraikan

Aku selalu dihakimi waktu 
Saat ku ucap pertama kali salam ta'aruf padamu

Aku mampu menerima kekuranganmu yang tujuh puluh
Dan aku bisa menerima kelebihanmu yang tiga puluh

Tapi
Mungkin itu dulu
Sebelum batas kesabaranku
Di hakimi oleh waktu

Aku yang terjajah oleh ego ku sendiri
Karena bertahan ingin memiliki

Sekarang
Ketukan palu ku, sudah menggambil keputusan

Ku ikhlaskan
Saat kau berkata "ingin pergi"

Ku relakan
Saat kau tulis kata "ku tak ingin bicara lagi"

Ku lapangkan
Jika perpisahan sudah menjadi suratan

Dan aku tidak akan menahanmu lagi

Posted By Kang Santri9:34:00 AM

Tuesday, August 7, 2012

Beberapa Faedah Dan Bahaya Nikah Bag.4

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Abdullah bin Amr ra. berkata, "Aku telah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Siapa saja wanita yang berwajah muram dihadapan suaminya, tidak ada lain kecuali Allah akan menghitamkan wajahnya dihari kiamat kelak, kecuali ia mahu bertaubat dan kembali taat kepada suaminya."

Abu Ubaidah bin Al-Jarrah berkata, "Aku telah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Siapa saja yang menyebabkan kemarahan suaminya, sedangkan dia itu dhalim (salah) atau marah terhadap suaminya, maka Allah ta'ala tidak akan menerima amal fardhunya atau amal sunahnya."

Abgullah bin Mas'ud ra. berkata, "Aku telah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Allah swt. melaknati perempuan-perempuan yang mengulur-ngulur waktu. Ditanyakan, 'siapakah perempuan yang mengulur-ngulur waktu itu wahai Rasulullah?'. Beliau menjawab, 'ia adalah perempuan yang diajak suaminya tidur ditempat tidur, kemudian dia mengulur-ngulur waktu untuk tidur bersamanya dan sibuk dengan urusan lain, sehingga suami tertidur.'"

Abu Hurairah ra. berkata, "Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: Wanita-wanita manapun yang memandang suaminya dan dia tidak tersenyum, maka sesungguhnya dia tidak akan melihat surga selamanya, kecuali dia bertaubat dan menyadarinya hingga suaminya meridhainya."

Salman Al-Farisi ra. berkata, "Saya mendengar Rasulullah bersabda: Wanita -wanita manapun menggunakan wangi-wangian dan berhias diri, kemudian keluar dari rumahnya, maka pasti dia keluar bersama murka Allah swt. dan kebencianNya, sehingga dia kembali kerumahnya."

Bilal bin Humamah ra. berkata, "Saya mendengar Rasulullah bersabda: Wanita manapun yang melakukan shalat dan puasa tanpa seijin suaminya, maka pahala shalat dan puasa itu bagi suami dan baginya dosa."

Sahabat Bilal berkata, "Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: Wanita manapun menjadikan suaminya marah, maka Allah swt. tidak akan menerima shalat dan puasanya, kecuali dia bertaubat dan menyadari kesalahan dari dirinya".

Abu Darda' berkata, "Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: Wanita manapun membuka rahasia suaminya, maka kelak pada hari kiamat Allah swt. akan menghinakannya didepan para mahluk, demikian pula ketika didunia, sebelum di akhirat."

Abbas bin Abdul Muththalib ra. berkata, "Saya mendengar Rasulullah bersabda: Saya diperlihatkan neraka, maka saya melihat kebanyakan penghuninya adalah wanita. Hal yang demikian itu tidak akan terjadi kecuali mereka (wanita) banyak berdosa terhadap suami-suaminya."

