Saturday, February 25, 2012

Syair Perindu


Gerai senja terpekur dalam hayalan rinduku
Siapakah gerangan tsuroyya itu
Tersungkur ku terpikat dalam noktah semu
Hingga purnama menangis melihat kemalanganku

Kau yang selalu melintas di ujung sisa terahir tinta
Riang menebar senyum di tiap urat mata
Tolong sampaikan pesanku kepada pemulikmu yang selalu terjaga
Bahwa tenun kerinduan yang Ia sulam di serat hatiku membuat siksa

Jari-jari waktu kian mengapit bisikan hati
Sementara jiwa ku duduk termangu dalam kemacetan angan yang tak suci
Ku tunggu saat kau sendiri
Di puncak labuh ketulusan yang kau ingini

Kepadamu kekasih
Ku persembahkan gurat kisah bernada perih
Ku persembahkan cara berjalan saat kita tertatih
Bukan gambaran foya kenikmatan seperti yang selama ini ingin manusia raih

Bila tiba saatnya nanti
Bersabarlah saat biduk kita goyah oleh materi
Berpeganglah pada keyakinanmu akan nahkoda kasih sayang ini
Dengan sisa-sisa sobekan baju keimananku
Insya Allah masih mampu mengantarmu mendapati cinta Ilahi


(Di tulis, 25 Pebruari 2012 - 20:18 WIB)

Posted By Kang Santri10:18:00 PM

Sebuah Kisah Cinta Sejati (Kisah nyata yang pernah terjadi di bumi ini)

Filled under:


Murtakibudz Dzunub - Sekian ratus tahun yang lalu. Di malam yang sunyi, di dalam rumah sederhana yang tidak seberapa luasnya, seorang istri tengah menunggu kepulangan suaminya. Tak biasanya sang suami pulang larut malam. Sang istri bingung, hari sudah larut dan ia sudah sangat kelelahan dan mengantuk. Namun, tak terlintas sedikitpun dalam benaknya untuk segera tidur dan terlelap di tempat tidur suaminya. Dengan setia ia ingin tetap menunggu namun, rasa ngantuk semakin menjadi-jadi dan Sang suami tercinta belum juga datang.

Tak berapa lama kemudian….

Seorang laki-laki yang sangat berwibawa lagi luhur budinya tiba di rumahnya yang sederhana. Laki-laki ini adalah suami dari sang istri tersebut. Malam ini beliau pulang lebih lambat dari biasanya, kelelahan dan penat sangat terasa.

Namun, ketika akan mengetuk pintu… terpikir olehnya Sang istri yang tengah terlelap tidur…. ah, sungguh ia tak ingin membangunkannya. Tanpa pikir panjang, ia tak jadi mengetuk pintu dan seketika itu juga menggelar sorbannya di depan pintu dan berbaring diatasnya.

Dengan kelembutan hati yang tak ingin membangunkan istri terkasihnya, Sang suami lebih memilih tidur di luar rumah, di depan pintu dengan udara malam yang dingin melilit hanya beralaskan selembar sorban tipis.

Penat dan lelah beraktifitas seharian, dingin malam yang menggigit tulang ia hadapi..
karena tak ingin membangunkan istri tercinta. Subhanallah…

Dan ternyata, di dalam rumah persis dibalik pintu tempat sang suami menggelar sorban dan berbaring diatasnya. Sang istri masih menunggu, hingga terlelap dan bersandar sang istri di balik pintu. Tak terlintas sedikitpun dalam pikirinnya tuk berbaring di tempat tidur, sementara suaminya belum juga pulang.

Namun, karena khawatir rasa kantuknya tak tertahan dan tidak mendengar ketukan pintu Sang suami ketika pulang, ia memutuskan tuk menunggu Sang suami di depan pintu dari dalam rumahnya.

Malam itu tanpa saling mengetahui, sepasang suami istri tersebut tertidur berdampingan di kedua sisi pintu rumah mereka yang sederhana, karena kasih dan rasa hormat terhadap pasangan, Sang Istri rela mengorbankan diri terlelap di pintu demi kesetiaan serta hormat pada Sang suami dan Sang suami mengorbankan diri tidur di pintu demi rasa kasih dan kelembutan pada Sang istri.

Dan Nun jauh di langit….
Ratusan ribu malaikat pun bertasbih….
Menyaksikan kedua sejoli tersebut…

SUBHANALLAH WABIHAMDIH

Betapa suci dan mulia rasa cinta kasih yang mereka bina...
Terlukis indah dalam ukiran akhlak yang begitu mempesona…
Saling mengasihi, saling mencintai, saling menyayangi dan saling menghormati…

Tahukah Anda… siapa mereka..?

Sang suami adalah Muhammad bin Abdullah, Rasulullah SAW dan Sang istri adalah Sayyidatuna Aisyah RA binti Abu Bakar As-Sidiq. Merekalah sepasang kekasih teladan, suami istri dambaan, dan merekalah pemimpin para manusia, laki-laki dan perempuan di dunia dan akhirat.

Semoga rahmat ALLAH senantiasa tercurah bagi keduanya, dan mengumpulkan jiwa kita bersama Rasulullah SAW dan Sayyidatuna Aisyah RA dalam surgaNYA kelak. Dan Semoga ALLAH SWT memberi kita taufiq dan hidayah tuk bisa meneladani kedua manusia mulia tersebut. Amiin…amiin ya rabbal’alamiin….

Silahkan SHARE kisah cinta yang tiada duanya ini ke rekan anda jika menurut anda bermanfaat

Posted By Kang Santri8:40:00 AM

Thursday, February 23, 2012

Berpisah Karena Allah

Filled under:


Aku tahu risalahku kini tak kan pernah lagi sampai padamu
Candamu kini hanya sebuah bayangan semu


Aku rindu kenakalan juga manjamu
Seperti kelucuan serial kartun yang tengah asik 
lempar-lemparan salju kala itu

Meski sudah tak lagi kau dengar sayu suara do'aku
Disetiap shalatku yang lima waktu aku tidak pernah melupakan 
permohonan ampun buatmu juga buatku...

Meski sudah tak lagi kau dengar celotehanku yang 
kau anggap sebuah nasihat
Namun senantiasa kuhadiahkan sisipan surah an-nur untuk 
kecerahan hari-harimu agar tak lagi pekat...

Perpisahan ini tidak pernah aku ingini
Tapi apalah daya, kalau memang ini yang harus terjadi

Ku ihlaskan kepergianmu
Andai itu lebih bisa membawa kepada cinta sejatimu

Disini, biarlah aku bertahan dengan ketulusan
Sembari menanti rencana Tuhan

 

Posted By Kang Santri9:54:00 AM

Sajak Ta'aruf

Filled under:


Tak lelah tapak tengadah pada gerimis darah
Sisa-sisa sajak dari ta'aruf semalam masih 
membuatku gelisah...

Kau lupa merapikan selimut rinduku malam lalu
Kau juga lupa bahwa aku tidak terbiasa 
dengan hal itu

Ini bukan tentang jiwa yang sedang kasmaran
Tapi ini tentang "siapa yang sedia membantu membangunkanku mengambil 
wudlu guna mengagungkan Tuhan"


Tahukah kau?
Bahwa berdiri ditepi tusukan malam itu menyakitkan
Bila tidak ku jumpai malaikat yang bersedia menjadi penyelamat

Seorang malaikat dunia yang lebih mulia dari bidadari surga
Siapa lagi kalau bukan wanita shaliha?


