Sunday, October 28, 2012

Caraku Mengenangmu

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Meski perpisahan ini tidak begitu menyakitkan
Namun prahara itu mampu membuat hatiku berantakan
 
Sebagaimana tidak pernah ada yang salah dalam cinta
Begitu juga dengan keputusan yang lahir darinya

 Serunai senjaku akan selalu ku bawa dalam sayatan itu
Sembari menutup rasa kehilangan dengan kesyahduan mengenangmu
 
Biarlah barisan syairku menari bersama puisi
Mengisi kerontang jiwa dengan sajak ilusi
 
Caraku mengenangmu 
Engkau akan melihat padanya akan nampak syahdu dalam balutan doaku
 
Caraku mengenangmu
Engkau akan merasakan bahwa inilah cinta yang tanpa pamrih itu
 
Meski hanya secuil kabar kedukaan yang ku dengar dari mu
Itu sudah berhasil menyayat hatiku
 
Walau hanya setitis air mata sedih dalam hidupmu
Itu sudah cukup membuat gundah gulana hatiku
 
Berbahagialah dengan pilihan hatimu
Karena hanya itu yang ku ingini darimu

Posted By Kang Santri8:23:00 PM

Mengemis Gerimis Menangkis Tangis

Filled under:

(Murtakibudz Dzunub)

Pandanglah ikhwan itu
Kelak akan kau dapati sebuah temu

Dibalik aura sifat sabar
Ada hati yang menggelepar sangar

Terjebak dikubangan perasaan
Bersama wangian anyir sirna harapan

Kerinduannya yang dulu terlarang
Kini semakin terlarang

Bak mengemis gerimis
Sembari menangkis tangis

Berteriak lantang
Menantang bintang
 

Derai-derai cemara
Selalu setia mendengar sapa


Tak kan ada lagi sajak putih
Karena urat hatinya sudah habis tersembelih

Sia-sia ikhwan malang terpekur dalam doa
Meminta cengkurai malam yang sudah tiada


***


[Kasihanilah camar yang tidak pernah berani pulang,
karena ia membawa sebuah kabar yang tak ingin kau dengar]


Posted By Kang Santri7:51:00 AM

Saturday, October 27, 2012

Amalku Cermin Hidupku

Filled under:

Amalku Cermin Hidupku
Murtakibudz Dzunub - Saat aku tidak bahagia...
Saat itu juga aku ingat bahwa aku telah melakukan dosa
Satu dosa yang membawaku asyik dengan dengan rayuan syaitan

Saat aku tidak bahagia...
Saat itu terjadi karena aku lupa mensyukuri nikmatku yang telah ada
Aku lupa bersyukur bahwa andai saja nikmat melihat ini diambil oleh Penciptaku
Niscaya aku akan melupakan kedukakaan yang tengan aku rasakan

Saat aku selalu merasa kurang dan tidak puas dengan keadaanku...
Saat itu aku sudah berbuat aniaya dengan hatiku
Karena tanpa sadar aku sudah menafikan keadilan Tuhanku
Astaghfirullah...

Aku senantiasa berharap akan kesucian hatiku
Namun keluhan dan rasa penat tiada henti ku ucap
Padahal aku tahu
Untuk mendapati hal itu aku harus sering ditempa oleh berbagai ujian yang tidaklah ringan

Jika amalku adalah cermin dalam kehidupanku
Alangkah malunya diriku
Seorang hamba dhoif yang terlalu bodoh untuk belajar syukur

Wahai Allah...
Engkau yang menciptakan hati ini
Sungguh tiada daya bagiku dan tiada kepantasan 
Jika aku menuntut supaya engkau memberi semua keinginanku
Karena pada hakikatnya
Engkaulah yang lebih tahu apa yang terbaik buat hidupku


Posted By Kang Santri10:40:00 AM

Thursday, October 25, 2012

Download 21 E-Book (Kado Untuk Pernikahan)

Filled under: ,


E-book spesial, untuk sahabat "Murtakibudz Dzunub" yang belum menikah ataupun sudah menikah. Semoga kumpulan E-book ini dapat memberi sebuah pencerahan yang bermanfaat. 



Download 21 E-Book (Kado Untuk Pernikahan)




Posted By Kang Santri8:38:00 PM

Tuesday, October 23, 2012

E-Book Terjemah Kitab Hikam dan Minhajul Abidin

Filled under: ,



Download E-Book Terjemah Kitab "Al-Hikam"
dan Kitab "Minhajul Abidin"

Untuk download Terjemah Hikam silahkan


Untuk download Terjemah Minhajul Abidin silahkan


Untuk membuka Ebook, download softwarenya (DjVu reader) silahkan






Posted By Kang Santri8:35:00 PM

Download E-Book Kisah Perjalanan Hidup Rasulullah

Filled under: ,



Download E-Book
Kisah perjalanan hidup Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam





Posted By Kang Santri7:52:00 PM

Sayyidina Ali bin Abi Thalib Mengungkap 10 Falsafah Hidup

Filled under:

Falsafah Hidup Ali bin Abi Thalib
Murtakibudz Dzunub - Jika hidup itu adalah pembelajaran adalah benar adanya, hingga Rasulullah pun bernah bersabda "Tuntutlah ilmu sampai ke liang lahat", Kehidupan banyak memberikan pengajaran berharga terutama untuk hati dan jiwa, hingga masing-masing manusia akan beragam mendapati inti dari pelajaran yang diajarkan oleh kehidupan itu sendiri. 

Banyak falsafah dari para pendahulu yang begitu kita baca mampu menimbulkan kesan yang mendalam, hingga kita pun termotivasi hanya dengan membaca petikan tulisannya saja. Seperti halnya falsafah hidup yang dituturkan oleh Sayyidina Ali Karromallahu Wajhahu. 