Posted By Kang Santri9:08:00 PM

Tak Selembut Sangka Ku (Cerbung Bag. 3)

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - [Hingga tak jarang aku pun merasa, "apakah selama ini dia yang aku cari?". Saya mempunyai prinsip salah satunya, 'aku tidak akan mempermasalahkan apakah calon istriku nanti orang yang pandai ilmu agama atau tidak, aku tidak akan mempermasalahkan apakah calon istriku nanti  sudah mengenakan jilbab atau belum, aku hanya akan menilai dari hati dan sifatnya. Lembut, penuh kasih sayang kepada sesama, dan yang terpenting adalah bukan seorang wanita yang materealistis terhadap dunia karena itu adalah sifat yang paling tidak aku sukai dari seorang wanita.]

***

Setelah kami cukup lama kenal, ahirnya aku tahu betul siapa sebenarnya Diana. Saat itu ia masih sering tinggal di Jakarta dirumah orang tua angkatnya, karena sejak kecil ia diadopsi oleh keluarga kaya yang pernah kehilangan puteri tercintanya dan sebagai gantinya mereka mengangkat Diana [yang katanya wajahnya sangat mirip dengan puterinya yg sudah meninggal] sebagai anak. 

Seperti biasanya, malam itu Diana menghubungiku melalui handphone. Aku sempat dibuatnya kaget saat dia mengatakan,

"sebenarnya perasaan kamu ke aku tuh gimana?",

"maksudya apa Diana.." tanyaku yang sebenarnya sudah tahu arah pembicaraan Diana,

"kamu gimana sih... jadi cowok gak peka banget, aku tu suka ama kamu As'ad..",

Malam itu aku benar-benar dibuatnya mati kutu oleh Diana yang sudah terang-terangan mengungkapkan isi hatinya.

"maafkan aku Diana... aku belum bisa menjawab pertanyaanmu sekarang, kasih aku waktu ya".

***

Malam selanjutnya akupun shalat istikharah dan membaca beberapa ijazah wirid yang pernah diajarkan Ustadzku saat masih dipesantren. Hingga aku pun mendapati sebuah firasat untuk menerima cinta Diana.

[Dua minggu setelah Diana mengungkapkan isi hatinya]

"Assalamu'alaikum Diana...",

"Wa'alaikumussalam... gimana kabarnya? lama kamu gak hubungin aku",

"Alhamdulillah baik, semoga kamu juga ya... emmm tawaran kamu masih berlaku gak?",

"tawaran apa..?" tanyanya,

"masih bisakah aku membalas cintamu?",

"apaaa..!?" terdengar suaranya rada kegirangan,

"Diana... aku juga suka ama kamu..".

***

Hubungan kami lalaui secara jarak jauh antara kota Semarang dan Jakarta, banyak ujian yang kami alami terutama setelah kedua orang tua angkatnya meninggal dalam sebuah kecelakaan. Terjadi konflik antara dirinya dengan keluarga angkatnya. Karena sebelum orang tua angkatnya meninggal mereka sudah mewasiatkan rumah, usahanya dan juga beberapa saham mereka pada Diana dan mereka pun sudah menunjuk pengacara untuk mengurus hak kepemilikan.

Namun ada salah satu tantenya yang tidak menyetujui sepenuhnya, Diana diperbolehkan memiliki semua harta yang sudah diwasiatkan atas namanya dengan satu syarat, bahwa ia harus tetap tinggal dijakarta dan tidak boleh kembali ke orang tua kandungnya di Semarang.

Dengan adanya masalah ini, hubungan kami pun diuji. Terutama bagi Diana, apakah dia akan tetap tinggal di Jakarta atau masih melanjutkan hubungan denganku.

Setelah melalui proses yang lama, ahirnya Diana mengambil keputusan yang sangat mengagetkanku. Ternyata dia memilih kembali ke kedua orang tuanya dan melanjutkan hubungan denganku. Sementara dia tidak mahu ambil pusing dengan yang di Jakarta, semua harta dari kedua orang tua angkatnya ia berikan kepada panti asuhan dan tidak mengambil bagian sepeserpun.

bersambung.....
___________


Posted By Kang Santri8:29:00 PM

Thursday, August 2, 2012

Saat Keinginan Tak Sesuai Harapan

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Saya terkesan dengan salah satu perjalanan hidup seorang sahabat, saat ia lahir kedunia Allah memberinya fisik yang tidak sempurna di salah satu bagian tangan kirinya.