Semoga bukan nafsuku yang ingin mengenal lebih jauh 
Tentang siapa sebenarnya dirimu

Melainkan ta'aruf ini sebagai salah satu dari rencana Tuhan
Sebagai ikhtiarku mempersunting dirimu
Untuk menjadi ibu dari anak-anak ku



Posted By Kang Santri9:41:00 AM

Jangan Pernah Berkata "Andai saja, jikalau, seumpama.."

Filled under:

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُون

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudaratan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan”. (Q.S An-Nahl Ayat: 53)

Gerak laju sempoyongan tak habis-habisnya seorang hamba itu mempertontonkan kepada Malaikat Roqib dan Atid, meski terus ia memerintah kedua kaki untuk berjalan namun kedua tangannya  terlihat malas kalau dilihat dari caranya melambai.  Hingga ia merasa beribu lembaran buku dari jutaan huruf dan harokat juga teori yang dulu pernah ia tekuni terasa semua tidak begitu berarti lagi.

“aku sedang frustasiii…!!!” begitu teriaknya.

Nampaknya urusan duniawi sudah mulai menenggelamkannya. Hingga ia lupa dengan apa yang pernah dulu ia pelajari.

“Jagalah Allah, niscaya engkau akan senantiasa mendapati-Nya di hadapanmu. Kenalilah Allah di waktu lapang niscaya Dia akan mengenalimu saat kesulitan, ketahuilah bahwa apa yang ditetapkan luput darimu tidak akan pernah menimpamu dan apa yang telah ditetapkan menimpamu tidak akan pernah luput darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan itu selalu mengiringi kesabaran, jalan keluar selalu mengiringi cobaan dan kemudahan itu selalu mengiringi kesusahan.”

Sejatinya kabanyakan dari kita tidak sadar kalau sebenarnya kita sendirilah yang suka mendramatisir  tiap kali Allah memberi cobaan, sehingga muaranya lupa untuk meminta pertolongan Allah dan berserah diri.

Hal itu bisa kita gambarkan dari contoh berikut.

Sebut saja namanya Zaid,dia merasa frustasi dengan permasalahan yang sedang ia hadapi. Kalau dilihat dari segi fisik sebenarnya dia tidak terlalu mengecewakan dan juga sebenarnya dia sudah bisa dikatakan sebagai seorang pemuda yang mapan. Namun sayang di umurnya yang sudah hampir kepala tiga belum juga dia menemukan jodohnya, hingga dia pun berpikir

“duuhhh… gimana nih Allah kok masih belum juga ngasih jodoh buat aku? Bagaimana dengan masa tua ku nanti kalau aku sampai tidak mempunyai istri? Bagaimana aku bisa  mendapatkan keturunan? Terus iapa nanti yang akan mendo’akanku ketika aku mati nanti???”.

Beribu-ribu pertanyaan seperti  itulah yang membuatnya frustasi menjalani hidup, aneh memang Zaid harus merasakan kesengsaraan dengan sesuatu yang belum tentu terjadi.

Coba kalau dia menanggapi masalah seperti itu dengan cara berpikir begini,

“ku serahkan semua urusan duniawi ku kepada-Mu Ya Robb, karena sebelum aku lahir aku sudah membuat perjanjian dengan-Mu bahwa aku telah Ridlo dengan bagian rizki ku nanti, bahwa aku telah Ridlo siapakah  jodoh ku atau bahkan aku hidup tanpa didampingi isteri dan aku juga Ridlo dengan ketetapan-Mu di umur berapa aku mati nanti…”

Ada  juga cerita yang dituturkan dari salah seorang Kyai, kepadanya datang seorang ibu setengah baya mencurahkan kegelisahannya

“Pak Kyai, aku sangat gelisah dengan masalah yang aku hadapi..”,

“emang kenapa ibu’..” Tanya Kyai tadi,

“barusan saya habis dari dokter, katanya penyakit yang saya alami ini ada kemungkinan ginjal saya yang bermasalah…” Sang Kyai manganggukkan kepala

“terus yang membuat ibu gelisah apa..?”,

“ya itu Pak Kyai, kalau umpama betul ginjal saya yang bermasalah bagaimana dengan hidup saya nanti? Pasti hancur Pak Kyai…”

“berarti kan, ada kemungkinan suatu saat nanti bisa kena penyakit gagal ginja, terus dengan apa saya harus mengobati? Kalau harus cuci darah itu kan membutuhkan biaya yang sangat mahal? Padahal saya ini hanya ibu rumah tangga biasa Pak Kyai, dan pendapatan suami saya juga pas-pasan….” Ibu itu tampak gusar sekali.

Dengan tersenyum “Ibu….”,

“iya Pak Kyai…”

“masalah ibu itu sudah terjadi belum?”,

“ya belum Pak Kyai, itu kan seandainya…”

Sambil tersenyum Kyai tadi melanjutkan,

“itu kan hanya kemungkinan dan belum tentu terjadi kenapa deritanya sudah ibu rasain sekarang?”.

“mmm.. begitu ya Pak Kyai…” imbuh Ibu tadi dengan agak sedikit lega.

Sahabat dari contoh diatas kita bisa melihat tentang betapa ruginya bagi orang yang alpha dengan pertolongan dan ketentuan Allah, karena dari kacamata umum kita bisa melihat “mereka resah dan gelisah bahkan menderita oleh ketakutan yang dibuat-buat sendiri,” Na’udzubillahi Min Dzalika.

Baginda Rasul pernah menyinggung tentang hal ini,

Jika ditimpa suatu musibah janganlah berkata, “Oh andai kata aku tadinya melakukan itu tentu berakibat begini dan begitu”, tetapi katakanlah, “Ini takdir Allah dan apa yang dikehendaki Allah pasti dikerjakan-Nya.” Ketahuilah, sesungguhnya ucapan: “andai kata” dan “jikalau” membuka peluang bagi (masuknya) karya (kerjaan) setan.” (HR. Muslim)

Posted By Kang Santri8:32:00 AM

Tuesday, February 21, 2012

Di Sepertiga Malam Terahir

Filled under:



Ingin ku rengkuh keutamaan di setiap malam
Namun, nafsu kembali berhasil meniduriku
Kelopak matapun kian mengering dibumi hati yang kian kerontang
Sementara aku hanya bisa berharap 
“Semoga malam berikutnya tidak seangkuh dan seganas malam ini”
Iblis terbahak melihat kekalahanku
Malaikat menangis melihat kemalanganku

Kembali ku tunaikan sholat isya’…
Dengan harapan, sepertiga malam terahir nanti kedua tanganku
mampu membasuhkan air wudlu diwajah dosaku.

Namun lagi-lagi aku gagal meraihnya
Tak serokaatpun mampu ku dirikan
Tak sekalimahpun mampu ku lafadlkan
“Apa mungkin karena seringnya iblis berhasil mengencingi telingaku,
sehingga kedua indra ini tak pernah lagi mendengar sayup-sayup
alam yang tak pernah behenti memuja-Mu?”.

Aku kalah dengan stomata yang tak pernah berhenti bertasbih
Aku kalah dengan bebatuan yang tak pernah henti berdzikir
Aku kalah dengan air yang selalu menggemakan alunan dzikir

Beberapa bulan kemudian aku dihadapkan pada satu episode hidup yang 
belum pernah ku perankan sebelumnya
Bermacam cobaan berbaris rapi rapi bertamu mengunjungiku
Hingga pada suatu malam…
 “Berbahagialah.. Tuhanmu telah mengabulkan doamu”
Hembusan angin tafakkur masuk mengantarkan bisikan itu kedalam hati
Aliran darah mendidih 
Irama jantung berdetak bak halilintar yang mencambuk 
Iblis karena ingin mencuri rahasia langit

Kelopak mata mulai tergenagi luh Bibir bergetar diiringi
suara gemelethuk gigi beradu
Hingga ahirnya malam itu air mata mengguyur pipi
“Semoga air mata ini sebagian dari air mata yang akan
dipercikkan malaikat Jibril dihari kiamat 
nanti ketika gumpalan bola api akan melahap Umat Muhammad”

Ku peluk kesedihan dengan Tahmid
Sedang kegelisahan ku belai dengan Tashbih
Namun kahawatiran kembali menamparku 
“Apakah malam ini mampu engkau pertahankan? 
Seperti malam-malam yang akan engkau lewati
sembari menghabiskan sisa waktumu?”