Inilah 10  falsafah hidup beliau, yang tentunya masih banyak lagi jika kita pernah membaca sejarah kehidupan beliau.

1. Dosa terbesar adalah takut

2. Modal terbesar adalah percaya diri

3. Kesalahan terbesar adalah putus asa

4. Keberanian terbesar adalah sabar

5. Kebanggaan terbesar adalah kepercayaan

6. Keuntungan terbesar adalah anak yang sholeh

7. Rahasia paling berarti adalah mati

8. Guru terbaik adalah pengalaman

9. Rekreasi terbesar adalah bekerja

10. Pemberian terbaik adalah partisipasi

Kemudian mari kita tanya hati kita masing-masing, "Apakah falsafah yang sudah kita temukan dalam kehidupan kita?". Karena sebuah falsafah hidup tidak akan muncul tanpa didahului oleh berbagai hal kecuali setelah kita 'ditempa' cobaan dan ujian dari hidup.


Posted By Kang Santri12:27:00 PM

Monday, October 22, 2012

Mutiara Hikmah Dari Imam Syafi'i (Anti Galau)

Murtakibudz Dzunub - Janganlah gundah dengan segala derita
Karena cobaan dunia hanya sementara

Tangguhkan jiwa atas segala nestapa
Hiasi diri dengan maaf dan sikap setia


Semua aib akan dapat tertutup dengan kelapangan dada
Layaknya kedermawanan menutupi cela manusia

Tak ada kesedihan yang abadi, begitupun suka ria
Dan tak ada pula cobaan yang kekal, begitupun riang gembira

Di depan musuh, janganlah engkau bersikap lemah
Karena hinaan dari seteru adalah bencana

Rizkimu takkan berkurang karena ditunda
Dan takkan bertambah karena lelah mencarinya

Bila engkau punya hati qona'ah bersahaja
Tak ada bedanya engkau dengan pemilik dunia

Bila kematian sudah datang waktunya
Tak ada lagi langit dan bumi yang bisa membela

Dan jangan pernah berharap dari kikir durjana
Karena api takkan menyediakan air untuk si haus dahaga

Ingatlah, dunia Allah sangat luas tak terhingga
Tapi bila takdir tiba, angkasa pun sempit terasa
Maka biarkanlah hari berlalu setiap masanya
Karena kematian tak ada obat penawarnya

Biarkan hari berlalu dengan segala lakunya, Lapangkan dada atas segala Takdir-Nya

Posted By Kang Santri10:22:00 AM

Friday, October 19, 2012

Renungan Untuk Sang Suami

Filled under:

(Untukmu Yang Bergelar Suami) 

Apakah membebanimu wahai hamba Allah, untuk tersenyum di hadapan istrimu dikala anda masuk ketemu istri tercinta, agar anda meraih pahala dari Allah?!!

Apakah membebanimu untuk berwajah yang berseri-seri tatkala anda melihat anak dan istrimu?!!
 
Apakah menyulitkanmu wahai hamba Allah, untuk merangkul istrimu, mengecup pipinya serta bercumbu disaat anda menghampiri dirinya?!!

Apakah memberatkanmu untuk mengangkat sesuap nasi dan meletakkannya di mulut sang istri, agar anda mendapat pahala?!!

Apakah termasuk kesusahan, kalau anda masuk rumah sambil mengucapkan salam dengan lengkap : "Assalamu`alaikum Warahmatullah Wabarakatuh" agar anda meraih 30 kebaikan?!!

Apa yang membebanimu, jika anda menuturkan untaian kata-kata yang baik yang disenangi kekasihmu, walaupun agak terpaksa, dan mengandung bohong yang dibolehkan?!!

Tanyalah keadaan istrimu di saat anda masuk rumah!!

Apakah memberatkanmu, jika anda menuturkan kepada istrimu di saat masuk rumah : "Duhai kekasihku, semenjak Kanda keluar dari sisimu, dari pagi sampai sekarang, serasa bagaikan setahun".

Sesungguhnya, jika anda betul-betul mengharapkan pahala dari Allah walau anda letih dan lelah, anda mendekati sang istri tercinta dan menjimaknya, maka anda mendapatkan pahala dari Allah, karena Rasulullah bersabda :"Dan di air mani seseorang kalian ada sedekah".

Apakah melelahkanmu wahai hamba Allah, jika anda berdoa dan berkata : Ya. Allah perbaikilah istriku dan berkatilah daku pada dirinya.
Ucapan baik adalah sedekah.

Wajah yang berseri dan senyum yang manis di hadapan istri adalah sedekah.
Mengucapkan salam mengandung beberapa kebaikan.
Berjabat tangan mengugurkan dosa-dosa.
Berhubungan badan mendapatkan pahala.
 
 Diambil dari kitab " Fiqh pergaulan suami istri " oleh Syeikh Mushtofa Al Adawi.

Posted By Kang Santri2:16:00 PM

Renungan Untuk Sang Isteri

Filled under:

(Untukmu Yang Bergelar Isteri)  
 
Apakah akan membahayakan dirimu, kalau anda menemui suamimu dengan wajah yang berseri, dihiasi senyum yang manis di saat dia masuk rumah.?

Apakah memberatkanmu, apabila anda menghapus debu dari wajahnya, kepala, dan baju serta mengecup pipinya.?!!  Apakah anda akan merasa sulit, jika anda menunggu sejenak di saat dia memasuki rumah, dan tetap berdiri sampai dia duduk.!!!

Mungkin tidak akan menyulitkanmu, jika anda berkata kepada suami : "Alhamdulillah atas keselamatan Kanda, kami sangat rindu kedatanganmu, selamat datang kekasihku".