Seiring berputarnya masa, ia tumbuh menjadi seorang pemuda yang hidupnya banyak didedikasikan mengajar anak-anak membaca qur'an dan ilmu-ilmu agama lainnya. Saya melihat dia sangat menikmati masa-masa itu. 

Hingga terjadilah sesuatu yang sangat tidak dia inginkan dan sempat frustasi dengan masalah yang menderanya. Waktu itu, ia harus dihadapkan pada kenyataan dimana tempat yang bisa dia gunakan mengajar anak-anak santri diperselisihkan oleh para tokoh masyarakat yang menginginkan terjadinya sususan kepengurusan di Madrasah yang sudah ia rintis dari nol bersama para sahabatnya.

Dengan mencoba berlapang dada, ahirnya ia dan sahabatnya menuruti keinginan sebagian tokoh masyarakat menyerahkan kepengurusan Madrasah kepada pihak yang telah dipilih.

***

Saat itu, ia datang padaku mengutarakan maksudnya yang ingin segera menikah. Hingga akhirnya saya pun gagal menemukan perempuan yang mahu menikah dengannya. Ya.. mungkin karena cacat fisiknya hingga dia sulit mendapatkan jodoh. Saat itu dia sudah ditinggal wafat oleh kedua orang tuanya, sedang yang dijadikannya tumpuan hanyalah para saudara kandungnya yang diharapkannya tahu akan keinginan hatinya untuk segera menikah.

"Masya Allah.." aku sempat heran dengan keluarganya, seolah mereka malu untuk mencarikannya jodoh karena fisiknya yang tidak sempurna. Sampai ada yang bilang "apa ada yang mahu sama dia..?".

Namun Alhamdulillah, selang beberapa tahun, dia dipertemukan oleh Allah kepada seorang wanita yang bersedia menerimananya apa adanya.

Setelah melalui proses yang amat rumit, ahirnya proses pernikahanpun berjalan dengan tanpa kendala yang berarti.

Mungkin sahabat saya ini membayangkan, setelah dia menikah kehidupannya lebih tentram dan bahagia. Tapi yang terjadi ternyata tidak sesuai dengan keinginan yang selama ini ia harapkan.

***

Hubungan dengan para saudaranya yang sebelum menikah bisa dikatakan baik-baik saja berubah menjadi pertikaian (pertikaian itu pun masih berlangsung sampai saat tulisan ini saya buat).

Harta warisan adalah ujung permasalahannya. Sebenarnya sebelum kedua orang tuanya meninggal, sudah diberi bagian-bagian tersendiri, namun sayangnya ada satu saudaranya yang memutar balikkan fakta, karena dia (saudaranya) ingin menguasai sebagian harta yang sudah menjadi haknya (sahabat saya).

Saat ini, saya masih menyaksikan kedukaan yang begitu mendalam. karena tergambar jelas dari raut mukanya, dia tidak mempunyai pekerjaan tetap yang bisa menopang rumah tangganya, sementara sang isteri sering sakit-sakitan oleh penyakitnya. Hingga diapun masih menitipkan isterinya pada orangtua kandungnya, karena ia tidak mampu membiayai pengobatan sang isteri.

Seperti yang dia sering katakan, dia sering menjerit dan menangis tiap malam. Dalam keadaan tidak berdaya ia malah dijauhi dan difitnah oleh saudaranya yang ingin merebut satu-satunya warisan yang ia miliki (sepetak tanah dan bangunan rumah sederhana yang berdiri diatasnya), padahal sebenarnya saudaranya itu bisa dikatakan orang yang hidup sangat berkecukupan.

Saya hanya bisa mengatakan, "kang.. njenengan yang sabar ya, inilah cara Allah untuk mengangkat tinggi derajatmu...".

***

Saat keinginan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, yakinlah bahwa Allah masih menyimpan anugerah yang akan diberikan sambil menunggu waktu yang benar-benar tapat untuk Allah memberikannya pada kita.