Akupun tersentak…!!!
Hingga tetesan luh kembali bercumbu dengan kedua pipiku
Sedang dibawah hamparan sajadah, Iblis sesumbar
dengan sumpah serapahnya berteriak
“Lihat saja nanti, apakah besok malam kamu masih bisa seperti ini lagi?!” 
Hingga ahirnya lari terbibirit-birit mendengan Ta’awudz yang ku ucapkan. 

Posted By Kang Santri8:56:00 PM

Monday, February 20, 2012

Amalan-amalan Yang Bisa Memberi Syafa'at

Filled under:

Dari Hadits yang diriwayatkan Abu Musa Al-Madini. Rosululloh bersabda tentang amalan-amalan yang bisa menyelamatkan seseorang dari kesulitan di akhirat kelak :

Sesungguhnya aku semalam bermimpim melihat hal yang sangat menakjubkan. Aku melihat seseorang dari umatku yang di datangi oleh malaikat untuk mencabut nyawanya,lalu datang amalnya kepadanya dalam berbakti kepada dua orang tuanya, sehingga amal itu membuat malaikat itu kembali lagi.

Aku melihat seseorang yang telah dipersiapkan kepadanya siksa kubur, lalu datang wudlunya, sehingga wudlunya itu menyelamatkannya dari siksa kubur.

Aku melihat seseorang yang telah dikepung banyak setan, lalu datang kepadanya dzikirnya kepada Alloh, sehingga dzikirnya itu mengusir setan-setan tersebut darinya.

Aku melihat seseorang yang kehausan, sedang tiap kali ia mendatangi telaga, ia di usir darinya. Lalu, datanglah shoum Romadlonnya, sehingga shoumnya itu memberikan minum kepadanya.

Aku melihat seseorang di mana para Nabi masing-masing duduk dalam halaqoh, ia di usir dan di larang untuk bergabung ke dalamnya. Lalu, datanglah mandinya dari hadats besar, sehingga mandinya itumembimbing ia dengan memegang tangannya seraya mendudukannya di sampingku.

Aku melihat seseorang yang di depannya gelap sekali, begitu pula di belakang, atas, dan bawahnya, sehingga ia kebingungan mencari arah jalannya. Datanglah kepadanya haji dan umrohnya, lalu keduanya mengelurkan ia dari kegelapan tersebut dan memasukannya ke dalam tempat yang terang sekali.

Aku melihat seseorang yang melindungi mukanya dengan tangannya dari panasnya kobaran api, lalu datang sedekahnya kepadanyadengan menutupi kobaran api dari mukanya seraya membimbingnya ke hadapan Alloh SWT.

Aku melihat seseorang yang mengajak bicara orang-orang mukmin, tetapi mereka mendiamkannya. Datanglah silaturrohimnya seraya berkata, ‘hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya ia adalah orang yang melakukan silaturrohim, maka ajaklah ia bicara’. Maka, orang tersebut diajak bicara oleh semua orang mukmin dan mereka mengeluarkan tangan untuk berjabat dengannya, sementara iapun mengulurkan tangannya untuk berjabat dengan mereka.

Aku melihat seseorang yang telah di cengkeram malaikat Jabaniyyah, lalu datanglah kepadanya amal ma’ruf nahyi mungkar-nya, sehingga amalannya itu menyalamatkan ia dari siksa Jabaniyyah dan memasukkannya kedalam lingkungan malaikat Rohmat.

Aku melihat seseorang yang jalannya merangkak dengan kedua lututnya dan di depannya terdapat tabir yang memisahkan ia dengan Alloh, lalu datanglah ahlaq baiknya seraya memegang tangan dan membimbingnya ke hadirat Alloh SWT.

Aku melihat seseorang yang catatan amalnya datang dari sebelah kirinya, lalu datanglah taqwanya kepada Alloh dan mengambil buku tersebut dengan meletakannya ditangan kanannya.

Aku melihat seseorang yang timbangan amalnya sangat ringan, lalu datang anak-anaknya yang meninggal waktu kecil, sehingga mereka memberatkan timbangan amal baiknya tersebut.

Aku melihat seseorang yang berdiri di tebing jahannam, lalu datanglah harapannya kepada Alloh, hingga harapannya itu menyelamatkannya dari jahannam dan ia berjalan menuju surga dengan selamat.

Aku melihat seseorang yang terpelanting diatas neraka, lalu datanglah air matanya karena takut pada Alloh, hingga air matanya itu menyelamatkannya dari jatuh ke neraka.

Aku melihat seseorang yang tengah berada di atas jembatan dengan tubuh gemetar, lalu datang husnudlonnya pada Alloh, hingga sikapnya itu menjadikan ia tenang dan ia pun berjalan dengan lancar.

Aku melihat seseorang yang jatuh bangun di atas jembatan, Terkadang ia merangkak, terkadang pula ia pun menggantung. Lalu datanglah sholatnya menegakkan kedua kakinya dan menyelamatkannya hingga ia mampu menyeberangi jembatan sampai ke pintu surga.

Aku pun melihat pula seseorang yang telah sampai ke pintu surga, semua pintu di tutup baginya. Lalu datanglah syahadatnya, sehingga di bukalah pintu surga dan ia pun bisa masuk kedalamnya”.

Itulah gambaran amalan-amalan yang dengan izin Alloh SWT bisa menjadi penyelamat umat Muhammad SAW yang benar-benarmelaksanakan perintah Alloh dan sunnah Rosululloh dengan hati ihlas.

Posted By Kang Santri8:19:00 AM

Nikmati Saja Hidup Ini

Murtakibudz Dzunub - Kenapa kemarin kita lupa, kalau kita masih bisa menghirup udara segar? Dan kemarin kenapa kita juga lupa kalau sepasang dua buah bola mata ini ternyata masih bisa kita gunakan untuk melihat!

Dan yang lebih parah lagi, kenapa kemarin bisa lupa kalau ruh kita masih menempel di raga?
Lalu apa saja yang kita ingat?? 
Duniawi kah yang sudah menyibuk kan kita?

Bukan!! kita lah yang sibuk dengan dunia.

Mari konsentrasikan pikiran dan pendengaran kita baik-baik.
Apa yang kita dapati? Keriuhan? gosip dan saling menggunjing? orang dengan HP yang berjibaku dengan keberisikan?. 

Tenang, mari renungkan sejenak.

Ahh.. ternyata kita tidak menyimak, ada senandung doa dari burung-burung kecil, dan tatapan sayu anak yatim yang meminta sedekah. Bukankah sebuah kenikmatan kalau kita mendekati dan mengusap lembut rambutnya? sembari berbisik "Ya Alloh.. alangkah beruntungnya aku bila dibanding dengan anak ini".

Sekarang coba lanjutkan langkah kaki kita dan tarik napas kita dalam-dalam, apa yang kita dapati?

Ada aroma yang memualkan? Tunggu dulu, mari kita hirup sekali lagi. Berkonsentrasilah saat ini.