Berdandanlah untuk suamimu -harapkanlah pahala dari Allah di waktu anda berdandan itu, karena Allah itu Indah dan mencintai keindahan- pakailah parfum, dan bermake up-lah, serta pakailah busana yang paling indah untuk menyambut suamimu.

Jauhi dan jauhilah bermuka asam dan cemberut.

Janganlah anda mendengar dan menghiraukan perusak dan pengacau yang akan merusak dan mengacaukan keharmonisanmu dengan suami.

Janganlah selalu tampak sedih dan gelisah, akan tetapi berlindunglah kepada Allah dari rasa gelisah, sedih, malas dan lemah.

Janganlah berbicara terhadap laki-laki lain dengan lemah-lambut, sehingga menyebabkan orang yang di hatinya ada penyakit mendekatimu dan mengira hal-hal yang jelek terhadap dirimu.

Selalulah berada dalam keadaan lapang dada, hati tentram, dan ingat kepada Allah setiap saat.

Ringankanlah suamimu dari setiap keletihan, kepedihan dan musibah serta kesedihan yang menimpanya.

Suruhlah suamimu untuk berbakti kepada ibu bapaknya.
Didiklah anak-anakmu dengan baik. Isilah rumah dengan tasbih, tahlil, tahmid, dan takbir, perbanyaklah membaca Al-Quran terutama surat Al-Baqarah, karena surat itu dapat mengusir syeitan.

Hilangkanlah dari rumahmu foto-foto, alat-alat musik dan alat-alat yang bisa merusak agama. Bangunkanlah suamimu untuk melaksanakan shalat malam, doronglah dia untuk melakukan puasa sunat, ingatkan dia akan keutamaan bersedekah, dan jangan anda menghalanginya untuk menjalin hubungan siraturrahim dengan karib kerabatnya.

Perbanyaklah beristighfar untuk dirimu, suamimu, serta kedua orang tua dan seluruh kaum muslimin. Berdoalah kepada Allah, agar dianugerahkan keturunan yang baik, niat yang baik serta kebaikan dunia dan akhirat. Ketahuilah sesungguhnya Rabbmu Maha Mendengar doa dan mencintai orang yang nyinyir dalam meminta. Allah berfirman:"Dan Rabbmu berkata : serulah Aku niscaya Aku penuhi doamu" (Al-Ghafir : 60).

 
Diambil dari kitab " Fiqh pergaulan suami istri " oleh Syeikh Mushtofa Al Adawi.

Posted By Kang Santri1:44:00 PM

Thursday, October 4, 2012

Sang Penyejuk Hati

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Mungkin mudah bagiku menulis syair kerinduan dan cinta
Tapi tidak saat hatiku hanyut dan tenggelam di dasar hatimu,  yang telah berkenan menjadi muara

Guritan kata terbaik musnah
Pecah menjadi repihan rasa yang indah

Hatiku membisu bak tutur suara tanpa lagu
Mengenang risau hatimu akan kepergian sementara ku

Hingga kau berkata "Ingat aku yaa... Ingat akuu... (Jangan lupakan aku)"
Itulah kata darimu yang berhasil kau tikam ke qalbu terdalam ku

Untukmu sang penyejuk hati...

Bagaimana aku bisa melupakanmu?
Sementara kau tidak pernah bosan menyuruhku meletakkan
cinta pertamaku hanya pada Tuhanku

Bagaimana aku bisa melupakanmu?
Sementara hanya kau yang rajin mengingatkanku untuk bangun
disepertiga malam terahirku

Bagaimana aku bisa melupakanmu?
Sementara hatiku seperti hatimu

Meskipun aku tahu
Bahwa aku belum mampu memberimu bintang
Dan menyuguhkan rembulan

Namun aku tahu jika keduanya kerap hadir
Dalam romansa penantian takdir



[didedikasikan untuk sepasang kekasih yang saling mengerti bahwa
"Cinta Tidaklah Harus Memiliki"]


Posted By Kang Santri3:25:00 PM

Sunday, September 16, 2012

Ribuan Malaikat Mendoakan Orang Yang Di Caci Maki (Kisah Sahabat Rasul)

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Suatu hari, Rasulullah SAW bertamu ke rumah Abu Bakar Ash-Shidiq. Ketika bercengkrama dengan Rasulullah, tiba-tiba datang seorang Arab Badui menemui Abu Bakar dan langsung mencela Abu Bakar. Makian, kata-kata kotor keluar dari mulut orang itu. Namun, Abu Bakar tidak menghiraukannya. Ia melanjutkan perbincangan dengan Rasulullah. Melihat hal ini, Rasulullah tersenyum.

Kemudian, orang Arab Badui itu kembali memaki Abu Bakar. Kali ini, makian dan hinaannya lebih kasar. Namun, dengan keimanan yang kokoh serta kesabarannya, Abu Bakar tetap membiarkan orang tersebut. Rasulullah kembali memberikan senyum.

Semakin marahlah orang Arab Badui tersebut. Untuk ketiga kalinya, ia mencerca Abu Bakar dengan makian yang lebih menyakitkan. Kali ini, selaku manusia biasa yang memiliki hawa nafsu, Abu Bakar tidak dapat menahan amarahnya. Dibalasnya makian orang Arab Badui tersebut dengan makian pula. Terjadilah perang mulut. Seketika itu, Rasulullah beranjak dari tempat duduknya. Ia meninggalkan Abu Bakar tanpa mengucapkan salam.

Melihat hal ini, selaku tuan rumah, Abu Bakar tersadar dan menjadi bingung. Dikejarnya Rasulullah yang sudah sampai halaman rumah. Kemudian Abu Bakar berkata, "Wahai Rasulullah, janganlah Anda biarkan aku dalam kebingungan yang sangat. Jika aku berbuat kesalahan, jelaskan kesalahanku!"