Kadang kita sering merasa bahwa hidup ini tidak adil, dan seolah kita tidak diperdulikan oleh Tuhan. Maka yakinlah bahwa perasaan seperti itu merupakan salah satu tipudaya Setan.

Semoga, Allah senantiasa menganugerahkan sifat sabar kepada saya, dia dan anda semua.... Amiin.

Posted By Kang Santri8:51:00 PM

Wednesday, August 1, 2012

Beberapa Faedah Dan Bahaya Nikah Bag.3

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Diceritakan, bahwasanya ada seorang laki-laki menghadap kepada para sahabat Rasulullah, ia menanyakan kepada mereka perihal yang terjadi atas isterinya. Maka berkatalah salah seorang diantara sahabat dan menanggapi pengaduan tersebut dengan memberikan penjelasan yang ia dengar dari Nabi. Lalu, (selang beberapa saat) sahabat mengirimkan keterangan-keterangan yang didapatinya dari Nabi saw. kepada isteri lelaki tersebut bersama Khudzaifah bin Al-Yaman ra.

Abu Bakar ra. berkata, "Aku telah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Jika saya memerintahkan agar seseorang bersujud kepada orang lain, maka niscaya saya perintahkan (seorang) perempuan (isteri) untuk bersujud kepada suaminya."

Umar ra. telah berkata, "Aku telah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Perempuan (isteri) manapun yang mengeraskan suaranya yang melebihi atas suara suaminya, maka setiap sesuatu yang (terkena) terkena sinar matahari akan melaknat kepadanya, kecuali ia mahu bertaubat dan kembali dengan baik."

Utsman bin Affan ra. berkata, "Aku telah mendengar Nabi Muhammad saw. bersabda: Seandainya seorang perempuan memiliki dunia ini seluruhnya, lalu ia nafkahkan kepada suaminya, kemudian ia mengumpat suaminya karena nafkah tersebut, kecuali Allah telah melebur amalnya dan akan digiring bersama Fir'aun."

Ali bin Abi Thalib ra. berkata, "Saya telah mendengar Nabi saw. bersabda: Seandainya seorang perempuan memasak kedua payudaranya, lalu keduanya diberikan kepada suaminya, maka yang demikian itu masih belum bisa menyempurnakan haknya sebagai isteri."

Muawiyah bin ABu Sufyan ra. berkata, "Saya telah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Perempuan mana yang mengambil harta suaminya, maka tidak ada kecuali baginya dosa tujuh orang pencuri."

Abdullah bin Abbas ra. berkata, "Saya telah mendengar Nabi Muhammad saw. bersabda: Perempuan manaun yang memiliki harta, lali suaminya meminta harta itu dan dia menolaknya, maka Allah akan menolaknya kelak di hari kiamat apa yang ada pada suaminya."

Abdullah bin Mas'ud ra. berkata, "Perempuan manapun yang berhianat kepada suaminya dirumahnya atau tidak setia didalam tempat tidur suaminya, maka tidak ada lain kecuali Allah ta'ala akan memasukkan tujuh puluh ribu ekor ular dan kala jengkin didalam kuburnya yang akan menyengatnya hingga pada hari kiamat."

Amr bin 'Ash ra. berkata, "Perempuan manapun yang berhianat kepada suaminya (tidak setia) didalam tempat tidur suaminya, maka tidak ada lain kecuali Allah akan memasukkannya kedalam neraka dan dari mulutnya akan keluar nanah, darah dan nanah yang membusuk."

Anas ra. berkata, "Aku telah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Perempuan manapun yang berdiri bersama selain suaminya, sedangkan orang lain itu bukan mahramnya, maka tidak lain kecuali Allah ta'ala akan memberdirikannya ditepi neraka jahannam dan setiap kalimat yang diucapkan akan ditulis baginya seribu keburukan."

Abdullah bin Umar ra. berkata, "Aku telah mendengar Nabi Muhammad saw. bersabda: Perempuan  manapun yang keluar rumah suaminya (tanpa ijin),  maka niscaya setiap benda yang basah dan kering melaknatinya."