Tidakkah kita merasakan semerbak keharuman yang menyuburkan bunga-bunga?

Coba kita rasakan indera yang ada di kulit. Lembab? Udara yang penat? Cobalah sekali lagi. Tidakkah kita pernah merasakan kesejukan yang membuatkita nyaman?. Rasakanlah kesejukan udara dingin itu. Rasakan juga kehangatan udara yang hadir saat kita hirup.

Sahabat...Akan selalu ada keindahan dalam setiap gerak kita.Namun sayangnya kita sering lupa.

Posted By Kang Santri8:08:00 AM

Kuatnya Sebongkah Harapan

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Dahulu, seorang pengusaha yang cukup berhasil. Ketika suaminya sakit, satu persatu pabrik mereka jual. Harta mereka terkuras untuk berbagai biaya pengobatan. Hingga mereka harus pindah kepinggiran kota dan membuka rumah makan sederhana.

Sang suami pun telah tiada. Beberapa tahun kemudian, rumah makani tu pun harus berganti rupa menjadi warung makan yang lebih kecil di sebelah pasar. Setelah lama tak mendengar kabarnya, kini setiap malam tampak sang isteri di bantu oleh anak dan menantunya menggelar tikar berjualan lesehan di alun-alun kota. Orang-orang pun masih mengenal masalalunya yang berkelimpahan. Namun, ia tak kehilangan senyumnya yang tegar saat meladeni para pembeli. 

"Wahai Ibu, bagaimana kau bisa sedemikian kuat?"

"Harapan Nak! jangan kehilangan harapan. Bukankah seorang guru dunia pernah berujar, karena harapanlah seorang Ibu menyusui anaknya.Karena harapanlah kita menanam pohon meski kita tahu kita tak akan sempat memetik buahnya yang ranum bertahun-tahun kemudian.Sekali kau kehilangan harapan, kau kehilangan seluruh kekuatanmuuntuk menghadapi dunia".


Posted By Kang Santri8:03:00 AM

Jika Nabi Muhammad Datang Kerumahmu

Murtakibudz Dzunub - Jika Nabi Muhammad datang kerumahmu,
Untuk meluanggan waktu sehari dua hari bersamamu,
Tanpa kabar apa-apa sebelumnya,Apakah yang akan kau lakukan untuknya?

Akankah kau sembunyikan buku duniamu,
Lalu kau keluarkan dengan cepat kitab hadist di rak buku?
Dan kau hiasi mejamu dengan Qur'an yang telah berdebu?
Akankah kau masih melihat film X di TV,Atau dengan cepat kau matikan sebelum dilihat Nabi?
Maukah kau mengajak Nabi berkunjung ketempat yang biasa kau datangi,
Atau dengan cepat rencanamu kau ganti?
Akankah kau bahagia jika Nabi memperpanjang kunjungannya,
Atau kau malah tersiksa karena banyak yang harus kau sembunyikan darinya?

Jika Nabi Muhammad tiba-tiba ingin menyaksikan,
Akankah kau tetap mengerjakan pekerjaan yang sehari-haribiasa kau lakukan?
Akankah kau berkata-kata seperti yang sehari-hari kau katakan?
Akankah kau jalankan sewajarnya hidupmu seperti halnyajika Nabi tidak kerumahmu?

 (Bukan lisan yang disuruh untuk menjawab pertanyaan ini,tapi HATI....)

(diambil dari buku motivasi)

Posted By Kang Santri7:59:00 AM

Pesan Yang Ingin di Sampaikan Roh (setelah keluar dari jasad)

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Apabila roh keluar dari jasad, ia akan berkata-kata dan seluruh isi alam sama ada di langit atau bumi akan mendengarnya kecuali jin dan manusia. Apabila mayat dimandikan, lalu roh berkata : "Wahai orang yang memandikan, aku minta kepadamu kerana Allah untuk melepaskan pakaianku dengan perlahan-lahan sebab pada saat ini aku beristirahat daripada seretan malaikat maut".

Selepas itu, mayat bersuara sambil merayu : "Wahai orang yang memandikan, janganlah engkau menuangkan airmu dalam keadaan panas. Begitu juga jangan menuangnya dengan air yang dingin kerana tubuhku terbakar apabila terlepasnya roh dari tubuh"

Apabila dimandikan, roh sekali lagi merayu :"Demi Allah, wahai orang yang memandikan jangan engkau menggosok aku dengan kuat sebab tubuhku luka-luka dengan keluarnya roh". Setelah dimandi dan dikafankan, telapak kaki mayat diikat dan ia pun memanggil-manggil dan berpesan lagi supaya jangan diikat terlalu kuat serta mengafani kepalanya kerana ingin melihat wajahnya sendiri, anak-anak, isteri atau suami buat kali terakhir kerana tidak dapat melihat lagi sampai Hari Kiamat.

Ketika keluar dari rumah lalu ia berpesan :"Demi Allah, wahai jamaahku, aku telah meninggalkan isteriku menjadi janda. Maka janganlah kamu menyakitinya. Anak-anakku telah menjadi yatim dan janganlah kalian Menyakiti mereka. Sesungguhnya pada hari itu aku telah keluar dari rumahku dan aku tidak akan dapat kembali kepada mereka buat selama-lamanya".

Sesudah mayat diletakkan pada keranda, sekali lagi diserunya kepada jemaah supaya jangan mempercepatkan mayatnya ke kubur selagi belum mendengar suara anak-anak dan sanak saudara buat kali terakhir. Sesudah dibawa dan melangkah sebanyak tiga langkah dari rumah, roh pula berpesan: "Wahai Kekasihku, wahai saudaraku dan wahai anak-anakku, jangan kamu diperdaya dunia sebagaimana ia memperdayakan aku dan janganlah kamu lalai ketika ini sebagaimana ia melalaikan aku".

"Sesungguhnya aku tinggalkan apa yang aku telah aku kumpulkan untuk warisku dan sedikitpun mereka tidak mahu menanggung kesalahanku. Adapun didunia, Allah menghisab aku, padahal kamu berasa senang dengan keduniaan. Dan mereka juga tidak mahu mendoakan aku".

ٍSumber: Allah Maha Tahu

Posted By Kang Santri7:37:00 AM

Sunday, February 19, 2012

Jangan Tinggalkan Al-Qur'an (Catatan Muslim)

خيركم من تعلم القرأن و علمه
"Sebaik-baiknya kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur'an dan mengamalkannya (mengajarkannya)." (HR. Bukhari)

Malam ini setelah menyelesaikan tadarus qur'an, aku kembali teringat hadits diatas. Hadits itu terasa amat begitu kental diingatan (karena itu yang biasa kami sampaikan semasa mengajar di TKA/TPA "ADDIENA" kepada anak-anak) kadang aku berfikir, apakah yang aku rasakan dirasakan juga oleh para sahabatku (mantan pengajar di TQA/TPA)...? Juga perjalanan pertama kali menyelesaikan  kursus di AMM Yogyakarta, sebagai modal pembelajaran Iqro' kepada murid-murid.

Ahhh... banyak sekali kisah menarik untuk diceritakan, mulai dari yang hal yang menyebalkan seperti "waduuh... rasanya bacaan qur'an sudah bener, tapi kok selalu disalahin ama tutornya ya...hehe" mungkin kita dulu terlalu pede dengan bekal bacaan qur'an dari rumah.

Tapi alhamdulillah, semua lancar kami 12 orang mampu menyelesaikan tiap ujian untuk mendapat sertifikat resmi sebagai pengajar TKA/TPA selama dua Ahad.