Rasulullah menjawab, "Sewaktu ada seorang Arab Badui datang dengan membawa kemarahan serta fitnaan lalu mencelamu, kulihat tenang, diam dan engkau tidak membalas, aku bangga melihat engkau orang yang kuat mengahadapi tantangan, menghadapi fitnah, kuat menghadapi cacian, dan aku tersenyum karena ribuan malaikat di sekelilingmu mendoakan dan memohonkan ampun kepadamu, kepada Allah SWT."

Begitu pun yang kedua kali, ketika ia mencelamu dan engkau tetap membiarkannya, maka para malaikat semakin bertambah banyak jumlahnya. Oleh sebab itu, aku tersenyum. Namun, ketika kali ketiga ia mencelamu dan engkau menanggapinya, dan engkau membalasnya, maka seluruh malaikat pergi meninggalkanmu.

Hadirlah iblis di sisimu. Oleh karena itu, aku tidak ingin berdekatan dengan kamu aku tidak ingin berdekatan dengannya, dan aku tidak memberikan salam kepadanya.

Setelah itu menangislah abu bakar ketika diberitahu tentang rahasia kesabaran bahwa itu adalah kemuliaan yang terselubung.

 

Posted By Kang Santri4:14:00 PM

Saturday, September 15, 2012

Beberapa Faedah Dan Bahaya Nikah Bag. 5 (Habis)

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Hal-hal yang berkaitan dengan masing-masing suami isteri. Hal yang terbilang pada suami adalah bahwa suami harus seimbang dengan isteri, karena ada keterangan dari sebuah hadits,

"Nikah itu ibarat budak (hamba), maka salah seorang diantara kamu sebaiknya melihat dimana dia harus meletakkan kemuliaan wanita dari padanya. Maka janganlah menikahinya, kecuali dengan laki-laki yang seimbang." Maksudnya adalah yang seimbang atau hampir seimbang.

Adapun hal-hal yang terbilang 'seimbang' menurut pendapat ulama' adalah dalam hal agama, nasab, sempurna kejadiannya, kekayaan dan pekerjaan yang mulia.

Seyogyanya bagi suami dalam pernikahannya dengan isteri niat mengikuti sunnah Rasul, memperbanyak umat Nabi saw. lalu berbuat baik dalam memimpin, mengarahkan isteri, menjaga agama dan mengharap keturunan shalih-shalihah yang dapat mendoakannya.

Nabi Saw. bersabda, "Adapun kesalahan beberapa amal, adalah karena niat dan sesungguhnya bagi setiap orang menurut apa yang diniatkannya."

Sedangkan hal-hal yang terbilang pada isteri, adalah tidak adanya sesuatu yang mencegah nikah, baik dari suami atau masih dalam keadaan Iddah (masa penantian bersihnya rahim) dari suami yang dulu, mengerti makna yang terkandung di dalam syahadatain, dan memeluk agama islam.

Nabi saw. bersabda, "Seorang wanita itu dinikahi karena harta, kecantikan, nasab, dan agamanya. Maka hendaknya kamu menikah dengan wanita karena agamanya. Dengan demikian maka bahagialah kamu."

Rasulullah bersabda, "Barang siapa menikah dengan wanita karena harta dan kecantikannya, maka harta dan kecantikan itu akan ditutup oleh Allah swt. Dan barang siapa menikahi wanita karena agamanya, maka Allah akan memberi rejeki pada harta dan kecantikannya itu." 

Nabi saw. bersabda, "Janganlah kamu menikah dengan wanita karena kecantikannya. Besar kemungkinan karena kecantikannya dia akan jatuh kelembah kehinaan. Dan janganlah menikah dengan wanita karena hartanya. Besar kemungkinan karena hartanya dia akan berbuat lacut (serong). dan hendaklah kamu menikah dengan wanita yang baik budi pekertinya."

Nabi saw. bersabda, "Menikahlah kalian dengan wanita yang penuh dengan kasih sayang dan mampu melahirkan anak-anak yang banyak, sebab sesungguhnya aku berpacu dalam memperbanyak umat sebab kalian. Dan janganlah kalian menikah dengan wanita tua yang mandul. Sebab sesungguhnya anak-anak orang islam berada di bayang-bayang arsy. Mereka dikumpulkan oleh ayahnya, yaitu Nabi Ibrahim as. Mereka memohon ampun untuk bapak-bapak mereka."

Nabi saw. bersabda, "Hendaklah kalian menikah dengan wanita-wanita yang masih perawan. Sebab mereka lebih bersih mulutnya, lebih menghadap rahimnya (lebih subur masa birahinya) dan lebih baik budi pekertinya."

Rasulullah bersabda, "Janganlah kamu menikah dengan wanita yang masih berhubungan keluarga sendiri. Sebab kelak anak akan tercipta dalam keadaan kurus."

Yang dimaksud kurus adalah karena kelemahan syahwat. Lain halnya apabila isteri dari wanita lain (bukan kerabat sendiri). Adapun wanita yang masih kerabat sendiri, maka hanya mampu membangkitkan kekuatan sebatas rasa untuk menghidupkan syahwat saja. 

Jika dipandang dari segi kehidupan dan keharmonisan, mas kawin dari kerabat sendiri adalah yang paling utama. Sebab wanita yang masih ada hubungan kerabat ini jarang sekali menghianati suaminya, karena ia senantiasa menjaganya.

Ia senantiasa sabar (tahan) apabila suaminya menyakiti hatinya, tidak memberi ampun apabila suaminya dicela orang dan tidak condong pada lelaki yang bukan suaminya, bisa tertanam melebihi dari cemburunya yang bersifat perjodohan.