Thalhah bin Abdullah ra. berkata, "Aku telah mendengar Nabi saw. telah bersabda: Perempuan manapun yang berkata kepada suaminya, 'sama sekali aku tidak memperoleh kebaikan darimu", maka tidak ada lain kecuali Allah akan memutus RahmatNya dari padanya."

Zubair bin Al-'Awwam ra. berkata, "Aku telah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Wanita manapun yang terus-menerus menyakitkan hati suaminya, sehingga ia menolaknya, maka tetalah siksaan Allah swt. padanya."

Sa'ad bin Abi Waqash ra. berkata, "Rasulullah saw. bersabda: Perempuan mana saja yang meminta kepada suaminya sesuatu dan dia mengetahui, bahwa suaminya tidak bisa memberikannya, maka tidak ada lain kecuali Allah ta'ala kelak di hari kiamat akan menimpakan siksa yang lama."

(Baca juga artikel sebelumnya)



Posted By Kang Santri10:06:00 AM

Tuesday, July 31, 2012

Doa Menolak Kekuatan Sihir

Filled under:


بسم الله الرحمن الرحيم
دفع السحر

هاطحٍ باطحٍ كَسْلَفٍ طَهٍ اَهِيًا سَراهِياً بِمُستَتِرٍ بِراكيلٍ سَطَ هَطَ نَزَلَ غَضَبُ رَبِّ

وَأحْرَقَ مَرَدَةُ الْجِنِّ, وَأُكاسٍ وَرَبَاطٍ وَاَمْراضٍ وَضِحَى عَلَيَّ /له/لها...

قال موسى ماجِئْتُهُمْ بِهِ السِّحرُ إن الله سيبطلُه إن اللهَ لا يُصْلِحُ عَمَلَ 

الْمُفسدينَ, 

وقل جاء الحق وزهق الباطل إن الباطل كان زهوقا, ونُنَزِّلُ من القرأن ماهو 

شفاءٌ (اى هذه الحاجة) ورحمة للمؤمنينَ, ولا يزيد الظالمين إلا خسارًا.

لا يستخلفنَّهم, واذكُرَّبك اذا نَسِيْتَ, وقل عَسَى أن يهديَنِ رَبِّيْ لأَِقْرَبَ من 

هذا رشدًا.

Posted By Kang Santri8:07:00 PM

Sunday, July 29, 2012

Mempunyai Tapi Tidak Memiliki

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Sedu-sedan ku membayangkan masa itu
Menikmati sisa waktu
Tidak dengamu
Melainkan dengan pilihan Tuhanku

Wahai kau yang ku pilih
Namun tak bisa ku raih

Wahai kau yang ku damba
Tapi masa tak pernah mengijinkan kita bersua

Ingin ku berteriak lantang
Kepada Bani Adam

"Siapa pun dirimu, jangan pernah sekalipun kau lukai hatinya"

"Kau yang sudah di gariskan untuknya, bimbinglah ia mencapai keridlaan-Nya"

"Wahai kau yang terpilih menanamkan benih dirahimnya, jadilah tauladan bagi pendekar -pendekar kecilnya"

Kata ini ku buat
Hanya sebagai pengingat

Saat usia kita sama-sama senja
Sambil menimang cucu yang tengah asik bersenda

Ingatlah ini...
Bahwa kau pernah hadir dikehidupan seorang pemuda
Yang terkekang oleh realita
Hingga ia tak pernah mampu berucap kata CINTA


Oleh: ranting_patah

Posted By Kang Santri9:23:00 PM

Friday, July 27, 2012

Ukhti, Inilah Yang Kebanyakan Pemuda Pikirkan Tentangmu

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Demi Allah, tidaklah seorang pemuda melihat gadis kecuali gadis itu dibayangkannya dalam keadaan telanjang tanpa pakaian.

Demi Allah, begitulah... Yang kami bersumpah untuk kali keduanya padamu. Jangan kau percaya apa yang dikatakan lelaki, bahwa ia tidak akan melihat seorang gadis kecuali akhlak dan budi bahasanya. Ia akan berbicara sebagai seorang sahabat, ia akan mencintainya sebagai seorang kawan.