Kembali ke hadits diatas, kepada sahabatku entah dibelahan bumi manapun kalian berada. Mumpung malam ini aku ingat tidak ada salahnya berbagi kan?

Saat ini mulai ku tata kembali jadwal qiro'atku, untuk kembali membangkitkan kecintaanku pada quran. Bagaimana denganmu?

Saat ini mulai aku ingat-ingat kembali lagu murottal yang pernah kita pelajari bersama untuk memperindah bacaan tilawah. 
Bagaimana denganmu?

Saat ini mulai ku rapikan kembali bacaan qur'anku sesuai ayat yang biasa kita ajarkan dulu,

وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلا
"Dan bacalah Al Qur'an itu dengan perlahan-lahan."
Bagaimana denganmu?


Posted By Kang Santri9:07:00 PM

Friday, February 17, 2012

Balasan Yang Indah (dari Allah)

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Abu Ibrahim bercerita, Suatu ketika, aku jalan-jalan di padang pasir dan tersesat tidak bisa pulang. Di sana kutemukan sebuah kemah lawas. Kuperhatikan kemah tersebut, dan ternyata di dalamnya ada seorang tua yang duduk di atas tanah dengan sangat tenang.

Ternyata orang ini kedua tangannya buntung, matanya buta, dan sebatang kara tanpa sanak saudara. Kulihat bibirnya komat-kamit mengucapkan beberapa kalimat.

Aku mendekat untuk mendengar ucapannya, dan ternyata ia mengulang-ulang kalimat berikut:

Segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia… Segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia…

Aku heran mendengar ucapannya, lalu kuperhatikan keadaannya lebih jauh. Ternyata sebagian besar panca inderanya tak berfungsi. Kedua tangannya buntung, matanya buta, dan ia tidak memiliki apa-apa bagi dirinya.

Kuperhatikan kondisinya sambil mencari adakah ia memiliki anak yang mengurusinya? Atau isteri yang menemaninya? Ternyata tak ada seorang pun.

Aku beranjak mendekatinya, dan ia merasakan kehadiranku. Ia lalu bertanya: “Siapa? siapa?”

“Assalaamu’alaikum… aku seorang yang tersesat dan mendapatkan kemah ini” jawabku, “Tapi kamu sendiri siapa?” tanyaku.

“Mengapa kau tinggal seorang diri di tempat ini? Di mana isterimu, anakmu, dan kerabatmu? lanjutku.

“Aku seorang yang sakit, semua orang meninggalkanku, dan kebanyakan keluargaku telah meninggal” jawabnya.

“Namun kudengar kau mengulang-ulang perkataan: “Segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia!! Demi Allah, apa kelebihan yang diberikan-Nya kepadamu, sedangkan engkau buta, faqir, buntung kedua tangannya, dan sebatang kara?!?” ucapku.

“Aku akan menceritakannya kepadamu. Tapi aku punya satu permintaan kepadamu, maukah kamu mengabulkannya?” tanyanya.

“Jawab dulu pertanyaanku, baru aku akan mengabulkan permintaanmu” kataku.

“Engkau telah melihat sendiri betapa banyak cobaan Allah atasku, akan tetapi segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia. Bukankah Allah memberiku akal sehat, yang dengannya aku bisa memahami dan berfikir?”

“Betul” jawabku. lalu katanya: “Berapa banyak orang yang gila?”

“Banyak juga” jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia” jawabnya.

“Bukankah Allah memberiku pendengaran, yang dengannya aku bisa mendengar adzan, memahami ucapan, dan mengetahui apa yang terjadi di sekelilingku?” tanyanya.

“Iya benar”, jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas orang banyak tersebut” jawabnya.

“Betapa banyak orang yang tuli tak mendengar?” katanya.

“Banyak juga” jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas orang banyak tersebut”, katanya.

“Bukankah Allah memberiku lisan yang dengannya aku bisa berdzikir dan menjelaskan keinginanku?” tanyanya.

“Iya benar” jawabku. “Lantas berapa banyak orang yang bisu tidak bisa bicara?” tanyanya.

“Wah, banyak itu” jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas orang banyak tsb” jawabnya.

“Bukankah Allah telah menjadikanku seorang muslim yang menyembah-Nya, mengharap pahala dari-Nya, dan bersabar atas musibahku?” tanyanya.

“Iya benar” jawabku. lalu katanya: “Padahal berapa banyak orang yang menyembah berhala, salib, dan sebagainya dan mereka juga sakit? Mereka merugi di dunia dan akhirat!!”

“Banyak sekali”, jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas orang banyak tersebut” katanya.

Pak tua terus menyebut kenikmatan Allah atas dirinya satu-persatu. Dan aku semakin takjub dengan kekuatan imannya. Ia begitu mantap keyakinannya dan begitu rela terhadap pemberian Allah.

Betapa banyak pesakitan selain beliau, yang musibahnya tidak sampai seperempat dari musibah beliau. Mereka ada yang lumpuh, ada yang kehilangan penglihatan dan pendengaran, ada juga yang kehilangan organ tubuhnya. Tapi bila dibandingkan dengan orang ini, maka mereka tergolong ‘sehat’. Pun demikian, mereka meronta-ronta, mengeluh, dan menangis sejadi-jadinya. Mereka amat tidak sabar dan tipis keimanannya terhadap balasan Allah atas musibah yang menimpa mereka, padahal pahala tersebut demikian besar.

Aku pun menyelami pikiranku makin jauh, hingga akhirnya khayalanku terputus saat pak tua mengatakan:

“Hmmm, bolehkah kusebutkan permintaanku sekarang, maukah kamu mengabulkannya?”

“Iya. apa permintaanmu?” kataku.

Maka ia menundukkan kepalanya sejenak seraya menahan tangis. Ia berkata: “Tidak ada lagi yang tersisa dari keluargaku melainkan seorang bocah berumur 14 tahun. Dia lah yang memberiku makan dan minum, serta mewudhukan aku dan mengurusi segala keperluanku. Sejak tadi malam ia keluar mencari makanan untukku dan belum kembali hingga kini. Aku tak tahu apakah ia masih hidup dan diharapkan kepulangannya, ataukah telah tiada dan kulupakan saja. Dan kamu tahu sendiri keadaanku yang tua renta dan buta, yang tidak bisa mencarinya”.

Maka kutanya ciri-ciri anak tersebut dan ia menyebutkannya, maka aku berjanji akan mencarikan bocah tersebut untuknya. Aku pun meninggalkannya dan tak tahu bagaimana mencari bocah tersebut. Aku tak tahu harus memulai dari arah mana.

Namun tatkala aku berjalan dan bertanya-tanya kepada orang sekitar tentang si bocah, nampaklah olehku dari kejauhan sebuah bukit kecil yang tak jauh letaknya dari kemah si pak tua. Di atas bukit tersebut ada sekawanan burung gagak yang mengerumuni sesuatu. Maka segeralah terbetik di benakku bahwa burung tersebut tidak lah berkerumun kecuali pada bangkai, atau sisa makanan.

Aku pun mendaki bukit tersebut dan mendatangi kawanan gagak tadi hingga mereka berhamburan terbang. Tatkala kudatangi lokasi tersebut, ternyata si bocah telah tewas dengan badan terpotong-potong. Rupanya seekor serigala telah menerkamnya dan memakan sebagian dari tubuhnya, lalu meninggalkan sisanya untuk burung-burung.

Aku lebih sedih memikirkan nasib pak tua dari pada nasib si bocah. Aku pun turun dari bukit, dan melangkahkan kakiku dengan berat menahan kesedihan yang mendalam. Haruskah kutinggalkan pak Tua menghadapi nasibnya sendirian. Ataukah kudatangi dia dan kukabarkan nasib anaknya kepadanya?