Ahlak-ahlak ini seperti yang disebutkan diatas, sedikit sekali terdapat pada wanita selain kerabat. Dan yang paling akhir, hendaklah diusahakan isteri yang cantik, sebab kecantikan (biasanya) akan lebih mendatangkan kerukunan dan kedamaian.

Demikianlah kiranya keterangan-keterangan diatas semoga bisa menjadi bekal untuk memasuki jenjang pernikahan. Hanya Allah swt. yang menguasai taufiq dan hidayah.

[disarikan dari Kitab Qurratul 'Uyuun]

Artikel sebelumnya:






Posted By Kang Santri11:42:00 AM

Tuesday, September 11, 2012

Masih Enggan Melaksanakan Shalat? Baca Ini (Kisah Nyata)

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Kisah nyata ini diceritakan sendiri oleh pelakunya dan pernah disiarkan oleh Radio Al Qur’an di Makkah al Mukarramah. Kisah ini terjadi pada musim haji dua tahun yang lalu di daerah Syu’aibah, yaitu daerah pesisir pantai laut merah, terletak 110 Km di Selatan Jeddah.

Pemilik kisah ini berkata:

Ayahku adalah seorang imam masjid, namun demikian aku tidak shalat. Beliau selalu memerintahkan aku untuk shalat setiap kali datang waktu shalat. Beliau membangunkan ku untuk shalat subuh. Akan tetapi aku berpura-pura seakan-akan pergi ke masjid padahal tidak.

Bahkan aku hanya mencukupkan diri dengan berputar-putar naik mobil hingga jama’ah selesai menunaikan shalat. Keadaan yang demikian terus berlangsung hingga aku berumur 21 tahun. Pada seluruh waktu ku yang telah lewat tersebut aku jauh dari Allah dan banyak bermaksiat kepada-Nya. Tetapi meskipun aku meninggalkan shalat, aku tetap berbakti kepada kedua orang tuaku.

[Inilah sekelumit dari kisah hidupku di masa lalu]

Pada suatu hari, kami sekelompok pemuda bersepakat untuk pergi rekreasi ke laut. Kami berjumlah lima orang pemuda. Kami sampai di pagi hari, lalu membuat tenda di tepi pantai. Seperti biasanya kamipun menyembelih kambing dan makan siang. Setelah makan siang, kamipun mempersiapkan diri turun ke laut untuk menyelam dengan tabung oksigen. Sesuai aturan, wajib ada satu orang yang tetap tinggal di luar, di sisi kemah, hingga dia bisa bertindak pada saat para penyelam itu terlambat datang pada waktu yang telah ditentukan.

Akupun duduk, dikarenakan aku lemah dalam penyelaman. Aku duduk seorang diri di dalam kemah, sementara disamping kami juga terdapat sekelompok pemuda yang lain. Saat datang waktu shalat, salah seorang diantara mereka mengumandangkan adzan, kemudian mereka mulai menyiapkan shalat. Aku terpaksa masuk ke dalam laut untuk berenang agar terhindar dari kesulitan yang akan menimpaku jika aku tidak shalat bersama mereka. Karena kebiasaan kaum muslimin di sini adalah sangat menaruh perhatian terhadap shalat berjamaah dengan perhatian yang sangat besar, hingga menjadi aib bagi kami jika seseorang shalat fardhu sendirian.

Aku sangat mahir dalam berenang. Aku berenang hingga merasa kelelahan sementara aku berada di daerah yang dalam. Aku memutuskan untuk tidur diatas punggungku dan membiarkan tubuhku hingga bisa mengapung di atas air. Dan itulah yang terjadi. Secara tiba-tiba, seakan-akan ada orang yang menarikku ke bawah… aku berusaha untuk naik…..aku berusaha untuk melawan….aku berusaha dengan seluruh cara yang aku ketahui, akan tetapi aku merasa orang yang tadi menarikku dari bawah menuju ke kedalaman laut seakan-akan sekarang berada di atasku dan menenggelamkan kepalaku ke bawah.

Aku berada dalam keadaan yang ditakuti oleh semua orang. Aku seorang diri, pada saat itu aku merasa lebih lemah daripada lalat. Nafaspun mulai tersendat, darah mulai tersumbat di kepala, aku mulai merasakan kematian! Tiba-tiba, aku tidak tahu mengapa…aku ingat kepada ayahku, saudara-saudaraku, kerabat-kerabat dan teman-temanku… hingga karyawan di toko pun aku mengingatnya. Setiap orang yang pernah lewat dalam kehidupanku terlintas dalam ingatanku…semuanya pada detik-detik yang terbatas…kemudian setelah itu, aku ingat diriku sendiri..!.!!

Mulailah aku bertanya kepada diriku sendiri…apa engkau shalat? Tidak. Apa engkau puasa? Tidak. Apa engkau telah berhaji? Tidak. Apa engkau bershadaqah? Tidak. Engkau sekarang di jalan menuju Rabbmu, engkau akan terbebas dan berpisah dari kehidupan dunia, berpisah dari teman-temanmu, maka bagaimana kamu akan menghadap Rabb-mu? Tiba-tiba aku mendengar suara ayahku memanggilku dengan namaku dan berkata: “Bangun dan shalatlah.” Suara itupun terdengar di telingaku tiga kali. Kemudian terdengarlah suara beliau adzan. Aku merasa dia dekat dan akan menyelamatkanku. Hal ini menjadikanku berteriak menyerunya dengan memanggil namanya, sementara air masuk ke dalam mulutku.

Aku berteriak-teriak…tapi tidak ada yang menjawab. Aku merasakan asinnya air di dalam tubuhku, mulailah nafas terputus-putus. Aku yakin akan mati, aku berusaha untuk mengucapkan syahadat….ku ucapkan Asyhadu…Asyhadu…aku tidak mampu untuk menyempurnakannya, seakan-akan ada tangan yang memegang tenggorokanku dan menghalangiku dari mengucapkannya. Aku merasa bahwa nyawaku sudah dalam perjalanan keluar dari tubuhku.