Demi Allah ia telah berbohong! bila engkau mendengar obrolan anak-anak muda ditengah kesepian mereka, maka engkau akan mendengarkan sesuatu yang mengerikan. Senyuman yang dia berikan padamu, kehalusan budi serta bahasa dan perhatiannya, semua itu tidak lain hanyalah perangkap rayuan untuk mencapai tujuannya atau paling tidak, pemuda itu merasa bahwa itu adalah rayuan untuk melunakkan hatimu [hingga kau terpesona.pen]

Kemudian setelah itu apa yang akan terjadi? Apa, wahai puteriku? Coba kau pikirkan!

Kalian berdua sesaat masuk dalam kenikmatan, kemudian engkau ditinggalkan, dan engkau selama-lamanya akan tetap merasakan penderitaan akibat kenikmatan sesaat itu.

Sedang pemuda tersebut akan terus mencari mangsa lain untuk diterkam kehormatannya, sedang engkau sendiri yang menanggung beban kehamilan dalam perutmu yang membuncit.

Jiwamu menangis, kening [kehormatanmu] tercoreng. Mungkin masyarakat yang dzalim dapat mengampuni pemuda itu, dengan mengatakan: "Ia hanyalah pemuda yang tersesat lalu bertaubat".

Tetai engkau, selama hidupmu tetap berkubang dalam kehinaan dan ke-aiban, karena masyarakat tidak akan mengampunimu selama-lamanya.

Namun, jika saat engkau bertemu pemuda kau busungkan dadamu, kau palingkan mukamu dan kau tunjukkan [luhurnya kepribadian seorang muslimah] lalu kau menghindar... Dan kalau pemuda yang mengganggumu itu belum mengindahkan, sampai berbuat lancang lewat erkataan atau tangannya yang usil, kau lepaskan sepatu dari kakimu lalu kau lemparkan kekepalanya, bila semua itu kau lakukan, maka semua orang dijalan akan membelamu.

Setelah itu, pemuda-pemuda nakal tak kan mengganggu gadis-gadis lagi. Dan tentu jika ia seorang pemuda yang shalih ia akan datang kepadamu untuk meminta maaf dan tidak akan mengulangi perbuatannya. Selanjutnya, ia akan mengharapkan hubungan yang halal dengan datang melamarmu.

(Kutipan artikel ini ditulis oleh beliau Syaikh Ali Tanthawi dalam bukunya yang berjudul "Yaa Binti". Semoga bermanfaat.)

Posted By Kang Santri7:12:00 PM

Monday, July 23, 2012

Aku Dan Ramadhan

Filled under:

Ramadhan Mulia
Murtakibudz Dzunub - Telah ku adukan pada Sang Pemilik Ramadhan
Betapa besar kerugianku tahun lalu
Menjadi budak keinginan tanpa bayaran

Tuhan...
Izinkan aku kembali datang bercumbu dengan Ramadhan
Membesarkan nama-Mu seraya mengkerdilkan jiwa dan kesombonganku

Guritan malam tadi begitu indah
Karena untuk pertama kalinya aku datang tengah malam dalam renung I'tikaf 
Setelah malam pertama ku habiskan di rumah

Ada kenikmatan
Ada kesenduan
Ada ketenteraman
Ada kehawatiran
Ada ketakutan yang ku balut dalam do'a dan harapan

Aku dan Ramadhan
Adalah manusia dan waktu
Manusia yang suka berjibaku dalam lumutan dosa itu
Dan waktu yang ada keberkahan untuk membersihkan tumpukan dosa lalu

Aku akan berdiri semampuku
Aku akan bangkit sebisaku
Menata kembali tulang keimanan yang makin berserakan tanpa aturan
Mengisi kembali lubang keropos pada dawai jiwaku yang munkaran

Aku sepenuhnya milik-Mu Tuhan
Begitu juga dengan Ramadhan
Bedanya hanya
Jika diantara bulan-bulan yang lain, ia yang paling kau utamakan
Namun diriku, seakan termasuk mahluk terendah dari sekian banyak mahluk-Mu



Posted By Kang Santri10:09:00 AM