Aku berjalan menujuk kemah pak Tua. Aku bingung harus mengatakan apa dan mulai dari mana? Lalu terlintaslah di benakku akan kisah Nabi Ayyub ‘alaihissalaam. Maka kutemui pak Tua itu dan ia masih dalam kondisi yang memprihatinkan seperti saat kutinggalkan. Kuucapkan salam kepadanya, dan pak Tua yang malang ini demikian rindu ingin melihat anaknya, ia mendahuluiku dengan bertanya: “Di mana si bocah?”

Namun kataku: “Jawablah terlebih dahulu… siapakah yang lebih dicintai Allah: engkau atau Ayyub ‘alaihissalaam?”.

“Tentu Ayyub ‘alaihissalaam lebih dicintai Allah” jawabnya.

“Lantas siapakah di antara kalian yang lebih berat ujiannya?” tanyaku kembali.

“Tentu Ayyub…” jawabnya.

“Kalau begitu, berharaplah pahala dari Allah karena aku mendapati anakmu telah tewas di lereng gunung. Ia diterkam oleh serigala dan dikoyak-koyak tubuhnya” jawabku.

Maka pak Tua pun tersedak-sedak seraya berkata: “Laa ilaaha illallaaah…” dan aku berusaha meringankan musibahnya dan menyabarkannya. Namun sedakannya semakin keras hingga aku mulai menalqinkan kalimat syahadat kepadanya, hingga akhirnya ia meninggal dunia. Ia wafat di hadapanku, lalu kututupi jasadnya dengan selimut yang ada di bawahnya. Lalu aku keluar untuk mencari orang yang membantuku mengurus jenazahnya.

Maka kudapati ada tiga orang yang mengendarai unta mereka… nampaknya mereka adalah para musafir, maka kupanggil mereka dan mereka datang menghampiriku. Kukatakan: “Maukah kalian menerima pahala yang Allah giring kepada kalian? Di sini ada seorang muslim yang wafat dan dia tidak punya siapa-siapa yang mengurusinya. Maukah kalian menolongku memandikan, mengafani dan menguburkannya?”

“Iya..” jawab mereka.

Mereka pun masuk ke dalam kemah menghampiri mayat pak Tua untuk memindahkannya. Namun ketika mereka menyingkap wajahnya, mereka saling berteriak: “Abu Qilabah… Abu Qilabah…!!”. Ternyata Abu Qilabah adalah salah seorang ulama mereka, akan tetapi waktu silih berganti dan ia dirundung berbagai musibah hingga menyendiri dari masyarakat dalam sebuah kemah lusuh. Kami pun menunaikan kewajiban kami atasnya dan menguburkannya, kemudian aku kembali bersama mereka ke Madinah.

Malamnya aku bermimpi melihat Abu Qilabah dengan penampilan indah. Ia mengenakan gamis putih dengan badan yang sempurna. Ia berjalan-jalan di tanah yang hijau. Maka aku bertanya kepadanya:

“Hai Abu Qilabah… apa yang menjadikanmu seperti yang kulihat ini?”

Maka jawabnya: “Allah telah memasukkanku ke dalam Jannah, dan dikatakan kepadaku di dalamnya:

Salam sejahtera atasmu sebagai balasan atas kesabaranmu… maka (inilah Surga) sebaik-baik tempat kembali

[Kisah ini diriwayatkan oleh Al Imam Ibnu Hibban dalam kitabnya: “Ats Tsiqaat” dengan penyesuaian]




Posted By Kang Santri3:04:00 PM

Wednesday, February 15, 2012

Belajar Memahami Fiqih

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Dewasa ini sering terjadi polemic bagaimana mengkondisikan Fiqih zaman dulu dengan Fiqih zaman sekarang, karena bagi sebagian pendapat umum mengatakan bahwa metode Ilhaq (menyamakan satu kasus yang muncul dengan teks kitab-kitab salaf sebagai referensi) dianggap sudah tidak relevan lagi untuk diterapkan karena sudah tidak adanya Illat ataupun sosio-histori yang mendasari. Sehingga metode Maudlu’I (langsung kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah) merupakan hal yang sangat tepat sebagai perumusan hukum. Sekarang yang menjadi pertanyaan, beranikah kita secara langsung menggunakan metode ini? Dengan kadar pemahaman yang sangat minim dibanding dengan Ulama’-ualama’ salaf terdahulu?

Tanpa mengabaikan konteks Al Qur’an dan Al Hadits sudah seharusnya kita merujuk pada Ushul Fiqih dan Qoidah Fiqih-nya, ketika kita menemukan satu kasus yang Illatnya tidak kita temui dari kitab-kitab salaf. Kemudian bagaimana cara kita merumuskan sebuah hukum yang belum pernah kita temui kasus yang sama sebelumnya?

Pertama yang harus kita ketahui bahwa hukum itu ada yang Ta’abudiy dan Ta’aquliy. Untuk merangsang pemikiran kita, mari kita ulas sedikit tentang contoh hukum yang tergolong dalam Ta’abudiy dan Ta’aquliy.

1. Hukum Ta’abudiy
Hukum Ta’abudiy adalah hukum yang tidak bisa diketahui bagaimana proses perumusannya dan Illat apa yang mendasari hingga suatu hukum itu bisa dikatakan halal ataupun haram, atau dalam kata lain hukum yang sudah tidak bias di Ijtihadi lagi karena dalam Ta’abudiy dipastikan kebenaran dan kerelevanannya sampai kapanpun.

Namun ahir-ahir ini banyak sekali pemahaman-pemahaman yang menggugat hukum yang bersifat Ta’abudiy karena dianggapnya sudah tidak relevan lagi untuk zaman sekarang. Seperti Iddahnya seorang perempuan yang di Thalaq suaminya ketika Mu’taddah tadi dalam kondisi normal (masih haidl) maka Iddahnya adalah tiga kali suci dari haidlnya seperti diterangkan dalam Surah Al Baqoroh ayat 228 :

وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلاثَةَ قُرُوءٍ وَلا يَحِلُّ لَهُنَّ أَنْ يَكْتُمْنَ مَا خَلَقَ اللَّهُ فِي أَرْحَامِهِنَّ إِنْ كُنَّ يُؤْمِنَّ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ
Artinya :“Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru. Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat”

Sementara kalau perempuan tadi tidak normal (belum atau sudah tidak haidl lagi) maka masa Iddahnya cukup menanti selama tiga bulan sesuai dengan firman Alloh :

وَاللائِي يَئِسْنَ مِنَ الْمَحِيضِ مِنْ نِسَائِكُمْ إِنِ ارْتَبْتُمْ فَعِدَّتُهُنَّ ثَلاثَةُ أَشْهُرٍ وَاللائِي لَمْ يَحِضْنَ
Artinya : “Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya) maka iddah mereka adalah tiga bulan” (Q.S At- Tholaq : 4)

Sedang masa Iddah perempuan yang hamil adalah mulai dari suaminya meninggal dan ketika sudah melahirkan maka habislah masa Iddahnya. Seperti diterangkan dalam Al Qur’an :

وَأُولاتُ الأحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ
Artinya : “Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu idah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya” (Q.S At- Tholaq : 4)

Ayat diatas sudah sangat tegas memberi batasan pada masa penantian seorang wanita (mu’taddah), dan tentunya sudah sangat pasti tentang ke-Ta’abudiy-annya. Kemudian atas dasar apa hingga sebagian orang menganggap bahwa hukum yang diterangkan ayat diatas sudah tidak lagi relevan? Ternyata hanya berdasarkan pertimbangan, bahwa baroatur rahmi (pembersihan rahim) pada saat ini bisa diketahui dengan alat-alat yang canggih sehingga tidak harus menunggu sampai empat bulan sepuluh hari atau yang lainnya. Karena dengan alat modern ini dengan sekejap sudah bisa diketahui bersihnya rahim.