Akupun berhenti bergerak…inilah akhir dari ingatanku. Aku terbangun sementara kau berada di dalam kemah…dan di sisiku ada seorang tentara dari Khafar al Sawakhil (penjaga garis batas laut), dan bersamanya para pemuda yang tadi mempersiapkan diri untuk shalat.

Saat aku terbangun, tentara itu berkata: ”Segala puji bagi Allah atas keselamatan ini.” Kemudian dia langsung beranjak pergi dari tempat kami. Aku pun bertanya kepada para pemuda tentang tentara tersebut. Apakah kalian mengenalnya? Mereka tidak mengetahuinya, dia datang secara tiba-tiba ke tepi pantai dan mengeluarkanmu dari laut, kemudian segera pergi sebagaimana engkau lihat, kata mereka.

Akupun bertanya kepada mereka: “Bagaimana kalian melihatku di air?” Mereka menjawab,”Sementara kami di tepi pantai, kami tidak melihatmu di laut, dan kami tidak merasakan kehadiranmu, kami tidak merasakannya hingga saat tentara tersebut hadir dan mengeluarkanmu dari laut.” Perlu diketahui bahwa jarak terdekat denga Markas Penjaga Garis Laut adalah sekitar 20 Km dari kemah kami, sementara jalannya pun jalan darat, yaitu membutuhkan sekitar 20 menit hingga sampai di tempat kami sementara peristiwa tenggelam tadi berlangsung dalam beberapa menit.

Para pemuda itu bersumpah bahwa mereka tidak melihatku. Maka bagaimana tentara tersebut melihatku? Demi Rabb yang telah menciptakanku, hingga hari ini aku tidak tahu bagaimana dia bisa sampai kepadaku. seluruh peristiwa ini terjadi saat teman-temanku berada dalam penyelaman di laut. Ketika aku bersama para pemuda yang menengokku di dalam kemah, HP-ku berdering. segera HP kuangkat, ternyata ayah yang menelepon. Akupun merasa bingung, karena sesaat sebelumnya aku mendengar suaranya ketika aku di kedalaman, dan sekarang dia menelepon?

Aku menjawab….beliau menanyai keadaanku, apakah aku dalam keadaan baik? Beliau mengulang-ulangnya, berkali-kali. Tentu saja aku tidak mengabarkan kepada beliau, supaya tidak cemas. Setelah pembicaraan selesai aku merasa sangat ingin shalat. Maka aku berdiri dan shalat dua rakaat, yang selama hidupku belum pernah aku lakukan. Dua rakaat itu aku habiskan selama dua jam. Dua rakaat yang kulakukan dari hati yang jujur dan banyak menangis di dalamnya.

Aku menunggu kawan-kawanku hingga mereka kembali dari petualangan. Aku meminta izin pulang duluan. Akupun sampai di rumah dan ayahku ada di sana. Pertama kali aku membuka pintu, beliau sudah ada di hadapanku dan berkata: “Kemari, aku merindukanmu!” Akupun mengikutinya, kemudian beliau bersumpah kepadaku dengan nama Allah agar aku mengatakan kepada beliau tentang apa yang telah terjadi padaku di waktu Ashar tadi. Akupun terkejut, bingung, gemetar dan tidak mampu berkata-kata.

Aku merasa beliau sudah tahu. Beliau mengulangi pertanyaannya dua kali. Akhirnya aku menceritakan apa yang terjadi padaku. Kemudian beliau berkata: ”Demi Allah, sesungguhnya aku tadi mendengarmu memanggilku, sementara aku dalam keadaan sujud kedua pada akhir shalat Ashar, seakan-akan engkau berada dalam sebuah musibah. Engkau memanggil-manggilku dengan teriakan yang menyayat-nyayat hatiku. Aku mendengar suaramu dan aku tidak bisa menguasai diriku hingga aku berdo’a untukmu dengan sekeras-kerasnya sementara manusia mendengar do’aku".

Tiba-tiba, aku merasa seakan-akan ada seseorang yang menuangkan air dingin di atasku. Setelah shalat, aku segera keluar dari masjid dan menghubungimu. Segala puji bagi Allah, aku merasa tenang bagitu mendengar suaramu. Akan tetapi wahai anakku, engkau teledor terhadap shalat. Engkau menyangka bahwa dunia akan kekal bagimu, dan engkau tidak mengetahui bahwa Rabbmu berkuasa merubah keadaanmu dalam beberapa detik. Ini adalah sebagian dari kekuasaan Allah yang Dia perbuat terhadapmu.

Akan tetapi Rabb kita telah menetapkan umur baru bagimu. Saat itulah aku tahu bahwa yang menyelamatkan aku dari peristiwa tersebut adalah karena Rahmat Allah Ta’ala kemudian karena do’a ayah untukku. Ini adalah sentuhan lembut dari sentuhan-sentuhan kematian. Allah Ta’ala ingin memperlihatkan kepada kita bahwa betapapun kuta dan perkasanya manusia akan menjadi makhluk yang paling lemah di hadapan keperkasaan dan keagungan Allah Ta’ala.

Maka semenjak hari itu, shalat tidak pernah luput dari pikiranku. Alhamdulillah. Wahai para pemuda, wajib atas kalian taat kepada Allah dan berbakti kepada kedua orang tua.

Ya Allah, ampunilah kami dan kedua orang tua kami, terimalah taubat kami dan taubat mereka dan rahmatilah mereka dengan rahmat-Mu.

Sumber: Majalah Qiblati Edisi 10 tahun II, Juli 2007 M

Posted By Kang Santri7:35:00 PM

Saturday, August 25, 2012

Telah Ku Adukan Perkara Ini Pada Tuhan

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Telah ku adukan perkara ini pada Tuhanku
Tentang kesedihan
Tentang air mata
Juga tentang hati yang tidak sengaja telah ku sakiti

Aku sadar
Jika aku bukanlah kekasih halalmu
Yang pantas merayu hatimu

Namun meskipun begitu
Kau sudah tahu akan kasih sayang yang ada dalam diriku untukmu
Meski terkadang aku belum yakin jika kau juga mempunyai rasa yang seperti itu untukku

Sungguh
Aku teramat malu menyaksikan diri
Yang sudah memberimu gelar zahratus shofi
Tapi aku sendiri malah menyakiti hati sang bunga suci

Ijinkan aku mengirim butiran airmata ini...

Melalui cakrawala alam yang sering kau sapa
Melalui setiap keindahan yang kau rasa
Melalui cekungan merah kelopak mata
Melalui bait-bait doa yang sering ku baca

Aku masih ingin mengatakan jika,

HATIKU SEPERTI HATIMU

Meski tulisan kerap kali mengatakan kata pisah
Namun hati selalu meyanggah

Aku menyayangimu karena Tuhanku
Bukan aku menyayangimu karena nafsuku

Perkenankan aku mengobati kelukaan hatimu
Yang terjadi karena kebodohanku memahamimu

Posted By Kang Santri7:38:00 PM

Saturday, August 18, 2012

Setelah Gagal Membakar Qur'an Pendeta Ini Masuk Islam

Filled under: ,

Murtakibudz Dzunub - Koran harian “Tartim” yang beredar di Nigeria dan merupakan koran terbesar dengan oplah paling banyak menyebarkan berita yang tidak akan dilupakan oleh penduduk Nigeria. 

Koran yang terbit setiap hari Rabu tersebut, dalam editorialnya telah menggoncangkan salah satu kota besar di Nigeria, kota Kajoula. Dalam berita tersebut dipaparkan bahwa seorang pimpinan pendeta Nasrani dengan sangat mengejutkan melempar mushaf Al-Qur’an ke tanah di depan para hadirin yang datang dalam majelisnya. Tidak hanya itu, ia kemudian menuangkan bensin dan berusaha membakar mushaf tersebut.

Namun yang sangat mengherankan, mushaf tersebut sama sekali tidak terbakar dan api tidak sampai menyentuhnya. Bahkan, tangan pendeta tersebut yang justru terbakar oleh kobaran api. Peristiwa ini terjadi pada saat umat Nasrani sedang melaksanakan kebaktian di gereja.

Setelah kejadian ini, Pendeta Froos seketika langsung menyatakan keislamannya dan diikuti oleh pemimpin gereja Ya’kub Musa, kemudian diikuti oleh para pendeta dan misionaris di sana, sehingga jumlah mereka mencapai 200 misionaris. Setelah jangka waktu satu tahun berikutnya, pendeta Ya’kub Musa mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Sekjen Organisasi Kependetaan di Kanjoula.

Di hari berikutnya, pemimpin redaksi koran “Ukazh”, Haji Ibrahim Sulaiman menulis berita tentang aktifitas Ya’kub Musa pasca mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Sekjen. la berdakwah menyebarkan agama Islam ke seluruh pelosok negeri Nigeria, Ibrahim Sulaiman juga menulis kisah-kisah Ya’kub Musa yag bisa dijadikan pelajaran bagi umat Islam di seluruh penjuru dunia.

Subhanallah...

Sumber: Kisah Pastur & Pendeta Yang Masuk Islam, Syaikh al-Husaini al-Muiddi, Penerbit al Kautsar, Hal.268-267




Posted By Kang Santri11:52:00 AM

Tuesday, August 14, 2012

Belajar Dari Mereka Yang Di Anggap Tidak Penting

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Entah apa yang ada dalam pikirannya, masa lalu sudah ia anggap sebagai taburan debu yang dibiarkannya terbang. Sedang masa depan tak pernah ia pikirkan, "karena yang hanya ia pikirkan adalah hari ini, untuk besok kita lihat saja nanti..".

Ia tidaklah sebijak para tokoh di zaman dahulu, ia bukanlah pembuat rangkaian kata-kata yang indah yang bisa menjadi motivasi bagi pembacanya, tapi ia hanyalah manusia biasa tapi sudah berhasil mengendalikan sebagian besar hawa nafsunya.

Juga, ia bukanlah seorang cendekiawan cerdas yang ucapannya banyak didengar orang, melainkan ia hanyalah manusia yang teramat sederhana, hingga dari kesederhanaannya itu bagi orang yang terbuka mata hatinya akan banyak belajar hikmah hidup darinya.

Bahkan, ia tidak pernah tahu "devinisi bahagia itu seperti apa?", karena yang ia tahu sifat syukur diatas semua sendi kehidupan adalah perasaan yang selalu ia pegang.

Wajahnya polos, hingga tak jarang orang menaruh iba dan menganggap ia adalah salah satu element yang tidak penting hadir di tengah-tengah masyarakat. Karena banyak yang menganggap "adanya sama halnya dengan ketiadaannya".


***

Sahabat, kita sering terjebak dalam bungkus formalitas. Kita sering lena mencari nasihat hingga ahirnya jenuh dan bosan, karena ternyata ratusan kata bijak yang sudah kita hafal tidak membawa dampak apa-apa. Kita terkung-kung oleh idealis dengan sesuatu yang akan kita pilih "karena kata orang: kita harus begini dan harus begitu..". Hingga kita melupakan mengambil nilai pelajaran dari setiap cangkul yang diayun oleh petani, tentang anak kecil yang berlari tergesa sambil membawa rantang nasi dan sebotol air putih.