Perlu ditegaskan bahwa baroatur rohmi bukanlah sebuah Illat yang memberikan konsekwensi sebagai penetapan sebuah hukum, tapi baroatur rohmi hanya merupakan sebuah hikmah yang bisa dipetik dari ketentuan masa Iddah. Kalau baroatur rohmi dianggap sebagai Illat maka mestinya Al Qur’an tidak perlu mengklasifikasi mu’taddah dalam beberapa kategori dan mestinya iddah diwajibkan sampai empat tahun sebab ada juga yang mengandung sampai empat tahun.

2. Hukum Ta’aquliy
Hukum Ta’aquliy adalah hukum yang diambil dari Al Qur’an dan Hadits yang bisa diketahui proses perumusannya dengan adanya Illat yang mendasari. Kalau hukum itu masih berpijak pada dalil Qiyas, maka setelah Illatnya ditemukan dan masih bisa dikontekstualisasikan dengan kasus yang ada sekarang kita langsung bisa merumuskan hukum itu. Dan tentunya kita harus berani melakukan Ijtihad dalam rangka memutuskan hukum ketika Illatnya dianggap sudah tidak lagi relevan. Artinya langsung merujuk pada Ushul Fiqh dan Qoidah Fiqhnya. Secara garis besar pintu Ijtihad akan selalu terbuka dalam permasalahan hukum yang bersufat Ta’aquliy. Pertanyaannya sudah beranikah kita ber-Ijtihad sendiri?


الَمُحافظةُ على قديمِ الصَّالحِ والأخذُ بجديدِ الأصْلَحِ
Artinya : “Menjaga pada suatu hal yang lama (kuno) yang baik, dan mengambil pada hal-hal baru yang lebih baik”

Sebagai pondasi pokok untuk relevansi hukum-hukum Fiqh yang ada, perlu diperhatikan masalah-masalah yang muncul. Karena dalam merumuskan hukum tidak pernah terlepas dari lima unsur dasar yaitu, Hifdzu Ad Din, Hifdzu Al Mal, Hifdzu An Nasli, Hifdzu An Nafsi, Hifdzu Al Aqly.

a. Hifdzu Ad Din
Adalah sebuah ketetapan yang diperuntukkan untuk menjaga agama Islam agar tetap survive ditengah gerak kehidupan yang begitu dinamis. Dengan adanya konsep Hifdzu Ad Din diharapkan tidak adanya pelanggaran yang akan muncul dalam uapaya mengaplikasikan ajaran Islam. Sehingga ketika ada seseorang yang tidak mengindahkan peraturan hifdzu Ad Din, maka ia berhak mendapat hukuman dari Islam atas perbuatannya. Semisal orang murtad, ketika ia diperintahkan untuk bertaubat menolak maka darahnya halal untuk ditumpahkan.

Hal ini sesuai dengan Hadits Nabi Saw. Yang diriwayatkan oleh Bukhori dari Abbas yang berbunyai:


مَنْ بَدَّلَ دِيْنَهُ فَاقْتُلُوْهُ
Artinya : “Barang siapa mengganti agamanya (murtad) maka bunuhlah”

b. Hifdzu Al Mal
Hifdzul al Mal merupakan sebuah ketetapan yang berfungsi untuk memberikan perlindungan terhadap harta benda. Dan rumusan ini menelurkan banyak sekali permasalahan, termasuk diantaranya adalah orang yang mencuri akan mendapatkan hukuman had (potong tangan) dikarenakan telah melanggar satu undang-undang yang berupa Hifdzu Al Mal, sebagaimana termaktub dalam Al Qur’anul Karim:

بِمَا كَسَبَا نَكَالا مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ
Artinya : “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.
(Q.S Al Maidah : 38)


c. Hifdzu An Nafsi
Merupakan sebuah runusan yang bertujuan untuk menjaga keselamatan diri insane atau anggota tubuhnya. Sehingga dengan adanya Hifdzu An Nafsi ini, banyaknya kasus pembunuhan, pertikaian dan lain sebagainya dapat ditekan serendah mungkin frekuensinya. Masalah yang timbul dari rumusan ini banyak sekali seperti orang yang membunuh maka wajib dibunuh (hukum Qishos). Dalam Al Qur’an telah diterangkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى الْحُرُّ بِالْحُرِّ وَالْعَبْدُ بِالْعَبْدِ وَالأنْثَى بِالأنْثَى
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba dan wanita dengan wanita”.
(Q.S Al Baqoroh : 178)
Hukuman ini merupakan bentuk realisasi dari konsep Hifdzu An Nafsi.

d. Hifdzu An Nasli
Adalah konsep yang bertujuan untuk menjaga pada kelestarian keturunan anak Adam. Seandainya Hifdzu An Nasli ini tidak ditetapkan, niscaya anak-anak yang dilahirkan dimuka bumi ini semua akan terlantar karena tidak adanya perhatian dari kedua orang tua. Contoh orang yang melanggar tatanan Hifdzu An Nasli adalah orang yang berzina maka baginya wajib untuk di had atas perbuatannya sesuai dengan Firman Alloh :

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ وَلا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ
Artinya : “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman”. (An Nur : 2)

e. Hifdzu Al Aqli
Akal adalah sebuah anggota tubuh yang sangat vital,sehingga menjaga kesehatan akal sangatlah penting, karena dengan akallah manusia bias lebih mulia dibanding mahluk-mahluk Alloh yang lain. Dalam rumusan ini tercakup bebagai permasalahan, diantaranya tentang wajibnya had ( hukuman cambuk sebanyak 40 kali) bagi seorang yang minum arak, dikarenakan membawa dampak negative terhadap fungsi kerja akal (otak). Seperti dalam hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Annas disebutkan :

أنَّ النِبيَّ صل الله عليه وسلم : كان يَضْرِبُ في الخَمْرِ بِالِّنعالِ والجريدِ اَرْبَعِيْنَ
Artinya : “Sesungguhnya Nabi Saw itu memukul pada orang yang minum arak dengan sandal dan pelepah kurma sebanyak 40 kali”



Di rangkum dari buku “Masih Relevankah Fiqih

Posted By Kang Santri9:00:00 PM

Keresahan Kami Yang Selalu Ingkar PadaMu

Filled under:

Wahai Allah...

Engkau telah menciptakan ruh, jasad dan sebongkah hati pada diri kami.  Jutaan kenikmatan telah engkau anugerahkan, kasih sayang-Mu yang melimpah, Rahmat-Mu serta Anugerah-Mu yang indah, bila di banding dengan nuqthoh kecil keingkaran, kami pantas Engkau hinakan dihadapan seluruh mahluk-Mu yang ada didaratan, di lautan, dilangit bahkan penghuni neraka sekalipun.



Wahai Allah...

Kebodohan kami dalam mengenal-Mu, dalam mensyukuri nikmat-Mu telah membuat lubang hitam kehinaan didalam catatan amal kami.

Ampuni kami Ya Robb...

Dalam mengisi hari... mengisi setiap desahan nafas, kami sering tertipu dan terbujuk gemerlap duniawi yang padahal kami tahu ketidak kekalan ini.

Berulang kali kami memperbaiki diri untuk bisa lebih takut kepada-Mu, tapi rasa itu hanya sepintas lalu pergi lagi.

Ya Robb...