Bukankah kita bisa melihat, bahwa tiap ayunan cangkul yang ia lakukan padanya menyimpan harapan yang besar yang akan selalu diikuti kekecewaan di tiap hasil akhir. Meski dengan nafas terengah dan jengkal kaki yang sempit, kita bisa melihat anak itu nampak khawatir jika orang tuanya kehausan dan kelaparan karena terus asyik dengan pekerjaannya menggarap sawah. Inilah wujud dari kasih sayang dalam balut kekhawatiran, karena ia yakin meski hanya satu jengkal saja ia memberlambat lajunya maka semakin lama pula orang tuanya merasakan haus dan lapar ditengah pekerjaan beratnya.

Adakalanya, kita mengambil pelajaran hidup yang sangatlah berharga dari mereka-mereka yang kita anggap sebelumnya tidak penting dan mungkin sudah biasa kita remehkan.


Semarang, 14/08/2012

Posted By Kang Santri4:46:00 PM

Cara Mensucikan Diri Setelah Zina (Kisah Sahabat Rasulullah)

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Suatu hari, Rasulullah sedang duduk di dalam masjid bersama para sahabat. Tiba-tiba datanglah seorang wanita yang kemudian masuk ke dalam masjid. Dengan ketakutan, wanita tersebut mengaku kepada Rasulullah bahwa dia telah berzina. Mendengar hal itu, memerahlah wajah Rasulullah SAW seperti hampir meneteskan darah. Kemudian beliau bersabda kepadanya, Pergilah, hingga engkau melahirkan anakmu.

Sembilan bulan berlalu, wanita itu akhirnya melahirkan. Dihari pertama nifasnya, dia datang kembali membawa anaknya, dan berkata kepada Rasulullah SAW: Wahai Rasulullah, sucikanlah aku dari dosa zina
Rasulullah melihat kepada anak wanita tersebut, dan bersabda: Pulanglah, susuilah dia, maka jika engkau telah menyapihnya, kembalilah kepadaku.


Dengan sedih, wanita itu akhirnya kembali lagi kerumahnya.



Tiga tahun lebih berlalu, namun si wanita tetap tidak berubah pikiran. Dia datang kembali kepada Rasulullah untuk bertaubat. Dia berkata: Wahai Rasulullah, aku telah menyapihnya, maka sucikanlah aku!


Rasulullah SAW bersabda kembali kepada semua yang hadir disana, Siapa yang mengurusi anak ini, maka dia adalah temanku di surga


Sesaat kemudian beliau memerintahkan agar wanita tersebut dirajam. Setelah wanita tersebut meninggal, beliaupun menshalatinya.


Melihat hal tersebut, umar Bin Khatab merasa sangat heran sekali. Beliau berkata: Engkau menshalatinya wahai Nabi Allah, sungguh dia telah berzina!.


Rasulullah kembali bersabda: Sungguh dia telah bertaubat dengan satu taubat, yang seandainya taubatnya itu dibagikan kepada 70 orang dari penduduk Madinah, maka taubat itu akan mencukupinya. Apakah engkau mendapati sebuah taubat yang lebih utama dari pengorbanan dirinya untuk Allah? (HR. Ahmad)

Posted By Kang Santri10:21:00 AM

Monday, August 13, 2012

Yang di Rasakan Hati

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Yang di alami belum berhenti
Yang terjadi sangatlah berarti dalam diri
Masa lalu... padanya menyimpan hijab yang menuntut untuk segera di ungkap

Haruskah manis dan indahnya fatamorgana tentang cinta kembali meracuni hati?


Hijau daun sore telah menguning bersama menuanya waktu
Mengering
Terombang-ambing
Tersapu benturan benda halus yang tak serius


Yang dirasa
Membentuk peta kehidupan yang tak berskala
Hingga tak mampu diterjemah dalam bahasa tulis dan lisan


Yang dirayu juga yang merayu
Ibarat insan dungu tanpa induk semang
Melong-long tiada nada


Yang dirahasiakan hati
Berujung dilema jika sang permaisuri mengetahui


Yang ditakuti kini telah terjadi
Cerminan tentang pilihan ia atau tidak
Makin meraung garang dalam sarang
Hingga terkadang galau menjadi peranan utama dalam sandiwara hidup


Yang di ingini masih sebatas mimpi
Kelopak mata membengkak
Sampai cucuran air bah dari kelopak makin membuat hati tersendak

Dimana bisa kutemukan obat
Dari prahara hati yang tak bersahabat?
Biarlah bahagia dan sedih bersanding harmonis
Karena aku tak ingin lagi ada tangis

Di tulis di Al-Anwar Sarang - Rembang, 5 April 2005

Posted By Kang Santri5:04:00 PM

Thursday, August 9, 2012

Di Hakimi Waktu

Filled under:

Memahamimu ibarat menyusun bukit kabut

Kau begitu ringan dipelukan
Namun begitu mudah juga hatimu dicera-beraikan

Aku selalu dihakimi waktu 
Saat ku ucap pertama kali salam ta'aruf padamu

Aku mampu menerima kekuranganmu yang tujuh puluh
Dan aku bisa menerima kelebihanmu yang tiga puluh

Tapi
Mungkin itu dulu
Sebelum batas kesabaranku
Di hakimi oleh waktu

Aku yang terjajah oleh ego ku sendiri
Karena bertahan ingin memiliki

Sekarang
Ketukan palu ku, sudah menggambil keputusan

Ku ikhlaskan
Saat kau berkata "ingin pergi"

Ku relakan
Saat kau tulis kata "ku tak ingin bicara lagi"

Ku lapangkan
Jika perpisahan sudah menjadi suratan

Dan aku tidak akan menahanmu lagi

Posted By Kang Santri9:34:00 AM