Jaga pergaulan kami, dekatkan kami pada mahluk-Mu yang bisa sebagai washilah suluk kami. Engkau telah mengatur tiap jengkal langkah kami dengan teramat sempurna. Hanya satu yang paling kami takutkan, yakni mati dalam keadaan su'ul khotimah.

Ya Robb...

Kiranya ampuni ketika kami memohon kepada-Mu belum sesuai dengan tuntunan Rasul-Mu
Karena kami kerap lancang dan tidak sopan dalam do'a yang kami panjatkan.


Posted By Kang Santri8:54:00 PM

Batas Kepasrahan Tertinggi

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - “Sempurnakanlah ikhtiar..” Meski hanya dua patah kata, tapi agak sulit bagi saya /pen.  untuk menerjemahkan kata ini dalam tindak kehidupan nyata. Karena disaat kita menggali makna lebih dalam dari dua kata diatas maka kita akan mendapati banyak sekali pertanyaan, yang mana kita sendiri yang harus menjawabnya.

Sebagai contoh, ada seseorang yang memang sebagian besar waktunya ia ingin dedikasikan untuk membahagiakan keluarganya hingga ia pun berfikir “aku harus kerja keras untuk mendapatkan uang”. Tapi sayang meski ia sudah mati-matian sampai membanting tulang namun hasilnya belum bisa sepenuhnya mencukupi kebutuhan rumah tangganya.

Dari contoh diatas, ada satu pertanyaan yang timbul “apakah ikhtiarnya sudah maksimal?”, (umpama kita menjawab sudah, akan muncul pertanyaan baru lagi) “bukankah ia bisa mendapatkan uang yang lebih andai saja keterampilan kerja yang lainnya ia gunakan juga..” (jadi apakah seseorang tadi sudah benar-benar menyempurnakan ikhtiarnya?)  dan masih banyak lagi pertanyaan yang mana penulis sendiri belum bisa menterjemahkan kedalam bahasa tulisan.

“Karena untuk bisa mencapai pada batas kepasrahan yang menjadi syarat utamanya adalah ketika sudah sempurnanya sebuah ikhtiar.”

Imam Ahmad pernah ditanyakan mengenai seorang yang kerjaannya hanya duduk di rumah atau di masjid.
Pria itu mengatakan, “Aku tidak mengerjakan apa-apa sehingga rezekiku datang kepadaku.”
Lalu Imam Ahmad mengatakan, “Orang ini tidak tahu ilmu (bodoh). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Allah menjadikan rezekiku di bawah bayangan tombakku.

Juga hadits Rosululloh s.a.w:

يَقُولُ سَمِعَ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ إِنَّهُ سَمِعَ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ

عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ

الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

Dari Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Seandainya kalian betul-betul bertawakal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rezeki sebagaimana burung mendapatkan rezeki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.”

(HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Al Hakim. Dikatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shohihah no. 310)

Sedang sisi lain dari makna kepasrahan menurut Imam Ahmad bin Hambal, bahwa pasrah/tawakal itu merupakan aktivias hati, artinya tawakal itu merupakan perbuatan yang dilakukan oleh hati, bukan sesuatu yang diucapkan oleh lisan, bukan pula sesuatu yang dilakukan oleh anggota tubuh. Dan pasrah/tawakal juga bukan merupakan sebuah keilmuan dan pengetahuan.

Dari Abul Abbas Abdulloh bin Abbas rodhiallohu ‘anhuma beliau berkata:

Suatu hari aku berada di belakang Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam Lalu beliau bersabda,

“Nak, aku akan ajarkan kepadamu beberapa patah kata: Jagalah Alloh, Niscaya Dia akan senantiasa menjagamu. Bila engkau meminta sesuatu, mintalah kepada Alloh, dan bila engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Alloh. Ketahuilah, jika semua umat manusia bersatu padu untuk memberikan suatu kebaikan kepadamu, niscaya mereka tidak dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah ditulis oleh Alloh bagimu, dan jika semua umat manusia bersatu padu untuk mencelakakanmu, niscaya mereka tidak dapat mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah ditulis oleh Alloh bagimu. Pena telah diangkat dan catatan-catatan telah mengering.” (HR Tirmidzi Dia berkata , “Hadits ini hasan shohih”)

Inilah batas akhir dari ikhtiar manusia, artinya dari batas menyempurnakan ikhtiar hingga sampai menuju pada batas kepasrahan tertinggi.




Posted By Kang Santri3:43:00 PM

Kenapa Seorang Pria Memilihmu?

Filled under:

Murtakibudz Dzunub - Tulisan ini terinspirasi melihat setatus FB yang sering lewat diberanda, terutama status dari akhwat yang dengan sabar menunggu siapa kelak yang bakal menjadi seorang ayah dari anak-anaknya ataupun seorang suami yang akan menjadi imamnya nanti.

Hingga sebagian besar mengatakan "merindukan lelaki yang bisa menerimaku apa adanya" dan tentunya ini menyakup  banyak hal, terutama salah satu kekurangannya dalam hal-hal tertentu.

Entah itu secara fisik yang kurang menarik, minder karena ketika mengharapkan seorang lelaki yang alim tentang agama sementara dia tidak begitu faham dengan agama dan lain sebagainya.


Saudariku, usah kau risau... Jika dirimu merindukan seorang pria yang baik inilah salah satu kriterianya;

[Ketika dirimu resah dan minder dengan keadaanmu sekarang, 
pastikan untuk memiliki senjata ini.]

"Seorang pria yang baik (dan sudah siap menikah) selalu merindukan wanita yang memiliki kelembutan akhlak, baik itu santun dari perilakunya juga tutur sapanya, karena seorang pria tidak akan membiarkan anak-anaknya nanti didik oleh wanita yang tidak memiliki akhlak seperti itu"


"Tidak usah khawatir, pemuda yang shalih yang sudah faham akan makna sebuah pernikahan. Ia tidak mengutamakan kepandaianmu tentang urusan agama, karena ia lebih memilih seorang wanita yang bisa dan bersedia ia tuntun untuk mempelajari ilmu agama. Karena baginya mendidik istri adalah sebuah ibadah yang amat berharga nilainya disisi Tuhannya. (baca: Menjadikanmu Wanita Paling Bahagia)

Andai seorang pemuda dihadapkan pada suatu pilihan, antara wanita pandai agama tapi kurang bisa mengamalkan ilmu dalam keta'annya pada suami dengan wanita yang pas-pasan ilmu agamanya tapi dia penurut dan bersedia untuk dituntun. Saya yakin pemuda shalih tadi akan memilih kriteria wanita yang kedua"


"Jangan resah, kalau dirimu memang betul-betul menginginkan seorang pria yang baik ia tidak akan menilaimu dari sisi itu"


"Tenagkan hatimu jangan risau, seorang pria baik yang kau harapkan, ia tidak akan memandangmu dari segi itu.

Karena baginya kemewahan dunia hanyalah fatamorgana yang tidak kekal, ia akan datang menjemputmu dan menikahimu dengan suatu harapan besar bahwa semoga buah dari pernikahan dan kesabarannya menjalani kesusahan hidup karena himpitan ekonomi berumah tangga denganmu akan Allah ganti dengan kenikmatan surganya nanti.

Saudariku, buang kegelisahan juga keresahanmu dengan segala kekuranganmu. Dan pastikan selalu pelihara muru'ahmu sebagai seorang muslimah karena itulah satu-satunya kemuliaan terbesarmu hidup didunia, hingga para malaikatpun tidak pernah berhenti mendoakan seorang muslimah yang memiliki kemuliaan ahlakul karimah.

Posted By Kang Santri11:12:00 AM